Ditulis oleh: Irsyad Syafar
Kemuliaan Nabi Ibrahim dan Harapan akan Ampunan Allah
Siapakah yang berani meragukan kemuliaan dan kesalehan Nabi Ibrahim a.s.? Adakah yang meragukan bahwa beliau akan masuk surga? Adakah yang berani menyebutkan dosa-dosa beliau? Tentu tidak ada. Tidak seorang pun di antara kita yang meragukan kemuliaan Nabi Ibrahim a.s.
Cukuplah kemuliaan beliau dibuktikan dengan kedudukannya sebagai Khalilullah (kekasih Allah). Beliau juga digelari Abul Anbiya (Bapak Para Nabi). Bahkan, dalam salat, umat Islam membaca selawat untuk beliau ketika duduk tasyahud.
Dengan kemuliaan yang begitu besar itu, Nabi Ibrahim a.s. tidak pernah merasa percaya diri bahwa dirinya pasti masuk surga dengan mudah. Beliau juga tidak pernah memastikan bahwa dirinya terbebas dari dosa dan kesalahan. Sebaliknya, beliau justru mengungkapkan harapannya kepada Allah Swt.:
وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
Artinya: “Dan Dialah yang sangat kuharapkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.” (QS. Asy-Syu’ara: 82).
Rasulullah Saw. Pun Tidak Mengandalkan Kedekatan Keluarga
Adakah di antara kita yang berani meragukan kemuliaan Nabi Muhammad saw.? Adakah yang tidak percaya bahwa beliau akan masuk surga? Atau masih adakah yang meragukan bahwa beliau adalah penghulu para nabi dan rasul serta manusia yang paling mulia di antara mereka? Tentu tidak ada. Tidak seorang pun di antara kita yang meragukan kemuliaan tersebut.
Cukuplah kemuliaan Rasulullah saw. dibuktikan dengan kedudukannya sebagai Khatamun Nabiyyin wal Mursalin, penutup para nabi dan rasul. Allah Swt. memuliakan beliau dengan panggilan, antara lain, Yā ayyuhan nabiyyu dan Yā ayyuhar rasūl dalam Al-Qur’an. Sementara itu, sejumlah nabi lainnya disebut dengan nama mereka, seperti Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Isa.
Rasulullah saw. juga memiliki kedudukan sebagai Khalilullah, sebagaimana Nabi Ibrahim a.s. Keduanya merupakan nabi yang memiliki kedudukan istimewa sebagai kekasih Allah.
Selain itu, umat Islam membaca selawat untuk Rasulullah saw. dalam salat, khususnya ketika duduk tasyahud akhir.
Namun, dengan kemuliaan yang begitu besar, Rasulullah saw. tidak mengandalkan kedudukannya untuk merasa bahwa dirinya pasti masuk surga, lalu menganggap dapat memberikan jaminan keselamatan kepada orang-orang terdekatnya. Syafaat hanya dapat diberikan dengan izin Allah Swt. dan sesuai dengan kehendak-Nya.
Rasulullah saw. pernah menyampaikan pesan yang sangat tegas kepada pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, bibinya, Shafiyyah, dan putrinya, Fatimah r.a.:
يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي، لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا.
Artinya: “Wahai Abbas bin Abdul Muthalib, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Fatimah, putri Muhammad, mintalah kepadaku apa saja yang engkau inginkan dari hartaku, tetapi sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah.” (HR. Bukhari no. 2753 dan Muslim no. 206).
Pesan ini menunjukkan bahwa hubungan nasab dengan Rasulullah saw. sekalipun tidak dapat dijadikan alasan untuk merasa aman dari pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.
Ketika Seorang Syekh Hanya Berharap Ampunan Allah
Ada seorang syekh di Mesir yang alim, hafal 30 juz Al-Qur’an, dan menjadi imam tetap di sebuah masjid besar. Pengikutnya di media sosial tidak banyak. Namun, ketika mengimami salat qiyam Ramadan, jemaah yang menjadi makmumnya bisa mencapai ribuan orang.
Pada suatu malam di bulan Ramadan, beliau mengimami salat qiyam dengan membaca lima juz Al-Qur’an dalam satu rakaat. Sebuah ibadah yang sangat panjang.
Setelah salat selesai, seorang jemaah menghampirinya dan bertanya, “Wahai Syekh, sebagai imam, engkau mendapatkan pahala yang begitu banyak karena membaca Al-Qur’an. Lalu, bagaimana dengan kami yang menjadi makmum? Apakah kami juga mendapatkan pahala?”
Syekh tersebut menjawab, “Apa yang Anda katakan? Saya mendapatkan pahala? Jika dosa-dosa saya diampuni oleh Allah saja, saya sudah sangat bahagia. Tahukah Anda, Nabi Ibrahim saja berharap agar dosanya diampuni oleh Allah.”
Orang yang bertanya pun terdiam mendengar jawaban sang syekh yang begitu tawaduk.
Betapa hati-hatinya syekh tersebut dalam memandang amal salehnya. Beliau tidak merasa bangga berlebihan dengan ibadah yang telah dilakukan, apalagi merasa bahwa amalnya sudah cukup untuk menjamin keselamatannya di akhirat. Sebaliknya, beliau justru mencemaskan dosa-dosanya di hadapan Allah Swt.
Lalu, siapakah kita jika dibandingkan dengan orang-orang saleh terdahulu? Jika mereka saja tidak merasa aman dengan amal ibadahnya, bagaimana mungkin kita merasa telah cukup berbekal untuk menghadapi akhirat?
Jangankan merasa mampu menyelamatkan orang lain, keselamatan diri sendiri pun tidak dapat kita pastikan hanya dengan mengandalkan amal yang telah dilakukan.
Di Akhirat, Nasab Bukan Jaminan Keselamatan
Di akhirat kelak, hubungan nasab dan kekerabatan tidak lagi dapat dijadikan sandaran untuk memperoleh keselamatan. Allah Ta’ala berfirman:
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ
Artinya: “Apabila sangkakala telah ditiup, maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan mereka tidak saling bertanya.” (QS. Al-Mu’minun: 101).
Di akhirat kelak, para malaikat, termasuk Jibril a.s., pun tidak dapat berbicara sesuka hati di hadapan Allah. Mereka hanya dapat berbicara dengan izin-Nya. Allah Swt. berfirman:
يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا
Artinya: “Pada hari ketika roh (Jibril) dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia mengucapkan kata yang benar.” (QS. An-Naba’: 38).
Jika berbicara saja harus menunggu izin Allah, apalagi memberikan syafaat atau pertolongan kepada seseorang agar memperoleh keselamatan dan masuk surga. Semua itu berada dalam kekuasaan dan kehendak Allah Swt.
Amal kita masih sangat sedikit, sedangkan kesalahan kita begitu banyak. Karena itu, kita wajib terus menambah amal saleh, mengurangi dosa, dan senantiasa memohon ampunan kepada-Nya.
Jangan sampai kita merasa bangga dengan amal yang belum tentu diterima, merasa aman dengan dosa yang belum diampuni, atau merasa memiliki jaminan keselamatan hanya karena kedekatan dengan orang-orang saleh.
Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing kita agar menjadi hamba yang rendah hati, tidak merasa cukup dengan amal ibadah, terus memperbaiki diri, dan tidak pernah berhenti berharap akan ampunan serta rahmat-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.