Pages

Selasa, 27 Juni 2017

Ramadhan 23

Irsyad Syafar

WASPADAI PENGHANCUR IBADAH
(إياك نعبد وإياك نستعين)

Alangkah meruginya bila kita sudah berletih-letih beribadah, waktu juga sudah habis dipakai dunia, dan harta juga ikut terkuras karena beribadah, tapi kemudian di akhirat kelak - di hadapan Allah - ibadah itu semua sia-sia, habis tak bernilai. Sungguh sangat tragis.

Terhadap makna ini Allah Ta'aala sampaikan:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا.

Artinya: "Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan". (QS Al Furqan: 23).

Hancurnya amalan dan ibadah disisi Allah adalah suatu petaka. Bagi orang beriman itu suatu hal yang wajib dihindari. Para ulama menyebukan bahwa penghancur utama ibadah itu adalah riya'.

Yang dimaksud dengan riya’ adalah memperlihatkan (memperbagus) suatu amalan/ibadah dengan tujuan mendapatkan pujian manusia. Semakna dengan riya’ adalah sum’ah yaitu memperdengarkan suatu amalan dengan tujuan yang sama yaitu mendapatkan pujian (popularitas) manusia. Riya’ termasuk syirik khafiy (tersembunyi), yaitu kesyirikan yang terdapat di dalam hati manusia yang tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.

Gara-gara riya', ibadah yang berpahala besar dan termasuk ibadah-ibadah puncak, bisa berubah menjadi kecil dan kerdil. Bahkan bisa menjadi penyebab masuk neraka.

Rasulullah saw menyebutkan kelompok orang-orang yang termasuk pertama kali dilemparkan ke dalam neraka. Mereka dihukum seperti itu bukan karena kekafirannya. Melainkan karena perbuatan riya.

Di dalam hadits yang panjang dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa golongan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid, seorang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu, dan seorang yang bersedekah. Dalam sebagian riwayat orang yang mengajarkan Al Quran. Namun, ternyata Allah ta’ala memasukkan mereka ke dalam neraka karena niat ibadah mereka tidak ditujukan kepada Allah ta’ala. Orang yang mati syahid ternyata berperang sampai syahid supaya dia dikatakan pemberani, orang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu ternyata ingin dikatakan sebagai seorang alim, orang yang membaca Al Quran ternyata supaya dapat gelar Qori dan orang yang bersedekah ternyata ingin supaya dikatakan dermawan oleh orang lain.

قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ...

Artinya: "Engkau berjihad supaya digelari pemberani. Dan sudah digelari seperti itu. Lalu Malaikat diperintahkan Allah, dan dia diseret dari wajahnya dan dilempar ke neraka...

قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

Artinya: "Engkau bohong, engkau mempelajari ilmu supaya digelari Alim. Engkau membaca Quran supaya digelari Qori, dan sudah digelari seperti itu. Lalu Malaikat diperintahkan, dan dia diseret dari wajahnya dan dilempar ke neraka.

كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَـسُحِبَ عَـلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

Artinya: "Engkau bohong, engkau berinfaq hanya ingin digelari sebagai dermawan. Dan sudah dapat gelar itu. Lalu Malaikat diperintahkan, dan dia diseret serta dilemparkan ke dalam neraka". (HR Muslim).

Berjihad adalah ibadah puncak dalam Islam. Sangat mulia di sisi Allah. Apalagi bila mati syahid. Bisa masuk sorga tanpa hisab dan tanpa adzab. Namun ternyata, gara-gara riya' justru berakibat masuk neraka.

Membaca dan mengajarkan Al Quran adalah amalan yang sangat mulia. Pahalanya bisa mencapai derjat selevel malaikat. Sebagaimana Rasulullah nyatakan:

عن عائشة قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة...

Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah, Rasulullah saw bersabda: "Orang yang mahir membaca Al Quran bersama Malaikat yang mulia...". (HR Muslim).

Namun gara2 riya', malah yang mahir membaca Al Quran bisa menjadi golongan yang di awal-awal masuk neraka.

Begitu juga berinfaq di jalan Allah. Pahalanya bisa 10 kali lipat sampai 700 kali lipat. Namun akibat niat yang riya' malah dilempar ke neraka.

Penyakit riya’ amatlah berbahaya karena ia menjangkiti seseorang bukan dalam keadaan ia bermaksiat. Melainkan justru menyerang tatkala dia tengah beramal shalih. Oleh karena itu, generasi terbaik umat ini, dari zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, tabi’in, dan para ulama sangat mengkhawatirkan amal mereka terjangkiti riya’. Sebab siapa saja bisa terkena penyakit ini.

Rasulullah saw bersabda:

 أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر. قالوا: وما الشرك الأصغر يا رسول الله؟ قال: الرياء...

Artinya: "Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik asghar”. Lalu beliau ditanya tentang (maksud) hal tersebut (syirik asghar), maka beliau menjawab “Riya’”. [HR. Ahmad, hasan].

Jika saja Rasulullah, para sahabat dan generasi terbaik umat ini sangat khawatir dengan riya', apalagi kita generasi akhir zaman. Amal ibadah kita sangat sedikit dibanding mereka, sedangkan peluang riya' sangat terbuka lebar.

Dengan kemajuan teknologi, berbagai ibadah seseorang dapat diketahui orang lain dalam waktu sekejap. Seseorang shalat malam, iktikaf, berhaji dan umrah, seketika bisa dishare ke publik. Maka pintu riya' menjadi terbuka lebar.

Kadang pola awalnya tidak kentara. Tapi tetap saja menyediakan celah bagi syetan untuk merusak niat. Misalnya, sehabis shalat malam seseorang update status: "Alangkah tenangnya malam ini bermunajat kepada Allah....". Saat iktikaf di sebuah masjid, dia juga update status: "Iktikaf di masjid ini begitu indah dan khusyuk...". Selesai tahwaf atau sa'i, atau ibadah umrah, lalu photo-photonya menyebar ke seantero negeri. Ini semua tentu akan menjadi mukaddimah riya'.

Allah Ta'aala mengabarkan tentang karakter orang munafiq yang suka pamer dalam ibadah dan sedikit sekali mengingat Allah:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا.

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali". (QS An Nisa: 142)

Maka, menjadi kewajiban bagi kita untuk sangat waspada terhadap penghancur ibadah ini. Kiatnya adalah menjadikan seluruh ibadah kita hanya ikhlas kepada Allah.

Syekh Utsaimin menjelaskan, seseorang dapat mencapai keikhlasan yang sempurna apabila ibadahnya dibangun di atas tiga perkara:

Pertama, seseorang meniatkan suatu amalan sebagai ibadah kepada Allah ta’ala, bukan karena melaksanakan kebiasaan atau rutinitas belaka. Sebab ibadah tidak sama dengan rutinitas.

Kedua, seseorang melakukan ibadah tersebut karena Allah dan untuk Allah semata. Bukan karena ingin dipuji, atau segan dengan manusia dan sebagainya.

Ketiga, seseorang melakukan ibadah tersebut dalam rangka melaksanakan syari’at Allah ta’ala. Saat dia ke masjid berjamaah, dia sadari betul karena itu memang syariatnya. Kalau dia berhaji atau umrah, dia juga sadari karena Allah dan RasulNya memerintahkan begitu.

Agar riya' semakin maksimal dijauhi, seorang mukmin perlu banyak berdoa kepada Allah agar diberi keikhlasan. Sedapat mungkin harus diusahakan menyembunyikan atau merahasiakan ibadah. Apalagi yang memang aslinya sudah rahasia. Berusaha untuk selalu menganggap kecil amalannya. Sehingga terus bersemangat menambahnya. Dan bila ada respon dari orang lain, jangan bertambah ibadah karena pujian, dan jangan berkurang karena celaan.

Wallahu A'laa wa A'lam.

0 komentar:

Posting Komentar