Pages

Minggu, 28 Oktober 2012

Gubernur Sidak Tambang Liar DAS Batanghari

PADANG — Gu­bernur Sumatera Barat Irwan Prayitno melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi tambang emas Batang Hari, Nagari Ulang Aling, Kabu­paten Solok, Kamis, (25/10).

Sidak dilakukan menyusul adanya laporan makin ma­raknya aktivitas tambang liar di daerah ini yang terlihat dari semakin menjamurnya alat berat di lokasi pertambangan.

Saat ini lebih dari 200 eskavator ilegal terus ber­operasi di sungai ini. Tak hanya itu, diperkirakan sekitar 3.000 pekerja juga mengadu na­sib di bisnis ilegal ini. Me­re­ka terdiri dari ma­sya­ra­kat lo­­kal dan pendatang yang di­ba­wa oleh para pemilik mo­dal.

Menurut informasi di la­pa­­ngan, kebutuhan setiap operasional eskavator men­capai Rp50 juta per 200 jam, Rp16 juta untuk operasional, sementara untuk izin lokasi dari PT Gemenik, Rp25 juta.

Setiap hari penambang bisa menghasilkan sekitar enam hingga sepuluh ons emas. Di setiap lokasi, rata-rata bisa dikeruk empat hingga lima kilogram emas murni. Satu kilogram emas biasa dihargai Rp1 miliar. Inilah yang menjadi daya tarik para pemilik modal.

Didampingi Wakil Bupati Solsel Abdul Rahman, Sek­dakab H. Fachril Murad,SH, Kadis Pertanian Ir. Djoni, serta beberapa kepala SKPD di lingkungan Pemkab Solsel, gubernur mengatakan akan mela­kukan evaluasi terhadap aktivitas pertambangan ini baik dari segi dampak lingkungan maupun eko­nomi.

“Kegiatan tambang ini harus dievaluasi. Secara ekonomi bagai­mana dampaknya bagi kesejah­teraan masyarakat dan dampak kerusakan lingkungan yang diaki­batkan,” kata gubernur.

Tak hanya itu, gubernur juga akan mengevaluasi kontrak usaha yang telah diberi izin. “Jika tidak lagi cocok dengan dokumen yang telah ditetapkan, maka kita akan lakukan tindakan tegas sesuai dengan perundangan yang berlaku,” tegasnya.

Ancaman bencana ekologi di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Batang Hari sudah di am­bang mata. Selain kerusakan aliran sungai yang kian parah, pence­maran air Batang Hari sung­guh men­cemaskan. Kerusakan itu disebab­kan kembali marak­nya aktivitas penambangan emas liar.

Di hulu, kondisi DAS Ba­tang Hari di Solok Selatan benar-benar mengkha­watir­kan. Air sungai yang diman­faat­kan warga setempat untuk mandi hingga kebutuhan me­masak, tercemar merkuri (Hg) dan keruh, karena dampak aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) yang kian kebablasan.

Hasil pengujian sampel air Batang Hari pada 2009, me­nun­jukkan bahwa kadar mer­kuri telah berada di ambang batas. Penyebabnya, para pe­nam­bang menggunakan air raksa (merkuri) untuk memi­sahkan pasir yang telah ber­campur dengan emas. (h/dla)

Haluan 271012

0 komentar:

Posting Komentar