Pages

Minggu, 11 Juni 2017

Ramadhan 14

Irsyad Syafar

TSIQAH KEPADA ALLAH DAN BERSANDAR KEPADANYA
(وإياك نستعين)

Kalau kita minta tolong kepada Allah, maka kita harus menghadirkan dua hal sekaligus kepada Allah, pertama tsiqoh (percaya) kepadaNya, dan kedua bergantung kepadaNya.

Bisa jadi kita percaya kepada seseorang, tapi kita tidak bergantung kepadanya. Mungkin itu karena kita mampu atau kita sedang tidak butuh dengannya.

Atau sebaliknya, kita bergantung kepada seseorang walaupun kita tak percaya dengannya. Hanya saja, kita memang lagi butuh dengan dia, atau saat itu tidak ada orang lain selain dia yang mampu melakukannya.

Itu sikap kepada makhluk. Adapun kepada Khaliq tidak bisa seperti itu. Kita mesti sangat percaya bahwa Dia akan menolong kita, dan kita bersandar kepadaNya karena kita selalu butuh kepadaNya.

Tidak akan sempurna permintaan tolong kalau tidak percaya akan ditolongNya. Dan juga tidak sempurna meminta tolong kalau hanya ketika perlu saja, atau sewaktu-waktu saja.

Rasulullah saw memerintahkan kita bila berdoa (meminta) kepada Allah, hendaklah kita yakin bahwa Allah akan mengabulkannya. Rasulullah saw bersabda:

عن أبي هريرة: "ادْعوا الله وأنتم مُوقنون بالإِجابة، واعْلموا أنَّ الله لا يَستجيب دعاءً من قلبٍ غافل لاه". رواه الترميذي.

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: "Berdoalah kalian kepada Allah, sedangkan kalian yakin akan dikabulkanNya. Dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa orang yang hatinya lalai". (HR Tirmidzi).

Dalam hadits Bukhari dan Muslim Rasulullah menegaskan:

"قال الله تعالى: أنا عند ظنِّ عبدي بي"، وفي رواية أحمد: "إن ظنَّ بي خيرًا فله، وإن ظنَّ شرًّا فله"

Artinya: Telah berfirman Allah SWT, "Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu tentangKu". Dalam riwayat Ahmad ditambahkan: "Jika dia menyangka terhadapKu kebaikan, maka baginya kebaikan itu. Jika dia menyangka buruk, maka baginya keburukan itu."

Yakin akan dikabulkan dan percaya akan ditolong, itulah yang harus hadir dalam hati saat minta tolong. Adapun pertolongan itu datang cepat atau lambat, nyata atau abstrak, itu adalah hikmah dan kekuasaanNya. Sekaligus sebagai ujian keimanan.

Kemudian, Allah mencela kaum yang hanya setia kepada Allah saat terjepit dan susah. Bila sudah lapang dia berpaling dari Allah.

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ.

Artinya: "Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa". (QS Fussilat: 51).

Yang lebih dimurkai oleh Allah adalah orang-orang yang tidak meminta kepada Allah. Mereka dianggap sebagai orang yang angkuh lagi sombong. Malah terancam dimasukkan ke dalam neraka jahannam.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ.

Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS Ghafir: 60).

Gabungan dari "Percaya" dan "bersandar" inilah yang diistilahkan oleh Ibnul Qayyim Al Jauziah sebagai "tawakkal". Sehingga, iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'in, itu merupakan gabungan dari ibadah dan tawakkal.

Al Quran menyebutkan penggabungan dua unsur ini (ibadah dan tawakkal) dalam beberapa ayatnya:

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ.

Artinya: "Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan". (QS Hud: 123).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ.

Artinya: "an tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali." (QS Hud: 88).

Allah menceritakan diantara karakter hamba yang beriman dalam doa Nabi Ibrahim, Allah  berfirman:

رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ.

Artinya: "(Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali". (QS Al Mumtahanah: 4).

Maka isti'anah (meminta tolong) kepada Allah dalam bentuk tawakkal kepadaNya merupakan perintah wajib bagi setiap hamba. Dan sekaligus merupakan sifat (ciri) hamba yang beriman.

Bila kita beribadah kepada Allah, tapi tidak minta tolong kepadaNya, niscaya kita takkan kuat untuk konsisten dalam ibadah.

Sebaliknya, bila kita minta tolong kepadaNya, tapi kita tidak beribadah, maka kita hampir sama dengan para pendosa atau orang kafir. Sebab mereka juga kadang meminta pertolongan kepada Tuhan.

Wabillahi Nasta'in.

0 komentar:

Posting Komentar