Penghargaan Energi Nasional 2012

Gubernur Sumbar menerima Penghargaan Energi dari Menteri ESDM Jero Wacik

Investment Award 2011

Gubernur Sumbar menerima penghargaan dari pemerintah pusat sebagai provinsi terbaik bidang penanaman modal.

Menolak Kenaikan Harga BBM

Wakil Ketua DPRD Sumbar yang juga Ketua DPW PKS Sumbar ketika diwawancarai wartawan terkait demonstrasi mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM.

Penyalur BOS Tercepat 2012

Gubernur Sumbar mendapat penghargaan sebagai provinsi penyalur dana BOS tercepat tingkat nasional tahun 2012.

Penghargaan Lingkungan Hidup 2012

Gubernur Sumbar pada tahun 2012 kembali mendapatkan penghargaan lingkungan hidup tingkat nasional dimana pada tahun 2011 juga telah mendapat penghargaan yang sama.

Pages

Minggu, 17 Juni 2018

Posko PKS Payakumbuh Diminati Pemudik

Posko yang disediakan oleh pengurus PKS Kota Payakumbuh ternyata begitu diminati oleh pemudik. Posko mudik yang terletak di pinggir Jalan Sudirman, Balai Baru, Payakumbuh Utara itu, tampak ramai dikunjungi pemudik untuk singgah dan beristirahat.

"Ada 52 orang  pemudik yang menginap di Posko Mudik PKS malam ini," kata Kader PKS Payakumbuh yang bertugas piket pada Sabtu malam (16/6), Farid Putera.

Farid mengatakan, para pemudik banyak yang datang dari daerah Riau untuk beristirahat di Posko Mudik PKS Payakumbuh yang beroperasi sejak Senin lalu (11/6). "Alhamdulillah Posko mudik PKS terus dicari oleh pemudik. Katanya mereka senang mampir di posko PKS," ujar Farid.

Farid menyampaikan, berbagai layanan disediakan oleh Posko Mudik PKS. "Ada aula untuk tempat istirahat, toilet, listrik, sinyal Wifi, makanan dan minuman ringan, bahkan ada televisi untuk nonton bareng piala dunia," tuturnya.

Sementara itu, Ketua BKO PKS Payakumbuh Sumardi mengatakan, program posko mudik merupakan instruksi dari DPP PKS dalam rangka berkhidmat untuk rakyat. Setiap pengurus PKS di daerah diamanatkan untuk membuat posko mudik.

"Di Payakumbuh, kita menyulap kantor DPD menjadi posko mudik. Para kader kita tugaskan untuk piket secara bergantian melayani pemudik," ucap Sumardi.

Sumardi menyampaikan, Posko Mudik bisa berjalan atas sumbangan para kader partai. Ada yang menyumbang menyumbang makanan, minuman, mukenah, sarung, sajdah, dan perlengkapan lainnya. Oleh karena itu,  Sumardi mengucapkan terima kasih kepada para kader yang telah berkontribusi dalam mewujudkan Posko Mudik PKS.

"Khususnya Ustadz Isryad Syafar yang telah menyumbang uang tunai dan ibuk Henny Yusnita atas sumbangan sajadahnya," ucapnya. (rel)

Jumat, 08 Juni 2018

Kisah dan Ibrah (22)

Ramadhan 22

Oleh: Irsyad Syafar

Perang Tabuk terjadi  pada bulan Rajab tahun ke 9 hjriyah. Rasulullah saw memerintahkan para sahabat berangkat perang setelah Beliau mendapat informasi bahwa Romawi dibawah pimpinan Heraklius telah menyiapkan pasukan besar untuk menyerang umat Islam. Ini merupakan peperangan terberat yang pernah dihadapi oleh Rasulullah saw dan para sahabat.

Perang ini juga dinamakan Yaumu 'usrah, atau hari (perang) yang sangat sulit. Disamping karena lawan yang akan dihadapi sangat kuat dan jarak yang akan ditempuh dari Madinah ke Tabuk sangat jauh, juga perang ini berlangsung pada musim panas. Sehingga sebagian merasa keberatan berangkat berperang di hari yang sangat panas.

Allah SWT menceritakan pembicaraan kaum munafik dan orang-orang yang "mangkir" dari peperangan:

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ. (التوبة: ٨١).

Artinya: "Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui." (QS At Taubah: 81).

Kesulitan perang ini juga disebabkan karena kesulitan harta, kurangnya perbekalan dan kendaraan serta minimnya persenjataan. Imam Muslim dalam kitab shahihnya (1/55-56/hadits:27) meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ra. yang menceritakan berbagai kesulitan dan kekurangan yang dialami kaum Muslimin dalam perjalanan mereka ini sampai harus bertahan hanya dengan satu kurma dengan meminum air setiap kali mereka menghisap kurma tersebut tanpa memakannya.

Pada banyak peperangan, Rasulullah saw cendrung merahasiakan persiapan dan penggalangan perang. Namun untuk perang Tabuk ini, Rasulullah saw menginformasikannya secara terbuka, dan mewajibkan semua yang memenuhi syarat untuk berangkat berperang. Bahkan Rasulullah saw melakukan penggalangan dana untuk biaya perang ini.

Dengan beratnya dan susahnya perang ini, maka ia menjadi ujian bagi seluruh kaum muslim waktu itu. Mana yang betul-betul beriman dan mana yang hanya berpura-pura. Setidaknya, tersingkaplah beberapa kelompok dikalangan kaum muslimin waktu itu: Orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhalangan, orang-orang munafik dan orang-orang jujur tetapi tidak ikut berperang.

Adapun orang-orang beriman, mereka merespon seruan jihad dari Rasulullah saw ini dengan penuh semangat dan antusias. Dan mereka berlomba-lomba untuk berkorban. Apalagi Rasulullah saw memotivasi mereka untuk itu.

Abdurrahman bin Hubab menceritakan, "Aku menyaksikan Rasulullah saw  memotivasi para shahabat dalam perang Al ‘Usrah (yaitu Perang Tabuk), maka Utsman bin Affan berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Aku akan memberikan 100 unta lengkap dengan muatan dan pelananya di jalan Allah!’. Lalu Rasulullah saw memotivasi lagi, dan Utsman kembali berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Aku akan memberikan 200 unta lengkap dengan muatan dan pelananya di jalan Allah!’. Lalu Rasulullah saw memotivasi lagi, dan Utsman kembali berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah! Aku akan memberikan 300 unta lengkap dengan muatan dan pelananya di jalan Allah!’. Maka aku melihat Rasulullah turun dari mimbar dan berkata, "Tidak ada bagi Utsman sesuatu yang akan menimpanya setelah ini, tidak ada bagi Utsman sesuatu yang akan menimpanya setelah ini". (HR At Tirmidzi 5/626).

Di dalam riwayat Imam Ahmad, diriwayatkan bahwa Ustman ra. juga mensedekahkan uang sebanyak 1000 dinar emas. Sehingga wajar kemudian Rasulullah saw sampai menjamin surga bagi Ustman.

Adapun sahabat Umar bin Khattab ra, beliau bersedekah dengan separuh hartanya, dan beliau berharap hari itu bisa mengalahkan Abu Bakar ra (dalam amal shaleh). Ketika Rasulullah saw bertanya berapa yang ia sisakan untuk nafkah keluarganya, Umar menjawab, "Sejumlah itu juga".

Sedangkan Abu Bakar ra. membawa semua yang ia miliki, dan  menginfakkannya kepada Rasulullah saw untuk biaya perang. Ketika ditanya berapa yang ia sisakan untuk nafkah keluarganya, Abu Bakar menjawab, "Aku tinggalkan untuk mereka, Allah dan Rasul-Nya". Sejak itu Umar merasa tidak akan pernah mengalahkan Abu Bakar.

Masih banyak lagi sahabat lain yang berinfak dengan nominal yang besar. Mereka semisal Al ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Muhammad bin Maslamah, dan ‘Ashim bin ‘Adi. Bahkan Abdurrahman bin Auf berinfakkan sebanyak 2000 dinar emas. Allah SWT memberikan kabar gembira kepada mereka:

لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَأُولَئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (88) أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (89) التوبة.

Artinya: "Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan; dan mereka itulah (pula) orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (QS At Taubah: 88-89).

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ فَلَهُ الْجَنَّةُ

Artinya: "Barangsiapa menyiapkan pasukan ‘Usrah maka baginya surga." (HR Bukhari).

Itu kalangan berada dari para sahabat. Adapun kalangan dhuafa dan miskin, mereka tak mau kalah. Mereka berinfak semampu yang mereka miliki. Ada yang datang menghadap Rasulullah saw menginfakkan sedikit korma. Diantara mereka ada yang membawa satu sha’ kurma seperti Khaitsamah al-Anshari ra, ada juga yang membawa setengah sha’ kurma seperti Abu Uqail ra. Infak kaum miskin ini menjadi sasaran ejekan dan celaan orang-orang munafik. Bahkan yang berinfak dengan jumlah banyakpun menjadi celaan mereka. Mereka menuduhnya itu adalah riya. Allah SWT berfirman membela kaum mukminin:

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. (التوبة: ٧٩).

Artinya: "(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela kaum Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allâh akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih." (QS At-Taubah:79).

Adapun kelompok sahabat yang tidak mampu sama sekali, dan tidak punya apa-apa. Mereka juga tidak mau kalah dalam semangat dan pengorbanan. Mereka berbondong-bondong datang menghadap Rasulullah saw, berharap dan meminta dengan sangat agar dibawa berangkat pergi berperang. Namun Rasulullah saw tak mampu dan tidak punya biaya untuk membawa mereka. Akibatnya mereka pulang dengan sedih dan berlinang air mata. Perasaan mereka betul-betul terpukul tak ikut serta meraih kemuliaan bersama Rasulullah saw di medan jihad. Allah SWT berfirman:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

Artinya: "Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu". lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan." (QS At Taubah: 92).

Sedangkan kelompok orang-orng yang memiliki halangan syar'i seperti cacat, buta, pincang dan sakit, maka mereka semua tidak wajib pergi berperang, dan sudah dimaafkan oleh Allah SWT.

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

Artinya: "Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS At Taubah: 91).

Kelompok berikutnya adalah kaum munafiqin. Menghadapi perang berat ini mereka menampilkan perangai yang memalukan. Sebelum berangkat mereka telah menjadi provokator. Mereka hasut orang lain untuk tidak pergi perang pada musim panas. Saat penggalangan infak, mereka mencela semua orang. Yang berinfak banyak, dituduhnya riya. Yang sedikit mereka cemooh.

Kemudian saat Rasulullah saw dan pasukan sudah berangkat menuju Tabuk, orang-orang munafik itu juga tidak ikut. Mereka tetap tinggal, duduk-duduk saja di Madinah. Ketika Rasulullah saw pulang dari perang, mereka datang pula pura-pura minta maaf dan minta izin. Allah SWT menggambarkan sikap mereka:

{يَعْتَذِرُونَ إِلَيْكُمْ إِذَا رَجَعْتُمْ إِلَيْهِمْ قُلْ لَا تَعْتَذِرُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكُمْ قَدْ نَبَّأَنَا اللَّهُ مِنْ أَخْبَارِكُمْ وَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (94) سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (95). التوبة.

Artinya: "Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan uzurnya kepada kalian, apabila kalian telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah, "Janganlah kalian mengemukakan uzur; kami tidak percaya lagi kepada kalian, (karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami di antara perkabaran-perkabaran (rahasia-rahasia) kalian. Dan Allah serta Rasul-Nya akan melihat pekerjaan kalian, kemudian kalian dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.” Kelak mereka akan bersumpah kepada kalian dengan nama Allah, apabila kalian kembali kepada mereka, supaya kalian berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahanam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS At Taubah: 94-95).

Terakhir, ada sekelompok orang yang tidak punya udzur, tapi mereka tidak berangkat pergi berperang. Dan mereka tidak pula mencari-cari alasan agar dimaafkan oleh Rasulullah saw. Mereka ada 3 orang: yang paling terkenal Ka'ab bin Malik, lalu Mararah ibnu Rabi’ Al-Amiri dan Hilal ibnu Umayyah Al-Waqifi. Ketiga orang ini dengan jujur mengakui kesalahan mereka. Ketidakikutan mereka dalam peperangan bukan karena udzur atau sakit dan sebagainya. Semua semata-mata karena kelalaian mereka.

Ka'ab bin Malik menceritakan apa yang telah terjadi dengan dirinya, "Aku tidak pernah absen dari Rasulullah saw dalam suatu peperangan pun, kecuali dalam Perang Tabuk. Hanya dalam Perang Badar aku tidak ikut, dan tidak ada seorang pun yang ditegur karena tidak mengikutinya. Karena sesungguhnya tujuan awalnya hanya untuk menghadang kafilah dagang orang-orang Qureisy. Namun kemudian berubah menjadi perang Badar."

Ka'ab bin Malik tidak ikut berangkat bukan karena tidak mampu atau miskin. Melainkan karena dia masih terus berlalai-lalai, tidak serius menyiapkan diri. Kalau dia mau, dia bisa siapkan bahkan untuk dua ekor tunggangan sekaligus.

Sikap menunda-nunda dan perasaan nanti akan bisa diselesaikan, telah membuat Ka'ab semakin ketinggalan. Hingga pada suatu hari Rasulullah Saw. dan kaum muslim berangkat, sedangkan dia masih belum menunaikan sesuatu pun dari persiapannya. Ia berkata kepada dirinya sendiri, "Aku akan membuat persiapanku dalam satu dua hari lagi, lalu aku akan berangkat menyusul Rasulullah saw."

Namun keesokan harinya Ka'ab belum juga tuntas menyiapkan dirinya. Bahkan sampai rombongan pasukan Rasulullah saw sudah sangat jauh. Ketika itulah ia sudah tidak mungkin lagi mengejar rombongan. Ia merasa sangat sedih dan galau. Apalagi ketika diperhatikannya orang-orang yang masih tinggal di Madinah hanya dua golongan saja: golongan orang-orang yang punya udzur syar'i seperti buta, cacat dan sakit. Dan golongan kedua orang-orang munafiq. Saat itu Ka'ab semakin tersentak. Ia sudah pasti tidak masuk golongan pertama. Bagaimana mungkin dia rela masuk golongan kedua???

Ketika Ka'ab mendengar berita bahwa Rasulullah saw dan pasukan sudah balik menuju Madinah, hatinya semakin berdebar. Alasan apa yang akan dia katakan kepada Rasulullah saw. Sehingga dia bisa selamat dari murka Rasulullah saw. Sempat terpikir dihatinya untuk berdusta membuat-buat alasan, pastilah Rasulullah saw percaya. Apalagi track recordnya sangat positif, tak pernah absen dari jihad. Tapi, setelah dia pikirkan dengan tenang dan dia rundingkan dengan keluarganya, rencana itu dia batalkan. Takkan ada yang bisa menyelamatkan dirinya kecuali dia jujur mengakui kelalaiannya.

Pagi harinya Rasulullah saw sampai di Madinah dan langsung ke masjid untuk shalat sunnat. Kemudian berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut berperang. Masing-masing mengemukakan uzurnya dan bersumpah kepadanya untuk menguatkan alasannya. Jumlahnya ada delapan puluh orang lebih. Maka Rasulullah Saw. menerima lahiriah mereka dan memohonkan ampun kepada Allah untuk mereka. Sedangkan mengenai isi hati mereka Beliau serahkan kepada Allah Swt.

Setelah itu Ka'ab menghadap dan  mengucapkan salam. Terlihat Beliau tersenyum sinis, lalu bersabda, ‘Kemarilah...!" Apakah yang menyebabkan kamu tidak ikut perang? Bukankah kamu telah membeli kendaraan?" Ka'ab menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya jika aku duduk di hadapan selain engkau dari kalangan penduduk dunia, niscaya aku dapat keluar dari kemarahannya dengan berbagai alasan. Sesungguhnya aku telah dianugerahi pandai berbicara. Tetapi demi Allah, aku merasa yakin bahwa jika aku berbicara kepadamu pada hari ini dengan pembicaraan yang dusta hingga aku dapat membuatmu ridha, niscaya Allah akan membuat engkau murka terhadap diriku dalam waktu yang dekat (yakni melalui wahyu-Nya). Dan sesungguhnya jika aku mengatakan hal yang sebenarnya kepadamu, niscaya engkau akan murka terhadap diriku karenanya. Namun aku benar-benar berharap semoga Allah memberikan ampunan yang terbaik bagiku dalam kejujuranku ini. Demi Allah, sebenarnya aku tidak mempunyai uzur (halangan) apa pun. Demi Allah, aku belum pernah mengalami keadaan yang lapang dan mudah seperti ketika aku tidak ikut perang bersamamu ini."

Dengan kuat dan tegar Ka'ab mengakui kesalahannya. Maka Rasulullah saw menerima pengakuannya, dan menyuruhnya pulang. Ka’ab bin Malik melanjutkan kisahnya, “Rasulullah Saw. bersabda: Adapun orang ini, maka ia berkata sejujurnya. Sekarang pergilah hingga Allah memberikan keputusan. Maka aku bangkit dan pergi."

Ka'ab bin Malik pulang, sambil menunggu keputusan Allah SWT. Begitu juga dua orang temannya yang juga mengaku dengan jujur. Setelah itu turunlah keputusan Allah. Semua kaum muslimin diperintahkan untuk tidak berbicara sepatah kata pun dengan 3 orang tersebut, dan harus menjauhi mereka. Hukuman ini sangat berat. Semua sahabat Rasulullah saw berubah total tidak mau bicara dengan Ka'ab dan dua kawannya. Bahkan untuk sekedar menjawab salam saja tidak boleh.

Hukuman ini sangat menyiksa mereka bertiga. Dunia yang begitu luas terasa sempit. Ka'ab masih pergi shalat berjamaah di belakang Rasulullah saw. Berharap bisa bersalaman atau melihat wajah Beliau. Namun ternyata Beliau memalingkan wajahnya. Suatu yang sangat menusuk hati. Sementara temannya yang dua lagi tak pernah keluar rumah. Di rumahnya mereka menangis setiap hari menyesali kesalahannya. Di masjid, di jalan dan di pasar takkan ada orang yang mau menyapa ataupun menjawab salamnya. Semua patuh dengan perintah Allah dan RasulNya.

Saat proses hukuman "boikot" itu berlangsung, tiba-tiba ada seseorang dari negeri syam datang mencari Ka'ab. Ia membawa surat dari Raja Gassan yang kafir. Sang Raja mengundang Ka'ab bergabung dengannya, meninggalkan Muhammad yang telah memboikotnya. Ka'ab bin Malik semakin terpukul dengan surat raja Gassan tersebut. Ia katakan, "Ini ujian berikutnya." Surat itupun ia robek.

Setelah humuman boikot itu berlangsung 40 hari, tiba-tiba datang lagi tambahan hukuman. Utusan Rasulullah saw datang menyampaikan bahwa istri-istri mereka ini tidak boleh melayani dan berkomunikasi dengan mereka. Sungguh sangat semakin berat kondisi kejiwaan mereka. Ka'ab pun menyuruh istrinya pulang ke rumah orang tuanya. Sampai ada keputusan berikutnya dari Rasulullah saw.

Setelah genap 50 hari, ketika Ka'ab bin Malik selesai shalat shubuh di rumahnya, dia naik ke loteng rumahnya, dengan hati yang semakin remuk dan dada yang semakin sesak. Tiap hari tiap sebentar ia menangis memohon ampunan kepada Allah SWT. Tiba-tiba, terdengar teriakan dan suara keras dari seorang lelaki yang datang dari arah Masjid Nabawi, dari arah atas bukit, "Berbahagialah engkau wahai Ka'ab...! Allah telah menerima taubatmu." Ka'ab langsung tersungkur manangis bahagia atas karunia Allah yang besar ini.

Rupanya shubuh itu Rasulullah saw telah menerima wahyu, bahwa Allah SWT telah menerima taubat 3 orang sahabatnya. Allah SWT berfirman:

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. (التوبة: ١١٨).

Artinya: "dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS At Taubah: 118).

Ka'ab bin Malik bergegas pergi ke Masjid Nabawi menghadap Rasulullah saw. Ternyata di jalan para sahabat berebut menyampaikan berita gembira ini. Bahkan ada yang naik kuda. Dan ada yang berteriak dari atas bukit. Semua berbahagia dan memberikan ucapan selamat kepada Ka'ab dan dua temannya, atas taubat mereka. Sungguh, tidak ada kebahagian melebihi diterimanya taubat seorang hamba oleh Allah.

Pelajaran

1. Bila seorang muslim melalaikan sebuah kebaikan, bisa-bisa dia akan kehilangan banyak kebaikan. Bahkan akan jatuh kepada kesalahan dan dosa.
2. Orang-orang beriman akan selalu proaktif dalam amal shaleh, berkompetisi dalam mengamalkannya, dan tak pernah menyerah dengan keterbatasan potensinya.
3. Orang munafik akan selalu mencari alasan untuk tidak berbuat baik. Dan lebih cendrung mengejek amalan orang lain bila sedikit, dan menuduh riya bila lebih banyak.
4. Kejujuran, integritas, dan bertanggung jawab atas perbuatan sendiri adalah kunci keselamatan jangka panjang seorang muslim di dunia dan di akhirat.
5. Setiap mukmin haruslah patuh dan loyal kepada Allah dan RasulNya, serta kepada pimpinan, dalam setiap tugas dan perintah, selama bukan berupa maksiat. Apalagi bila itu adalah dalam berjuang di jalan Allah SWT.

Wallahu A'laa wa A'lam.

Kisah dan Ibrah (21)

Ramadhan 21

Oleh: Irsyad Syafar

Abu sofyan sedang memimpin rombongan kafilah dagang kafir Quraisy dari negeri Syam. Mereka semua akan pulang kembali menuju Makkah. Rombongan ini membawa harta benda yang sangat banyak. Ada 1000 ekor onta dan uang emas sebanyak 5000 dinar emas. Sementara jumlah yang mengawalnya hanya 40 orang saja.

Sebelumnya, saat berangkat dari Makkah menuju negeri Syam melalui jalur Madinah, kafilah dagang Abu Sofyan ini berhasil lolos dari sergapan Rasulullah saw dan pasukannya. Mereka selamat sampai ke Syam. Maka disaat balik, dengan bisnis yang begitu banyak, Abu Sofyan harus mampu menyelamatkan seluruh kekayaan kafir Qureisy ini.

Sementara itu, Rasulullah saw telah mengirim dua orang sahabat pengintai untuk melihat kepulangan kafilah Abu Sofyan. Keduanya adalah  Thalhah bin Ubaidillah dan Sa'ad bin Zaid. Begitu Beginda Nabi saw mendapat informasi valid dan akurat akan kedatangan kafilah dagang tersebut, Beliau langsung menggalang pasukan dan memberangkatkannya menuju ke arah Badar, untuk menghadangnya.

Semenjak hijrah ke Madinah, Rasulullah saw dan para sahabat sudah diizinkan oleh Allah untuk berperang, melawan dan membalas kezhaliman kafir Qureisy yang telah mengusir mereka dari kampung halaman mereka. Dan telah merampas harta benda mereka yang ditinggalkan di Makkah. Allah berfirman:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ. (الحج: ٣٩).

Artinya: "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu." (QS Al Haj: 39).

Maka ini adalah kesempatkan bagi Rasulullah saw dan para sahabat untuk melaksanakan izin Allah SWT. Ada sebanyak 314 orang lebih kurang kekuatan personil pasukan Raaulullah saw untuk menghadang 40 orang rombongan kafilah dagang kafir Qureisy.

Abu Sofyan yang sudah sangat pengalaman dengan perjalanan dagang di jalur Madinah ini, tidak mau main-main. Ia sangat berhati-hati dan waspada. Ia juga mengirim para pengintai untuk melihat gejala atau indikasi mereka akan dihadang. Begitu berita valid mereka dapatkan, Abu Sofyan langsung mengirim seorang bergerak cepat menuju Makkah, agar segera mendapat pertolongan dari Kafir Quresiy.

Maka berangkatlah utusan Abu Sofyan menuju Makkah dengan kecepatan tinggi. Dia adalah Dhamdham bin Amr Alghifari. Sesampai di Makkah dia berdiri di atas punggung ontanya. Bajunya dikoyak-koyaknya, perbekalannya acak-acakan dan hidung ontanya ditorehnya dengan pedang hingga terluka. Lalu dia berteriak kepada penduduk Makkah, "Harta benda kalian yang dibawa Abu Soryan telah dihadang Muhammad dan rekan-rekannya. Kalian harus selamatkan... tolonglah... tolooooong...!!!"

Suaranya yang lantang, ekspresinya yang sangat meyakinkan dan penampilannya yang begitu acak-acakan, membuat seluruh kafir Qureisy tersentak dan percaya. Dalam waktu yang sangat cepat, 1000 pasukan lengkap segera terkumpul dan bergerak menuju badar untuk mengamankan barang dagangan dan harta mereka.

Sembari menunggu bala bantuan pasukan kafir Qureisy, Abu Sofyan tetap berusaha menyelamatkan kafilah dagang yang dipimpinnya. Dengan kepiawaiannya melalui jalur padang pasir, rombongannya berhasil lolos dari sergapan Pasukan Rasulullah saw. Dan akibatnya malah pasukan Rasulullah saw akan berhadapan dengan kekuatan pasukan kafir Qureisy. 314 orang  dengan persenjataan seadanya, akan menghadapi 1000 lebih pasukan bersenjata lengkap.

Suasana pasukan Rasulullah saw menjadi berbalik. Awalnya akan menghadapai lawan yang lemah (hanya 40 orang), dengan hasil yang sangat besar. Ternyata bertukar menjadi lawan yang sangat berat. Sedangkan hasilnya belum jelas. Allah SWT menggambarkan situasi ini dalam firmanNya:

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ. (الأنفال: ٧).

Artinya: "Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir." (QS Al Anfal: 7).

Ibnu Katsir menjelaskan maksudnya, bahwa Allah-lah yang menghendaki untuk mempertemukan antara kalian dengan golongan yang mempunyai kekuatan dan daya perang itu.  Supaya kalian bisa mengalahkan mereka, lalu mendapatkan kemenangan atas mereka, dan mengunggulkan agama-Nya, meninggikan kalimat Islam atas sekalian agama. Dia lebih mengetahui akhir dari segala urusan dan Dia pula yang mengatur kalian dengan pengaturan-Nya yang baik, meskipun para hamba-Nya mencintai sesuatu yang lebih mudah, sesui dengan yang tampak bagi pandangan mereka yang terbatas.

Para sahabat Rasulullah saw awalnya tidak menduga akan menghadapi perang besar ini. Mereka sudah optimis dengan lawan yang ringan. Namun kemudian kafilah Abu Sofyan lolos, dan mereka harus menghadapi lawan berat. Mereka seolah-olah akan digiring menghadapi kematian. Allah SWT berfirman:

يُجَادِلُونَكَ فِي الْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى الْمَوْتِ وَهُمْ يَنْظُرُونَ. (الأنفال: ٦).

Artinya: "Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu). (QS Al Anfal: 6).

Kondisi kejiwaan dan psikologi pasukan Rasulullah saw sangat berbanding terbalik dengan pasukan besar kafir Qureisy. Dari segi jumlah pasukan ada 1 berbanding 3. Dari segi persenjataan juga sangat jomblang. Pasukan Rasulullah saw hanya ada 2 penunggang kuda dan persenjataan yang dibawa sangat terbatas. Sedangkan pasukan Qureisy dengan 100 ekor kuda, 600 baju besi dan jumlah onta yang sangat banyak. Untuk makan saja, mereka menyembelih 9 sampai 10 ekor onta dalam sehari. Belum lagi onta yang membawa peralatan dan yang tanpa beban.

Suasana seperti ini justru membuat penyerahan diri (tawakkal) mereka kepada Allah SWT menjadi sangat maksimal. Sebab, kemenangan orang beriman itu hanya semata-mata datang dari Allah.

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ (9) وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلا بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (10). الأنفال.

Artinya: "(Ingatlah) ketika kalian memohon pertolongan kepada Tuhan kalian, lalu diperkenankan-Nya bagi kalian, "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang berturut-turut." Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hati kalian menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha­bijaksana." (QS Al Anfal: 9-10).

Imam Ahmad meriwayatkan, bahwa ketika Perang Badar Nabi saw memandang ke arah  pasukannya yang saat itu berjumlah tiga ratus orang lebih. Lalu Nabi saw juga memandang ke arah pasukan kaum musyrik, ternyata jumlah mereka seribu orang lebih. Kemudian Nabi saw menghadap ke arah kiblat —saat itu beliau memakai kain selendang dan kain sarungnya— lalu berdoa: "Ya Allah, tunaikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika golongan kaum muslim ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini selama-lamanya." (Tafsir Ibnu Katsir).

Penyerahan diri yang total itu betul-betul membuahkan hasil. Malam itu juga pertolongan Allah SWT sudah mulai turun. Pertama, pasukan Rasulullah saw tersebut diberikan Allah SWT rasa kantuk. Sehingga mereka bisa tidur nyenyak, istirahat dan bugar, serta jauh dari rasa gentar, takut dan gemetar. Biasanya orang yang akan menghadapi sesuatu yang besar lagi berat, tak akan bisa tidur. Hatinya akan deg-degan, tegang dan dia tidak akan bisa fokus.

Kedua, Allah turunkan bagi mereka hujan yang memadai. Dengan air hujan ini, mereka bisa membersihkan diri, menyimpan air dan membuat kaki-kaki mereka berdiri kokoh di tanah pasir yang telah padat dan kuat karena basah oleh air hujan. Diriwayatkan bahwa ada sahabat yang junub pagi itu. Sehingga dengan adanya hujan dia bisa mensucikan diri, terhindar dari "wiswas" syetan dan keraguan sebelum berjihad. Allah SWT berfirman:

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ وَيُنزلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَى قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الأقْدَامَ (الأنفال: 11).

Artinya: "(Ingatlah) ketika Allah menjadikan kalian mengantuk sebagai suatu penenteraman dari-Nya. dan Allah menurunkan kepada kalian hujan dari langit untuk menyucikan kalian dengan hujan itu dan  menghilangkan dari kalian gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hati kalian dan memperteguh dengannya telapak kaki (kalian). (QS Al Anfal: 11).

Ketenangan pasukan Rasulullah saw semakin bertambah ketika sebelum perang Beliau mengabarkan lokasi dan tempat tewasnya para pembesar Kafir Qureisy. Dan setelah peperangan selesai, semua yang dikabarkan Rasulullah saw tersebut terbukti. Jasad orang-orang yang disebutkan namanya oleh Rasulullah saw itu, ditemukan di tempat-tempat yang Beliau sampaikan sebelumnya.

Dan sesuai dengan janjiNya, Allah SWT menurunkan 1000 Malaikat bertempur bersama kaum muslimin. 500 Malaikat disatu sisi dipimpin oleh Malaikat Jibril. Dan 500 Malaikat di sisi lain dipimpin oleh Malaikat Mikail. Allah SWT memerintahkan Mereka semua ikut berperang bersama para pasukan mukminin, memberikan dukungan semangat dan ikut membunuh pasukan kafir Qureisy. Mereka diperintahkan memenggal (memukul) leher-leher kaum musyrikin dan memotong jari-jemari mereka. Allah SWT berfirman:

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الأعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ (الأنفال: 12).

Artinya: "Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang yang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka." (QS Al Anfal: 12).

Pasukan musyrikin Qureisy bertempur dengan penuh ketakutan dan rasa gentar. Ada Malaikat yang memukul kepala dan tengkuk mereka yang tidak mereka lihat. Banyak pasukan Qureisy ini tewas dengan luka di kepala dan jari-jari yang terputus. 70 orang dari mereka tewas, termasuk para pembesarnya seperti: Abu Jahal, Uthbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Walid bin Uthbah, Umayyah bin Khalaf dan lain-lain.

Begitulah akhir yang tragis orang-orang melawan kepada Allah SWT dan RasulNya. Mati mengenaskan di dunia, dan adzab yang pedih di neraka. Allah SWT berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (13) ذَلِكُمْ فَذُوقُوهُ وَأَنَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابَ النَّارِ (14). الأنفال.

Artinya: "Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atas kalian), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka." (QS Al-Anfal: 13-14).

Pelajaran:

1. Bisa jadi seorang mukmin menyukai sesuatu, tapi itu tidak baik baginya. Dan sebaliknya, mungkin dia membenci sesuatu, tetapi itulah yang baik baginya. Karenanya standar suka dan tidak suka harus dikembalikan kepada ketentuan Allah.
2. Jumlah yang sedikit - dari segi kuantitas - tapi kuat keimanan dan tawakkal kepada Allah SWT, solid dalam barisan perjuangan, akan mampu mengalahkan kebatilan walaupun mayoritas.
3. Dalam perjuangan, umat Islam wajib mengerahkan segala daya dan kemampuan yang mungkin dilakukan, untuk meninggikan kalimat Allah SWT. Tidak berpangku tangan, mengharapkan pertolongan Allah.
4. Kadang puncak kelemahan dan ketidakberdayaan dalam menghadapi kekuatan kebatilan, justru membuat seorang mukmin semakin bersandar kepada Allah SWT. Dan hasilnya adalah kemenangan. Sebaliknya, tidak jarang rasa geer cepat mengampiri bila merasa kuat dan memiliki kelebihan. Dan hasilnya adalah kekalahan.
5. Allah SWT memiliki banyak pasukan - tak terhitung jumlahnya - yang akan menolong hamba-hambaNya yang beriman. Ada berupa Malaikat, hujan, air, angin, pasir, bebatuan, bahkan juga rasa kantuk. Hanya Dia yang tahu siapa saja bala tentaraNya.

Wallahu A'laa wa A'lam.

Selasa, 05 Juni 2018

Kisah dan Ibrah (20)

Ramadhan 20

Oleh: Irsyad Syafar

Kisah Nabi Musa as adalah kisah yang paling banyak diceritakan Allah SWT dalam Al Quran, paling sering diulang dan paling detail. Tentunya sebagai pelajaran bagi umat Nabi Muhammad saw. Sebab umat Beliau akan bertemu dengan umat Nabi Musa (keturunan mereka) dan berinteraksi dengan mereka sampai akhir zaman.

Berbagai episode kisah Nabi Musa dengan kaum dan umatnya dan juga dengan Firaun dan para pengikutnya, muncul di dalam Al Quran. Salah satunya kisah pembangkangan Firaun yang tak pernah mau sadar dan beriman. Padahal berulang-ulang dia meminta mukjizat kepada Nabi Musa, dan berjanji akan beriman setelah ada mukjizat. Namun ternyata berulang kali pula dia kafir dan membangkang kembali.

Firaun mengandalkan kekuasaannya kepada para tukang sihir. Sehingga ketika Nabi Musa as diutus Allah SWT kepadanya dengan beberapa mukjizat, dia menganggap itu juga adalah sihirnya Musa. Allah SWT berfirman menggambarkan sikap firaun dan pengukutnya kepada Musa as:

وَقَالُوا مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِنْ آيَةٍ لِتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ. (الأعراف: ١٣٢).

Artinya: "Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu". (QS Al A'raf: 132).

Betapa keras kepalanya mereka. Mereka minta bukti dan mukjizat. Tapi bila sudah mereka lihat mukjizat itu, mereka tak mau beriman dan menganggapnya sebagai sebuah sihir. Sebelumnya, saat tukang-tukang sihir firaun dikalahkan oleh tongkat Nabi Musa as, dan kemudian mereka beriman kepada Musa as, Firaun dan para pemuka kaumnya tetap kafir. Bahkan mereka hendak menjatuhkan hukuman seberat-beratnya bagi para tukang sihir yang "membelot" tersebut. Dan mereka tuduh Nabi Musa as dan para pengikutnya sebagai pembuat kerusakan di muka bumi. Allah SWT berfirman:

وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ ۚ قَالَ سَنُقَتِّلُ أَبْنَاءَهُمْ وَنَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ وَإِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُونَ. (الأعراف: ١٢٧).

Artinya: "Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". Fir'aun menjawab: "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka". (QS Al A'raf: 127).

Disamping itu, Nabi Musa as juga agak direpotkan oleh kaumnya sendiri -yaitu bani Israil- yang merasa susah hidupnya semenjak kedatangan Nabi Musa as, yang notabene sesama Bani Israil. Sebelum Nabi Musa muncul, bani Israil juga susah hidupnya ditindas dan diperbudak oleh Firaun. Setelah muncul, mereka semakin ditindas.

Akibatnya, Nabi Musa as menjadi punya target lain. Kalaupun tidak berhasil mendakwahi Firaun dan para pembesarnya, maka minimal bisa membawa pergi bani Israil keluar dari mesir, dan terbebas dari kekejaman Firaun. Kalau bisa, balik kembali bersama mereka ke kampung halaman mereka yaitu Palestina. Tapi upaya membawa dan menyelamatkan bani Israil keluar mesir ini, selalu dihalang-halangi Firaun dan bala tentaranya.

Setelah kazhaliman Firaun, pembangkangannya, penolakannnya terhadap dakwah Nabi Musa, keangkuhan dan kesombonggan menolak bukti dan mukjizat, maka Allah SWT turunkanlah adzab kepada Firaun dan kaumnya secara bertubi-tubi. Allah SWT berfirman:

 فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ (الأعراف: 133).

Artinya: "Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa." (QS Al A'raf: 133).

Allah SWT menimpakan 5 bencana besar secara berturut-turut, agar Firaun dan pengikutnya mau beriman. Setiap kali datang bencana, Firaun memelas kepada Musa as agar bersedia memohon kepada Allah untuk dihentikan siksaNya. Bila doa dikabulkan, dia berjanji akan membiarkan Nabi Musa pergi membawa bani Israil keluar mesir. Allah SWT berfirman:

وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ (الأعراف: 134).

Artinya: "Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu),merekapun berkata, "Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada di sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu, dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu." (QS Al A'raf: 134).

Akan tetapi, setelah Nabi Musa as memenuhi permintaannya, dan doanya dikabulkan Allah, Firaun ingkar janji dan tetap kafir. Dan tidak mengizinkan Nabi Musa pergi bersama bani Israil. Allah SWT menyatakan:

فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَى أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ (الأعراف: 135).

Artinya: "Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya." ( QS Al A'raf: 135).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukilkan beberapa riyawat panjang yang menceritakan 5 macam bencana besar tersebut. Salah satunya yang berasal dari Ibnu Jarir Ath Thabari dari perkataan Sa'id ibnu Jubair, Beliau menceritakan bahwa ketika Musa as. datang kepada Fir'aun, Musa as. berkata kepadanya, "Lepaskanlah kaum Bani Israil untuk pergi bersamaku." Namun permintaan Musa as ini dia tolak.

Lalu Allah SWT mengirimkan hujan badai (topan). Yaitu hujan yang sangat lebat kepada Fir'aun dan kaumnya. Sehingga menimbulkan kerusakan terhadap mereka. Sehingga mereka merasa khawatir bila hujan itu merupakan azab. Lalu mereka berkata kepada Musa as. ”Doakanlah buat kami kepada Tuhanmu agar Dia menghentikan hujan ini dari kami. Maka kami akan beriman kepadamu dan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu."

Lalu Nabi Musa as. berdoa kepada Tuhannya (hingga hujan itu berhenti). Tetapi setelah itu mereka tidak mau beriman dan tidak melepaskan kaum Bani Israil bersamanya.

Kemudian pada tahun itu juga Allah SWT menumbuhkan tetumbuhan, rerumputan, dan buah-buahan yang banyak, yang belum pernah terjadi demikian. Maka mereka berkata, "Inilah yang selalu kami dambakan." Tapi Allah kemudian mengirimkan puluhan ribu bahkan jutaan belalang kepada merek, yang merusak semua tetumbuhan mereka tersebut.

Ketika mereka melihat kerusakan yang diakibatkan oleh belalang itu, maka mereka mengetahui bahwa tiada sesuatu pun dari tanaman mereka yang selamat. Mereka berkata lagi, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu buat kami agar Dia mengusir belalang ini dari kami, maka kami akan beriman kepadamu dan akan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu."

Nabi Musa as. berdoa kepada Tuhannya. Maka Allah mengusir belalang itu dari mereka. Tetapi mereka lagi-lagi tidak mau beriman dan tidak melepaskan kaum Bani Israil pergi bersama Musa. Dan mereka berlindung masuk ke dalam rumah-rumah mereka, lalu mereka berkata, "Kami telah berlindung (merasa aman)."

Maka Allah SWT mengirimkan kutu, yakni ulat yang keluar dari bebijian, kepada mereka. Kutu atau ulat ini merusak dan memakan gandum-gandum mereka dari dalam. Sehingga tersebutlah bahwa seseorang lelaki bila keluar dengan membawa sepuluh karung biji gandum ke tempat penggilingannya, maka begitu ia sampai ke tempat penggilingannya, tiada yang tersisa kecuali hanya tiga genggam gandum saja (semuanya berubah menjadi ulat).

Mereka berkata, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan kutu ini dari kami, maka kami akan beriman kepadamu dan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu." Nabi Musa as. berdoa kepada Tuhannya, maka lenyaplah kutu itu dari mereka. Tetapi mereka menolak, tidak mau melepaskan kaum Bani Israil pergi bersama Musa.

Ketika Musa as. sedang duduk di hadapan Raja Fir'aun, tiba-tiba terdengarlah suara katak (kodok). Lalu Musa berkata kepada Fir'aun, "Apakah yang kamu dan kaummu jumpai dari katak ini?" Fir'aun berkata, "Barangkali ini pun merupakan tipu muslihat yang lain." Maka tidak lama kemudian —yakni pada petang harinya— tiada seorang pun yang duduk melainkan seluruh negeri penuh dengan katak sampai mencapai dagunya. Dan bila seseorang hendak berkata, begitu ia membuka mulutnya, maka pasti ada katak yang masuk ke dalam mulutnya.

Kemudian mereka berkata, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan katak-katak ini dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan nfelepaskan kaum Bani Israil bersamamu." Tetapi setelah katak lenyap, mereka tetap tidak juga mau beriman. Dan tidak mengizinkan bani Israil pergi.

Lalu Allah mengirimkan darah kepada mereka. Sehingga setiap kali mereka mengambil air dari sebuah tempat dalam wadahnya, maka air itu berubah menjadi merah, yakni berubah menjadi darah segar. Akibatnya dimana-mana darah berserakan dan menjadi pemandangan yang mengerikan.

Lalu mereka mengadu kepada Fir'aun, "Sesungguhnya kami telah dicoba dengan darah, dan kami tidak lagi mempunyai air minum." Fir'aun berkata, "Sesungguhnya dia (Musa) telah menyihir kalian." Mereka berkata, "Mana mungkin dia menyihir kami, sama sekali tidak. Kami menjumpai air dalam wadah-wadah kami berubah menjadi darah yang segar."

Mereka datang lagi kepada Musa dan berkata kepadanya, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan darah ini dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan kami akan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu."

Nabi Musa as berdoa kepada Tuhannya, maka Allah melenyapkan darah itu dari mereka. Akan tetapi mereka tetap tidak mau beriman, tidak mau pula melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamanya.

Begitulah pembangkangan demi pembangkangan mereka lakukan. Sehingga wajar kemudian Allah SWT membinasakan Firaun dan bala tentaranya dengan menenggelamkan mereka semua di dalam laut merah. Allah SWT berfirman:

فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ. (الأعراف: ١٣٦).

Artinya: "Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu." (QS Al A'raf: 136).

*Pelajaran*

1. Nabi Musa as menghadapi tantangan yang sangat berat dalam dakwahnya. Pertama pembangkangan Firaun dan para pengikutnya yang berulang-ulang. Kedua, nyinyir dan banyak "cincongnya" bani Israil yang mengikutinya.
2. Dalam dakwah kontemporer, umat Nabi Muhammad saw juga akan berhadapan dengan dua macam tantangan di atas: dari orang kafir dan dari internal umat sendiri yang masih awam dan jahil dengan ajaran Islam.
3. Modal utama dalam berdakwah kepada dua tipikal tersebut adalah kesabaran yang tak pernah habis dan hubungan yang kuat dengan Allah SWT.
4. Bila hati sudah terkunci, maka berbagai "hukuman Allah" pun tidak banyak berpengaruh bagi seseorang. Hanya kematian yang akan membuat pembangkangannya berakhir.
5. Allah SWT telah contohkan kaum dan orang-orang kuat yang engkar kepadaNya. Semua berakhir tragis dan binasa. Apalagi bila tidak sekuat mereka.

Wallahu A'laa wa A'lam.

Kisah dan Ibrah (19)

Ramadhan 19

Oleh: Irsyad Syafar

Kisah Nabi Musa as adalah kisah yang paling banyak diceritakan Allah SWT dalam Al Quran, paling sering diulang dan paling detail. Tentunya sebagai pelajaran bagi umat Nabi Muhammad saw. Sebab umat Beliau akan bertemu dengan umat Nabi Musa (keturunan mereka) dan berinteraksi dengan mereka sampai akhir zaman.

Berbagai episode kisah Nabi Musa dengan kaum dan umatnya dan juga dengan Firaun dan para pengikutnya, muncul di dalam Al Quran. Salah satunya kisah pembangkangan Firaun yang tak pernah mau sadar dan beriman. Padahal berulang-ulang dia meminta mukjizat kepada Nabi Musa, dan berjanji akan beriman setelah ada mukjizat. Namun ternyata berulang kali pula dia kafir dan membangkang kembali.

Firaun mengandalkan kekuasaannya kepada para tukang sihir. Sehingga ketika Nabi Musa as diutus Allah SWT kepadanya dengan beberapa mukjizat, dia menganggap itu juga adalah sihirnya Musa. Allah SWT berfirman menggambarkan sikap firaun dan pengukutnya kepada Musa as:

وَقَالُوا مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِنْ آيَةٍ لِتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ. (الأعراف: ١٣٢).

Artinya: "Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu". (QS Al A'raf: 132).

Betapa keras kepalanya mereka. Mereka minta bukti dan mukjizat. Tapi bila sudah mereka lihat mukjizat itu, mereka tak mau beriman dan menganggapnya sebagai sebuah sihir. Sebelumnya, saat tukang-tukang sihir firaun dikalahkan oleh tongkat Nabi Musa as, dan kemudian mereka beriman kepada Musa as, Firaun dan para pemuka kaumnya tetap kafir. Bahkan mereka hendak menjatuhkan hukuman seberat-beratnya bagi para tukang sihir yang "membelot" tersebut. Dan mereka tuduh Nabi Musa as dan para pengikutnya sebagai pembuat kerusakan di muka bumi. Allah SWT berfirman:

وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ ۚ قَالَ سَنُقَتِّلُ أَبْنَاءَهُمْ وَنَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ وَإِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُونَ. (الأعراف: ١٢٧).

Artinya: "Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". Fir'aun menjawab: "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka". (QS Al A'raf: 127).

Disamping itu, Nabi Musa as juga agak direpotkan oleh kaumnya sendiri -yaitu bani Israil- yang merasa susah hidupnya semenjak kedatangan Nabi Musa as, yang notabene sesama Bani Israil. Sebelum Nabi Musa muncul, bani Israil juga susah hidupnya ditindas dan diperbudak oleh Firaun. Setelah muncul, mereka semakin ditindas.

Akibatnya, Nabi Musa as menjadi punya target lain. Kalaupun tidak berhasil mendakwahi Firaun dan para pembesarnya, maka minimal bisa membawa pergi bani Israil keluar dari mesir, dan terbebas dari kekejaman Firaun. Kalau bisa, balik kembali bersama mereka ke kampung halaman mereka yaitu Palestina. Tapi upaya membawa dan menyelamatkan bani Israil keluar mesir ini, selalu dihalang-halangi Firaun dan bala tentaranya.

Setelah kazhaliman Firaun, pembangkangannya, penolakannnya terhadap dakwah Nabi Musa, keangkuhan dan kesombonggan menolak bukti dan mukjizat, maka Allah SWT turunkanlah adzab kepada Firaun dan kaumnya secara bertubi-tubi. Allah SWT berfirman:

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ (الأعراف: 133).

Artinya: "Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa." (QS Al A'raf: 133).

Allah SWT menimpakan 5 bencana besar secara berturut-turut, agar Firaun dan pengikutnya mau beriman. Setiap kali datang bencana, Firaun memelas kepada Musa as agar bersedia memohon kepada Allah untuk dihentikan siksaNya. Bila doa dikabulkan, dia berjanji akan membiarkan Nabi Musa pergi membawa bani Israil keluar mesir. Allah SWT berfirman:

وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ (الأعراف: 134).

Artinya: "Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu),merekapun berkata, "Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada di sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu, dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu." (QS Al A'raf: 134).

Akan tetapi, setelah Nabi Musa as memenuhi permintaannya, dan doanya dikabulkan Allah, Firaun ingkar janji dan tetap kafir. Dan tidak mengizinkan Nabi Musa pergi bersama bani Israil. Allah SWT menyatakan:

فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَى أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ (الأعراف: 135).

Artinya: "Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya." ( QS Al A'raf: 135).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukilkan beberapa riyawat panjang yang menceritakan 5 macam bencana besar tersebut. Salah satunya yang berasal dari Ibnu Jarir Ath Thabari dari perkataan Sa'id ibnu Jubair, Beliau menceritakan bahwa ketika Musa as. datang kepada Fir'aun, Musa as. berkata kepadanya, "Lepaskanlah kaum Bani Israil untuk pergi bersamaku." Namun permintaan Musa as ini dia tolak.

Lalu Allah SWT mengirimkan hujan badai (topan). Yaitu hujan yang sangat lebat kepada Fir'aun dan kaumnya. Sehingga menimbulkan kerusakan terhadap mereka. Sehingga mereka merasa khawatir bila hujan itu merupakan azab. Lalu mereka berkata kepada Musa as. ”Doakanlah buat kami kepada Tuhanmu agar Dia menghentikan hujan ini dari kami. Maka kami akan beriman kepadamu dan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu."

Lalu Nabi Musa as. berdoa kepada Tuhannya (hingga hujan itu berhenti). Tetapi setelah itu mereka tidak mau beriman dan tidak melepaskan kaum Bani Israil bersamanya.

Kemudian pada tahun itu juga Allah SWT menumbuhkan tetumbuhan, rerumputan, dan buah-buahan yang banyak, yang belum pernah terjadi demikian. Maka mereka berkata, "Inilah yang selalu kami dambakan." Tapi Allah kemudian mengirimkan puluhan ribu bahkan jutaan belalang kepada merek, yang merusak semua tetumbuhan mereka tersebut.

Ketika mereka melihat kerusakan yang diakibatkan oleh belalang itu, maka mereka mengetahui bahwa tiada sesuatu pun dari tanaman mereka yang selamat. Mereka berkata lagi, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu buat kami agar Dia mengusir belalang ini dari kami, maka kami akan beriman kepadamu dan akan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu."

Nabi Musa as. berdoa kepada Tuhannya. Maka Allah mengusir belalang itu dari mereka. Tetapi mereka lagi-lagi tidak mau beriman dan tidak melepaskan kaum Bani Israil pergi bersama Musa. Dan mereka ber­lindung masuk ke dalam rumah-rumah mereka, lalu mereka berkata, "Kami telah berlindung (merasa aman)."

Maka Allah SWT mengirimkan kutu, yakni ulat yang keluar dari bebijian, kepada mereka. Kutu atau ulat ini merusak dan memakan gandum-gandum mereka dari dalam. Sehingga tersebutlah bahwa seseorang lelaki bila keluar dengan membawa sepuluh karung biji gandum ke tempat penggilingannya, maka begitu ia sampai ke tempat penggilingannya, tiada yang tersisa kecuali hanya tiga genggam gandum saja (semuanya berubah menjadi ulat).

Mereka berkata, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan kutu ini dari kami, maka kami akan beriman kepadamu dan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu." Nabi Musa as. berdoa kepada Tuhannya, maka lenyaplah kutu itu dari mereka. Tetapi mereka menolak, tidak mau melepaskan kaum Bani Israil pergi bersama Musa.

Ketika Musa as. sedang duduk di hadapan Raja Fir'aun, tiba-tiba terdengarlah suara katak (kodok). Lalu Musa berkata kepada Fir'aun, "Apakah yang kamu dan kaummu jumpai dari katak ini?" Fir'aun berkata, "Barangkali ini pun merupakan tipu muslihat yang lain." Maka tidak lama kemudian —yakni pada petang harinya— tiada seorang pun yang duduk melainkan seluruh negeri penuh dengan katak sampai mencapai dagunya. Dan bila seseorang hendak berkata, begitu ia membuka mulutnya, maka pasti ada katak yang masuk ke dalam mulutnya.

Kemudian mereka berkata, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan katak-katak ini dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan nfelepaskan kaum Bani Israil bersamamu." Tetapi setelah katak lenyap, mereka tetap tidak juga mau beriman. Dan tidak mengizinkan bani Israil pergi.

Lalu Allah mengirimkan darah kepada mereka. Sehingga setiap kali mereka mengambil air dari sebuah tempat dalam wadahnya, maka air itu berubah menjadi merah, yakni berubah menjadi darah segar. Akibatnya dimana-mana darah berserakan dan menjadi pemandangan yang mengerikan.

Lalu mereka mengadu kepada Fir'aun, "Sesungguhnya kami telah dicoba dengan darah, dan kami tidak lagi mempunyai air minum." Fir'aun berkata, "Sesungguhnya dia (Musa) telah menyihir kalian." Mereka berkata, "Mana mungkin dia menyihir kami, sama sekali tidak. Kami menjumpai air dalam wadah-wadah kami berubah menjadi darah yang segar."

Mereka datang lagi kepada Musa dan berkata kepadanya, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan darah ini dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan kami akan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu."

Nabi Musa as berdoa kepada Tuhannya, maka Allah melenyapkan darah itu dari mereka. Akan tetapi mereka tetap tidak mau beriman, tidak mau pula melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamanya.

Begitulah pembangkangan demi pembangkangan mereka lakukan. Sehingga wajar kemudian Allah SWT membinasakan Firaun dan bala tentaranya dengan menenggelamkan mereka semua di dalam laut merah. Allah SWT berfirman:

فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ. (الأعراف: ١٣٦).

Artinya: "Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu." (QS Al A'raf: 136).

Pelajaran:

1. Nabi Musa as menghadapi tantangan yang sangat berat dalam dakwahnya. Pertama pembangkangan Firaun dan para pengikutnya yang berulang-ulang. Kedua, nyinyir dan banyak "cincongnya" bani Israil yang mengikutinya.
2. Dalam dakwah kontemporer, umat Nabi Muhammad saw juga akan berhadapan dengan dua macam tantangan di atas: dari orang kafir dan dari internal umat sendiri yang masih awam dan jahil dengan ajaran Islam.
3. Modal utama dalam berdakwah kepada dua tipikal tersebut adalah kesabaran yang tak pernah habis dan hubungan yang kuat dengan Allah SWT.
4. Bila hati sudah terkunci, maka berbagai "hukuman Allah" pun tidak banyak berpengaruh bagi seseorang. Hanya kematian yang akan membuat pembangkangannya berakhir.
5. Allah SWT telah contohkan kaum dan orang-orang kuat yang engkar kepadaNya. Semua berakhir tragis dan binasa. Apalagi bila tidak sekuat mereka.

Wallahu A'laa wa A'lam.

Kisah dan Ibrah (18)

Ramadhan 18

Oleh: Irsyad Syafar

Nabi Syu'aib adalah Nabi yang diutus kepada kaum Madyan. Dari sumber-sumber yang terpecaya, dan secara hitungan tahun, Nabi Syu'aib ini bukanlah mertua Nabi Musa, seperti yang kebanyakan beredar. Sebab Nabi Musa jauh beberapa generasi dibawah Nabi Yusuf, yang merupakan cicit Nabi Ibrahim. Sedangkan Nabi Syu'aib masih dekat masanya dengan Nabi Luth ponakan Nabi Ibrahim. Ibnu Katsir lebih memilih pendapat yang mengatakan Nabi Syu'aib berbeda dengan Syu'aib mertua Nabi Musa. Nama dan daerahnya yang sama.

Sedangkan Madyan adalah sebuah negeri di timur wilayah Sinai di pesisir laut Merah di tenggara Bukit Sinai. Masyarakat negeri ini disebut terkenal dengan perbuatan buruknya yang tidak jujur dalam timbangan dan ukuran. Disamping itu, mereka juga dikenal sebagai kaum kafir yang tidak mengenal Allah SWT. Mereka menyembah berhala bernama al aykah.

Nabi Syu'aib yang masih cicit Nabi Ibrahim as, diutus Allah SWT ke negeri madyan untuk mengajarkan mereka keimanan kepada Allah (tauhid), sekaligus meluruskan perilaku menyimpang mereka yang terbiasa curang dalam menimbang. Allah SWT berfirman:

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. (الأعراف: ٨٥).

Artinya: "Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman". (QS Al A'raf: 85).

Poin utama dakwah Nabi Syu'aib as adalah penyembahan kepada Allah SWT semata dan meninggalkan tuhan-tuhan lain (berhala) selain Allah SWT. Ini merupakan ajaran tauhid, yang menjadi misi semua Nabi dan Rasul. Lalu kemudian setiap Nabi dan Rasul menghadapi pula penyimpangan spesifik kaumnya. Bila kaum Luth terkenal dengan penyakit homoseksual, maka kaum Syu'aib terkenal dengan kecurangan dalam menimbang dan menakar.

Disamping itu, perangai lain kaum Syu'aib adalah menghalang-halangi orang lain dari jalan Allah dan menginginkan jalan Allah (ajaran agama Allah) itu bengkok. Allah SWT berfirman menjelaskan:

وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ وَاذْكُرُوا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ ۖ وَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ. (الأعراف: ٨٦).

Artinya: "Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS Al A'raf: 86).

Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat di atas bahwa Nabi Syu’aib as. melarang mereka merampok, baik bersifat material/konkrit maupun bersifat mmaterial/abstrak. Sebab mereka kerjanya merampok atau membegal dan juga mengancam/menakut-nakuti orang yang pergi belajar tauhid kepada Nabi Syu'aib.

Mereke juga diingatkan oleh Nabi Syu'aib dengan kaum-kaum terdahulu yang dihancurkan Allah SWT karena kekafiran dan dosa-dosa mereka. Seperti kaum Nuh, kaum Hud dan kaum Shaleh. Dan yang paling dekat dengan mereka secara tempat dan waktu adalah kaum Nabi Luth. Allah menegaskan:

وَيَا قَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ ۚ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ. (هود: ٨٩).

Artinya: "Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu." (QS Hud: 89).

Namun, pemuka-pemuka penduduk madyan malah membangkang dan bersikap sombong kepada Nabi Syu'aib. Bahkan mereka mengancam akan mengusir Beliau dari negeri tersebut atau ikut bergabung dalam agama sesat mereka. Allah SWT menggambarkan dalam FirmanNya:

قَالَ الْمَلأ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ (الأعراف: 88).

Artinya: "Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan diri berkata, "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kamu." Berkata Syu’aib, "Dan apakah (kalian akan mengusir kami) kendatipun kami tidak menyukainya?” (QS Al A'raf: 88).

Nabi Syu'aib dan pengikutnya yang beriman tidak bersedia kembali ikut dengan agama mereka yang sesat dan menyimpang. Sebab itu merupakan sebuah dosa yang sangat besar kepada Allah SWT.

Akan tetapi, kekafiran dan kesombongan mereka sangatlah keterlaluan. Dengan beraninya mereka mempengaruhi para pengikut Nabi Syu'aib dan menyatakan semua mereka adalah orang-orang yang merugi.

Mirip dengan pola komunikasi kaum-kaum kafir diberbagai zaman, mereka mengklaim merekalah yang dalam kebenaran dan merekalah yang telah berbuat kebaikan di muka bumi. Sebalik, (mereka tuduh) orang-orang beriman dan para pengikut Nabi yang setia,  adalah orang yang merugi, orang yang sesat dan telah berbuat kerusakan di muka bumi. Logika terbalik yang selalu muncul dari mulut-mulut para pembangkang kepada Allah dan Nabi-nabiNya. Allah SWT berfirman:

وَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًا إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ. (الأعراف: ٩٠).

Artinya: "Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): "Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi". (QS Al A'raf: 90).

Mereka melihat tidak ada alasan untuk meninggalkan agama mereka, dan hak mereka untuk berbuat apasaja dalam muamalah dengan harta yang mereka miliki.

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ ۖ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ. (هود: ٨٧).

Artinya: "Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." (QS Hud: 87).

Dan mereka terus melecehkan Nabi Syi'aib dan merendahkannya. Kalau bukan karena keluarga Beliau, mereka akan sangat berani untuk  menyiksa Nabi Syu'aib. Allah SWT berfirman:

قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا ۖ وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ. (هود: ٩١).

Artinya: "Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami". (QS Hud: 91).

Pernyataan mereka tersebut sekaligus melecehkan Allah SWT. Sebab mereka hanya segan kepada Nabi Syu'aib as lantaran menghormati keluarganya. Bukan karena status Beliau sebagai utusan Allah.

Tindakan dan sikap penduduk madyan tersebut sudah melampaui batas dalam menghina Allah SWT dan RasulNya. Maka Allah langsung menurunkan adzab dan siksa terhadap mereka. Allah SWT berfirman:

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ. (هود: ٩٤).

Artinya: "Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (QS Hud: 94).

Mereka bergeletakan mati seketika tanpa bergerak lagi, karena suara yang menggelegar bagaikan petir yang sangat kuat. Di dalam surat Al-A'raf disebutkan gempa yang dahsyat, sehingga mereka mati bergelimpangan di reruntuhan rumah-rumah mereka. sedangkan di dalam surat Asy-Syu'ara disebutkan azab pada hari mereka dinaungi oleh awan. Mereka adalah suatu umat yang berkumpul di hari mereka diazab, menerima pembalasan dari Allah.

Nabi Syu'aib dan pengikutnya yang beriman Allah selamatkan keluar dari negeri tersebut. Sedangkan negeri madyan hancur lebur bagaikan belum pernah ada. Hampir sama dengan nasib kaum Tsamud yang juga sangat tragis.

*Pelajaran*

1. Nabi Syu'aib berdakwah kepada kaumnya untuk mentauhidkan Allah SWT, sama dengan dakwah para Nabi dan Rasul sebelum dan sesudahnya.
2. Curang dalam ukuran dan timbangan adalah sebuah dosa besar dan akan mendatangkan kemurkaan Allah SWT.
3. Menghalangi orang dari agama Allah dan menakut-nakuti (mengancam) mereka dalam melaksanakan ajaran agama Allah SWT, adalah juga sebuah dosa besar, yang berhak atas siksa yang pedih dari Nya.
4. Para pembangkang dan orang kafir selalu memiliki perilaku yang mirip, yaitu melecehkan Nabi dan ajarannya. Kejadiannya seperti terus berulang dari masa ke masa, dan dari generasi ke generasi.
5. Orang-orang beriman tidak boleh berputus asa atas segala sikap dan intimidasi kaum kafir. Sebab Allah SWT pasti akan memenangkan hambaNya dan menjaga agamaNya.

Wallahu A'laa wa A'lam.