JAKARTA, SUMBAR.PKS.ID – Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Padang sekaligus Anggota DPRD Kota Padang, Mulyadi Muslim, Lc., M.A., memperkenalkan karya terbarunya berupa buku berjudul DNA PKS dalam rangkaian Bimbingan Teknis Nasional (Bimteknas) PKS 2026 yang berlangsung pada 19–21 Oktober 2026 di Hotel Pullman Central Jakarta.
Buku DNA PKS mengulas nilai-nilai yang membentuk karakter kader PKS, mulai dari kaderisasi, pembinaan, kedisiplinan, dan keteladanan hingga kepedulian serta semangat melayani masyarakat. Melalui buku ini, Mulyadi menelusuri bagaimana nilai-nilai yang diwariskan selama puluhan tahun membentuk karakter kader dan menjadi kekuatan sosial maupun politik PKS, khususnya di Sumatera Barat.
Karya tersebut mendapat sambutan dari Presiden PKS Almuzzammil Yusuf dan Ketua DPW PKS Sumatera Barat, Ulyadi. Keduanya menyoroti pentingnya nilai pengabdian, kepedulian, dan pelayanan yang menjadi bagian dari karakter kader PKS.
Apresiasi juga datang dari Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, yang menyampaikan tanggapannya melalui konten Reels di akun Instagram pribadinya, @markarius_anwar.
Presiden PKS: DNA Kader PKS Selaras dengan Budaya Sumatera Barat
Dalam sambutannya yang dimuat dalam buku tersebut, Presiden PKS Almuzzammil Yusuf menyampaikan bahwa karya Mulyadi Muslim memperkuat hasil perenungannya mengenai kesesuaian karakter kader PKS dengan adat, budaya, dan karakter masyarakat Sumatera Barat.
“Buku yang ditulis oleh saudara Mulyadi Muslim ini memperkuat hasil perenungan saya tentang kecocokan antara DNA kader PKS dengan adat, budaya dan karakter masyarakat Sumatra Barat,” tulis Almuzzammil.
Ia berharap kehadiran buku ini dapat menjadi motivasi bagi kader PKS untuk terus istikamah dalam menjalankan pengabdian, terutama ketika masyarakat menghadapi berbagai kesulitan dan bencana.
Menurutnya, kehadiran kader di tengah masyarakat bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari pengabdian kepada negeri dan bangsa yang dilandasi perintah agama.
“Kehadiran buku ini diharapkan menjadi motivasi bagi kader-kader PKS untuk terus istikamah dalam pengabdian, senantiasa hadir dalam setiap duka dan bencana semata-mata untuk pengabdian pada negeri dan bangsa, karena perintah agama,” lanjutnya.
Pandangan tersebut mempertegas salah satu gagasan utama buku DNA PKS, yakni karakter kader tidak hanya dibentuk melalui proses organisasi, tetapi juga melalui nilai agama dan budaya yang mendorong lahirnya kepedulian serta tanggung jawab sosial.
Ulyadi: Peduli dan Melayani Menjadi DNA Kader PKS Sumbar
Ketua DPW PKS Sumatera Barat, Ulyadi, menilai bahwa kepedulian dan pelayanan merupakan pesan mendasar yang ingin disampaikan melalui buku DNA PKS.
Dalam sambutannya, Ulyadi menggambarkan bagaimana kader PKS Sumatera Barat berupaya hadir di tengah masyarakat, terutama ketika bencana dan berbagai persoalan sosial terjadi.
“Salah satu pesan mendasar buku ini adalah DNA kader PKS, yaitu peduli dan melayani. Di tengah berbagai tantangan, kader PKS Sumatra Barat tetap terdepan saat bencana, hadir saat masyarakat membutuhkan. Bukan karena instruksi, melainkan panggilan nurani yang tertanam dalam jiwa. Inilah yang membuat PKS bukan sekadar partai, melainkan bagian dari denyut nadi masyarakat,” tulis Ulyadi.
Menurutnya, buku tersebut juga merekam perjalanan panjang PKS di Sumatera Barat, mulai dari halaqah dan lingkungan kampus hingga kiprah kader di lembaga legislatif dan eksekutif.
Perjalanan tersebut menggambarkan bagaimana proses kaderisasi berjenjang melahirkan pemimpin yang berintegritas dan dekat dengan masyarakat. Kisah para tokoh yang tertuang di dalamnya menjadi refleksi bahwa kepemimpinan sejati berkaitan erat dengan amanah dan pengabdian.
Ulyadi berharap buku tersebut menjadi pengingat bagi seluruh kader, terutama generasi muda, untuk terus menjaga konsistensi dalam menjalankan pengabdian.
“Semoga buku ini menjadi pengingat bagi kita semua, terutama generasi muda kader, untuk terus istikamah dalam pengabdian, hadir dalam setiap suka dan duka masyarakat, serta berpegang teguh pada nilai-nilai luhur perjuangan,” ungkapnya.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada Mulyadi Muslim atas upayanya merekam perjalanan, nilai, dan pengalaman pengabdian PKS di Sumatera Barat melalui sebuah karya tertulis.
Berawal dari Pertanyaan, Mengapa Kader PKS Selalu Ada Saat Bencana?
Dalam prolog berjudul Mengapa Mereka Selalu Ada?, Mulyadi Muslim mengawali tulisannya dengan menggambarkan situasi masyarakat ketika bencana melanda.
Gempa bumi, banjir, dan longsor tidak hanya merusak rumah serta harta benda, tetapi juga merenggut rasa aman dan mengubah kehidupan masyarakat dalam waktu singkat.
Pada saat seperti itu, masyarakat membutuhkan kehadiran nyata. Mereka mencari orang-orang yang membantu proses evakuasi, mengangkat puing-puing rumah, menyalurkan makanan, serta mendampingi warga yang sedang menghadapi masa sulit.
Di Sumatera Barat, pengalaman tersebut berulang kali memperlihatkan kehadiran kader PKS bersama relawan dan masyarakat lainnya.
“Di antara para relawan, petugas, dan masyarakat yang saling menguatkan, ada wajah-wajah yang sudah tidak asing lagi. Mereka datang tanpa menunggu panggilan,” tulis Mulyadi.
Pengalaman tersebut memunculkan pertanyaan mendasar bagi Mulyadi: mengapa para kader itu terus hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan?
Menurutnya, jawaban atas pertanyaan tersebut tidak cukup dijelaskan melalui strategi politik, kemampuan organisasi, atau keberhasilan dalam pemilu. Kekuatan sebuah gerakan justru tumbuh melalui proses panjang, seperti pembinaan yang berkelanjutan, kedisiplinan, keteladanan, serta keyakinan bahwa amanah merupakan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.
Dari penelusuran perjalanan PKS di Sumatera Barat, ia menemukan satu nilai yang berulang kali muncul dalam berbagai kisah pengabdian, yaitu melayani.
“Melalui tulisan ini saya berusaha menelusuri jejak yang telah ditinggalkan selama puluhan tahun, tentang bagaimana sebuah gerakan membentuk manusia, manusia membangun kepercayaan, dan kepercayaan itu perlahan menjelma menjadi kekuatan sosial maupun politik di ranah Minang,” tulisnya.
DNA PKS: Kepedulian yang Tumbuh Melalui Kaderisasi
Dalam buku ini, istilah DNA digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan nilai-nilai yang tertanam dalam diri kader dan membentuk karakter mereka.
Mulyadi menjelaskan bahwa nilai tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Karakter kader dibentuk melalui proses pembinaan, kaderisasi, kebiasaan, keteladanan, dan pengalaman pengabdian yang berlangsung terus-menerus.
Kepedulian yang diwujudkan melalui pelayanan menjadi benang merah yang menghubungkan berbagai pengalaman tersebut.
Nilai melayani, menurut Mulyadi, membuat seseorang tetap bekerja meskipun tidak mendapat sorotan, menyelesaikan tanggung jawab tanpa menunggu pujian, serta menempatkan amanah sebagai tanggung jawab yang harus ditunaikan.
Ketika nilai tersebut telah menjadi bagian dari cara berpikir dan bertindak, pengabdian diharapkan tetap berjalan, termasuk ketika tidak ada sorotan publik maupun kepentingan politik yang sedang dipertaruhkan.
Mulyadi menegaskan bahwa buku ini tidak ditulis untuk menggambarkan PKS sebagai organisasi tanpa kekurangan atau mengajak pembaca menyetujui setiap pandangan yang disampaikan. Ia berupaya merekam perjalanan sebuah gerakan dalam membentuk manusia, membangun kepercayaan, dan melahirkan kekuatan sosial maupun politik.
Dengan demikian, DNA PKS dapat dibaca dari berbagai sudut pandang, baik sebagai catatan perjalanan partai, kisah kaderisasi, maupun refleksi tentang kepemimpinan dan pengabdian.
Wakil Wali Kota Pekanbaru Apresiasi Buku DNA PKS Lewat Reels Instagram
Buku DNA PKS karya Mulyadi Muslim juga mendapat apresiasi dari Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar. Apresiasi tersebut disampaikan melalui konten Reels di akun Instagram pribadinya, @markarius_anwar.
Dalam video tersebut, Markarius mengungkapkan rasa terima kasih dan kehormatannya menerima buku yang diberikan oleh sahabatnya, Mulyadi Muslim, Lc., M.A., Ketua DPD PKS Kota Padang sekaligus Anggota DPRD Kota Padang.
“Suatu kehormatan saya dihadiahi sebuah buku dari sahabat saya, Buya Mulyadi Muslim, Lc., MA Ketua DPD PKS Kota Padang dan Anggota DPRD Kota Padang,” ungkap Markarius dalam video tersebut.
Ia menjelaskan bahwa buku DNA PKS membahas karakter yang menjadi bagian dari identitas kader PKS. Buku tersebut bahkan menginspirasinya untuk turut menulis karya serupa.
“Saya jadi termotivasi untuk menjadi penulis buku juga. Terima kasih Buya Mulyadi Muslim, semoga sehat dan sukses selalu!” ujarnya.
Apresiasi melalui Reels Instagram tersebut turut memperkenalkan buku DNA PKS kepada khalayak yang lebih luas. Respons Markarius juga menunjukkan bahwa buku dapat menjadi medium untuk berbagi gagasan dan pengalaman, sekaligus mendorong lahirnya karya-karya yang merekam perjalanan organisasi dan nilai-nilai yang berkembang di dalamnya.
Merekam Perjalanan PKS dan Nilai Pengabdian di Sumatera Barat
Pengenalan buku DNA PKS dalam rangkaian Bimteknas PKS 2026 menjadi momentum bagi Mulyadi Muslim untuk memperkenalkan hasil penelusurannya mengenai perjalanan kaderisasi dan pengabdian PKS di Sumatera Barat.
Melalui buku ini, ia mengajak pembaca memahami bahwa kekuatan sebuah gerakan tidak hanya ditentukan oleh capaian politik, tetapi juga oleh nilai yang diwariskan, kepercayaan yang dibangun, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Buku tersebut merekam perjalanan panjang PKS, mulai dari pembinaan kader hingga kiprah di ruang sosial dan politik. Di dalamnya, Mulyadi berupaya menelusuri bagaimana sebuah gerakan membentuk karakter manusia, melahirkan pemimpin, dan menjaga hubungan dengan masyarakat.
Pertanyaan “Mengapa Mereka Selalu Ada?” menjadi inti refleksi buku tersebut. Sebuah pertanyaan tentang bagaimana kepedulian, pelayanan, dan tanggung jawab dapat terus hidup dalam diri seseorang, bahkan ketika tidak ada sorotan dan tidak ada tepuk tangan.
Bagi Mulyadi, selama semangat melayani tetap hidup, nilai-nilai terus diwariskan, dan amanah dijaga dengan sungguh-sungguh, sebuah gerakan akan memiliki fondasi untuk terus tumbuh dan berkembang. (SA)

