Pages

Jumat, 18 Mei 2018

Kisah dan Ibrah


Ramadhan 2

Oleh: Irsyad Syafar

Pada bulan Sya'ban tahun kedua hijriyah terjadi peristiwa pindahnya kiblat di kota Madinah. Awalnya, selama 16 atau 17 bulan semenjak hijrah, Rasulullah saw dan para sahabat berkiblat ke Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis Palestina. Sedangkan sebelumnya - waktu di Makkah - Rasulullah saw shalat menghadap ke Ka'bah.

Berkiblatnya Rasulullah saw ke Baitul Maqdis selama 16 atau 17 bulan di Madinah, tentulah atas perintah dan arahan dari Allah SWT. Namun selama waktu tersebut, Rasulullah saw mengalami ujian perasaan yang lumayan berat. Sebab, kaum ahlul kitab (terutama Yahudi) yang lumayan banyak di Madinah merasa bangga dan senang dengan kondisi itu. Dimana kiblat kaum muslimin sama atau mengikut kiblat yahudi dan nashrani.

Bahkan kaum yahudi Madinah merasa tidak perlu masuk Islam dan mengikuti dakwah Rasululah saw. Sebab justru merekalah yang pemilik asli kiblat ke Baitul Maqdis tersebut. Muhammad dan pengikutnya hanya meniru dan mengikuti saja. Berarti, agama mereka yang benar dan agama Muhammad tidak benar. Atau bahkan, ujung-ujungnya agama Muhammad ini juga akan ikut agama Yahudi.

Suasana dan kondisi ini terasa berat bagi Rasulullah saw dan juga bagi para sahabat. Seringkali Rasulullah saw menengokkan kepalanya ke arah langit, berharap kepada Allah agar diberikan kiblat yang menentramkan hati. Walaupun lisan Beliau tak berucap memintanya. Karena Beliau menjaga adab dan etika kepada Allah, Rabb semesta alam.

Akhirnya harapan Rasulullah saw itu terkabul juga. Turunlah perintah Allah untuk berpindah kiblat ke Ka'bah di Masjidil Haram.

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Artinya: "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (QS Al Baqarah: 144)

Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya, dari Barra' bin Azib bahwa shalat pertama yang Rasulullah saw lakukan ke kiblat yang baru adalah shalat ashar. Kemudian salah seorang sahabat yang sudah selesai shalat bersama Rasulullah saw, pulang ke rumahnya. Di tengah jalan dia mendapatkan suatu kaum masih shalat berjamaah menghadap ke Baitul Maqdis. Maka dia langsung berteriak sambil bersaksi bahwa kiblat sudah pindah ke Masjidil Haram. Jamaah kecil itupun langsung berputar di dalam shalat mereka menghadap ke Masjidil Haram. Di masjid tempat mereka shalat ini, telah terjadi dua kiblat (kiblatain) dalam satu shalat.

Peristiwa berpindahnya kiblat ini disatu sisi sangat membahagiakan Rasulullah saw. Karena hal itu mempertegas jatidiri Islam dan Muslimin, yang tidak mengikut kepada yahudi ataupun nashrani. Namun disisi lain peristiwa ini menjadi ujian lain yang tidak kalah beratnya. Sekaligus menjadi proses penyaringan dan pembersihan shaf (barisan) kaum muslimin dari orang-orang munafiq dan kaum muslimin yang baru masuk Islam dan hatinya masih goyah.

Ujian pertama datang dari kaum yahudi. Awalnya mereka adalah yang paling senang kalau kaum muslimin sama kiblatnya dengan kiblat mereka. Berarti agama mereka adalah agama yang benar dan sama dengan Islam. Bahkan lebih mulia dan utama dari Islam. Buktinya, agama Islam meniru kiblat mereka. Dan nantinya Muhammad akan ikut ajaran mereka.

Tapi, perubahan kiblat ini membuat mereka sangat kecewa. Sekaligus mereka mendapat peluang untuk melancarkan serangan, bully, gosip dan berbagai syubuhat (keraguan). Mereka pertanyakan, "Kenapa pula kalian pindah kiblat dari yang sebelumnya sudah kalian pakai?". Maka Allah langsung menurunkan bantahan:

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya: "Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus." (QS Al Baqarah: 142).

Mereka lemparkan lagi syubuhat yang lain. Jika kiblat yang baru ini yang benar, maka berarti kiblat yang lama adalah salah dan bathil. Berarti shalat kalian selama ini juga batal dan tidak sah. Kalau kiblat yang lama itu benar, maka kiblat yang baru ini tidak benar. Dan shalat ke kiblat yang baru menjadi tidak sah dan sia-sia. Maka Allah membantahnya:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ.

Artinya: "dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu (shalatmu). Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." (QS Al Baqarah: 143)

Ujian kedua datang dari Kaum Kafir Quraisy yang setiap saat memantau kaum muslimin dan menginginkan kehancuran mereka. Perpindahan kiblat ke Masjidil Haram di kota Makkah membuat kepercayaan diri kafir Quraisy meningkat. Sebab, menurut mereka, Muhammad dan pengikutnya berbalik menghadap kiblat nenek moyang mereka. Berarti sebentar lagi, Muhammad akan mengikuti ajaran mereka pula. Akan tetapi Allah juga membantah pemikiran kafir Quraisy ini:

وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ.

Artinya: "Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk." (QS Al Baqarah: 150).

Bahkan di ayat ini Allah isyaratkan bahwa orang-orang kafir Quraisy adalah orang-orang yang telah berbuat zhalim (aniaya).

Ujian lain juga datang dari kalangan munafiqin dan orang-orang yang lemah imannya. Mereka mempertanyakan bagaimana nasib ibadah mereka selama ini. Bahkan mereka juga mempertanyakan bagaimana nasib dan pahala ibadah orang yang sudah wafat sebelum kiblat berubah. Tentunya ibadah mereka ini sia-sia. Bahkan mereka mulai meragukan, jangan-jangan arah kiblat ini hanya ide pribadi Rasulullah saw, sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi.

Tipikal dan watak seperti ini ada dalam pengikut Rasulullah saw, dan akan selalu ada di dalam setiap masyarakat muslim. Yaitu orang-orang peragu yang hatinya tidak kokoh dalam Iman dan Islam, serta loyalitasnya kepada Rasul selaku pimpinan (qiyadah) waktu itu masih tidak kuat. Pikirannya masih dikuasai oleh logika pribadi yang sangat sempit, bukan oleh ketundukan kepada Allah dan RasulNya.

Ujian juga menimpa kaum Mukminin dari pengikut Rasulullah saw. Ujian dalam rangka pemantapan iman dan ketaatan kepada Allah dan kepatuhan dalam mengikuti RasulNya. Maka kepada kaum Mukminin sekaligus bagi muslimin yang hatinya belum kuat, serta kepada kaum munafiqin, Allah menegaskan:

وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ.

Artinya: "Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." (QS Al Baqarah: 143).

Bahkan perubahan kiblat ini sekaligus menjadi penguat sikap saling percaya (tsiqah) di dalam barisan kaum muslimin. Dimana, setiap mukmin senantiasa mempercayai saudaranya mukmin yang lain dalam kerangka ketaatan kepada Allah, RasulNya dan para pemimpin mereka. Terbukti waktu itu, walaupun hanya teriakan seorang sahabat yang sudah selesai shalat bersama Rasulullah saw, wajah dan namanya tidak diketahui, namun satu kaum yang sedang shalat berjamaah di masjid mereka, langsung berputar arah. Tanpa menunggu shalat selesai, tanpa membatalkan shalat, atau bahkan tanpa harus pergi dulu menghadap Rasulullah saw (selaku pimpinan) untuk mengkomfirmasi berita.

Peristiwa perpindahan kiblat ini telah mempertegas jati diri Islam dan kaum Muslimin, yang tidak mengikut atau meniru yahudi dan nashrani sama sekali, dalam ibadah dan syariat. Dan mereka, dibujuk dengan apapun, diberikan argumen sebagus apapun, takkan mau dan rela mengikuti ajaran Islam:

وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ ۚ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ ۚ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya: "Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu -- kalau begitu -- termasuk golongan orang-orang yang zalim." (QS Al Baqarah: 145).

Secara keseluruhan, peristiwa berubahnya kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram, Allah abadikan dalam surat Al Baqarah ayat 142 - 150.

Pelajaran:

1. Islam adalah agama yang diredhai di sisi Allah yang memiliki jati diri sendiri, tidak mengikut atau meniru agama yang lain.
2. Allah Maha berkendak untuk menukar atau menghapus atau menambah perintah-perintahNya kepada hamba-hambaNya. Dia tidak ditanya tentang perbuatanNya. Manusialah yang akan ditanya apa yang mereka perbuat.
3. Setiap mukmin dan mukminah wajib patuh dan percaya kepada perintah Allah dan RasulNya. Baik diketahui hikmah dibalik perintah tersebut ataupun tidak diketahui. Kebenaran semata-mata datang dari Allah dan RasulNya.
4. Sesama muslim harus membangun kejujuran dalam sikap dan perkataan, serta saling mempercayai antar sesama kaum muslimin.
5. Setiap kali peristiwa besar dan penting, akan menjadi ujian keimanan dan loyalitas barisan kaum muslimin, membersihkan kaum muslimin dari orang-orang munafiq, dan membongkar kebusukan kaum kuffar.

0 komentar:

Posting Komentar