Penghargaan Energi Nasional 2012

Gubernur Sumbar menerima Penghargaan Energi dari Menteri ESDM Jero Wacik

Investment Award 2011

Gubernur Sumbar menerima penghargaan dari pemerintah pusat sebagai provinsi terbaik bidang penanaman modal.

Menolak Kenaikan Harga BBM

Wakil Ketua DPRD Sumbar yang juga Ketua DPW PKS Sumbar ketika diwawancarai wartawan terkait demonstrasi mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM.

Penyalur BOS Tercepat 2012

Gubernur Sumbar mendapat penghargaan sebagai provinsi penyalur dana BOS tercepat tingkat nasional tahun 2012.

Penghargaan Lingkungan Hidup 2012

Gubernur Sumbar pada tahun 2012 kembali mendapatkan penghargaan lingkungan hidup tingkat nasional dimana pada tahun 2011 juga telah mendapat penghargaan yang sama.

Pages

Sabtu, 19 Mei 2018

Kisah dan Ibrah (3)

Ramadhan 3

Oleh: Irsyad Syafar

Dahulu Bani Israil itu selalu dipimpin oleh Nabi. Setiap kali wafat seorang Nabi, maka akan diutus oleh Allah Nabi lain, menjadi pemimpin mereka.

Sepeninggal Nabi Musa, bani Israil hidup dalam ketertindasan. Dimana mereka berada dalam masa-masa yang kelam, teraniaya dan menjadi bulan-bulanan musuh-musuhnya. Malangnya lagi, musuh mereka telah mencuri Tabut milik mereka. Tabut itu di dalamnya Allah berikan perasaan tenang kepada mereka. Dan merupakan satu-satunya peninggalan dari keluarga Musa dan keluarga Harun As.

Dalam kondisi penderitaan dan kehinaan tersebut, timbullah keinginan mereka untuk merubah nasib dan keadaan. Para pembesar dan tokoh-tokoh bani Israil mendatangi Nabi mereka ketika itu. Mereka memohon agar dipilihkan seorang Raja bagi mereka sekaligus menjadi panglima perang untuk melawan musuh-musuh mereka. Mereka mengimpikan hadirnya kemenangan dan berakhir menjadi bangsa yang tertindas. Dan jalan satu-satunya adalah berjuang sampai titik darah penghabisan.

Sang Nabi ketika itu merespon permintaan mereka. Namun Beliau sangat paham betul watak bani Israil. Yaitu pengecut, dan malas berangkat ke medan perang, bertempur "fiisabilillah". Allah SWT melukiskan dialog mereka dengan Nabi Allah:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا ۖ قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا...

Artinya: "Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak ikut berperang". Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?". (QS Al Baqarah: 246).

Karena para pemuka bani Israil ini memberikan argumen yang kuat. Bahwa mereka akan semangat berperang kalau ada panglimanya, dan mereka sudah tidak tahan lagi terus-menerus tertindas, maka Nabi merekapun mengabulkan permintaan mereka. Sang Nabi pun berdoa kepada Allah agar diberikan petunjuk dan dipilihkan panglima sekaligus Raja yang tepat.

Permohonan mereka pun sangat cepat dikabulkan Allah. Sang Nabi mendapat wahyu bahwa yang dipilih Allah adalah Thalut. Seorang lelaki cerdas dan berbadan kuat lagi sehat. Hanya saja dia bukan dari kalangan bangsawan bani israil dan juga seorang yang miskin (tidak berharta).

Disinilah ujian pertama menimpa mereka sebelum berjuang. Mereka mempertanyakan pilihan Allah ini. Kenapa rakyat biasa ini yang menjadi raja dan panglima? Sementara dia seorang yang tak berpunya? Watak pembangkangan dan tidak percaya kepada Allah dan NabiNya, kembali muncul dari Bani Israil. Allah menggambarkan dalam firmanNya:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.

Artinya: "Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut berkuasa atas kami, padahal kami lebih berhak berkuasa dari padanya? sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi raja kalian. Dan Dia menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui." (QS Al Baqarah: 247).

Nabi Allah sangat heran dengan penolakan ini. Padahal mereka dari awal tidak meminta raja dari kalangan bangsawan. Di sini Allah ingin mengajarkan kepada mereka kriteria Raja dan Panglima tertinggi yang sebenarnya. Yaitu haruslah seorang memiliki kelebihan ilmu untuk memimpin dan ketangguhan pisik untuk bekerja (berjuang) secara maksimal. Takkan mungkin suatu kaum akan berjaya dan menang bila pemimpinnya seorang yang tak berilmu atau bodoh, apalagi pisiknya lemah tak mungkin bertarung di jalan Allah.

Sang Nabi juga menjelaskan, bahwa Thalut ini tidak saja unggul dalam ilmu dan pisik dari mereka. Lebih dari itu semua, dia adalah seorang pilihan Allah. Artinya dia seseorang yang memenuhi kriteria "diredhai" oleh Allah. Dan Allah berkuasa memberikan kerajaan kepada hamba yang dikehendakiNya.

Namun, sayangnya Bani Israil kehilangan modal utama untuk menerima pilihan Allah tersebut, yaitu Iman kepada Allah dan keputusanNya. Kerancuan pemahaman, hawa nafsu cinta dunia dan bercampur dengan watak pembangkangan, telah membuat mereka menjadi kaum yang tersesat.

Kaum dengan watak yang buruk seperti ini memang selalu butuh mukjizat untuk menaklukkannya. Agar hati mereka menjadi yakin, dan kepercayaan (tsiqah) kepada pemimpin itu muncul. Sang Nabi mengabarkan bahwa ada tanda-tanda Thalut ini akan menjadi raja. Tanda tersebut adalah dengan kembalinya Tabut dari musuh mereka tanpa perang, dibawa oleh Malaikat. Allah berfirman:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ.

Artinya: "Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda dia akan menjadi raja, adalah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman." (QS Al Baqarah: 248).

Setelah mukjizat ini terbukti dan tabut mereka sudah kembali dibawa oleh malaikat, tanpa mereka ikut susah berperang, merekapun mengakui Thalut sebagai raja bani Israil sekaligus panglima perang. Thalut pun memerintahkan mereka bersiap untuk berperang. Namun, lagi-lagi watak Bani Israil, banyak yang berpaling dari peperangan. Allah katakan:

فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ.

Artinya: "Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim." (QS Al Baqarah: 246).

Thalut pun berangkat dengan bani Israil yang bersedia untuk berperang. Di tengah perjalanan, Thalut sang pemimpin memberikan pesan (perintah), bahwa Allah akan menguji mereka dengan sebuah sungai. "(Nanti) Ketika melewati sungai itu, jangan ada yang meminum airnya. Barang siapa meminumnya, berarti ia bukan seorang prajurit yang patuh dan ia bukan dari golonganku. Dan barang siapa taat atas perintah Allah, maka ia akan tetap bersamaku." Thalut hanya mengizinkan minum seteguk saja yang diambil dari tangan. Sekedar menghilangkan rasa haus dan membahasi bibir yang kering.

Tetapi, watak pembangkang dan nyinyir mereka kepada pemimpin kembali muncul. Ketika mereka sampai ke tepi sungai yang dimaksud, kebanyakan dari mereka melanggar perintah Thalut. Kecuali sedikit saja yang tetap setia dan patuh. Akibatnya Thalut mengeluarkan semua yang membangkang dari pasukannya. Beliau hanya membawa pasukan yang sedikit yang tersisa, yang setia dan patuh kepada perintah dan arahannya.

Ketika sudah berada di medan perang dan dua pasukan sudah berhadap-hadapan, pasukan Thalut yang jumlahnya sedikit,  merasa takut, gentar dan ngeri melihat pasukan musuh yang banyak dan kuat, yang dipimpin oleh Jalut (Goliat). Sebagian kecil saja yang masih yakin bisa berperang dan meraih kemenangan. Allah berfirman:

فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ ۚ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ.

Artinya: "Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya". Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al Baqarah: 249).

Thalut dan pasukannya berperang melawan bala tentara Jalut  dengan penuh kesabaran dan gagah berani. Mereka berdoa kepada Allah:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Artinya: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (QS Al Baqarah: 250).

Di dalam barisan pasukan Thalut yang sedikit dan sabar tersebut, terdapat seorang pemuda yang gagah berani. Dialah Daud yang kemudian berhasil membunuh Jalut yang sangat kuat. Dan akhirnya pasukan Thalut berhasil meraih kemenangan. Sepeninggal Thalut, Daud dipilih menjadi Raja Bani Israil, dan juga diangkat oleh Allah sebagai Nabi.

فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ...

Artinya: "Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya." (QS Al Baqarah: 251).

Demikianlah, Bani Israil dibawah kepemimpinan Panglima Thalut dan peran serta Nabi Daud, mereka meraih kemenangan dari musuh mereka. Walaupun kemenangan itu agak sedikit tercoreng karena adanya orang-orang yang  mudur dari peperangan, tidak patuh dan loyal kepada panglimanya. Kisah ini Allah abadikan dalam Surat Al Baqarah ayat 246 - 252.

Pelajaran:

1. Perubahan nasib suatu kaum bisa diperoleh bila kaum tersebut mau berubah dan siap untuk berjuang serta berkorban karena Allah.
2. Syarat utama kepemimpinan suatu kaum/bangsa adalah keunggulan ilmu pengetahuan dan kekuatan pisik. Kepemimpinan tidak diwariskan karena kekerabatan, bukan karena kebangsawanan ataupun hartawan.
3. Dalam suasana genting perjuangan, umat Islam harus sabar, solid, disiplin, patuh kepada panglima/pemimpin perjuangan, atau kalau tidak, akan mengalami kekalahan.
4. Thalut melarang pasukannya meminum air sungai, padahal minum air sungai hukum asalnya boleh. Akan tetapi itu sebuah pembelajaran, bahwa pemimpin boleh menguji dan melatih kepatuhan pengikutnya.
5. Butuh kekuatan iman dalam menyambut perintah-perintah Allah. Sebagaimana juga butuh keimanan untuk meraih kemenangan, walaupun minoritas.

Wallahu A'laa wa A'lam.

Jumat, 18 Mei 2018

Kisah dan Ibrah


Ramadhan 2

Oleh: Irsyad Syafar

Pada bulan Sya'ban tahun kedua hijriyah terjadi peristiwa pindahnya kiblat di kota Madinah. Awalnya, selama 16 atau 17 bulan semenjak hijrah, Rasulullah saw dan para sahabat berkiblat ke Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis Palestina. Sedangkan sebelumnya - waktu di Makkah - Rasulullah saw shalat menghadap ke Ka'bah.

Berkiblatnya Rasulullah saw ke Baitul Maqdis selama 16 atau 17 bulan di Madinah, tentulah atas perintah dan arahan dari Allah SWT. Namun selama waktu tersebut, Rasulullah saw mengalami ujian perasaan yang lumayan berat. Sebab, kaum ahlul kitab (terutama Yahudi) yang lumayan banyak di Madinah merasa bangga dan senang dengan kondisi itu. Dimana kiblat kaum muslimin sama atau mengikut kiblat yahudi dan nashrani.

Bahkan kaum yahudi Madinah merasa tidak perlu masuk Islam dan mengikuti dakwah Rasululah saw. Sebab justru merekalah yang pemilik asli kiblat ke Baitul Maqdis tersebut. Muhammad dan pengikutnya hanya meniru dan mengikuti saja. Berarti, agama mereka yang benar dan agama Muhammad tidak benar. Atau bahkan, ujung-ujungnya agama Muhammad ini juga akan ikut agama Yahudi.

Suasana dan kondisi ini terasa berat bagi Rasulullah saw dan juga bagi para sahabat. Seringkali Rasulullah saw menengokkan kepalanya ke arah langit, berharap kepada Allah agar diberikan kiblat yang menentramkan hati. Walaupun lisan Beliau tak berucap memintanya. Karena Beliau menjaga adab dan etika kepada Allah, Rabb semesta alam.

Akhirnya harapan Rasulullah saw itu terkabul juga. Turunlah perintah Allah untuk berpindah kiblat ke Ka'bah di Masjidil Haram.

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Artinya: "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (QS Al Baqarah: 144)

Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya, dari Barra' bin Azib bahwa shalat pertama yang Rasulullah saw lakukan ke kiblat yang baru adalah shalat ashar. Kemudian salah seorang sahabat yang sudah selesai shalat bersama Rasulullah saw, pulang ke rumahnya. Di tengah jalan dia mendapatkan suatu kaum masih shalat berjamaah menghadap ke Baitul Maqdis. Maka dia langsung berteriak sambil bersaksi bahwa kiblat sudah pindah ke Masjidil Haram. Jamaah kecil itupun langsung berputar di dalam shalat mereka menghadap ke Masjidil Haram. Di masjid tempat mereka shalat ini, telah terjadi dua kiblat (kiblatain) dalam satu shalat.

Peristiwa berpindahnya kiblat ini disatu sisi sangat membahagiakan Rasulullah saw. Karena hal itu mempertegas jatidiri Islam dan Muslimin, yang tidak mengikut kepada yahudi ataupun nashrani. Namun disisi lain peristiwa ini menjadi ujian lain yang tidak kalah beratnya. Sekaligus menjadi proses penyaringan dan pembersihan shaf (barisan) kaum muslimin dari orang-orang munafiq dan kaum muslimin yang baru masuk Islam dan hatinya masih goyah.

Ujian pertama datang dari kaum yahudi. Awalnya mereka adalah yang paling senang kalau kaum muslimin sama kiblatnya dengan kiblat mereka. Berarti agama mereka adalah agama yang benar dan sama dengan Islam. Bahkan lebih mulia dan utama dari Islam. Buktinya, agama Islam meniru kiblat mereka. Dan nantinya Muhammad akan ikut ajaran mereka.

Tapi, perubahan kiblat ini membuat mereka sangat kecewa. Sekaligus mereka mendapat peluang untuk melancarkan serangan, bully, gosip dan berbagai syubuhat (keraguan). Mereka pertanyakan, "Kenapa pula kalian pindah kiblat dari yang sebelumnya sudah kalian pakai?". Maka Allah langsung menurunkan bantahan:

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya: "Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus." (QS Al Baqarah: 142).

Mereka lemparkan lagi syubuhat yang lain. Jika kiblat yang baru ini yang benar, maka berarti kiblat yang lama adalah salah dan bathil. Berarti shalat kalian selama ini juga batal dan tidak sah. Kalau kiblat yang lama itu benar, maka kiblat yang baru ini tidak benar. Dan shalat ke kiblat yang baru menjadi tidak sah dan sia-sia. Maka Allah membantahnya:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ.

Artinya: "dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu (shalatmu). Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." (QS Al Baqarah: 143)

Ujian kedua datang dari Kaum Kafir Quraisy yang setiap saat memantau kaum muslimin dan menginginkan kehancuran mereka. Perpindahan kiblat ke Masjidil Haram di kota Makkah membuat kepercayaan diri kafir Quraisy meningkat. Sebab, menurut mereka, Muhammad dan pengikutnya berbalik menghadap kiblat nenek moyang mereka. Berarti sebentar lagi, Muhammad akan mengikuti ajaran mereka pula. Akan tetapi Allah juga membantah pemikiran kafir Quraisy ini:

وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ.

Artinya: "Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk." (QS Al Baqarah: 150).

Bahkan di ayat ini Allah isyaratkan bahwa orang-orang kafir Quraisy adalah orang-orang yang telah berbuat zhalim (aniaya).

Ujian lain juga datang dari kalangan munafiqin dan orang-orang yang lemah imannya. Mereka mempertanyakan bagaimana nasib ibadah mereka selama ini. Bahkan mereka juga mempertanyakan bagaimana nasib dan pahala ibadah orang yang sudah wafat sebelum kiblat berubah. Tentunya ibadah mereka ini sia-sia. Bahkan mereka mulai meragukan, jangan-jangan arah kiblat ini hanya ide pribadi Rasulullah saw, sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi.

Tipikal dan watak seperti ini ada dalam pengikut Rasulullah saw, dan akan selalu ada di dalam setiap masyarakat muslim. Yaitu orang-orang peragu yang hatinya tidak kokoh dalam Iman dan Islam, serta loyalitasnya kepada Rasul selaku pimpinan (qiyadah) waktu itu masih tidak kuat. Pikirannya masih dikuasai oleh logika pribadi yang sangat sempit, bukan oleh ketundukan kepada Allah dan RasulNya.

Ujian juga menimpa kaum Mukminin dari pengikut Rasulullah saw. Ujian dalam rangka pemantapan iman dan ketaatan kepada Allah dan kepatuhan dalam mengikuti RasulNya. Maka kepada kaum Mukminin sekaligus bagi muslimin yang hatinya belum kuat, serta kepada kaum munafiqin, Allah menegaskan:

وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ.

Artinya: "Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." (QS Al Baqarah: 143).

Bahkan perubahan kiblat ini sekaligus menjadi penguat sikap saling percaya (tsiqah) di dalam barisan kaum muslimin. Dimana, setiap mukmin senantiasa mempercayai saudaranya mukmin yang lain dalam kerangka ketaatan kepada Allah, RasulNya dan para pemimpin mereka. Terbukti waktu itu, walaupun hanya teriakan seorang sahabat yang sudah selesai shalat bersama Rasulullah saw, wajah dan namanya tidak diketahui, namun satu kaum yang sedang shalat berjamaah di masjid mereka, langsung berputar arah. Tanpa menunggu shalat selesai, tanpa membatalkan shalat, atau bahkan tanpa harus pergi dulu menghadap Rasulullah saw (selaku pimpinan) untuk mengkomfirmasi berita.

Peristiwa perpindahan kiblat ini telah mempertegas jati diri Islam dan kaum Muslimin, yang tidak mengikut atau meniru yahudi dan nashrani sama sekali, dalam ibadah dan syariat. Dan mereka, dibujuk dengan apapun, diberikan argumen sebagus apapun, takkan mau dan rela mengikuti ajaran Islam:

وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ ۚ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ ۚ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya: "Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu -- kalau begitu -- termasuk golongan orang-orang yang zalim." (QS Al Baqarah: 145).

Secara keseluruhan, peristiwa berubahnya kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram, Allah abadikan dalam surat Al Baqarah ayat 142 - 150.

Pelajaran:

1. Islam adalah agama yang diredhai di sisi Allah yang memiliki jati diri sendiri, tidak mengikut atau meniru agama yang lain.
2. Allah Maha berkendak untuk menukar atau menghapus atau menambah perintah-perintahNya kepada hamba-hambaNya. Dia tidak ditanya tentang perbuatanNya. Manusialah yang akan ditanya apa yang mereka perbuat.
3. Setiap mukmin dan mukminah wajib patuh dan percaya kepada perintah Allah dan RasulNya. Baik diketahui hikmah dibalik perintah tersebut ataupun tidak diketahui. Kebenaran semata-mata datang dari Allah dan RasulNya.
4. Sesama muslim harus membangun kejujuran dalam sikap dan perkataan, serta saling mempercayai antar sesama kaum muslimin.
5. Setiap kali peristiwa besar dan penting, akan menjadi ujian keimanan dan loyalitas barisan kaum muslimin, membersihkan kaum muslimin dari orang-orang munafiq, dan membongkar kebusukan kaum kuffar.

Kamis, 17 Mei 2018

Kisah dan Ibrah

Ramadhan 1

Oleh: Irsyad Syafar

Dahulu kala di zaman Nabi Musa as, hiduplah seorang hartawan yang kaya raya. Kekayaannya melimpah ruah tidak terkira. Namun ia tidak punya anak keturunan yang akan mewarisi kekayaannya. Ahli waris yang ada hanyalah para kerabatnya.

Salah seorang pemuda dari kerabatnya sangat menginginkan harta yang banyak tersebut. Imam Ibnu Jarir Ath Thabary menukilkan dalam tafsirnya tiga versi riyawat tentang pemuda ini. Ada yang mengatakan dia salah seorang kerabatnya atau walinya. Ada riwayat menyebutkan pemuda tersebut adalah anak laki-laki dari saudara hartawan tersebut. Riwayat ketiga menyebutkan ia seorang pemuda miskin yang melamar anak gadis hartawan tersebut. Tapi lamarannya ditolak.

Pemuda ini tidak sabar lagi untuk segera mendapatkan harta warisannya. Sekaligus mendapat uang diyat (pengganti) kematian hartawan itu. Karenanya, diam-diam ia merancang pembunuhan hartawan tersebut. Sekira-kira yang tertuduh nantinya adalah orang lain.

Pada suatu malam ia eksekusi pembunuhan tersebut. Kemudian mayatnya ia letakkan di depan sebuah rumah di desa (kabilah) yang lain. Sehingga penduduk desa itu akan menjadi tertuduh. Paling tidak, mereka bersama harus membayar diyat karena mayatnya berada di kampung mereka.

Keesokan harinya pemuda tersebut pura-pura mencari kerabatnya yang kaya raya itu, karena sudah hilang di desanya. Sampailah ia di lokasi mayat di desa tetangga. Terjadilah keributan karena penduduk desa tersebut menjadi tertuduh. Dan si pembunuh yang berpura-pura kehilangan kerabatnya itu, menuntut pembayaran diyat (ganti) atas kematian kerabatnya.

Akhirnya keributan itu berhenti setelah ada yang mengusulkan agar melaporkan kasus ini kepada Nabi Musa. Sekaligus meminta petunjuk untuk menyingkap siapa gerangan pembunuh sebenarnya.

Maka Nabi Musa ketika itu memohon petunjuk kepada Allah. Agar diberitahu siapa sebenarnya pembunuh lelaki kaya tersebut. Ternyata Allah tidak langsung memberikan jawaban. Allah malah memberikan pelajaran berharga kepada mereka (bani Israil).

Allah memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi. Mendengar perintah yang terkesan aneh ini, watak asli bani Israil ini muncul. Yaitu watak pembangkang, tidak patuh dan percaya (tsiqah) kepada Allah. Apalagi kepada NabiNya.

Respon awal mereka langsung melecehkan Nabi Musa. Seolah-olah yang berbicara kepada mereka bukanlah seorang Nabi. "Wahai Musa, apakah engkau jadikan kami sebagai bahan olok-olokkan?" Kata mereka kepada Nabi Musa.

Karena tidak ingin berdebat panjang dengan mereka, Nabi Musa langsung menjawab, "Aku berlindung kepada Allah agar aku tidak menjadi orang-orang yang bodoh".

Sebuah jawaban yang sangat tegas lagi serius dari seorang Nabi, agar kaumnya tersadar bahwa  titah Nabi itu tidak main-main. Dan bahwa titah Nabi itu datang dari Allah Yang Maha Tahu lagi Bijaksana.

Seharusnya bani Israil ketika itu harus langsung sadar dan mengeksekusi perintah dari Nabi mereka, untuk menyembelih seekor sapi. Tapi karena watak pembangkang, suka ngeles dan cari-cari alasan sudah terlanjur mengakar dalam diri mereka, justru mereka berkelit kembali.

Mereka bertanya, "Tolong tanya kepada Tuhanmu, agar Dia jelaskan kepada kami tentang sapi tersebut?". Sebuah pertanyaan yang menohok dan sangat kurang ajar. Mereka mengatakan kepada Nabi Musa "Tuhanmu". Seolah-olah Tuhan Nabi Musa bukan tuhan mereka. Dan seolah-olah mereka belum beriman kepada Allah, Tuhannya Nabi Musa.

Akan tetapi Nabi Musa tidak mau terseret dengan penyimpangan kaumnya. Beliau memberi jawaban yang tegas dan jelas. "Sapi yang dimaksud adalah sapi yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Pertengahan antara keduanya. Maka, laksanakanlah perintah Allah kepada kalian ini".

Jawaban ini sebenarnya sudah sangat jelas, tegas dan mudah dipahami untuk dilaksanakan. Bahkan dilengkapi dengan ungkapan "laksanakan" perintah Allah kepada kalian. Intruksi yang sangat gamblang. Mereka sudah bisa menyembelih sapi apapun yang penting pertengahan. Sehingga melepaskan kewajiban dan terbebas dari kerumitan serta keruwetan.

Akan tetapi, dasar bani Israil tetap bani Israil. Terlalu sering mereka "mbalelo" terhadap Nabi dan Rasul Allah. Mereka bertanya lagi, "Tanyakan kepada Tuhanmu, tolong jelaskan, sapi itu apa warnanya?". Sekali lagi mereka tak menganggap Tuhan Nabi Musa sebagai tuhan mereka.

Maka, tidak dapat tidak, permintaan ini mengakibatkan jawaban yang rinci. Allah memberikan jawaban: "Sapinya adalah sapi betina yang berwarna kuning, tua warnanya, yang menyenangkan orang yang memandangnya."

Rincian kriteria sapi ini telah membuat mereka menjadi sangat sulit dan susah. Apalagi dengan tambahan kriteria "menyenangkan" orang yang melihatnya. Tentulah sapinya sangat sehat, tidak ada cacat, tidak kurus, berisi lagi kekar dan "tongkrongannya" meyakinkan.

Sampai disini harusnya sudah langsung mereka eksekusi. Tapi lagi-lagi perangai buruk bani Israil ini menjadi-jadi. Mereka persulit diri mereka sendiri, maka Allah lebih mempersulit. Mereka cari-cari dalih untuk bertanya lagi: "Kriteria sapi itu masih belum jelas bagi kami, tolong tanyakan kepada Tuhanmu, agar Dia jelaskan seperti apa sapi tersebut?" Lalu mereka hibur diri mereka dengan harapan: "Mudah-mudahan kami mendapat petunjuk."

Jawaban Allah berikutnya tentu akan semakin mempersulit dan menambah beban mereka. Sebab, kriterianya semakin bertambah. Allah menjelaskan: "Sapi betina tersebut adalah sapi yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak untuk mengairi ladang, sehat dan tanpa belang sama sekali."

Setelah semua rincian yang sangat datail dan rumit ini, barulah bani Israil mengaku, "Sekarang, barulah engkau terangkan dengan benar." Seolah-olah jawaban-jawaban sebelumnya bukanlah sebuah kebenaran.

Akibatnya, mereka sangat susah menemukan sapi betina dengan kriteria yang sangat sempurna. Dan ketika mereka temukan sapi tersebut, harganya sangatlah mahal. Sapi tersebut milik seorang anak yatim yang shaleh. Imam As Suddi menyebutkan bahwa sapi itu harus mereka beli dengan harga emas seberat 10 kali lipat berat sapi tersebut.

Itu sebagai akibat (hukuman) atas pembangkangan dan "nyinyirnya" kepada perintah Allah dan Nabinya. Akhirnya mereka bisa menyembelih sapi yang disyaratkan Allah. Kemudian Nabi Musa mengambil sebagian daging sapi tersebut, lalu memukulkannya ke jasad mayat yang terbaring.

Dengan izin Allah mayat itu hidup kembali. Ia bangkit dan berkata, "Orang itu yang membunuhku." Ujarnya sambil menunjuk ke pemuda tadi. Kemudian ia pun kembali mati seketika.

Maka terungkaplah pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Dan terbebaslah penduduk desa lain dari tuduhan dan denda. Kejadian ini menjadi bukti kekuasaan Allah Yang mampu menghidupkan dan mematikan, dengan cara yang Dia kehendaki. Sekaligus peristiwa itu menjadi mukjizat Nabi Musa. Allah mengabadikan kisah ini dalam QS Al Baqarah: 67-73.

Pelajaran

1. Allah sangat berkuasa untuk menghidupkan dan mematikan makhlukNya.
2. Allah sangat berkuasa untuk memunculkan semua yang disembunyikan oleh makhlukNya, tidak ada yang rahasia dalam ilmuNya.
3. Membangkang kepada perintah Allah dan RasulNya, tidak percaya kepada ajaranNya, hanya akan mendatangkan kehinaan dan malapetaka di dunia dan di akhirat.
4. Cinta dan tamak dengan dunia akan menjerumuskan manusia ke dosa-dosa yang tak berakhir, kecuali dengan kematian.
5. Membangkang, banyak tanya yang tidak perlu, banyak alasan, tidak sopan kepada Nabi dan Rasul, adalah watak bani Israil yang sangat tercela.

Wallahu A'laa wa A'lam.

Senin, 30 April 2018

PKS Sumbar Luncurkan Nama Caleg Pemilu 2019

Padang, (Antaranews Sumbar) - Dewan Pengurus Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Sumatera Barat (Sumbar) secara resmi meluncurkan nama-nama bakal calon anggota dewan yang akan bertarung pada Pemilu 2019.

"Ada 654 nama yang telah ditetapkan oleh partai sebagai bakal calon legislatif terdiri dari tingkat DPR RI, DPRD Sumbar dan DPRD kabupaten dan kota," kata Ketua DPW PKS Sumbar Irsyad Syafar di Padang, Senin.

Ia merinci untuk caleg DPR RI PKS menetapkan sebanyak 14 orang, DPRD Sumbar 65 orang serta DPRD di 19 kabupaten dan kota 675 orang.

Menurut Irsyad sebagian diantara para caleg tersebut ada yang sudah mulai bersosialisasi ke masyarakat.

"Kami menargetkan perolehan suara secara nasional 12 persen dan untuk Sumbar 20 persen," kata dia.

Ia mengakui target 20 persen tersebut cukup berat dan butuh keseriusan semua caleg untuk bersama-sama merebut suara pemilih.

Ia menambahkan jangan ada caleg yang merasa menjadi pelengkap penderita karena semua harus memiliki keyakinan bisa menang dan terpilih.

Sementara Ketua Wilayah dakwah PKS Sumatera bagian utara Hermanto mengatakan semua nama yang ditetapkan telah mengikuti uji kompetensi.

"Mereka diproses sampai lima tahap sehingga nama yang muncul adalah orang terpilih," ujar dia.

Untuk caleg DPR RI terdapat sejumlah nama yang sebelumnya sudah pernah menjabat seperti Refrizal dan Hermanto, selain itu juga terdapat nama istri Gubernur Sumbar Nevi Zuarina.

Sementara untuk caleg DPRD Sumbar beberapa anggota legislatif dari PKS yang kini menjabat dicalonkan kembali mulai dari Ketua DPW PKS Irsyad Safar, Rahmat Saleh, Rafdinal, Rahayu Purwanti dan lainnya.

Sedangkan anggota DPRD Sumbar tiga periode Muslim M Yatim diamanahkan partai sebagai calon anggota DPD RI.

Tidak hanya itu di DPRD Sumbar juga terdapat dua nama baru yang juga cukup dikenal publik yaitu istri Wali Kota Padang Harneli Bahar dan istri Wakil Bupati Agam Chandra Gumilarti.

Kemudian ada juga anggota legislatif kota Padang yang naik ke provinsi seperti Hadison yang telah tiga periode di DPRD Padang. (*)

Editor : Joko Nugroho

Sumber: Antarasumbar.com, 30 April 2018

Senin, 16 April 2018

8 Gunung Berhasil Didaki PKS Sumbar

Padang (16/04) -- Tim Ekspedisi 8 Gunung PKS Sumatera Barat (Sumbar) yang dikomandoi Bidang Kepanduan dan Olahraga (BKO) sukses menuntaskan ekspedisi dengan mendaki delapan gunung di wilayah Sumbar dan Jambi pada hari Ahad (15/04/2018). Rangkaian pendakian delapan gunung yang dijalani dari tanggal 17 Maret - 15 April 208 ini juga ditujukan untuk mensosialisasikan nomor 8 sebagai nomor PKS di Pileg 2019 mendatang.

Ketua Tim Ekspedisi 8 Gunung, Dedi Azzam menjelaskan tim Ekspedisi 8 Gunung PKS Sumbar berhasil menjejakkan kaki di Puncak Gunung Tujuh sebagai gunung kedelapan tepat pada 15 April 2018 pukul 11.30 WIB. Sehari sebelumnya tim berhasil mencapai puncak Gunung Kerinci yang memiliki ketinggian 3805 mdpl dan merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia.

"Misi sosialisasi nomor 8 untuk PKS yang didedikasikan bagi seluruh kader PKS ini merupakan bagian akhir dari misi Ekspedisi 8 Gunung di Sumbar dan Jambi," terang Dedi dalam keterangannya, Senin (16/4/2018).

Enam puncak gunung yang berhasil dicapai oleh tim sebelumnya adalah Gunung Tandikek, Marapi , Singgalang, Sago, Talang, dan Talamau.

Dedi menerangkan, pada pendakian Gunung Talamau dan Gunung Kerinci, Tim Ekspedisi cukup berjuang ekstra keras untuk mencapai puncak. Di kedua gunung tersebut, tim dihadapkan pada medan yang cukup berat dan hujan yang disertai angin kencang.

Ia menyebut, pendakian ini ditujukan bagi para kader PKS untuk terus semangat dalam berjuang berkhidmat untuk rakyat. Kesulitan apapun yang dihadapi bagi seorang kader, ujar Dedi, amanah dan tanggung jawab harus ditunaikan hingga ke tujuan.

"Tak mudah menjaga komitmen bagi para kader dakwah untuk menuntaskan ekspedisi 8 gunung dalam rentang waktu satu bulan. Rasa sakit dan letih yang dialami tak menyurutkan semangat dan tekad para pendaki gunung PKS," jelas dia.

Pendakian 8 gunung ini tidak hanya untuk melatih kekuatan, daya tahan, dan kegigihan bagi seorang kader PKS. Namun juga sebagai sarana mensyukuri atas segala karunia dan nikmat yang Allah SWT berikan.

Pasang surut motivasi dalam menjalani misi dirasakan oleh pendaki, namun tekad untuk menuntaskan misi ekspedisi mampu menguatkan kembali. "Alhamdulillah berkat pertolongan dan kemudahan Allah Ekspedisi 8 Gunung Sumbar Jambi dalam rangka milad ke-20 PKS telah selesai dan berjalan dengan baik," ungkap Dedi Azzam.

Menurut Adek Fauzan selaku pencetus ide ekspedisi 8 gunung ini, secara akumulatif dari keseluruhan pendakian telah melibatkan kurang lebih 283 orang pendaki. Dan jumlah ketinggian yang telah didaki dalam ekspedisi ini adalah 22.499 mdpl.

Sabtu, 10 Maret 2018

Jumat Berkah Berbagi, PKS Kuranji Antarkan Beras

Padang - Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPC PKS Kec. Kuranji, Kota Padang menggelar program Jumat Berkah, Jumat Berbagi, Jumat (9/3).

Sebanyak lima keluarga tidak mampu di kelurahan Korong Gadang mendapat santunan berupa beras yang diantar langsung oleh tim BPKK ke rumah mereka. Program ini bertujuan untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang tidak mampu sebagai salah satu upaya nyata PKS "Berkhidmat untuk Indonesia".

PKS Foto/Maghdalena

Kamis, 08 Februari 2018

Media Arus Utama Diminta Konsisten Menyajikan Pemberitaan Terverifikasi

Anggota DPR RI Hermanto berharap media arus utama (mainstream) konsisten pada pemberitaan yang berpihak kepada kebenaran, obyektif serta mengedepankan prinsip chek dan rechek. Hal tersebut penting guna menangkal masifnya peredaran informasi palsu (hoax) melalui media sosial.

“Sangat sering masyarakat dibuat bingung, was-was bahkan ketakutan akibat hoax. Dalam kondisi demikian masyarakat butuh rujukan informasi yang terpecaya.  Saat itu media arus utama harus senantiasa tampil menjadi rujukan dengan suguhan informasi terverifikasi”, papar Hermanto dalam keterangan persnya menyambut Hari Pers Nasional yang biasa diperingati setiap tanggal 9 Februari.

Selain itu, ia juga berharap, pers tidak berpihak dan mendorong demokratisasi yang sehat. “Tahun 2018 ini ada momen pemilihan kepala daerah serentak. Pada momen ini, bisa jadi ada pasangan calon yang memasang iklan besar-besaran dengan harapan mendapat kompensasi pemberitaan yang berlebihan dari media tersebut”, ucap legislator FPKS dari dapil Sumatera Barat ini.

“Pemberitaan yang berlebihan tersebut bisa dimaknai sebagai keberpihakan pers pada calon pasangan tertentu dan tidak mendorong demokratisasi yang sehat”, tambahnya.

Lebih jauh Hermanto mengapresiasi penyelenggaraan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di Kota Padang. “Pada peringatan HPN kali ini tidak hanya insan pers yang terlibat. Pemerintah daerah berhasil melibatkan ribuan masyarakat untuk hadir mengikuti rangkaian kegiatan dalam rangka HPN seperti lari bersama (Minangkabau Run), sepeda santai, senam massal, seminar, pertunjukkan kesenian, kebudayaan dan wisata”, pungkasnya.

Singgalang, 9/2/2017

Satu Jari yang Dahsyat

Oleh: Irsyad Syafar

Siapakah yang tidak kenal dengan Qutaibah bin Muslim Al Bahiliy. Dialah seorang panglima perang yang sangat terkenal, pemimpin penaklukan Islam di kawasan Asia tengah pada abad pertama hijriyah. Tabiin yang mulia ini telah menaklukkan wilayah Khawarizmi, Sijistan, Samarqand, Bukhara dan sampai ke perbatasan negara Rusia.

Imam Adz Dzahabi menceritakan dalam kitab "Siyar A'lam An Nubala", ketika Qutaibah memimpin pasukan umat Islam berhadapan dengan pasukan Attrak, hatinya bergetar melihat pasukan lawan yang sangat tangguh. Maka dia bertanya kepada pengawalnya, "Dimana Muhammad bin Al Waasi'?". Para sahabatnya memberi tahu bahwa Muhammad bin Al Wasi' ada di barisan sayap kanan pasukan.

Maka Qutaibah menoleh ke arah sayap kanan pasukan. Rupanya disana Muhammad bin Al Wasi' sedang bersiap dengan panahnya. Tapi, jari telunjuknya menunjuk ke arah langit, dan bibirnya komat-kamit berdoa kepada Allah.

Seketika itu juga Qutaibah langsung berteriak dengan keras: "Sesungguhnya satu jari itu lebih aku sukai dari pada seratus ribu anak panah yang terbang melayang dan seratus ribu pemuda yang berperang".

Dan benar, peperangan itu dimenangkan oleh pasukan Qutaibah bin Muslim. Dan doa seorang lelaki shaleh lagi mulia, Muhammad bin Al Wasi' telah membuat kokoh dan kuatnya pasukan dihadapan kekuatan musuh.

Begitulah buah dari hubungan yang sangat baik dan kuat antara seorang hamba dengan Rabbnya. Yaitu kemenangan dalam setiap perjuangan. Bahkan satu jari sekalipun bisa jauh lebih kuat dari pada  seratus ribu pasukan.

Dalam kerja-kerja dakwah, seorang da'i sangat membutuhkan pertolongan-pertolongan khusus dari Allah. Sebab, beban dan tantangan dakwah dari hari ke hari semakin berat. Maka setiap da'i harus membangun hubungan yang baik dengan Allah, melalui penguatan iman dan peningkatan amal shaleh baik kualitas maupun kuantitas.

Seorang da'i tidak boleh menyepelekan doa dan ibadah yang dia lakukan kepada Allah. Bisa jadi dari situ Allah mendatangkan pertolonganNya. Tidak saja kepada dirinya, bahkan bisa kepada kerja-kerja dakwah kolektif bersama para da'i lainnya. Dan bisa jadi itu terjadi dari orang biasa-biasa saja.

Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ.(رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah, ada orang yang kalau dia bersumpah dengan nama Allah, niscaya Allah buktikan (terjadi)". (HR bukhari dan Muslim).

Wallahu A'laa wa A'lam.

Selasa, 30 Januari 2018

Laa Tahzan, Allah Bersama Kita

Oleh: Irsyad Syafar

Kalimat di atas merupakan ungkapan Rasulullah saw kepada Abu Bakar yang Allah abadikan di dalam QS At Taubah ayat 40.

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: "Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At Taubah: 40).

Ketika itu Rasulullah saw dan Abu Bakar dalam perjalanan Hijrah ke Madinah, lari menyelamatkan diri dan agama dari kejaran kafir qureisy. Mereka berdua bersembunyi di dalam gua Tsur. Walaupun sudah dengan berbagai pengelabuan dan upaya merahasiakan perjalanan hijrah ini, namun akhirnya  orang-orang kafir qureisy sampai juga ke depan mulut gua tsur  tersebut.

Abu Bakar sangat cemas dan khawatir. Sebab, kaki-kaki para pengejar sudah kelihatan di atas kepala mereka. Sampai-sampai dia berkata kepada Nabi, "Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke arah kaki mereka, niscaya ia akan melihat kita".

Tapi, Rasulullah saw menenangkan sahabatnya dan berkata, "Apa persangkaanmu terhadap orang yang berdua, sedangkan yang ketiganya adalah Allah". (HR Bukhari dan Muslim).

Maka Allah turunkanlah rasa tentram di dalam hati mereka berdua. Dan Allah turunkan bala tentaranya dari kalangan malaikat yang tidak kelihatan. Sehingga, orang-orang kafir qureisy tidak melihat sama sekali Rasulullah saw dan Abu Bakar di dalam gua yang sudah dekat di hadapan mereka.

At Taubah ayat 40 ini mengabarkan secara gamblang bahwa Allah "bersama" hamba2Nya yang mulia. Tidak sekedar "kebersamaan" umum berupa melihat, mendengar, mengetahui dan memantau. Tapi, lebih jauh lagi sampai kepada tingkat melindungi, menolong, menguatkan, menentramkan, membela dan bahkan memenangkan terhadap musuh-musuhNya.

Ini merupakan bentuk kebersamaan Allah yang khusus (ma'iyyah khashshah) dengan hamba-hamba pilihanNya, baik para Nabi dan Rasul, maupun orang-orang beriman sesudah mereka sampai hari kiamat.

Allah telah memberikan kebersamaan khusus ini dahulunya kepada Nabi Ibrahim saat menghadapi Raja namruth, sehingga selamat dari api yang sangat besar. Juga kepada Nabi Nuh saat menghadapi badai Tsunami terbesar di dunia, dan selamat bersama kaumnya yang beriman. Juga kepada Nabi Musa dan Nabi Harun yang ditindas dan dikejar-kejar oleh Firaun dan bala tentaranya. Allah berkata:
قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

Artinya: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". (QS Thaha: 46).

Kebersamaan khusus ini juga telah dirasakan oleh para sahabat Nabi yang mulia, sejak generasi-generasi awal. Baik para khulafaurrasyidin, sahabat-sahabat senior, maupun sahabat lain yang kadang namanya tidaklah terkenal.

* * * * *

Salah seorang sahabat Nabi yang terkenal sebagai pemilik doa mustajab (Rasulullah saw pernah mendoakan itu untuknya), yaitu Sa'ad bin Abi Waqqas. Beliau adalah salah seorang dari 10 sahabat yang diberitakan pasti masuk sorga. Pada masa khalifah Umar bin Khattab, Beliau diamanahi sebagai Gubernur (amir) Bashrah. Datanglah beberapa orang bashrah mengadukan Sa'ad tentang kekurangannya dalam melaksanakan shalat. Kemudian Umar mengkomfirmasi hal tersebut kepada Sa'ad, dan Beliau bisa menjawab dan mnjelaskannya dengan baik.

Kemudian Umar mengirim beberapa orang kepercayaannya untuk meninjau langsung ke bashrah, menanyakan perihal kepemimpinan Sa'ad ke rumah-rumah penduduk Bashrah. Semua keluarga yang dikunjungi memberikan pujian dan kepuasan atas kepemimpinan Sa'ad.

Saat rombongan berada di masjid, tiba-tiba seorang laki-laki menyatakan bahwa Sa'ad  tidak ikut dalam berperang, tidak memimpin dengan adil dan tidak peduli kepada rakyatnya. Mendengar fitnah seperti itu, Sa'ad bin Abi Waqqas langsung berdoa: "Ya Allah, jika laki2 ini berbohong, maka butakanlah matanya, panjangkanlah umurnya dan timpakan fitnah kepadanya". Dan memang ternyata laki-laki tersebut kemudian menjadi buta, umurnya panjang dan diakhir hayatnya terkena fitnah. (Riwayat Jabir bin Samurah, dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dan kitab Siyar A'lam An Nubala').

'Amir bin Sa'ad bin Abi Waqqas meriwayatkan, bahwa pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, ada seorang lelaki mencaci maki Ali di tengah kerumunan orang. Bahkan juga mencaci-maki Talhah bin Ubaidilah dan Zubeir bin Awwam. Ketika itu juga Sa'ad menasehatinya agar berhenti mencaci-maki Khalifah Ali yang jauh lebih baik darinya. "Kalau tidak berhenti, aku akan do'kan kamu" kata Sa'ad. Akan tetapi lelaki tersebut tidak peduli. Malah ia balik mengejek Sa'ad dan berkata, "Kamun menakut-nakuti saya! Kayak nabi saja kamu!". Akhirnya Sa'ad berdoa kepada Allah: "Ya Allah, Engkau jagalah Ali dengan cara yang Engkau kehendaki".

Tak lama setelah itu, secara tiba-tiba, seekor onta besar datang dari arah pasar Bashrah masuk ke dalam kerumunan orang ramai tersebut. Orang-orang jadi menghindar. Kemudian onta besar tersebut menyeruduk lelaki tadi dan menginjaknya.

* * * * *

Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wa An Nihayah menceritakan seorang sahabat Nabi yang bernama Safinah. Beliau adalah budak dari Istri Rasulullah saw, Ummu Salamah. Beliau dimerdekakan oleh Ummu Salamah dengan syarat tetap menjadi pelayan Rasulullah saw. Nama Safinah sendiri diberikan oleh Rasulullah saw ketika dia diminta membawa barang-barang yang banyak, tapi tak berat baginya. Rasulullah saw berkata, "Angkatlah, sesungguhnya engkau adalah sebuah kapal (Safinah)". (HR Ath Thabrany).

Seorang senior tabi'in, Muhammad Bin Al Munkadir meriwayatkan bahwa Safinah maula Rasulullah saw ini pernah bepergian menaiki sebuah perahu. Namun perahu itu pecah dihantam ombak. Dengan sisa-sisa kayu perahunya dia selamat sampai ke daratan. Namun, di daratan dia dihadang oleh seekor singa yang sudah siap akan menerkamnya. Safinah langsung berbicara kepada singa tersebut, "Wahai abal haris (singa), aku adalah Safinah, budak Rasulullah saw". Mendengar perkataan Safinah, singa itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia menggosokkan punggungnya ke badan Safinah. Bahkan kemudian ia menunjukkan Safinah jalan keluar dari kawasan tersebut. Setelah itu singa tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya seolah berkata kepada Safinah, "Selamat jalan". Begitulah Allah "bersama" hambaNya.

* * * * *

Dalam kitab "Siyar a'lam Nubala" diceritakan seorang tabi'in yang mulia, Shilah bin Asyam Al 'Adawi. Beliau salah satu murid dari Ibnu Abbas. Kemuliaan dirinya dan juga keluarganya diakui oleh banyak ulama. Salah seorang anaknya syahid dalam sebuah jihad. Ketika beberapa perempuan tetangga datang bertakziyah kepada istri Shilah yang bernama Mu'adzah, sang istri berkata kepada tamu, "Jika kalian datang kesini untuk bertakziyah menghiburku (atas duka kematian anaknya), maka tidak usah. Pergilah kalian, aku tidak berduka. Tapi jika kalian datang untuk mengucapkan selamat (atas syahidnya anaknya), maka silakan. Aku sangat bahagia".

Ibnu Al Mubarak, seorang Ulama Tabi'in menceritakan bahwa Shilah ini pernah pergi berjihad dalam sebuah pasukan. Di tengah malam saat para mujahid beristirahat, Shilah menyelinap keluar dari rombongan, menuju semak-belukar. Beliau hendak melakukan qiyamullail tanpa diketahui oleh mujahid yang lain. Rupanya salah seorang prajurit memantau semua gerak-geriknya.

Di saat Shilah larut dalam khusyuknya shalat malam, rupanya seekor singa telah mendekatinya. Singa itu mulai mengitarinya. Tapi Shilah tidak terganggu apalagi sampai memutuskan shalatnya. Ketika telah selesai salam ke kanan dan ke kiri, dia langsung berkata kepada singa: "Wahai singa, pergilah mencari makan di tempat lain". Singa itupun berbalik dan lari ke dalam hutan dengan auman yang sangat keras. Begitulah kebersamaan Allah dengan hambaNya.

* * * * *

Begitu banyak hamba-hamba Allah yang beriman telah merasakan "kebersamaan khusus" dengan Allah. Al 'Alaa' bin Alhadhrami, seorang sahabat Nabi yang dikirim berperang ke Bahrain dengan pasukannya. Setelah shalat dua rakaat dan berdoa kepada Allah, dia dan pasukannya bisa berjalan di atas air dan selamat sampai ke daratan untuk berperang. Al Hasan Al Bashri yang dipanggil ke Istana oleh Panglima yang bengis dan kejam, Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi, akibat ceramah dan kajiannya yang tegas menyikapi penyimpangan panglima Hajjaj. Semua peralatan untuk memenggal leher Hasan Al Bashri sudah siap menunggunya di istana; pedang, cambuk dan alas lantai supaya tidak berserakan darahnya kemana-mana. Sebelum masuk ke ruang Hajjaj, Hasan Al Bashri melantunkan beberapa doa dimulutnya. Tiba-tiba Hajjaj berubah menjadi ramah dan sopan kepadanya. Bahkan mendudukkannya di sampingnya, memberinya wewangian dan memujinya sebagai pemimpin para ulama di hadapan para hadirin yang tadinya sudah akan menyaksikan pembunuhan.

* * * * *

Dalam era kontemporer, juga sangat banyak terjadi "kebersamaan khusus" ini. Perang jihad di afghanistan melawan penjajah uni sovyet meninggalkan banyak kisah-kisah pertolongan Allah. Begitu juga jihad di Palestina, Bosnia, Irak, Suriah dan di berbagai negara lainnya.

Salah seorang Jendral mesir di masa rezim Husni Mubarak tidak mengizinkan pimpinan Hamas, Khalid Misy'al masuk ke istana presiden Mubarak untuk berunding dengan utusan Israel. Bahkan sang jendral sempat bersumpah dan berkata, "Langkahi dulu mayat saya oleh Misy'al, baru dia bisa masuk istana Presiden". Ternyata ucapan ini kemudian terealisasi. Saat Presiden Mursi berkuasa, Khalid Misy'al masuk ke istana presiden. Di waktu yang bersamaan, sang jendral tewas di Suriah setelah serangan para mujahidin menghatam posisi rezim penguasa basyar Asad di damaskus, dan juga menewaskan beberapa keluarga dekat basyar.

Ada seorang da'i dan juga sekaligus seorang dokter, di masa rezim Gamal Abdun Nasher. Di dalam penjara, disamping berbagai siksaan yang dialaminya, dia juga pernah "dikencingi" oleh sipir penjara di saat dia sujud dalam shalatnya. Dokter ini tak berdaya, kecuali hanya berdoa kepada Allah (dalam sujudnya), memohon agar sipir ini dimatikan dengan cara yang susah. Benar saja, kemudian di masa rezim Anwar Sadat,  dokter ini kembali praktek di rumah sakit. Suatu hari dia menerima pasien yang terluka parah dan sakarat, korban tabrakan kendaraan yang mengerikan. Pasien ini sakarat dengan sebuah besi menancap di lehernya, sementara dia masih hidup. Dokter inilah yang membantunya mengeluarkan besi tersebut, dan menyaksikan sendiri kesusahan sipir tersebut sampai mati di ruang ICU.

Tidak sedikit penguasa diktator atau orang-orang sekuler yang melecehkan agama Allah di berbagai belahan dunia, menzhalimi para ulama dan orang-orang shaleh, nasibnya berakhir tragis. Ada yang masuk penjara, terkena stroke, mati dengan sangat buruk atau akhirnya tewas karena tabrakan, kecelakaan atau mungkin di tangan rakyatnya sendiri.

* * * * *

Sesungguhnya Allah tidak pernah tidur, lalai apalagi lupa. Dia pasti akan menolong hamba-hambaNya dengan cara-cara yang dikehendakiNya. Tugas seorang hamba hanyalah berusaha maksimal untuk memantaskan diri menjadi yang berhak menerima "kebersamaan khusus" dari Allah. Sehingga kemudian ia tak akan takut, sedih dan berduka-cita.
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Artinya: "Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak". (QS Ibrahim: 42).

Wallahu A'laa wa A'lam.

Selasa, 16 Januari 2018

Tiga Masuk Sorga dan Tiga Masuk Neraka

Oleh: Irsyad Syafar

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah diberitahu oleh Allah, bahwa ada tiga golongan yang pertama-tama di masukkan ke dalam sorga dan ada tiga pula yang pertama-tama dimasukkan ke dalam neraka. Beliau bersabda:

"عُرِضَ عَلَيَّ أَوَّلُ ثَلاثَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ , وَأَوَّلُ ثَلاثَةٍ يَدْخُلُونَ النَّارَ , فَأَمَّا أَوَّلُ ثَلاثَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ : فَالشَّهِيدُ , وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَحْسَنَ عِبَادَةَ رَبِّهِ وَنَصَحَ لِسَيِّدِهِ , وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ ، وَأَوَّلُ ثَلاثَةٍ يَدْخُلُونَ النَّارَ : أَمِيرٌ مُسَلَّطٌ , وَذُو ثَرْوَةٍ مِنْ مَالٍ لا يُعْطِي حَقَّهُ , وَفَقِيرٌ فَخُورٌ ".
Artinya: "Dipaparkan kepadaku tiga yang pertama masuk sorga dan tiga yang pertama masuk neraka. Adapun tiga yang paling pertama masuk sorga adalah: orang yang mati syahid, hamba sahaya yang beribadah dengan baik kepada Allah dan menasehati (tulus kepada) tuannya, serta orang miskin yang menjaga kehormatannya (tidak mengemis) walaupun banyak anak-anaknya. Sedangkan tiga yang paling pertama masuk neraka adalah: Pemimpin yang diktator, orang kaya yang banyak harta tapi tidak menunaikan hak Allah pada hartanya, dan orang miskin yang sombong". (HR Turmidzi dan Al Hakim, dari Abu Hurairah).

Hadits di atas menyebutkan terkait orang-orang yang paling pertama, baik masuk sorga ataupun masuk neraka. Paling pertama disini bisa mengandung makna memang paling pertama dalam hal yang disebutkan, atau juga mengandung makna janji yang sangat mulia atau ancaman yang sangat keras dari Allah.

Sebab, terdapat dalil dari hadits-hadits lain yang menyebutkan orang-orang lain yang juga paling pertama masuk sorga atau neraka, tapi tidak ada dalam teks hadits ini.

Maka berdasarkan hadits ini, golongan pertama yang paling pertama masuk sorga adalah orang yang mati syahid. Yaitu orang yang wafat atau terbunuh karena memperjuangkan agama Allah, atau mati terbunuh di medan pertempuran jihad fiisabilillah. Mereka ini masuk dalam jenis syahid hakiki, yang jenazahnya dishalatkan tapi tidak dimandikan, dan tidak dikafani kecuali dengan pakaian yang dia pakai saat mati syahid.

Kemudian ada lagi orang-orang yang syahid secara hukum, tapi tidak termasuk syahid hakiki. Mereka tidak diperlakukan sebagaimana syahid hakiki. Mereka tetap dimandikan, dikafani dan dishalatkan seperti jenazah biasa lainnya. Mereka mendapat kemuliaan khusus dari Allah, tetapi tidak sampai level (derjat) syahid hakiki.

Berdasarkan hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Daud dan Nasai, mereka itu antara lain adalah: "Orang yang wafat karena membela hartanya, atau karena membela darahnya (jiwanya), atau karena membela keluarganya".

Kemudian dari hadits lain riwayat Abu Daud dan Nasai dari Jabir, oran yang juga syahid adalah: "Orang yang mati tenggelam, yang mati karena sakit perut, yang mati karena kebakaran, yang mati karena tertimpa bangunan dan perempuan yang mati karena melahirkan."

Kelompok *kedua* yang paling pertama masuk sorga adalah hamba sahaya yang beribadah dengan baik kepada Allah dan memberikan nasehat kepada tuannya. Kondisi dirinya yang budak dan tidak berdaya, tidak menghalanginya untuk dapat melaksanakan ibadah dengan cara yang terbaik. Di samping itu dia tidak sungkan atau malu untuk memberikan saran atau nasehat kepada tuannya, sebagai bentuk ketulusannya kepada tuannya.

Sebab, orang-orang yang berada dalam posisi susah apalagi tidak berdaya, biasanya akan sulit melaksanakan ibadah dengan kualitas maksimal. Apalagi akan berani pula untuk memberikan nasehat kepada tuannya. Kedua perbuatan tersebut beresiko besar lagi berat baginya. Tapi dia tetap melaksanakannya.

Adapun yang *ketiga,* gololongan yang paling pertama masuk sorga adalah orang yang tak berpunya (miskin), tapi tidak mau mengemis-ngemis, padahal dia memiliki anak atau keluarga yang banyak. Orang miskin *terhormat* jenis ini  lebih memilih hidup sangat minimalis dan apa adanya, qana'ah dengan itu, dari pada menjatuhkan harga diri dengan meminta-minta kepada orang lain.
Dengan himpitan dunia hari ini, ada orang-orang miskin yang menjatuhkan harga dirinya, meminta kian kemari, kadang berani berbohong atau menipu, atau bahkan menggadaikan agamanya, demi sesuap nasi.

Sedangkan bagian kedua yang dinyatakan Rasulullah saw sebagai 3 golongan pertama yang masuk neraka adalah:

Pertama penguasa atau pemimpin yang diktator. Yaitu penguasa yang berlaku semena-mena kepada rakyatnya, menyusahkan mereka dan memimpin dengan tangan besi.
Di bawah kekuasaannya, rakyat menjadi tertindas, kemiskinan dimana-mana, banyak kewajiban yang menghimpit sementara hak semakin terbatas dan berkurang.

Dalam konteks yang semakna, yang menunjukkan betapa urgennya posisi pemimpin atau penguasa, hadits lain menyebutkan 7 golongan yang nanti di akhirat mendapat naungan khusus dari Allah, di hari yang tidak ada sama sekali naungan kecuali naunganNya. Satu dan yang pertama dari 7 golongan tersebut adalah "Imam (pemimpin) yang adil".

Kedua adalah orang kaya yang tidak menunaikan hak-hak Allah yang ada di dalam hartanya. Ia tidak menunaikan kewajiban zakat secara baik dan rapi. Kalaupun ia berzakat, tapi ia tidak tuntaskan dari seluruh harta (nikmat) Allah yang ia terima. Dibayarkan hanya secara kira-kira saja tanpa hitungan yang detail dan valid dari total rezeki Allah yang diterimanya.

Di samping itu ia juga tidak menunaikan kewajiban lain dalam hartanya (diluar zakat). Yaitu berupa pemberian kepada karib kerabat, anak yatim, orang miskin, para pengemis dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan Firman Allah yang mengisyaratkan adanya kewajiban lain dikuar zakat, dalam surat Al Baqarah:
وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ...

Artinya: "dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya..." (QS Al Baqarah: 177).

Ditambah lagi dengan pelitnya ia dalam memberikan sedekah dan infaq-infaq yang sunnah. Allah telah memberikan ancaman dan peringatan keras bagi orang-orang yang berlaku bakhil (pelit):
الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

Artinya: "Orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan". (QS An Nisa: 37).

Ketiga adalah orang miskin yang sombong. Yaitu orang miskin yang tidak punya apa-apa, tapi bersifat sombong, angkuh dan congkak kepada orang lain. Ini merupakan akhlak yang sangat tercela. Sebab, ia tidak mempunyai sesuatu yang layak untuk disombongkan atau dibangga-banggakan kepada orang lain. Dosa orang miskin yang sombong lebih besar dari pada orang kaya yang sombong.

Semakna dengan ini, juga terdapat hadits shahih yang menyatakan:
عن أبي هريرة رضي الله عنه: عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة، ولا يزكيهم، ولا ينظر إليهم، ولهم عذاب أليم: شيخ زان، وملك كذاب، وعائل مستكبر. (رواه مسلم).

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw, Beliau bersabda: "Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, dan tidak akan disucikan Allah, serta tidak akan dilihat oleh Allah, dan bagi mereka adzab yang pedih. Yaitu: Orang tua yang berzina, Raja (pemimpin) yang pembohong, dan orang miskin yang sombong". (HR Muslim).
Semoga kita termasuk dalam 3 golongan yang pertama-tama masuk sorga. 
Wallahu A'laa wa A'lam.

Selasa, 02 Januari 2018

Pemprov Sumbar Torehkan Banyak Prestasi

Tahun 2017 lalu, begitu banyak torehan prestasi yang diraih Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat (Sumbar) dibawah kepemimpinan Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno dan Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit dalam memajukan pembangunan maupun perekonomian ekonomi masyarakat.

Selain itu, puluhan lebih penghargaan selama kepemimpinan keduanya diraih. Baik dari pemerintah pusat maupun lembaga berskala nasional juga diraih keduanya. Menyongsong tahun 2018 dengan semangat baru.  Keduanya, bertekad akan lebih meningkatkan apa yang telah diraih selama 2017. Tentu saja dengan bantuan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Pemprov Sumbar dan stakeholder terkait lainnya. Yang akan membawa Sumbar lebih berkembang lagi dari segala sektor yang ada. Sehingga berdampak pada kemajuan daerah dan masyarakat.

“Kita optimis pada tahun 2018 ini akan lebih baik lagi. Dan bisa memberikan yang terbaik untuk Sumbar,” ujar Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno didampingi Wakil Gubernur Nasrul Abit serta Kepala Biro Humas Setdaprov Sumbar, Jasman, kemarin saat ekspose akhir tahun 2017 yang diinisiasi Humas Setdaprov Sumbar di Auditorium Gubernuran.

Dalam satu tahun kemarin atau selama 2017, kata Irwan banyak yang telah dilakukan. Di antaranya pembangunan insfrastruktur yang memberikan efek positif bagi masyarakat. Yang pada akhirnya dapat menunjang perekonomian masyarakat.

Selain sektor pembangunan, Pengendalian inflasi di daerah, Pemprov Sumbar dan jajaranya memiliki andil dalam hal ini. Sehingga dapat dilihat  dari bulan ke bulan, inflasi di Sumbar dapat terkendali. Itu dibuktikan,  engan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumbar menjadi TPID terbaik untuk kawasan Sumatra. Penghargaan ini diraih karena keberhasilan dalam mengendalikan inflasi, terutama pada saat Ramadhan dan Lebaran 2017.

“Bahkan untuk mengatasi inflasi di Sumbar, saya juga meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)  perlu ada di Sumbar, supaya pengawasan terhadap pengusaha yang bergerak di sektor pangan bisa lebih ketat. Termasuk semua komoditi pangan sebagai indikator penyebab inflasi dikelola dengan baik seperti, cabai dan jengkol,” katanya.

Tidak hanya itu, ia juga pernah mengusulkan dalam pengendalian inflasi di Sumbar, di mana harga tiket pesawat Jakarta-Padang dan sebaliknya yang sering melonjak sangat tinggi setiap Ramadhan dan lebaran harus menjadi perhatian. Serta, penguatan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk mendukung distribusi serta perbaikan tata niaga pangan juga harus menjadi perhatian serius. Sehingga, pemerintah daerah secara tidak langsung dapat mengendalikan harga yang bergejolak melalui BUMD.

Dari sektor Pariwisata, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Sumbar melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dan Pelabuhan Teluk Bayur bulan Oktober 2017 mencapai 4.826 orang, mengalami peningkatan 11,02 persen disbanding  wisman September 2017yang tercatat sebanyak 4.347 orang.

“Sedangkan, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Sumbar bulan Oktober 2017 mencapai ratarata 59,64 persen mengalami peningkatan 0,37 poin disbanding TPK bulan September 2017 sebesar 59,27 persen,” tuturnya. Ini, kata Irwan menunjukan pariwisata yang mulai gencar.
Bahkan, Sumbar dinobatkan sebagai tujuan destinasi wisata halal terus menjadi lirikan bagi wisatawan mancanegara untuk berkunjung di luar dari wisatawan lokal. Mungkin, jika digabungkan dengan wisatawan lokal pasti jumlah kunjungan lebih meningkat. “Wisman  saja naik kunjungannya,apalagi jika ditambah lokal. Ini data yang kita miliki merujuk dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar,” katanya.

Untuk nilai ekspor dan impor Sumbar juga mengalami peningkatan. Hal itu dapat dilihat  dari nilai ekspor Sumbar bulan November 2017 terjadi  peningkatan sebesar 2,14 persen dibanding ekspor bulan Oktober 2017. Bahkan, nilai ekspor November 2017 ini meningkat  sebesar 0,87 persen jikadibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya.

“Nilai impor Sumbar bulan November 2017 terjadi peningkatan sebesar 49,73 persen dibanding impor bulan Oktober 2017. Nilai impor bulan November 2017 naik sebesar 192,09 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya,” terangnya.

Tidak hanya itu, pertumbuhan  ekonomi Sumbar pada triwulan III-2017 tumbuh 5,38persen. Itu dapat diukur berdasarkan  besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Ekonomi Sumatera Barat triwulan III-2017 meningkat sebesar 2,13 persen (q-to-q). Serta, ekonomi Sumbar triwulan I-III 2017 (c-to-c) tumbuh sebesar 5,23 persen.

Kemudian dari segi Indeks  Pembangunan Manusia (IPM) terus mengalami kemajuan. Baik itu dari berapa sektor. Di antaranya Angka Harapan Hidup (AHH), harapan Lama Sekolah (HLS), rata-rata lama sekolah (RLS) dan pengeluaran per kapita setahun.

“ IPM untuk mengukur keberhasilan pemerintah dalam membangun kualitas hidup manusia.IPM Sumbar terus mengalami kemajuan dari tahun ke tahun,” ulasnya. Dari segi pengangguran, dari tahun ke tahun, persentase pengangguran di Sumbar terus menurun. Hal ini terjadi karena upaya pemerintah dalam mengurangi jumlah pengangguran. Lewat job fair baik itu tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang dilakukan setiap tahunnya dengan mengandeng beberapa perusahaan.

“Jadi, job fair merupakan satu cara pengurangan pengangguran dengan mempertemukan langsung pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan,” ujarnya. Berkurangnya terus pengangguran di Sumbar kata Irwan, itu berimbas dengan terus mengalami peningkatan Upah Minimum Provinsi (UMP). Di mana, dari tahun ke tahun terus meningkat. Sehingga, dapat membantu para pekerja memenuhi kebutuhan hariannya. Apalagi bagi mereka yang telah berkeluarga.

Dari sektor pertanian, nilai tukar petani (NTP) Sumbar bulan November 2017 tercatat sebesar 96,15 atau turun  0,46 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 95,71 (Oktober 2017). Indeks harga yang diterima petani (It) mengalami kenaikan sebesar 0,78 persen,dan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,33 persen.

“Pada bulan November 2017 NTP masing-masing subsector tercatat sebesar 91,56 untuk subsektor tanaman pangan (NTPP), 83,96 untuk subsector hortikultura (NTPH), 101,28 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR), 103,80 untuk subsector peternakan (NTPT), dan 109,27 untuk subsektor perikanan (NTPN).  Subsektor perikanan terbagi menjadi dua, yaitu subsektor perikanan tangkap dan perikanan budidaya dengan NTP masingmasing sebesar 109,44 dan 109,23,” tandasnya.
Tahun 2018 ini, semua program yang telah disusun dapat berjalan dengan baik. Sehingga, akan berdampak  kepada kemajuan daerah yang menyasar seluruh sektor.

Padang Ekspres, 2 Januari 2018

Kamis, 07 Desember 2017

Anugerah Dana Rakca, Pengelolaan Keuangan Sumbar Terbaik

REPUBLIKA.CO.ID,PADANG — Pemerintah Provinsi Sumbar kembali menerima Anugerah Dana Rakca dari Presiden Jokowi. Penghargaan yang diinisiasi oleh Kementerian Keuangan tersebut berhasil disabet Sumbar lantaran dianggap memiliki kinerja keuangan yang baik, tercermin dari opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama lima kali berturut-turut.

Hanya tiga provinsi di Indonesia yang tahun ini dianugerahi penghargaan ini, yakni Sumatra Barat, Sumatra Selatan, dan Jawa Timur. Anugerah Dana Rakca diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo kepada Gubernur Irwan Prayitno di sela penyerahan Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) di Istana Negara Bogor, Rabu (6/12).

“Ini penghargaan dalam hal pengelolaan keuangan yang dinilai terbaik oleh pemerintah. Dengan anugerah ini menunjukan kinerja keuangan kita baik,” jelas Irwan usai menerima penghargaan di Bogor, Rabu (6/12).

Penghargaan yang diterima Sumatra Barat kali ini mengacu pada sejumlah indikator termasuk stabilitas ekonomi Sumbar yang terus mengalami pertumbuhan dan perbaikan iklim perdagangan. Pertumbuhan, lanjut Irwan, juga dilihat dari segala sektor diantaranya lapangan usaha, pertanian, kehutanan, perikanan serta transportasi dan perdagangan. “Indikatornya cukup banyak, namun tolak ukur paling tinggi berada pada pengelolaan keuangan,” jelas Irwan.

Sumatra Barat, lanjut Irwan, selama ini menerapkan pengelolaan keuangan yang cukup ketat. Hal itu dibuktikan oleh raihan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Sumbar yang terus memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI. Sumatra Barat telah menerima WTP lima kali berturut-turut sejak 2012.

Acuan lainnya, Sumatra Barat juga dianggap memiliki ketepatan penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan serta juga ketepatan sasaran dalam pelaksanaan APBD.

Selain itu, Pemprov Sumbar juga dinilai terkait dengan pelayan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur yang baik. Diterimanya penghargaan tersebut, kata Irwan, sangat berarti bagi Pemprov Sumbar untuk memotivasi Pemprov Sumbar meningkatkan kinerja keuangan.
“Anugerah ini adalah hasil kerja keras seluruh unsur di jajaran Pemprov Sumbar. Memberi pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Dan, penghargaan ini juga tak lepas dari dukungan semua elemen dan masyarakat itu sendiri,” katanya.

Tahun ini, Anugerah Dana Rakca hanya diberikan kepada tiga provinsi yaitu Provinsi Sumbar, Jatim dan Sumsel. Berkat keberhasilan pemerintah provinsi Sumatera Barat meraih penghargaan tersebut, pemerintah pusat memberikan dana alokasi Dana Insentif Daerah (DID) minimum sebesar Rp 71 miliar.

Irwan beranggapan bahwa dengan disediakannya DID untuk Pemda beprestasi, maka pemerintah daerah harus mulai serius menata keuangan daerah. Pemerintah pusat telah menyiapkan dana intensif daerah (DID) yang jumlahnya mencapai miliaran rupiah.

Pada Tahun 2016 Pemprov Sumbar juga menerima penghargaan yang sama. Bersama 65 daerah lainnya yang memiliki kinerja keuangan yang baik berhak mendapat DID 2016.

Republika,co.id, 07 December 2017

Jumat, 24 November 2017

Guru Pewaris Rasul

Oleh: Irsyad Syafar

Sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam adalah seorang guru. Sebab, Beliau diutus Allah untuk membacakan Wahyu Allah, mensucikan jiwa-jiwa umatnya dan mengajarkan mereka Al Quran dan As Sunnah. Allah Ta'alaa berfirman:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ.

Artinya: "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS Al Baqarah: 151).

Nabi Shallallahu Alaihi wasallam adalah guru yang telah mengeluarkan umatnya dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya tauhid (keimanan). Beliau telah mengajar para sahabatnya menjadi  manusia-manusia terbaik, setelah sebelumnya mereka tidak saja buta huruf, melainkan dalam kesesatan yang nyata. Allah Ta'alaa berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS Al Jumu'ah: 2).

Abdullah bin Amru meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wasallam bersabda:

وَإِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّماً. رواه ابن ماجه.

Artinya: "Sesungguhnya Aku diutus sebagai seorang guru." (HR Ibnu Majah)

Berbahagialah para guru sampai akhir zaman, yang senantiasa tulus, sabar, gigih dan penuh pengorbanan dalam mendidik generasi demi generasi, menyelamatkan mereka dari kebodohan, kesesatan dan kejahiliyahan. Sebab, sesungguhnya guru adalah pewaris Rasul.

SELAMAT HARI GURU

Senin, 13 November 2017

Kinerja Pemprov Sumbar Berpredikat Baik

Jakarta, Padek—Pemprov Sumbar menerima penghargaan anugerah sebagai provinsi dengan predikat baik  kategori pemerintah daerah dalam aspek kinerja dan pemerintahan.
Penghargaan dari Indonesian Institute for Public Governance (IIPG) diserahkan lagngsung Ketua Dewan Penasihat IIPG yang juga Wakil Presiden ke-11 RI, Prof Dr Boediono didampingi Menteri Dalam Negeri Tjahjo  Kumolo kepada Gubernur Sumbar Irwan Praytino, Jumat (10/11) di Graha CIMB Niaga, Jalan Jenderal Sudirman Kav 58, Jakarta. “Ini bentuk apresiasi IIPG yang telah memberikan penghargaan dan kepercayaan kepada Pemprov.

Ini jadi motivasi dalam menjalankan roda pemerintahan sehingga dapat meningkatkan kinerja,” ujar Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno.

Penilaian yang dilakukan sehingga terpilihnya Sumbar, kata Irwan Prayitno, karena dua aspek, yakni aspek  kinerja dan pemerintahan. Dari dua aspek itu dijabarkan beberapa aspek yang dinilai memiliki pengelolaan yang positif dalam pemerintahan. Selain itu, dalam aspek kinerja, Sumbar memiliki pertumbuhan ekonomi yang terus tumbuh. Baik dari segala sektor di antaranya lapangan usaha, pertanian, kehutanan, perikanan serta  transportasi dan perdagangan.

Kemudian, untuk pengembangan manusia di Sumbar mengalami kemajuan. Itu dapat dilihat dari data Badan Pusat Statisik (BPS) Sumbar.

Pada 2016 angka Indeks Pengembangan Manusia (IPM) sebesar 70,73 persen, bahkan melampaui angka  nasional yang hanya 70,18. Ini membuktikan keberhasilan pemerintah daerah dalam membangun kualitas hidup manusia.

Pemprov Sumbar juga melakukan beberapa terobosan transformatif dan inovatif dalam bentuk memberikan kemudahan berinvestasi bagi para investor. Yakni, kemudahan bagi para investor dalam pengurusan  perizinan. Lalu, meluncurkan aplikasi pelayanan perizinan dan nonperizinan secara online Sistem Informasi Pelayanan (SIP) Sakato yang memudahkan warga maupun investor urus izin.
Tidak hanya itu. Penilaian lain dari aspek pemerintahan terkait tata kelola keuangan. Pemprov Sumbar dinilai baik dalam pengelolaan keuangan.

Itu dibuktikan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Sumbar yang terus memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI. Hingga WTP lima kali berturut-turut sejak 2012. Kemudian, Kementerian Keuangan juga memberikan penghargaan karena menilai dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan tahun 2016 meraih capaian tertinggi.

Tata kelola pemerintahan di Sumbar terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, kata Irwan, dia selalu mengingatkan aparatur sipil negara (ASN) yang bekerja di lingkungan Pemprov Sumbar agar bekerja sesuai aturan dan memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.
“Sektor publik adalah kunci kemajuan bangsa. Sehingga dapat mendorong integritas dan kreativitas pemda menghasilkan pengelolaan,” ujarnya.

Dalam pemberantasan korupsi, Pemprov Sumbar menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam pencengahan, salah satunya penandatangan komitmen bersama dan memperkuat pencegahan korupsi dengan Peraturan Gubernur tolak gratifikasi sesuai arahan KPK. Dari penganugerahan IPPG 2017 ada sekitar 415 kabupaten, 1 kabupaten administrasi, 93 kota, 5 kota administrasi dan 34 provinsi yang pemerintah   daerahnya dinilai.

Padang Ekspres, 13 November 2017