Pages

Jumat, 01 Juni 2018

Kisah dan Ibrah (16)

Ramadhan 16

Oleh: Irsyad Syafar

Sepeninggal kaum 'Ad, yang berkuasa adalah kaum Tsamud. Ulama tafsir mengatakan bahwa nasab kaum Samud tersebut adalah Samud ibnu Asir ibnu Iram ibnu Sam ibnu Nuh. Mereka semuanya adalah kabilah-kabilah dari kalangan bangsa Arabul Aribah sebelum Nabi Ibrahim as. Kaum Samud ada sesudah kaum 'Ad. Mereka berjarak sekitar dua abad lebih. Tempat tinggal mereka terkenal, yaitu terletak di antara Hijaz dan negeri Syam serta Wadil Qura dan daerah sekitarnya.

Allah SWT mengutus Nabi Shaleh kepada kaum Tsamud. Beliau menyeru mereka kepada penyembahan Allah semata (tauhid) dan meninggalkan tuhan-tuhan lain (berhala) warisan nenek moyang mereka. Allah SWT berfirman:

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (الأعراف: 73).

Artinya: "Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Samud saudara mereka Saleh. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Tuhan kalian. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagi kalian, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kalian mengganggunya dengan gangguan apa pun, maka kalian ditimpa siksaan yang pedih." (QS Al A'raf: 73).

Kaum Tsamud memiliki kelebihan dalam ilmu pengetahuan. Sehingga mereka mampu bercocok tanam, bertani, berternak dan memakmurkan bumi. Mereka juga ahli dalam arsitektur sehingga mereka juga mampu membuat istana-istana yang hebat. Mereka juga ahli dalam memahat batu-batu besar sehingga mereka mampu memahat gunung batu dan menjadikannya rumah-rumah mereka. Dalam berdakwah kepada kaumnya tersebut, Nabi Shaleh mengingatkan mereka akan nikmat Allah SWT kepada dengan segala kelebihan tersebut. Allah SWT berfirman:

وَاذْكُرُواْ إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاء مِن بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُواْ آلاء اللّهِ وَلاَ تَعْثَوْا فِي الأَرْضِ مُفْسِدِينَ. (الأعراف: ٧٤).

Artinya: "Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti- pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan." (QS Al A'raf: 74).

Sebenarnya Nabi Shaleh adalah bagian dari kaum Tsamud. Dari keluarga terpandang dan terhormat diantara mereka. Bahkan mereka memprediksikan nanti Nabi Shaleh ini akan mereka angkat menjadi pemimpin. Namun, ternyata Beliau diangkat Allah menjadi Nabi, dan menyeru mereka meninggalkan berhala sembahan mereka. Akibatnya mereka malah kecewa dan berbalik membenci Beliau. Allah SWT menceritakan sikap mereka ini di dalam Al Quran:

قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا ۖ أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ. (هود: ٦٢).

Artinya: "Kaum Tsamud berkata: "Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami." (QS Hud: 62).

Kaum Tsamud membangkang terhadap seruan Nabi Shaleh. Mereka tidak suka agama dan berhala nenek moyang mereka digugat. Pembangkangan mereka bertambah-tambah dengan sikap angkuh dan keaombongan, serta melecehkan Nabi Shaleh dan para pengikutnya yang lemah. Allah SWT berfirman:

قَالَ الْمَلأ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آمَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُرْسَلٌ مِنْ رَبِّهِ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُؤْمِنُونَ (75) قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا بِالَّذِي آمَنْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (76). الأعراف.

Artinya: "Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya, berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, "Tahukah kalian bahwa Saleh diutus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?” Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu yang Saleh diutus untuk menyampaikannya." Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, "Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kalian imani itu.” (QS Al A'raf: 75-76).

Dengan sombong dan angkuhnya, kaum Tsamud tidak percaya atas kenabian dan kerasulan Nabi Shaleh as. Sebagaimana kaum-kaum kafir yang lain, mereka meminta tanda atau mukjizat kepada Nabi Shaleh as, yang menandakan bahwa Beliau benar-benar Nabi. Mereka meminta agar Nabi Shaleh mengeluarkan dari sebuah batu besar seekor unta yang unggul dan besar untuk mereka, yang mereka saksikan oleh mata kepala mereka sendiri.

Maka Nabi Shaleh membuat perjanjian dan ikrar terhadap mereka: Jika Allah mengabulkan permintaan mereka, maka mereka mau beriman kepada Nabi Shaleh dan benar-benar akan mengikutinya. Setelah mereka bersedia dan memberikan janji dan ikrar mereka kepadanya, maka Nabi Shaleh as. bangkit berdoa memohon kepada Allah SWT.

Maka batu besar itu mendadak bergerak dan terbelah, kemudian keluarlah darinya seekor unta betina yang janinnya bergerak pada kedua sisi lambungnya (yakni sedang mengandung kembar), persis seperti apa yang mereka minta. Pada saat itu juga berimanlah kepada Nabi Shaleh sebagian mereka. Tetapi sebagian lain menghalang-halangi orang yang ingin beriman. Maka kebanyakan pemuka Tsamud tidak beriman.

Unta betina itu beserta anaknya sesudah ia melahirkannya, tinggal bersama mereka dalam suatu masa. Unta itu minum dari air sumur mereka sehari, dan hari yang lainnya air sumur itu merupakan bagian untuk minum mereka. Pada hari minum unta itu mereka dapat minum dari air susu unta itu yang mereka perah. Air susunya dapat memenuhi semua wadah dan panci besar mereka menurut sekehendak mereka. Hal ini dikisahkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya:

{وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌ} (القمر: ٢٨).

Artinya: "Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran). (Al-Qamar: 28).

Dan firman Allah SWT lainnya yang mengatakan:

{هَذِهِ نَاقَةٌ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَعْلُومٍ} الشعراء: ١٥٥.

Artinya: "Saleh menjawab, "Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kalian mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu.” (Asy-Syu'ara: 155).

Setelah hal tersebut berlangsung cukup lama di kalangan mereka, dan mereka makin gencar dalam mendustakan Nabi Shaleh as, maka mereka bertekad dan bersepakat untuk  membunuh unta betina itu dengan tujuan agar bagian airnya dapat mereka peroleh setiap harinya. Firman Allah SWT menyatakan:

فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ. (الأعراف:77).

Artinya: "Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." (QS Al A'raf: 77).

Ada 9 orang pemuka kaum Tsamud yang mengeksekusi pembunuhan unta tersebut. Mereka tidak saja melanggar perjanjian dengan Nabi Shaleh dengan membunuh dan menyembelih unta milik Allah SWT tersebut, mereka juga menantang Nabi Shaleh untuk mendatangkan adzab Allah atas pelanggaran mereka ini.

Begitu mendengar berita pembunuh unta tersebut,   Nabi Shaleh mendatangi mereka di saat mereka sedang berkumpul. Ketika Nabi Saleh melihat bahwa unta betina itu telah disembelih, ia menangis dan berkata, seperti yang dikisahkan oleh firman-Nya:

تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ. (هود: ٦٥).

Artinya: "Bersuka-rialah kalian di rumah kalian selama tiga hari. (QS Hud: 65).

Janji Allah SWT tidak pernah dusta. Pembunuhan unta tersebut terjadi pada hari Rabu. Pada petang harinya kesembilan orang lelaki itu bertekad akan membunuh Nabi Saleh. Mereka mengatakan, "Jika dia benar, maka berarti kita mendahuluinya mati sebelum kita mati (karena azab). Jika dia dusta, maka kita timpakan kepadanya nasib yang sama seperti yang dialami untanya itu." Allah menceritakan niat jahat mereka ini:

{قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ. وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ * فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ * فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا}. النمل: ٤٩-٥١.

Artinya: Mereka berkata, "Bersumpahlah kalian dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari. Kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar.” Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh, dan Kami merencanakan makar (pula), sedangkan mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu. (QS An-Naml: 49-51).

Ketika mereka bertekad melaksanakan niatnya dan telah sepakat, maka mereka datang di malam hari untuk membunuh Nabi Shaleh secara mengejutkan. Tetapi Allah mengirimkan batu-batuan yang menghalangi mereka sampai kepada Nabi Shaleh.

Pada pagi hari Kamis (yaitu hari pertama penangguhan tersebut) wajah mereka berubah warnanya menjadi kuning, persis seperti apa yang dijanjikan oleh Nabi Shaleh kepada mereka. Selanjutnya pada hari keduanya dari hari-hari tersebut (yakni hari Jumat) wajah mereka berubah menjadi merah. Pada hari ketiganya (yaitu hari Sabtu) wajah mereka berubah menjadi hitam. Dan pada pagi hari Ahadnya mereka dalam keadaan kaku dan duduk seraya memandang kepada azab Allah dan siksa-Nya yang menimpa mereka.

Matahari terbit dengan cerahnya, dan datanglah kepada mereka suatu suara keras dari langit dan gempa yang dahsyat dari bagian bawah mereka. Maka semua roh mereka sekaligus tercabut dalam masa yang sama saat itu juga. Allah SWT berfirman:

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ. (الأعراف: ٧٨).

Artinya: Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka." (QS Al A'raf: 78).

Semua kaum Tsamud kafir tewas bergelimpangan meregang nyawa. Bangunan-bangunan mereka hancur. Adapun Nabi Shaleh dan beberapa kaumnya yang beriman, Allah selamatkan dari petaka yang besar itu. Demikianlah nasib tragis kaum yang tidak mau serta tidak suka dengan nasehat dan orang yang memberikan nasehat.

Pelajaran

1. Allah SWT mengutus para Nabi kepada kaumnya untuk bertauhid kepadaNya dan hanya menyembahNya semata. Maka setiap umat selalu ada Nabinya yang memberi peringatan kepada mereka.
2. Keunggulan dan kehebatan dalam ilmu, bila tidak tunduk kepada wahyu, akan melahirkan orang yang sombong dan berani menantang Allah SWT.
3. Kebanyakan para pengikut Nabi dan Rasul yang setia adalah kalangan yang lemah dari masyarakat. Sebab, biasanya mereka tidak punya sifat sombong. Sehingga hidayah mudah menghampiri mereka.
4. Tidak ada kerugian bila seseorang mau mendengarkan nasehat dari orang lain. Itulah tanda kerendahan hati dan kebesaran jiwa. Menolak nasehat sering kali membawa kepada kebinasaan.
5. Kaum dan umat terdahulu yang kuat lagi perkasa begitu mudah dibinasakan oleh Allah SWT. Apalagi umat akhir zaman yang tidak seperkasa mereka.

Wallahu A'laa wa A'lam.

0 komentar:

Posting Komentar