Pages

Sabtu, 11 Mei 2019

Ramadan 6


KISAH DAN ‘IBRAH

DZULQARNAIN RAJA TIMUR DAN BARAT

Dzulqarnain adalah salah seorang raja yang shaleh dan adil yang Allah sebutkan kisahnya di dalam Al Quran. Ia adalah seorang muslim yang beriman, yang masuk Islam di masa Nabi Ibrahim. Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Dzulqarnain ini pernah thawaf di Ka’bah ketika baru dibangun oleh Nabi Ibrahim. Ia diberi Allah kerajaan yang luas dari timur ke barat. Para ulama berbeda pendapat apakah dia seorang Nabi atau tidak.

Imam Ibnu Jarir Ath Thabari meriwayatkan bahwa Imam Mujahid pernah berkata, “Raja timur dan barat itu ada 4. Dua orangnya adalah beriman, dan dua orang lagi adalah kafir. Adapun dua yang beriman itu adalah Nabi Sulaiman bin Daud as dan Raja Dzulqarnain. Sedangkan dua orang yang kafir adalah Bukhtanshar raja romawi dan Namrud bin Kan’an.

Dzulqarnain dalam Al Quran ini bukanlah Alexander II Raja Makedonia. Sebab Dzulqarnain ini adanya di zaman Nabi Ibrahim dan dia seorang yang beriman. Sedangkan Alexander II Zulkarnain hidup tidak jauh dengan masa Nabi Isa as. Jarak masa antara kedua Dzulqarnain hampir 2000 tahun. Dan Alexander II adalah seorang kafir Yunani murid dari Aristoteles.

Rasulullah saw ditanya (diuji) oleh Kafir Qureisy tentang Dzulqarnain yang kerajaannya membentang dari timur ke barat. Allah SWT menjawabnya dalam surat Al Kahfi:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا (83) إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الأرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا (84) }

Artinya: “Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulqarnain. Katakanlah, "Aku akan bacakan kepada kalian cerita tentangnya.” Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.” (QS Al Kahfi: 83-84)

Allah SWT memberikan kepadanya kerajaan yang besar dan kuat dengan menguasai segala apa yang dimiliki oleh semua raja, berupa kekuasaan, balatentara, peralatan perang, dan perlengkapannya. Karena itulah dia berhasil menguasai belahan timur dan barat bumi ini. Semua negeri tunduk kepadanya dan semua raja di bumi takluk di bawah kekuasaannya. Semua bangsa, baik yang Arab maupun yang non-Arab, berkhidmat kepadanya. Karena itulah ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa sesungguhnya ia dijuluki dengan sebutan Zulqarnain karena kekuasaannya mencapai dua tanduk matahari, yaitu bagian timur dan bagian baratnya. Ia juga diberikan Allah keluasan ilmu pengetahuan dan kemampuan menguasai berbagai bahasa. Sehingga ia dapat berkomunikasi dengan berbagai bangsa timur dan barat.

Raja Dzulqarnain berjalan sampai ke bagian barat (ke arah matahari terbenam). Allah memberikannya kekuasaan dan menaklukkan kaum yang ada disana. Sehingga ia diberi hak oleh Allah untuk memimpin dan mengatur mereka dengan adil. Barang siapa yang berbuat aniaya dari mereka boleh dihukum oleh Dzulqarnain. Sedangkan orang yang beriman dan berbuat baik maka ia akan mendapatkan balasan kebaikan dan kemudahan urusan di kerajaan. Allah berfirman:

حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا قُلْنَا يَاذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا (86) قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا (87) وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا (88)

Artinya: “Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: "Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka. Berkata Dzulkarnain: "Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” (QS Al Kahfi: 86-88)

Setelah itu Raja Dzulqarnain bergerak dengan pasukannya menuju bagian timur bumi (ke arah matahari terbit). Setiap kali dia melewati suatu kaum dan tempat, Allah memudahkannya untuk menaklukkan kaum dan tempat tersebut. Sehingga kemudian mereka semua tunduk kepada kerajaannya. Di bagian timur bumi, Raja Dzulqarnanin mendapati kaum yang tidak punya rumah dan tidak punya pohon-pohon yang melindungi mereka dari sinar (cahaya) matahari. Mereka hidup di dalam gua dan lobang-lobang. Bila matahari terbit, mereka berlindung ke dalam gua dan lobang-lobang tersebut. Bila matahari terbenam, mereka keluar mencari kehidupan. Allah berfirman:

حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَى قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا (90)

Artinya: Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.” (QS Al Kahfi: 90).

Ibnu Jarir Ath Thabari menjelaskan tafsir firman Allah di atas, bahwa mereka sama sekali tidak pernah membuat bangunan. Dan Zulqarnain tidak membangun suatu bangunan pun bagi mereka. Apabila matahari terbit, masuklah mereka ke dalam liang-liang tempat tinggalnya, hingga matahari berada di tengah langit, atau mereka masuk ke dalam laut. Demikian itu karena tanah tempat tinggal mereka tidak berbukit. Pernah sejumlah pasukan datang ke tempat mereka itu, maka para penduduknya berkata kepada pasukan itu, "Janganlah kamu berada di tempat ini ketika matahari dalam keadaan terbit." Pasukan itu berkata, "Kami tidak akan meninggalkan tempat ini sampai matahari terbit, tetapi apakah tulang-tulang ini?." Para penduduk tempat itu berkata,"Ini adalah bekas bangkai suatu pasukan yang berada di tempat ini saat matahari sedang terbit, akhirnya mereka semua mati kepanasan." Ibnu Jarir melanjutkan kisahnya, bahwa akhirnya pasukan itu lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu menuju kawasan lainnya.

Kemudian Raja Dzulqarnain menempuh jalan yang lain. Hingga sampailah ia di sebuah negeri yang terletak diantara dua bukit. Kaum disana menggunakan bahasa yang tidak dimengerti. Akan tetapi Dzulqarnain dengan izin Allah memahami bahasa mereka. Diantara dua bukit itu ada celah yang terbuka ke arah dua kaum lain yang sangat kejam dan ganas. Mereka adalah kaum Yakjuj dan makjuj. Mereka selalu membuat kerusakan dan keonaran bagi kaum yang lain. Yakjuj dan Makjuj ini merupakan keturunan Nabi Adam juga. Dan mereka akan menjadi penghuni neraka yang paling dominan. Dalam Hadits Qudsi yang shahih, Allah berfirman:

يَا آدَمُ فَيَقُولُ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِى يَدَيْكَ - قَالَ - يَقُولُ أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ. قَالَ وَمَا بَعْثُ النَّارِ قَالَ مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَمِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ. قَالَ فَذَاكَ حِينَ يَشِيبُ الصَّغِيرُ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ ». قَالَ فَاشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا ذَلِكَ الرَّجُلُ فَقَالَ « أَبْشِرُوا فَإِنَّ مِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا وَمِنْكُمْ رَجُلٌ

Artinya: "Hai Adam!". Adam menjawab, "Labbaika wasa'daika, segala kebaikan di tanganMu.”Allah berfirman, "Kirimkanlah rombongan ke neraka!" Adam bertanya, "Berapa orangkah yang dikirimkan ke neraka?”Allah Swt. menjawab, "Dari setiap seribu orang, yang sembilan ratus sembilan puluh sembilannya ke neraka, sedangkan yang seorang dikirimkan ke surga.” Maka pada saat itulah anak kecil beruban, dan setiap wanita yang mengandung mendadak melahirkan kandungannya, dan kamu akan melihat manusia seperti mabuk. Padahal mereka bukan mabuk. Akan tetapi adzab Allah yang sangat pedih. Para sahabat sangat takut mendengar berita tersebut. Mereka bertanya, “Siapakah kita yang masuk satu orang laki-laki (yang selamat) itu?”. Rasulullah saw menjawab: “Bergembiralah kalian. Sesungguhnya dari kaum Yakjuj dan Makjuj seribu, dan dari kalian satu orang.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kaum yang berada di lembah antara dua bukit itu mengadukan nasib mereka kepada Raja Dzulqarnain. Mereka selalu ditindas dan menjadi kaum Yakjuj dan Makjuj. Mereka berharap agar Raja Dzulqarnanin bersama bala tentaranya bisa membuat tembok pembatas antara mereka dengan Yakjuj dan Makjuj. Mereka bersedia membayar berapapun biaya yang diminta Dzulqarnain. Namun dengan keluhuran akhlaknya, Dzulqarnain menolak upah yang ditawari kaum tersebut. Baginya, seluruh kerajaan dan kekuasaan yang telah Allah berikan kepadanya adalah jauh lebih baik baginya.

Dzulqarnain mengajak seluruh kaum itu untuk bekerjasama menghadang musuh mereka. Beliau akan membuatkan benteng yang sangat kuat diantara kedua bukit tersebut. Adapaun kaum tesebut bertugas untuk menyediakan semua bahan-bahan untuk pembangunan benteng. Dzulqarnain menyuruh mereka menyiapkan potongan-potongan besi. Lalu ia mmemasang potongan-potongan besi sampai setinggi bukit. Setelah itu mereka ditugaskan memanaskan tembaga untuk kemudian dituangkan ke rangkaian besi yang sudah setinggi bukit itu. Sehingga semua rangkaian potongan besi itu menjadi merekat, menyatu dan menjadi sebuah pagar besi raksasa yang sangat kuat. Tak ada satupun kaum Yakjuj dan Makjuj yang mampu menembusnya ataupun memanjatnya. Allah SWT berfirman:

آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا (96) فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا (97)

Artinya: “Berilah aku potongan-potongan besi". Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: "Tiuplah (api itu)". Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu". Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.” (QS Al Kahfi: 96-97)

Dengan tuntasnya pembangunan benteng atau bendungan besi raksasa oleh Dzulqarnain, maka terkurunglah seluruh kaum Yakjuj dan Makjuj tersebut. Mereka tak sanggup melobanginya dan tidak bisa memanjatnya. Dzulqarnain  sangat bersyukur atas tuntasnya pembangunan benteng tersebut. Ia menyatakan bahwa benteng ini adalah rahmat dari Tuhannya. Pada saatnya kelak, apabila sudah datang janji Allah, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Allah itu adalah benar".

Dalam banyak riwayat hadits, setiap hari Yakjuj dan Makjuj bekerja melobangi benteng itu, sampai hari kiamat kelak. Dan menjelang kiamat nanti mereka akan berhasil membukanya dan keluar dari kurungan benteng tersebut. Kemunculan Yakjuj dan Makjuj akan menjadi salah satu tanda-tanda besar hari kiamat, setelah kemunculan Dajjal dan turunnya Nabi Isa dari langit. Mereka memangsa manusia dan tidak ada yang mampu memusnahkannya. Termasuk Nabi Isa juga tidak berdaya mengalahkannya. Akhirnya Nabi Isa berdoa kepada Allah agar menurunkan tentaranya untuk menghancurkan Yakjuj dan Makjuj.

Berdasarkan hadits riwayat Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, “Ketika malam diisra’kannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berjumpa dengan Ibrahim, Musa, dan ‘Isa Alaihissallam. Lalu mereka membicarakan tentang Kiamat… hingga beliau bersabda, “Maka mereka mengembalikan pembicaraan kepada ‘Isa.’ Lalu beliau (‘Isa) menyebutkan terbunuhnya Dajjal, kemudian berkata, “Selanjutnya manusia kembali ke negeri-negeri mereka, lalu dihadang oleh Yakjuj dan Makjuj yang berdatangan dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi. Mereka tidak akan melewati air kecuali meminumnya, tidak juga melewati sesuatu kecuali menghancurkannya. Kemudian mereka (para Sahabat ‘Isa) meminta pertolongan kepadaku, lalu aku berdo’a kepada Allah, maka Allah membinasakan mereka. Selanjutnya bumi menjadi bau karena bangkai mereka, kemudian mereka (para Sahabat ‘Isa) memohon kepadaku, lalu aku berdo’a kepada Allah, akhirnya Allah mengirimkan hujan dari langit yang membawa dan melemparkan jasad-jasad mereka ke lautan.” (HR Hakim dalam Mustadraknya).

Pelajaran dari Kisah Ini:

1. Allah Maha berkuasa untuk memberikan kerajaan kepada siapa saja yang dikehendakiNya, dan mencabut kerjaan dari siapa saja yang dikehendakiNya. Dia bisa Memuliakan siapa saja dan menghinakan siapa saja. Di TanganNya-lah segala kebaikan, karena Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

2. Seorang yang shaleh lagi baik, bila memiliki kekuasaan dan kerajaan, akan mampu menghadirkan  kemashlahatan yang jauh lebih besar dan lebih luas dibandingkan orang shaleh yang tidak memiliki kekuasaan.

3. Setiap kaum akan mendapat berbagai ujian dari Allah, sesuai dengan situasi dan kondisinya. Ada yang diuji karena kondisi geografisnya, ada yang diuji karena penguasa yang zhalim, dan juga ada yang diuji dengan musuh dari kaum lain yang kejam dan ganas. Yang menang dalam ujian tersebut adalah yang tetap dalam kondisi imam kepada Allah walaupun dia binasa.

4. Yakjuj dan makjuj sebagai salah satu tanda-tanda besar hari kiamat adalah benar adanya. Dan benteng yang dibuat oleh raja Dzulqarnain adalah benar adanya. Walaupun mungkin ilmu pengetahuan dan teknologi manusia belum dapat mendeteksi dimana keberadaan mereka saat ini.

5. Meminta bantuan kepada orang lain dengan menjanjikan balasan yang baik adalah sebuah akhlak dan perilaku yang dibolehkan. Sebaliknya, memberi pertolongan tanpa pamrih adalah akhlak yang jauh lebih terpuji.

Wallahu A’laa wa A’lam.

H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed

0 komentar:

Posting Komentar