nTahun 2017 lalu, begitu banyak torehan prestasi yang diraih nPemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat (Sumbar) dibawah nkepemimpinan Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno dan Wakil Gubernur Sumbar, nNasrul Abit dalam memajukan pembangunan maupun perekonomian ekonomi nmasyarakat.n
n
nSelain itu, puluhan lebih penghargaan selama kepemimpinan keduanya ndiraih. Baik dari pemerintah pusat maupun lembaga berskala nasional jugan diraih keduanya. Menyongsong tahun 2018 dengan semangat baru. n Keduanya, bertekad akan lebih meningkatkan apa yang telah diraih selaman 2017. Tentu saja dengan bantuan jajaran organisasi perangkat daerah n(OPD) Pemprov Sumbar dan stakeholder terkait lainnya. Yang akan membawa nSumbar lebih berkembang lagi dari segala sektor yang ada. Sehingga nberdampak pada kemajuan daerah dan masyarakat.
n
n“Kita optimis pada tahun 2018 ini akan lebih baik lagi. Dan bisa nmemberikan yang terbaik untuk Sumbar,” ujar Gubernur Sumbar, Irwan nPrayitno didampingi Wakil Gubernur Nasrul Abit serta Kepala Biro Humas nSetdaprov Sumbar, Jasman, kemarin saat ekspose akhir tahun 2017 yang ndiinisiasi Humas Setdaprov Sumbar di Auditorium Gubernuran.
n
nDalam satu tahun kemarin atau selama 2017, kata Irwan banyak yang ntelah dilakukan. Di antaranya pembangunan insfrastruktur yang memberikann efek positif bagi masyarakat. Yang pada akhirnya dapat menunjang nperekonomian masyarakat.
n
nSelain sektor pembangunan, Pengendalian inflasi di daerah, Pemprov nSumbar dan jajaranya memiliki andil dalam hal ini. Sehingga dapat ndilihat dari bulan ke bulan, inflasi di Sumbar dapat terkendali. Itu ndibuktikan, engan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumbar menjadi nTPID terbaik untuk kawasan Sumatra. Penghargaan ini diraih karena nkeberhasilan dalam mengendalikan inflasi, terutama pada saat Ramadhan ndan Lebaran 2017.
n
n“Bahkan untuk mengatasi inflasi di Sumbar, saya juga meminta Komisi nPengawas Persaingan Usaha (KPPU) perlu ada di Sumbar, supaya pengawasann terhadap pengusaha yang bergerak di sektor pangan bisa lebih ketat. nTermasuk semua komoditi pangan sebagai indikator penyebab inflasi ndikelola dengan baik seperti, cabai dan jengkol,” katanya.
n
nTidak hanya itu, ia juga pernah mengusulkan dalam pengendalian ninflasi di Sumbar, di mana harga tiket pesawat Jakarta-Padang dan nsebaliknya yang sering melonjak sangat tinggi setiap Ramadhan dan nlebaran harus menjadi perhatian. Serta, penguatan peran Badan Usaha nMilik Daerah (BUMD) untuk mendukung distribusi serta perbaikan tata nniaga pangan juga harus menjadi perhatian serius. Sehingga, pemerintah ndaerah secara tidak langsung dapat mengendalikan harga yang bergejolak nmelalui BUMD.
n
nDari sektor Pariwisata, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang ndatang ke Sumbar melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dan nPelabuhan Teluk Bayur bulan Oktober 2017 mencapai 4.826 orang, mengalamin peningkatan 11,02 persen disbanding wisman September 2017yang tercatatn sebanyak 4.347 orang.
n
n“Sedangkan, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Sumbarn bulan Oktober 2017 mencapai ratarata 59,64 persen mengalami peningkatann 0,37 poin disbanding TPK bulan September 2017 sebesar 59,27 persen,” ntuturnya. Ini, kata Irwan menunjukan pariwisata yang mulai gencar.
nBahkan, Sumbar dinobatkan sebagai tujuan destinasi wisata halal terusn menjadi lirikan bagi wisatawan mancanegara untuk berkunjung di luar ndari wisatawan lokal. Mungkin, jika digabungkan dengan wisatawan lokal npasti jumlah kunjungan lebih meningkat. “Wisman saja naik nkunjungannya,apalagi jika ditambah lokal. Ini data yang kita miliki nmerujuk dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar,” katanya.
n
nUntuk nilai ekspor dan impor Sumbar juga mengalami peningkatan. Hal nitu dapat dilihat dari nilai ekspor Sumbar bulan November 2017 terjadi n peningkatan sebesar 2,14 persen dibanding ekspor bulan Oktober 2017. nBahkan, nilai ekspor November 2017 ini meningkat sebesar 0,87 persen njikadibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya.
n
n“Nilai impor Sumbar bulan November 2017 terjadi peningkatan sebesar n49,73 persen dibanding impor bulan Oktober 2017. Nilai impor bulan nNovember 2017 naik sebesar 192,09 persen dibanding bulan yang sama tahunn sebelumnya,” terangnya.
n
nTidak hanya itu, pertumbuhan ekonomi Sumbar pada triwulan III-2017 ntumbuh 5,38persen. Itu dapat diukur berdasarkan besaran Produk Domestikn Regional Bruto (PDRB) Ekonomi Sumatera Barat triwulan III-2017 nmeningkat sebesar 2,13 persen (q-to-q). Serta, ekonomi Sumbar triwulan nI-III 2017 (c-to-c) tumbuh sebesar 5,23 persen.
n
nKemudian dari segi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terus mengalami nkemajuan. Baik itu dari berapa sektor. Di antaranya Angka Harapan Hidup n(AHH), harapan Lama Sekolah (HLS), rata-rata lama sekolah (RLS) dan npengeluaran per kapita setahun.
n
n“ IPM untuk mengukur keberhasilan pemerintah dalam membangun kualitasn hidup manusia.IPM Sumbar terus mengalami kemajuan dari tahun ke tahun,”n ulasnya. Dari segi pengangguran, dari tahun ke tahun, persentase npengangguran di Sumbar terus menurun. Hal ini terjadi karena upaya npemerintah dalam mengurangi jumlah pengangguran. Lewat job fair baik itun tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang dilakukan setiap tahunnya ndengan mengandeng beberapa perusahaan.
n
n“Jadi, job fair merupakan satu cara pengurangan pengangguran dengan nmempertemukan langsung pencari kerja dengan perusahaan yang nmembutuhkan,” ujarnya. Berkurangnya terus pengangguran di Sumbar kata nIrwan, itu berimbas dengan terus mengalami peningkatan Upah Minimum nProvinsi (UMP). Di mana, dari tahun ke tahun terus meningkat. Sehingga, ndapat membantu para pekerja memenuhi kebutuhan hariannya. Apalagi bagi nmereka yang telah berkeluarga.
n
nDari sektor pertanian, nilai tukar petani (NTP) Sumbar bulan Novembern 2017 tercatat sebesar 96,15 atau turun 0,46 persen dibanding bulan nsebelumnya yang tercatat sebesar 95,71 (Oktober 2017). Indeks harga yangn diterima petani (It) mengalami kenaikan sebesar 0,78 persen,dan indeks nharga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,33 persen.
n
n“Pada bulan November 2017 NTP masing-masing subsector tercatat nsebesar 91,56 untuk subsektor tanaman pangan (NTPP), 83,96 untuk nsubsector hortikultura (NTPH), 101,28 untuk subsektor tanaman perkebunann rakyat (NTPR), 103,80 untuk subsector peternakan (NTPT), dan 109,27 nuntuk subsektor perikanan (NTPN). Subsektor perikanan terbagi menjadi ndua, yaitu subsektor perikanan tangkap dan perikanan budidaya dengan NTPn masingmasing sebesar 109,44 dan 109,23,” tandasnya.
nTahun 2018 ini, semua program yang telah disusun dapat berjalan ndengan baik. Sehingga, akan berdampak kepada kemajuan daerah yang nmenyasar seluruh sektor.
n
nPadang Ekspres, 2 Januari 2018
