Pages

Minggu, 28 Juni 2015

"Menikmati" Amal Saleh

Kita perlu naik kelas dalam beribadah dan beramal shaleh. Dari sebelumnya menunaikan ibadah, naik ke arah menikmati ibadah. Sebab, kesan yang muncul dari menunaikan itu adalah sekedar lunasnya hutang, tunainya kewajiban. Sedangkan menikmati ibadah, kita betul-betul merasakan kenyamanan, ketenangan, kebahagian dan "manisnya" ibadah.

Indikasi sederhananya bila kita menikmati sesuatu, kita akan betah berlama-lama dengan sesuatu tersebut, larut bersamanya serta tak merasakan waktu berlalu dan lelahnya fisik saat melakukannya.
Allah SWT mengisyaratkan kandungan ini secara tidak langsung dalam beberapa ayatnya dengan beberapa kalimat, "Bertaqwalah dengan sebenar-benarnya taqwa..." atau "Berjihad dengan sebenar-benarnya jihad..." atau, "Membaca Al Quran dengan sebenar-benarnya tilawah..." dalam bahasa haditsnya, "Merasakan manisnya iman...". Intinya, beribadah dengan sebenar-benarnya ibadah. Tidak terpaksa melakukannya apalagi sampai bermain-main.

Sepuluh hari sudah ramadhan bersama kita. Harusnya, dalam rentang waktu tersebut, dengan berbagai amal shaleh atau ibadah berdosis tinggi (di bulan-bulan sebelumnya tidak seperti ini), kita telah melewati pemusatan latihan yang lumayan. Dan mengalami sedikit perubahan dalam beribadah.
Hari-hari awal ramadhan wajar kita (mungkin) agak terasa berat berpuasa, letih menahan lapar, capek melakukan tarawih, lelah membaca Al Quran.... dan lain-lainnya, karena sebelumnya kurang terbiasa.
Tapi ini sudah sepuluh hari. Tidak makan dan minum 13 jam sudah tidak lagi menjadi beban. Shalat isya dan tarawih dari pukul 19.30 sampai 21.30 atau bahkan pukul 22.00, tidak lagi begitu berat. Tilawah satu juz sehari sudah menjadi ringan.

Maka saatnya kita naik kelas. Kita harus menikmati ibadah ini. Menikmatinya dalam artian meningkat kualitasnya, ada kesabaran di hati untuk tidak cepat selesai, ada tekad yang kuat agar amal shaleh ini sangat layak "dihidangkan" kepada Allah. Mulai serius menghiasinya. Sehingga nantinya di sepuluh terakhir menjadi puncak dan husnul khitam...

Orang beriman sangat menyadari bahwa dia menyembah Allah adalah agar Allah ridha, bukan agar dia puas. Agar Allah senang bukan dia yang senang. Maka pastilah dia akan lakukan dengan penuh ihsan. Seperti yang digambarkan Rasulullah, "Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihatNya. Jika engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia Maha melihatmu..." (dari HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah).

Orang beriman beribadah dan beramal adalah agar amalan itu diterimaNya dan layak diberiNya ganjaran. Pastilah dia akan melakukannya dengan baik, memenuhi rukun dan syarat, menghiasinya dengan yang sunnat, menguranginya dari yang makruh... dan lain sebagainya, sesuai dengan yang layak dan pantas dengan keagungan Allah.

Kalau kita shalat, tapi yang terpikir oleh kita kapan shalat ini akan selesai, kalau kita tilawah, tapi pikiran kita selalu mengingat kapan tuntas satu juz, kalau kita berinfaq, tapi diberikan dengan kasar atau menyakiti sipenerimanya, kalau kita berbagi dan memberi namun hanya yang tidak kita sukai, barangkali memang kita belum menikmati amal shaleh. Kita baru sebatas menunaikannya.

Sebagai ilustrasi, bila seseorang menghidangkan sebuah kue atau makanan yang lezat. Tapi dihidangkan di atas sepatu, dan sepatu itu masih sangat baru dan bersih. Pastilah orang tetap tidak akan mau menyantapnya. Sebaliknya, bila makanan yang sederhana, tapi dihiasi dengan baik, diatas tempat dan piring yang baik, pastilah akan menarik selera orang disekitarnya. (Bagi Allah, perumpamaan yang jauh lebih mulia)

Tentunya kita tak akan bicara tentang orang yang "kebut-kebutan" dalam shalat tarawih, tanpa memperhatikan kualitas dan kuantitas bacaan serta tumakninahnya, atau orang yang kejar-kejaran membaca Al Quran tanpa memperhatikan tajwidnya.... Entahlah, apakah mereka sedang menunaikannya atau mempermainkannya....

"Kembali lagi, ulangi shalatmu, kamu belum shalat...." (penggalan HR Bukhari Muslim, dari abu Hurairah).

Irsyad Syafar

0 komentar:

Poskan Komentar