Penghargaan Energi Nasional 2012

Gubernur Sumbar menerima Penghargaan Energi dari Menteri ESDM Jero Wacik

Investment Award 2011

Gubernur Sumbar menerima penghargaan dari pemerintah pusat sebagai provinsi terbaik bidang penanaman modal.

Menolak Kenaikan Harga BBM

Wakil Ketua DPRD Sumbar yang juga Ketua DPW PKS Sumbar ketika diwawancarai wartawan terkait demonstrasi mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM.

Penyalur BOS Tercepat 2012

Gubernur Sumbar mendapat penghargaan sebagai provinsi penyalur dana BOS tercepat tingkat nasional tahun 2012.

Penghargaan Lingkungan Hidup 2012

Gubernur Sumbar pada tahun 2012 kembali mendapatkan penghargaan lingkungan hidup tingkat nasional dimana pada tahun 2011 juga telah mendapat penghargaan yang sama.

Pages

Rabu, 15 Mei 2019

Ramadan 10


KISAH DAN 'IBRAH

TEGASNYA DAUD dan BIJAKNYA SULAIMAN

Nabi Daud as adalah Nabi Allah yang mulia. Ia seorang Nabi, Rasul dan sekaligus raja. Ia menjadi raja bagi Bani Israil setelah meninggalnya Thalut, panglima perang melawan Jalut. Keberhasilan Daud membunuh Jalut dalam peperangan, membuatnya dipilih bani Israil sebagai raja sepeninggal Thalut.

Tidak banyak Nabi atau Rasul yang dimuliakan Allah menjadi Raja. Diantara yang sedikit itu adalah Nabi Daud dan anaknya Nabi Sulaiman. Allah menyebutkan tentang kemuliaan Nabi Daud:

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ ۖ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ (10).

Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (QS Saba: 10).

Nabi Daud memiliki kelebihan dalam kekuatan pisik sehingga mampu melunakkan besi dan pandai membuat baju besi untuk berperang. Beliau juga memiliki kemerduan suara yang sangat indah dalam melantunkan ayat-ayat Allah dari kitab zabur.

Tersebutlah bahwa apabila Daud melagukan bacaan kitabnya, maka burung-burung yang ada di udara berhenti dan menjawab­nya, gunung-gunung pun menjawab bacaannya dan mengikutinya. Karena itulah ketika Nabi Muhammad saw ketika melewati Abu Musa Al-Asy'ari r.a yang sedang membaca Al-Qur’an di malam hari, yang suaranya sangat merdu, maka Nabi saw berhenti dan mendengarkan bacaannya. Dan Rasulullah Saw. bersabda:

لَقَدْ أُوتِيَ هَذَا مَزَامِيرَ آلِ دَاوُدَ"

Artinya: "Sesungguhnya orang ini telah dianugerahi sebagian dari kemerduan (keindahan) suara keluarga Nabi Daud yang merdu bagaikan suara seruling." (HR Bukhari dan Muslim dari Aisyah).

Dimasa kekuasaan Nabi Daud as, terjadilah sebuah peristiwa. Ketika itu seorang pemilik kebun anggur mengadukan rusak dan hancurnya kebun beliau oleh kambing-kambing milik tetangganya. Nabi Daud as menerima pengaduan pemilik kebun ini. Sehingga kemudian Beliau memanggil pemilik kambing tersebut untuk diadili dan diminta pertanggung jawabannya. Allah berfirman:

وَدَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ (78).

Artinya: "Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu di rusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu." (QS Al Anbiya: 78).

Imam Ibnu Jarir menjelaskan Bahwa tanaman tersebut adalah pohon anggur yang buahnya telah masak. Lalu dirusak oleh ternak kambing seseorang, sehingga semuanya hancur tidak bersisa. Maka kemudian Nabi Daud menyidangkan perkara tersebut dan kemudian mengeluarkan keputusan.

Keputusan yang diambil oleh Nabi Daud as ketika itu adalah: kambing-kambing itu diserahkan kepada pemilik kebun sebagai ganti rugi kebunnya. Setelah keputusan itu ditetapkan, orang-orang yang berperkara keluar dari majelis Nabi Daud. Tentunya untuk segera mengeksekusi hukuman yang telah diputuskan.

Namun ketika mereka keluar, mereka bertemu Sulaiman anak Nabi Daud. Beliau bertanya kepada mereka tentang keputusan Ayahandanya. Setelah mendengarkan penjelasan mereka, Sulaiman segera menemui ayahandanya. Ia memandang ada keputusan yang lebih baik dan lebih adil dari itu.

Maka Sulaiman berkata, "Bukan demikian keputusannya, wahai Nabi Allah." Daud bertanya, "Lalu bagaimanakah pendapatmu?" Sulaiman mengatakan, bahwa hendaknya kebun anggur itu diserahkan kepada pemilik ternak kambing agar ia menanamnya kembali dan mengurusnya, sampai anggur itu berbuah lagi seperti saat sebelum dirusak kambing. Sebaliknya, kambing-kambing ternak diserahkan kepada pemilik kebun anggur. Pemilik kebun anggur boleh memanfaatkan susu kambing itu dan mendapatkan anaknya. Manakala kebun anggur itu telah kembali berbuah seperti sediakala, maka kebun anggur diserahkan kembali kepada pemiliknya. Begitu pula ternak kambing, diserahkan juga kembali kepada pemiliknya.

Keputusan Sulaiman ini menjadi sangat bijak dan tepat. Dan ini kemudian diambil oleh Nabi Daud dan membatalkan keputusan pertama. Allah berfirman:

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ (79).

Artinya: "maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud Dan Kamilah yang melakukannya." (QS Al Anbiya: 79).

Pada ayat ini Allah memuji Sulaiman atas keputusannya tersebut. Tapi, Allah tidaklah mencela Nabi Daud as, dan tidak menganggapnya zhalim dalam keputusannya. Sebab, Nabi Daud saat memutuskan yang pertama bukanlah dengan hawa nafsu. Melainkan itu ijtihadnya. Disamping itu, semua Nabi dimaksumkan oleh Allah dari perbuatan zhalim. Munculnya pendapat Sulaiman, juga bagian dari cara Allah dalam memaksumkan Nabi Daud dalam mengambil keputusan.

Hampir sama dengan kejadian itu, juga ada riwayat lain terkait pengambilan hukum Nabi Daud dengan anaknya Sulaiman. Hadits riwayat Imam Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:

بَيْنَمَا امْرَأَتَانِ مَعَهُمَا ابْنَانِ لَهُمَا، جَاءَ الذِّئْبُ فَأَخَذَ أَحَدَ الِابْنَيْنِ، فَتَحَاكَمَتَا إِلَى دَاوُدَ، فَقَضَى بِهِ لِلْكُبْرَى، فَخَرَجَتَا. فَدَعَاهُمَا سُلَيْمَانُ فَقَالَ: هَاتُوا السِّكِّينَ أَشُقُّهُ بَيْنَهُمَا، فَقَالَتِ الصُّغْرَى: يَرْحَمُكَ اللَّهُ هُوَ ابْنُهَا، لَا تَشُقه، فَقَضَى بِهِ لِلصُّغْرَى.

Artinya: "Ketika dua orang wanita sedang bersama bayinya masing-masing, tiba-tiba datanglah serigala dan memangsa salah seorang dari kedua bayi itu. Maka kedua wanita itu mengadukan perkaranya kepada Daud. Daud memutuskan peradilan untuk kemenangan wanita yang tertua di antara keduanya, lalu keduanya keluar dari majelis peradilan. Tetapi keduanya dipanggil oleh Sulaiman, dan Sulaiman berkata, "Ambilkanlah pisau besar, aku akan membelah bayi ini menjadi dua untuk dibagikan kepada kamu berdua.” Maka wanita yang muda berkata, "Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya anak ini adalah anaknya, janganlah engkau membelahnya.” Maka Sulaiman memutuskan bahwa bayi itu adalah anak wanita yang muda." (HR Bukhari dan Muslim).

Begitulah Allah berikan sikap ketegasan Nabi Daud dalam menetapkan hukum, dan Allah karuniai kebijaksanaan kepada Sulaiman.

Pelajaran dari Kisah ini:

1. Nabi Daud diberi kemulian oleh Allah berupa kerajaan, kenabian, kerasulan, kekuatan fisik, keindahan suara dan ketegasan dalam hukum. Sedangkan Nabi Sulaiman juga diberikan kemulian berupa kerajaan atas manusia dan binatang, kenabian, kehebatan bahasa dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

2. Siapapun yang memegang amanah dalam memutuskan perkara hukum hendaklah berijtihad semaksimal mungkin untuk memperoleh kesimpulan hukum yang paling baik dan adil, serta jauh dari hawa nafsu.

3. Rujuk dari satu pendapat atau keputusan kepada keputusan yang berbeda tetapi lebih baik, adalah sebuah perbuatan yang terpuji, dan bukanlah sebuah kelemahan dalam kepribadian.

4. Allah memberikan manusia akal dan pikiran untuk digunakan dalam mencari hal yang terbaik untuk kehidupannya demi mencapai redha Allah. Bukan sebaliknya, akal dan kecerdasan digunakan untuk menentang Allah dan syariatNya.

5. Menghormati pendapat orang yang lebih rendah dalam jabatan atau posisi, adalah sebuah akhlak yang mulia dan cerminan kerendahan hati (tawadhuk). Apalagi kalau pendapat itu memang terbukti lebih baik. Maka janganlah seseorang sombong dan angkuh dengan pendapatnya hanya karena jabatannya.

Wallahu A'laa wa A'lam.

H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed

Selasa, 14 Mei 2019

Buya Mahyeldi

Oleh Cahyadi Takariawan

Ada sangat banyak cara orang memanfaatkan waktu saat berada dalam penerbangan dengan pesawat terbang. Sebagia orang menggunakan waktu untuk mengobrol dengan teman duduk di sampingnya, ada yang membaca buku, ada yang menonton film, ada yang mendengarkan musik atau murattal melalui headset, ada yang tilawah, ada pula yang tidur. Saya golongan yang terakhir ini.
Bagi saya, penerbangan adalah jatah istirahat, agar ketika mendarat sudah fresh dan siap langsung berkegiatan dengan fit. Tapi pagi ini saya tidak bisa tidur, saat terbang dari Halim Perdanakusuma menuju Yogyakarta dengan Batik Air. Bukan karena turbulence pesawat, bukan karena cuaca, tapi karena terusik pembicaraan dua orang yang duduk di samping kanan saya.
Biasanya, setelah duduk dan mengenakan seatbelt, saya akan sejenak memeriksa pesan di smartphone, lalu mematikan smartphone, dan bersiap tidur. Pagi inipun berlaku hal seperti itu. Namun baru saja saya bersiap tidur, saya terusik dan dibuat penasaran oleh pembicaraan dua tersebut. Akhirnya saya menjadi tidak bisa tidur.
Sesungguhnya saya tidak berusaha menguping, karena menguping bukan tindakan terpuji. Namun karena mereka mengobrol tepat di samping saya, mau tidak mau saya ikut mendengar dan mengerti isi omongan mereka berdua.
Tampaknya mereka berdua belum kenal satu sama lain, lalu mengobrol ringan untuk memanfaatkan waktu sepanjang penerbangan. Yang satu seorang ibu, satu lagi seorang bapak. Dari pakaian dan penampilannya, keduanya tampak sebagai kalangan profesional. Sepertinya sama-sama orang pemerintahan, sehingga obrolannya nyambung dan asyik.
Yang membuat saya tidak bisa tidur, karena si ibu menyebut-nyebut dan membicarakan salah satu teman saya, Buya Mahyeldi, Walikota Padang,. Si ibu ini sepertinya aparatur sipil negara, di Pemkot Padang yang tengah dinas ke Yogyakarta. Ia bercerita kepada si bapak tentang berbagai program dan kegiatan, sampai akhirnya bercerita tentang Walikota Padang.
Awalnya saya tidak peduli dengan omongan mereka. Namun begitu si ibu menyebut Walikota Padang, telinga saya langsung “berdiri”. Menurut si ibu itu, Walikota Padang adalah orang yang baik. Sebagai pemimpin, beliau sangat merakyat. Si ibu lalu menceritakan kehidupan keseharian Buya.
“Orangnya sederhana. Pakaiannya itu itu saja, kalau tidak baju dinas Pemkot, ya baju warna putih. Tidak pernah berpakaian yang mewah-mewah”, ujar si ibu.
Menurut si ibu, Walikota Padang sangat dekat dengan rakyat. Sejak dulu, beliau suka masuk kampung dan tidak sungkan tidur di rumah-rumah warga. Bahkan pada bulan Ramadhan ini, hampir setiap malam Walikota tidur di rumah warga miskin. Berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain, dari mereka yang tercatat sebagai warga miskin di Kota Padang.
Sungguh saya sangat terharu mendengar penuturan ibu itu.
Si ibu juga menceritakan bahwa Walikota Padang sangat lembut dan santun. Dalam komunikasi dan interaksi sehari-hari, tidak pernah arogan. Hal ini membuat para aparatur menjadi nyaman. Sebagai aparatur daerah, si ibu bisa membandingkan hal ini dengan pemimpin lainnya. Buya Mahyeldi, menurutnya, sangat menjaga sopan santun dalam berkomunikasi dengan orang lain.
“Kalau berbicara, beliau sering mengutip ayat dan hadits. Cara bicaranya halus. Jadi kita itu merasa sejuk mendengarkan arahannya” kata si ibu.
Bukan saja tentang diri Walikota yang diceritakan. Si ibu juga menceritakan istri Walikota yang ternyata juga sangat santun dan Islami. Menurut si ibu, ketika berbicara di forum, istri Walikota juga sering mengutip ayat dan hadits, seperti suaminya, sehingga membuat nyaman yang mendengarkan.
Menurutnya, Walikota Padang bukan hanya baik secara pribadi dan keluarga, namun juga sukses dalam membangun Kota Padang. Sangat banyak perubahan Kota Padang semenjak dipimpin Buya Mahyeldi, termasuk dalam hal kinerja aparatur serta perbaikan sistem pemerintahan. Hal ini menjadi semakin membanggakan bagi aparatur dan masyarakat Kota Padang pada umumnya.
Kedua orang yang tengah mengobrol itu tidak tahu kalau saya ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Walaupun saya mendengar tanpa sengaja, namun akhirnya menikmati sampai selesai. Saya benar-benar tidak tidur hingga pesawat mendarat di Jogja. Hilang sudah kesempatan saya untuk istirahat di pesawat seperti biasanya. Namun tergantikan oleh sebuah kisah yang mencengangkan bagi saya tentang Buya Mahyeldi.
Saya sudah lama tidak bertemu beliau, sehingga tidak update terhadap kegiatan beliau akhir-akhir ini. Saya bersyukur tanpa sengaja telah mendapat update kondisi beliau hari ini dari obrolan ringan yang tanpa sengaja saya dengarkan.
Si ibu bercerita lancar tanpa beban, karena ia tidak tahu kalau saya teman Buya, juga tidak tahu kalau mendengarkan omongannya. Jadi saya menilai cerita itu tulus, bukan mengada-ada, bukan untuk mencari point atau semacamnya,  karena bercerita kepada orang yang baru saja dikenalnya di pesawat.
Mendengar itu semua, saya semakin kagum dengan Buya Mahyeldi. Sosok pemimpin daerah yang kharismatik, membuat nyaman aparatur pemerintahan, membuat sejuk suasana kerja, sangat merakyat, bahkan rela tidur bersama oramg miskin di rumah mereka. Saya merinding mendengar itu semua.
Kita masih ingat, dulu pernah ada Walikota yang dikabarkan suka blisukan, dan tiap hari serentak diberitakan koran serta TV nasional. Semua media gencar memberitakan si Walikota yang dianggap sederhana tersebut. Orang tidak tahu bahwa untuk bisa masuk pemberitaan media nasional secara massif itu tidak gratis. Butuh biaya besar untuk mencitrakan diri sebagai sederhana dan merakyat.
Bandingkan dengan Walikota Padang yang satu ini. Buya Mahyeldi, benar-benar dekat dengan rakyat, sosok yang hangat bersahabat, rela meninggalkan kasur empuknya di rumah dinas untuk tidur di rumah rakyat miskin setiap malam selama Ramadhan. TV nasional mana yang memberitakannya? Koran nasional apa yang meliput?
Sepertinya tak banyak orang mengenal Mahyeldi. Tak banyak orang mengerti kiprahnya. Tidak terkenal orangnya, layaknya para celeb poliikus lainnya. Juga tidak viral kisah dirinya. Tapi saya yakin, ia sangat terkenal oleh penduduk langit yang terus menerus mendoakannya, agar ia dikuatkan Allah untuk memimpin Kota Padang, kelak memimpin Sumatera Barat, bahkan bisa memimpin Indonesia. Tanpa pencitraan. Pemimpin seperti ini yang dirindukan masyarakat Indonesia.
Salam takzhim dari sahabat sekaligus muridmu, Buya Mahyeldi. Aku semakin kagum dan hormat kepadamu.
Terimakasih pula kepada ibu yang telah bercerita apa adanya, sehingga saya mendapatkan update informasi tentang sahabat saya.
Batik Air ID 7531, Jakarta Halim Perdanakusuma – Yogyakarta, take off 09.30 WIB, kursi 20 A. Selasa 14 Mei 2019.
Sumber: ruangbaca dot id

Ramadan 9


KISAH DAN 'IBRAH

IBRAHIM SELAMAT DARI API RAKSASA

Kejadian ini berawal dari semakin vulgarnya sikap Nabi Ibrahim as menentang kekafiran dan kesyirikan yang dilakukan oleh kaumnya. Betapa tidak, karena beliau sudah mendapat hidayah sejak kecil. Juga mendapat ilham kebenaran dan hujjah untuk berdebat melawan kesyirikan dari Allah. Sementara, penyembahan berhala berlangsung dimana-mana. Bahkan ayahnya juga termasuk dalam golongan itu.

Akibatnya Nabi Ibrahim as mendebat ayah dan kaumnya atas kesesatan yang mereka lakukan. Semua berhala-berhala yang mereka sembah dikritisi oleh Nabi Ibrahim. Allah menceritakan kritikan Nabi Ibrahim kepada ayah dan kaumnya:

إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ (52).

Artinya: "(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, "Patung-patung apakah ini yang kalian tekun beribadat kepadanya?” (QS Al Anbiya: 52).

Nabi Ibrahim as menilai berhala-berhala ini tidak layak untuk disembah. Makanya ia bertanya dengan nada keheranan, kenapa pula mereka semua tekun menyembahnya? Rupanya kaumnya juga tidak punya alasan yang logis dan ilmiah. Mereka hanya bisa menjawab bahwa itu sudah tradisi warisan dari nenek moyang mereka.

Sehingga kemudian Nabi Ibrahim langsung membuat kesimpulan bahwa, "Kalian dan nenek moyang kalian sungguh dalam kesesatan yang nyata". Mereka tidak terima pernyataan Ibrahim as ini. Akibatnya mereka mengkonfirmasi ulang apakah ini pernyataan sungguh-sungguh atau sekedar main-main. Nabi Ibrahim malah menegaskan kepada mereka, bahwa tuhan yang benar itu adalah Allah.

 قَالَ بَل رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ (56).

Artinya: "Ibrahim berkata, "Sebenarnya Tuhan kalian ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.” (QS Al Anbiya: 56).

Kemudian di dalam hatinya, Nabi Ibrahim as merencanakan sebuah konspirasi kepada berhala-berhala mereka. Makar ini akan dilakukannya saat tempat peribadatan kaum musyrikin ini telah sepi dan tidak seorangpun yang masih berada disana.

Maka ketika saatnya sudah tepat, Nabi Ibrahim as segera menghancurkan dan merobohkan semua berhala yang ada disana. Kecuali satu berhala yang paling besar, disisakan untuk mengkonfirmasi kejadian kepada orang kafir. Bahkan Nabi Ibrahim meletakkan kampaknya yang digunakan untuk menghancurkan berhala itu, ditangan berhala besar ini.

Allah berfirman:

وَتَاللَّهِ لأكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ (57) فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ (58).

Artinya: "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya." (QS Al Anbiya: 57-58).

Keesokan harinya kaum musyrikin beramai-ramai datang ke tempat peribadatan mereka. Betapa kagetnya mereka ketika menyaksikan "tuhan-tuhan" mereka semua sudah hancur berkeping-keping. Mereka sangat marah dan bertanya-tanya siapa gerangan yang telah berani berbuat aniaya kepada tuhan mereka.

Rupanya ada segelintir orang yang mengetahui rencana Nabi Ibrahim yang akan membuat konspirasi terhadap tuhan mereka. Sehingga mereka kemudian melaporkan Ibrahim sebagai pelaku (terdakwa) kasus ini. Dan Nabi Ibrahimpun kemudian mereka tangkap dan mereka adili.

Di depan khalayak ramai mereka menyidang Ibrahim as. Mereka bertanya, "Apakah engkau yang berbuat aniaya merusak tuhan-tuhan kami". Nabi Ibrahim menjawab, "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.”

Mendengar jawaban Ibrahim as, kaumnya menjadi bingung dan juga menyesal. Mereka menyesali kenapa berhala-berhala itu tidak mereka jaga dengan baik. Tapi mereka juga bingung karena berhala-berhala itu sudah pasti tidak bisa bicara dan tidak bisa apa-apa.

Namun, untuk menutupi kelalaian dan kebodohan mereka, mereka tetap menjawab pernyataan Ibrahim, "Engkau kan sudah tahu mereka (berhala) itu tidak bisa bicara sama sekali". Kenapa kami harus menanya mereka?".

Akibatnya Ibrahim as langsung menunjukkan kesalahan aqidah dan keyakinan mereka. "Kenapa kalian mau juga menyembah sesuatu yang tak berdaya memberi apa-apa kepada kalian?. Sungguh celaka sekali kalian dan sesembahan kalian ini, ketika kalian sembah selain Allah, apakah kalian tak punya akal?" Tanya Nabi Ibrahim kepada mereka.

Walaupun argumen penyembahan berhala mereka telah diruntuhkan oleh Nabi Ibrahim, akan tetapi kesesatan mereka telah mendorong mereka untuk berbuat yang lebih sesat. Mereka bersekongkol dengan raja mereka untuk membunuh Ibrahim as. Yaitu dengan cara membakarnya hidup-hidup dengan kayu bakar yang sangat banyak dan besar. Allah berfirman:

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ (68).

Artinya: "Mereka berkata, "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.” (QS Al Anbiya: 68).

Mereka mengumpulkan kayu bakar yang sangat banyak sekali. Sehingga ketika dinyalakan menimbulkan api yang sangat besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Atas usulan seseorang, Nabi Ibrahim mereka ikat di sebuah pelontar untuk dilemparkan ke api. Laki-laki ini kelak dibenamkan Allah ke dalam tanah sampai hari kiamat.

Menjelang tubuhnya melayang dilempar ke api yang sangat besar itu, Ibrahim as berdoa kepada Allah dengan mengucapkan Hasbiyallahu wa nikmal wakil (Cukuplah bagiku Allah, Dialah sebaik-baik pelindung).

Sebagian ulama Salaf menyebutkan bahwa Malaikat Jibril menampakkan diri kepadanya di langit, lalu Jibril bertanya, "Apakah kamu mempunyai suatu permintaan?" Ibrahim menjawab, "Adapun meminta kepadamu, saya tidak akan mau. Tetapi jika kepada Allah, saya mau."

Sa'id ibnu Jubair menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam nyala api, malaikat penjaga hujan berkata, "Bilamana aku diperintahkan untuk menurunkan hujan, aku akan menurunkannya." Akan tetapi, perintah Allah lebih cepat daripada perintah malaikat itu. Allah berfirman:

{يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ}

Artinya: "Hai api, menjadi dinginlah engkau dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. (Al-Anbiya: 69).

Ibnu Katsir menukilkan bahwa pada hari itu semua api di dunia menjadi tidak panas sama sekali. Kecuali api yang memutus tali-tali pengikat Nabi Ibrahim, selebihnya semua menjadi dingin. Bahkan Ibnu Abbas menyataka, "bahwa seandainya Allah tidak berfirman: "dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim. (Al-Anbiya: 69 ) tentulah dinginnya api itu akan menciderai Nabi Ibrahim as.

Qatadah mengatakan bahwa pada hari itu tiada satu hewan pun yang datang, melainkan berupaya memadamkan api agar tidak membakar Nabi Ibrahim, terkecuali tokek. Az-Zuhri mengatakan, Nabi Saw. memerintahkan agar tokek dibunuh dan beliau memberinya nama fuwaisiq. Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ، لَمْ يَكُنْ فِي الْأَرْضِ دَابَّةٌ إِلَّا تُطْفِئُ النَّارَ، غَيْرَ الوَزَغ، فَإِنَّهُ كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ"، فَأَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَتْلِهِ.

Artinya: "Bahwa sesungguhnya Ibrahim saat dilemparkan ke dalam nyala api, tiada seekor hewan melata pun melainkan berupaya memadamkan api itu, selain tokek, karena sesungguhnya tokek meniup api itu agar membakar Ibrahim. Maka Rasulullah Saw. memerintahkan kepada kami untuk membunuhnya."

Maka Nabi Ibrahim pun selamat dari kobaran api yang besar itu tanpa hangus sedikit pun. Dan Kebenaran menjadi menang, sedangkan kebathilan menjadi kalah.

Pelajaran dari Kisah Ini:

1. Nabi Ibrahim as mendapat hidayah dan kenabian dari Allah semenjak usia dini dan masih kecil. Sehingga ia dapat membedakan antara yang haq dengan yang bathil secara objektif, dan tidak terpengaruh dengan bapaknya sendiri.

2. Orang-orang yang masih mau menyembah berhala pastilah mereka orang yang sudah kehilangan nalar jernih dan akal sehat mereka.

3. Ibrahim sangat tegas ketika hanya berharap dan bergantung kepada Allah saja, dan bahkan tidak mau berserah diri kepada pertolongan malaikat sama sekali.

4. Setiap mukmin mesti berperan dalam memenangkan al Haq (kebenaran) walaupun peran itu sangat kecil. Namun itu telah menunjukkan kejelasan sikap dan posisi dimana ia berada.

5. Salah satu doa yang bagus digunakan untuk menghadapi ujian dan musibah yang berat adalah: Hasbiyallahu wanikmal Wakiil.

Wallahu A'laa wa A'lam.

H.  Irsyad Syafar,  Lc, M. Ed

Senin, 13 Mei 2019

Ramadan 8


KISAH DAN 'IBRAH

SAMIRI, UJIAN BANI ISRAIL

Bila ada kaum yang keras kepala dan mudah membangkang, mungkin kepada Bani Israillah label itu layak disematkan. Betapa tidak, berulang kali Allah memberikan karunia besar kepada mereka, berulang kali pula setelah itu mereka membangkang.

Kali ini, Bani Israil baru saja selamat dari kejaran Firaun dan bala tentaranya. Mereka lolos menyeberangi laut merah menuju daratan sinai (benua asia) dari bumi mesir (benua afrika). Laut yang dalam itu berubah menjadi lembah yang kering dan jalan yang bisa dilewati. Kemudian dikiri dan kanannya laut bagaikan dua bukit yang sangat besar.

Adapun Firaun dan bala tentaranya yang mengejar di belakang, semuanya ditenggelamkan Allah ke dalam laut merah. Laut tersebut kembali bertaut begitu Bani Israil lolos sampai di daratan seberang. Dengan tragis, kejayaan Firaun berakhir  seiring dengan tewas ia di tengah laut. Dan semua peristiwa luar biasa itu disaksikan dan dirasakan langsung oleh Bani Israil.

Secara normal, tentulah pengalaman diselamatkan Allah dengan mukjizat yang luar biasa, akan menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Namun, ternyata nikmat Allah yang besar itu tidak disyukuri oleh Bani Israil. Baru saja mereka selamat ke daratan, mereka melihat sekelompok kaum yang menyembah berhala. Mereka langsung meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan pula tuhan seperti berhala kaum tersebut. Nabi Musa sangat marah atas keras kepala dan matinya hati mereka. Allah berfirman:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ.

Artinya: "Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguh-nya kalian ini adalah kaum yang betul-betul jahil (mati hatinya)". (QS Al A'raf: 138).

Namun Nabi Musa masih bisa bersabar menghadapi kaumnya. Allah juga masih terus menurunkan karuniaNya. Mereka semua dibawa ke  dekat bukit Thursina dan diberi makanan khusus berupa manna dan salwa. Manna berupa makanan yang manis yang turun langit. Sedangkan salwa adalah burung-burung yang terbang dan menjatuhkan dirinya di sekitar bani Israil. Sehingga kebutuhan makanan mereka sangat cukup. Allah berfirman:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ قَدْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ عَدُوِّكُمْ وَوَاعَدْنَاكُمْ جَانِبَ الطُّورِ الأيْمَنَ وَنزلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى (80).

Artinya: "Hai Bani Israil, sesungguhnya Kami telah menyelamatkan kamu sekalian dari musuh kalian, dan Kami telah mengadakan perjanjian dengan kamu sekalian (untuk munajat) di sebelah kanan gunung itu dan Kami telah menurunkan kepada kamu sekalian Manna dan Salwa." (QS Thaha: 80).

Sehingga mereka kemudian diperintahkan Allah untuk memakan rezki-rezki terbaik itu. Dan mereka dilarang berbuat zhalim di dekat bukit Thursina. Apapun bentuk kazhaliman akan berakibat turunnya murka Allah kepada mereka. Dan bila murka Allah sudah turun tentunya mereka akan binasa.

Kemudian Nabi Musa segera memenuhi janji pertemuannya dengan Allah di balik bukit Thursina. Ia memberikan amanah kepada saudaranya Nabi Harun untuk memimpin dan mengatur Bani israil. Nabi Musa pergi menemui Allah dan berbicara denganNya selama 30 hari,  lalu kemudian digenapkan 40 hari.

Disaat kepergian Musa inilah muncul fitnah dan ujian dari seorang yang sesat, tapi berpura-pura beriman. Ia adalah Samiri, pengikut Nabi Musa semenjak dari Mesir. Tapi, hati dan pikirannya masih dengan agama paganisme (penyembahan berhala).

Samiri ini melihat jejak kaki kuda Malaikat saat mereka selamat menyeberang laut merah. Maka pasir jejak kaki kuda Malaikat ini diambil oleh Samiri dan disimpannya. Tentu dia punya maksud-maksud tertentu. Ditambah dengan pengaruh budaya sihir dalam kehidupannya bersama kepemimpinan Firaun.

Samiri meminta bani Israil untuk mengumpulkan semua emas yang mereka bawa yang mereka pinjam dari orang Mesir. Kemudian emas itu dipanaskan. Setelah mencair, ia tuangkan ke sebuah cetakan seperti seekor anak sapi. Setelah mengeras kembali, jadilah mirip anak sapi yang terbuat dari emas.

Ketika itulah Samiri memainkan akal sesatnya dan menyihir Bani Israil. Pasir bekas telapak kuda Malaikat Jibril yang telah disimpannya, ia lemparkan ke patung anak sapi tersebut. Akibatnya patung emas anak sapi itu bersuara. Lalu Samiri mengatakan bahwa inilah tuhannya Nabi Musa. Dan ia mengajak Bani Israil menyembahnya.

Anehnya Bani Israil mau saja mengikuti samiri, dan mereka melupakan janji beriman mereka kepada Allah dan Nabi Musa. Bahkan Nabi Harun memperingatkan mereka bahwa itu adalah sebuah kesesatan. Tapi mereka tidak peduli. Mereka malah nyaris membunuh Nabi Harun. Mereka tetap menyembah berhala Samiri sambil menunggu kedatangan Nabi Musa.

Nabi Musa yang sedang beribadah dalam pertemuannya dengan Allah, dan menerima lembaran-lembaran Taurat dariNya, tiba-tiba dikabari Allah bahwa kaumnya telah disesatkan oleh Samiri. Sehingga Nabi Musa bergegas kembali ke kaumnya. Dan ternyata memang ia dapati kaumnya telah menyembah berhala anak sapi buatan Samiri.

Beliau sangat marah menyaksikan itu semua. Hanya sebentar saja ia tinggalkan kaumnya, tapi sekejap pula mereka berubah. Lembaran Taurat yang ada ditangannya, ia lemparkan. Ia memarahi semua Bani Israil yang sudah keterlaluan pembangkangannya. Padahal mereka telah mendapatkan karunia yang berlimpah ruah. Dan mereka telah berjanji untuk beriman kepada Allah di dekat bukit Thursina. Allah berfirman:

فَرَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ يَا قَوْمِ أَلَمْ يَعِدْكُمْ رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا أَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ أَمْ أَرَدْتُمْ أَنْ يَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَخْلَفْتُمْ مَوْعِدِي (86)

Artinya: "Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa, "Hai kaumku, bukankah Tuhan kalian telah menjanjikan kepada kalian suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagi kalian atau kalian menghendaki agar kemurkaan dari Tuhan kalian menimpa kalian, dan kalian melanggar perjanjian kalian dengan aku?” (QS Thaha: 86).

Sungguh Bani Israil sudah kehilangan nalar dan akal sehatnya. Mereka sangat tahu bahwa semua berhala-berhala itu takkan memberi manfaat bagi mereka. Dan justru Allah sajalah yang akan memberi mereka karunia. Tapi, mereka terus saja membangkang.

Tidak saja memarahi Bani Israil, Nabi Musa juga marah kepada Nabi Harun. Kenapa dibiarkan saja mereka ini tersesat. Nabi Harun menjelaskan bahwa ia telah mengingatkan mereka. Tapi mereka terus membangkang. Maka Nabi Harun tidak berani mengambil langkah lebih jauh, karena khawatir akan memecah belah bani Israil. Ia memutuskan menunggu kedatangan Nabi Musa. Allah berfirman:

قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا (92) أَلا تَتَّبِعَنِ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي (93) قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي (94) }

Artinya: "Berkata Musa, "Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” Harun menjawab, "Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku, dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), "Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku.” (QS Thaha: 92-94).

Kemudian Nabi Musa beralih ke Samiri yang telah membuat kesesatan dan menyesatkan. Nabi Musa sangat marah kepadanya dan mengusirnya. Kemudian patung anak sapi itu dibakar dan dilemparkan ke dalam laut. Allah berfirman:

قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَقُولَ لَا مِسَاسَ وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَنْ تُخْلَفَهُ وَانْظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا (97).

Artinya: "Berkata Musa, "Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan dunia ini (hanya dapat) mengatakan, "Janganlah menyentuh (aku).' Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)." (QS Thaha: 97).

Berakhirlah kesesatan Samiri dan hancurlah berhala yang dibuatnya. Namun episode pembangkangan Bani Israil kepada Allah dan RasulNya masih belum berakhir.

Pelajaran dari Kisah ini:

1. Beriman kepada Allah tanpa perlu mukjizat adalah sangat mulia dan tanda kebersihan hati. Tapi, kafir kepada Allah dan membangkang kepada ajaranNya setelah melihat dan menyaksikan ayat (mukjizat) Nya, adalah tanda keras dan kotornya hati.

2. Bani Israil mendapat perlakuan-perlakuan istimewa dari Allah. Tapi mereka tak mensyukuri karunia tersebut. Sangat wajar kemudian, kenabian dan kerasulan Allah dan pindahkan dan Allah tutup dengan keturunan Ismail (Nabi Muhammad saw).

3. Nabi Harun mentolerir sejenak kesyirikan, dengan menunggu kedatangan Nabi Musa demi menjaga persatuan dan kesatuan Bani Israil. Ini menunjukkan kasatuan umat juga sangat penting dijaga.

Wallahu A'laa wa A'lam.

H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed

Minggu, 12 Mei 2019

Sahur Bersama di Rumah Janda Lansia

Mahyeldi: Singgah Sahur Padukan Seluruh Aspek Pembangunan

PADANG - Di rumah kayu sederhana dengan ukuran 5x4 meter milik janda Kami Warni (63) di Sako Kelurahan Batu Gadang, Lubuk Kilangan, Wali Kota Padang Mahyeldi bersama Tim Singgah Sahur Kota Padang melakukan sahur bersama, Sabtu (11/5/2019).

Singgah sahur di rumah warga miskin yang tidak layak huni merupakan program Pemko Padang dan Baznas Kota Padang sejak beberapa tahun terakhir. Selain sahur bersama dan menyerahkan bantuan langsung, rumah yang dikunjungi juga akan "dibedah" hingga layak huni.

Kepada Wali Kota Mahyeldi dan Tim Singgah Sahur, Kami Warni (63) yang telah lanjut usai tersebut menceritakan aktivitas kesehariaannya. Mulai dari mengasuh dan membesarkan cucu kembarnya yang ditinggalkannya anaknya (meninggal dunia) beberapa saat setelah melahirkan, hingga bertenak sapi milik tetangga yang kandangnya persis berada di belakang rumah, atau tepatnya dinding rumah langsung menjadi dinding kandang sapi.

"Untuk mengasuh dan membesarkan 5 orang cucu yang ibunya telah meninggal, saya dibantu sama anak saya yang lain. Dan bayi kembar ini, juga dibesarkan bersama. Karena kesibukan mencari nafkah anak-anak saya, bayi ini lebih banyak sama saya", ungkap nenek Kami Warni.

Di kesempatan itu, Wali Kota Mahyeldi mengatakan, program singgah sahur dilakukan untuk memberikan perhatian kepada masyarakat yang kurang mampu agar bisa merasakan keindahan ramadan bersama-sama.

"Kita usahakan, sebelum Hari Raya, rumah nenek Kami Warni sudah selesai dibangun ulang hingga layak huni", ujar Mahyeldi.

Ditambahkannya, Pemko Padang melalui Dinas Kesehatan juga akan melakukan pendampingan kesehatan bagi cucu kembar nenek Kami Warni. Termasuk pengecekan sanitasi, air bersih, WC, dan keberadaan kandang sapi yang tepat berada di belakang rumah.

"Jadi, program singgah sahur bukan saja sekedar sahur bersama, menyerahkan bantuan dan melakukan bedah rumah. Tapi kita juga melihat dari aspek kesehatan, kondisi sosial dan ekonomi, jalur transportasi, listrik, dan kebutuhan dasar lainnya", terang Mahyeldi.

Untuk itu, Mahyeldi mengatakan, Tim Singgah Sahur diikuti SKPD Pemko Padang yang pada kesenpatan ini diikuti Kepala Bapedda Medi Iswandi, Kepala Dinas Kesehatan Feri Mulyani, Kepala Dinas Perhubungan Dian Fakri, Plt Kepala Dinas Sosial Afriadi, Kalaksa BPBD Edi Hasymi, Kepala DPMPTSP Rudy Rinaldy, Kepala Bagian Humas Imral Fauzi, Camat Lubuk Kilangan Yal Masril serta Dirut PDAM Kota Padang Hendra Febrizal dan Baznas Kota Padang. (*)

Pewarta: Ulil Amri Abdi/ Ady Syaflian

Sumber: FB Humas Kota Padang

Ramadan 7


KISAH DAN 'IBRAH

MARYAM YANG SUCI

Ia adalah Maryam binti Imran bin Matan. Ayahnya Imran, adalah seorang lelaki shaleh terhormat di kalangan Bani Israil. Sementara ibunya adalah Hannah binti Faquza, juga seorang wanita shalehah. Ibunda Maryam beradek kakak dengan istri Nabi Zakaria. Sehingga, Maryam adalah sepupu Nabi Yahya bin Zakaria.

Maryam sejak lahir sudah mulia. Karena kabar kelahirannya telah diilhamkan Allah kepada ayahnya Imran. Walaupun Imran sudah tua renta, melebihi 80 tahun, dan istrinya Hannah juga sudah tua, tapi Allah telah takdir Maryam akan menjadi anak mereka berdua yang mulia. Sayangnya, Imran sang ayah wafat duluan sebelum Maryam lahir.

Semenjak dalam kandungan, Maryam sudah dinadzarkan oleh sang Ibu untuk "diwakafkan" mengabdi di Baitul Maqdis, menjadi pelayan di rumah Allah. Ini karena dalam persangkaannya anak yang akan lahir adalah laki-laki. Sebab, kebiasaan bani Israil, yang boleh mengabdi di sana hanya laki-laki. Allah berfirman tentang nadzar ibu Maryam:

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: "(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Ali Imran: 35).

Akan tetapi takdir Allah lain. Yang lahir ternyata perempuan. Dan lelaki tentu tidak sama dengan perempuan. Namun, Ibu Maryam tetap melanjutkan nadzarnya. Maryam tetap diserahkan untuk berkhidmat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa).

Sejak kecil Maryam sudah sangat terjaga kesuciannya. Ia hidup di dalam Masjidil Aqsa dalam pengawasan dan bimbingan Nabi Zakaria, yang juga sebagai Pamannya (suami bibinya). Bahkan kejadian istimewa telah ia alami di dalam mihrab. Tanpa ada yang menyediakan, Maryam sudah ada saja makanannya. Sehingga Nabi Zakaria merasa sangat aneh.

Lebih aneh lagi, pada musim dingin Maryam mendapat makanan dan buah-buahan musim panas, berupa korma. Sedang pada musim panas, ia mendapatkan buah-buahan musim dingin. Nabi Zakaria bertanya-tanya keanehan itu. Maryam menjawabnya, "Itu adalah rezeki dari Allah. Dia memberi rezeki kepada siapa saja tanpa perhitungan."

Begitulah, Maryam tumbuh dan besar dalam kemulian dan kesucian. Ia terkenal sebagai wanita ahli dan tekun beribadah. Sampai usia gadisnya. Ketika itulah Maryam mulai mengasingkan diri dan menjauh dari kaumnya, ke arah timur Baitul Maqdis. Ia di sana fokus dengan ibadah kepada Allah. Dalam pengasingannya inilah Allah mengirimkan Malaikat kepadanya. Allah berfirman:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا (16)  فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا (17).

Artinya: "Dan  ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna." (QS Maryam: 16-17).

Maryam sangatlah kaget dengan kedatangan seorang lelaki di tempat pengasingannya. Ia mengira lelaki itu akan berbuat tidak senonoh kepadanya. Sampai-sampai ia memberi peringatan, "Jika kamu bertakwa kepada Allah, jangan berbuat macam-macam". Padahal itu adalah Malaikat Jibril yang dikirim oleh Allah dalam rupa manusia yang sempurna.

Malaikat Jibril menjawab keraguan dan ketakutan Maryam dengan penjelasan: "Aku adalah utusan Allah (malaikat) yang ditugaskan untuk meniupkan (menganugrahkan) seorang anak laki-laki yang suci".

Maryam menjadi terheran. Bagaimana mungkin ia akan hamil dan punya anak, sedang ia seorang gadis yang belum menikah dan belum punya suami?. Dan ia juga bukan seorang pelacur atau pezina. Allah berfirman menceritakan keheranan Maryam:

 قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا (20).

Artinya: "Maryam berkata, "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedangkan tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!". (QS Maryam: 20).

Malaikat Jibril menjelaskan bahwa itu semua sudah menjadi kehendak dan keputusan Allah. Dan hal tersebut sangat mudah dilakukan oleh Allah. Sekaligus itu menjadi tanda kebesaran Allah bagi manusia. Allah mampu menciptakan seorang manusia tanpa ayah dan ibu, seperti Adam. Atau menciptakan tanpa ibu sama sekali, seperti Hawa. Dan juga mampu mencipta manusia tanpa ayah, seperti anak Maryam nantinya.

Dengan izin Allah, Maryam hamil. Akibatnya ia semakin jauh mengasingkan dirinya dari kaumnya. Sungguh berat baginya untuk menanggung malu. Bagaimana ia bisa hamil tanpa pernah menikah. Sementara, ayahnya adalah seorang yang terhormat dan mulia di kalangan bani Israil. Begitu juga ibunya.

Tidak mudah meyakinkan masyarakat tentang alasan kehamilannya. Mereka pasti akan menuduh hal yang negatif kepada Maryam. Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa hanya satu orang yang tahu tentang kehamilan Maryam. Yaitu bibinya sendiri, Istri Nabi Zakaria. Keduanya sama-sama dalam kondisi hamil. Maryam menceritakan kedatangan malaikat kepadanya, dan kehamilannya. Saat berpelukan dengan Maryam, Istri Zakaria merasakan bahwa bayi dalam perutnya sujud kepada bayi yang ada dalam perut Maryam. Dan dalam syariat Bani Israil, sujud merupakan salah satu cara memberikan salam dan penghormatan, seperti yang dilakukan saudara-saudara Nabi Yusuf kepada Nabi Yusuf.

Setelah dekat saat-saat melahirkan, Maryam bersandar di pangkal sebatang pohon korma. Ia betul-betul merasa sakit dan juga beban mental yang luar biasa. Ia lebih berharap mati dari pada menanggung malu.

Dalam kondisi ini, Allah mengirimkan Malaikat Jibril untuk menenangkannya. Dan menguatkannya untuk proses persalinan. Serta memberikan jaminan makanan dan minuman baginya. Allah berfirman:

فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (25) فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا...

Artinya: "Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu; maka makan, minum, dan bersenang hatilah kamu." (QS Maryam: 50-52).

Sungguh sebuah pelayanan khusus dan perlindungan spesial dari Allah bagi Maryam. Apalah daya seorang wanita hamil tua yang sedang meregang kesakitan jelang kelahiran anaknya. Tapi, masih sanggup menggoyangkan pangkal pohon korma yang begitu besar dan kokoh. Lalu berjatuhanlah korma-korma yang masak. Dan dibawah kaki Maryam mengalir air jernih bagaikan sungai.

Malaikat Jibril juga mengajarkan kepada Maryam bagaimana sikap nantinya menghadapi orang-orang bani Israil yang akan mengejeknya dengan bayi tanpa ayah ini. Yaitu dengan cara berpuasa "bicara" dengan mereka. Isyaratkan saja kepada mereka bahwa inilah yang akan menjawab.

Setelah proses melahirkan selesai. Dan Maryam sudah kuat untuk berjalan ke rumahnya, maka ia kembali ke Baitul Maqdis sambil membawa bayinya. Orang-orang menjadi geger dan heboh melihat Maryam sudah punya bayi tanpa suami. Mulut-mulut lancang bani Israil bersileweran mengomentari kehadirannya. Mereka sampai menyindir-nyindir Maryam. "Ayahmu kami kenal sebagai orang baik-baik. Ibumu juga bukanlah seorang pelacur", begitu kata mereka. Artinya mereka telah menuduh Maryam berzina. Naudzubillah dari mulut yang tak beretika sama sekali.

Namun Maryam tidak peduli. Sesuai arahan Malaikat Jibril, ia puasa bicara. Ia tunjuk anaknya yang akan menjawab semua pertanyaan dan "kecurigaan" mereka. Mereka semakin heran dan kesal. Bagaimana mungkin bayi baru lahir akan berbicara?

Allah memperlihatkan mukjizatnya. Nabi Isa yang baru lahir langsung dapat berbicara. Allah berfirman:

فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا (29) قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30) وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا (31).

Artinya: "Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” Berkata Isa, "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada. dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup". (QS Maryam: 29-31).

Begitulah kekuasaan dan keagungan Allah. Dia perlihatkan kepada Bani Israil tanda-tanda kekuasaannya dengan sangat jelas dan gamblang. Namun, seringkali hati yang keras lagi kesat, tak mempan dengan mukjizat. Seperti yang sering dilakukan oleh Bani Israil.

Pelajaran dari Kisah ini:

1. Maryam adalah salah satu wanita pilihan Allah di dunia, dan menjadi wanita mulia di akhirat kelak. Sejak kelahirannya telah terjaga, dan sampai wafatnya dimuliakan Allah.

2. Allah Maha Kuasa menciptakan manusia tanpa ayah dan tanpa ibu (Adam), tanpa ibu (Hawa), tanpa ayah (Isa) dan dengan ayah dan ibu yang lengkap.

3. Salah satu mukjizat Nabi Isa adalah bisa berbicara semenjak usia bayi baru lahir.

4. Keluarga Imran merupakan salah satu keluarga mulia yang dipuji Allah, disamping keluarga Nabi Ibrahim.

5. Orang tua yang baik, akan menjadikan anak-anaknya sebagai pengabdi bagi Allah dan agamanya. Dan itu mesti ditekadkan semenjak dalam kandungan. Tidak dengan orientasi dunia belaka.

Wallahu A'laa wa A'lam.

H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed

Sabtu, 11 Mei 2019

Ramadan 6


KISAH DAN ‘IBRAH

DZULQARNAIN RAJA TIMUR DAN BARAT

Dzulqarnain adalah salah seorang raja yang shaleh dan adil yang Allah sebutkan kisahnya di dalam Al Quran. Ia adalah seorang muslim yang beriman, yang masuk Islam di masa Nabi Ibrahim. Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Dzulqarnain ini pernah thawaf di Ka’bah ketika baru dibangun oleh Nabi Ibrahim. Ia diberi Allah kerajaan yang luas dari timur ke barat. Para ulama berbeda pendapat apakah dia seorang Nabi atau tidak.

Imam Ibnu Jarir Ath Thabari meriwayatkan bahwa Imam Mujahid pernah berkata, “Raja timur dan barat itu ada 4. Dua orangnya adalah beriman, dan dua orang lagi adalah kafir. Adapun dua yang beriman itu adalah Nabi Sulaiman bin Daud as dan Raja Dzulqarnain. Sedangkan dua orang yang kafir adalah Bukhtanshar raja romawi dan Namrud bin Kan’an.

Dzulqarnain dalam Al Quran ini bukanlah Alexander II Raja Makedonia. Sebab Dzulqarnain ini adanya di zaman Nabi Ibrahim dan dia seorang yang beriman. Sedangkan Alexander II Zulkarnain hidup tidak jauh dengan masa Nabi Isa as. Jarak masa antara kedua Dzulqarnain hampir 2000 tahun. Dan Alexander II adalah seorang kafir Yunani murid dari Aristoteles.

Rasulullah saw ditanya (diuji) oleh Kafir Qureisy tentang Dzulqarnain yang kerajaannya membentang dari timur ke barat. Allah SWT menjawabnya dalam surat Al Kahfi:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا (83) إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الأرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا (84) }

Artinya: “Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulqarnain. Katakanlah, "Aku akan bacakan kepada kalian cerita tentangnya.” Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.” (QS Al Kahfi: 83-84)

Allah SWT memberikan kepadanya kerajaan yang besar dan kuat dengan menguasai segala apa yang dimiliki oleh semua raja, berupa kekuasaan, balatentara, peralatan perang, dan perlengkapannya. Karena itulah dia berhasil menguasai belahan timur dan barat bumi ini. Semua negeri tunduk kepadanya dan semua raja di bumi takluk di bawah kekuasaannya. Semua bangsa, baik yang Arab maupun yang non-Arab, berkhidmat kepadanya. Karena itulah ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa sesungguhnya ia dijuluki dengan sebutan Zulqarnain karena kekuasaannya mencapai dua tanduk matahari, yaitu bagian timur dan bagian baratnya. Ia juga diberikan Allah keluasan ilmu pengetahuan dan kemampuan menguasai berbagai bahasa. Sehingga ia dapat berkomunikasi dengan berbagai bangsa timur dan barat.

Raja Dzulqarnain berjalan sampai ke bagian barat (ke arah matahari terbenam). Allah memberikannya kekuasaan dan menaklukkan kaum yang ada disana. Sehingga ia diberi hak oleh Allah untuk memimpin dan mengatur mereka dengan adil. Barang siapa yang berbuat aniaya dari mereka boleh dihukum oleh Dzulqarnain. Sedangkan orang yang beriman dan berbuat baik maka ia akan mendapatkan balasan kebaikan dan kemudahan urusan di kerajaan. Allah berfirman:

حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا قُلْنَا يَاذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا (86) قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا (87) وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا (88)

Artinya: “Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: "Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka. Berkata Dzulkarnain: "Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” (QS Al Kahfi: 86-88)

Setelah itu Raja Dzulqarnain bergerak dengan pasukannya menuju bagian timur bumi (ke arah matahari terbit). Setiap kali dia melewati suatu kaum dan tempat, Allah memudahkannya untuk menaklukkan kaum dan tempat tersebut. Sehingga kemudian mereka semua tunduk kepada kerajaannya. Di bagian timur bumi, Raja Dzulqarnanin mendapati kaum yang tidak punya rumah dan tidak punya pohon-pohon yang melindungi mereka dari sinar (cahaya) matahari. Mereka hidup di dalam gua dan lobang-lobang. Bila matahari terbit, mereka berlindung ke dalam gua dan lobang-lobang tersebut. Bila matahari terbenam, mereka keluar mencari kehidupan. Allah berfirman:

حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَى قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا (90)

Artinya: Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.” (QS Al Kahfi: 90).

Ibnu Jarir Ath Thabari menjelaskan tafsir firman Allah di atas, bahwa mereka sama sekali tidak pernah membuat bangunan. Dan Zulqarnain tidak membangun suatu bangunan pun bagi mereka. Apabila matahari terbit, masuklah mereka ke dalam liang-liang tempat tinggalnya, hingga matahari berada di tengah langit, atau mereka masuk ke dalam laut. Demikian itu karena tanah tempat tinggal mereka tidak berbukit. Pernah sejumlah pasukan datang ke tempat mereka itu, maka para penduduknya berkata kepada pasukan itu, "Janganlah kamu berada di tempat ini ketika matahari dalam keadaan terbit." Pasukan itu berkata, "Kami tidak akan meninggalkan tempat ini sampai matahari terbit, tetapi apakah tulang-tulang ini?." Para penduduk tempat itu berkata,"Ini adalah bekas bangkai suatu pasukan yang berada di tempat ini saat matahari sedang terbit, akhirnya mereka semua mati kepanasan." Ibnu Jarir melanjutkan kisahnya, bahwa akhirnya pasukan itu lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu menuju kawasan lainnya.

Kemudian Raja Dzulqarnain menempuh jalan yang lain. Hingga sampailah ia di sebuah negeri yang terletak diantara dua bukit. Kaum disana menggunakan bahasa yang tidak dimengerti. Akan tetapi Dzulqarnain dengan izin Allah memahami bahasa mereka. Diantara dua bukit itu ada celah yang terbuka ke arah dua kaum lain yang sangat kejam dan ganas. Mereka adalah kaum Yakjuj dan makjuj. Mereka selalu membuat kerusakan dan keonaran bagi kaum yang lain. Yakjuj dan Makjuj ini merupakan keturunan Nabi Adam juga. Dan mereka akan menjadi penghuni neraka yang paling dominan. Dalam Hadits Qudsi yang shahih, Allah berfirman:

يَا آدَمُ فَيَقُولُ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِى يَدَيْكَ - قَالَ - يَقُولُ أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ. قَالَ وَمَا بَعْثُ النَّارِ قَالَ مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَمِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ. قَالَ فَذَاكَ حِينَ يَشِيبُ الصَّغِيرُ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ ». قَالَ فَاشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا ذَلِكَ الرَّجُلُ فَقَالَ « أَبْشِرُوا فَإِنَّ مِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا وَمِنْكُمْ رَجُلٌ

Artinya: "Hai Adam!". Adam menjawab, "Labbaika wasa'daika, segala kebaikan di tanganMu.”Allah berfirman, "Kirimkanlah rombongan ke neraka!" Adam bertanya, "Berapa orangkah yang dikirimkan ke neraka?”Allah Swt. menjawab, "Dari setiap seribu orang, yang sembilan ratus sembilan puluh sembilannya ke neraka, sedangkan yang seorang dikirimkan ke surga.” Maka pada saat itulah anak kecil beruban, dan setiap wanita yang mengandung mendadak melahirkan kandungannya, dan kamu akan melihat manusia seperti mabuk. Padahal mereka bukan mabuk. Akan tetapi adzab Allah yang sangat pedih. Para sahabat sangat takut mendengar berita tersebut. Mereka bertanya, “Siapakah kita yang masuk satu orang laki-laki (yang selamat) itu?”. Rasulullah saw menjawab: “Bergembiralah kalian. Sesungguhnya dari kaum Yakjuj dan Makjuj seribu, dan dari kalian satu orang.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kaum yang berada di lembah antara dua bukit itu mengadukan nasib mereka kepada Raja Dzulqarnain. Mereka selalu ditindas dan menjadi kaum Yakjuj dan Makjuj. Mereka berharap agar Raja Dzulqarnanin bersama bala tentaranya bisa membuat tembok pembatas antara mereka dengan Yakjuj dan Makjuj. Mereka bersedia membayar berapapun biaya yang diminta Dzulqarnain. Namun dengan keluhuran akhlaknya, Dzulqarnain menolak upah yang ditawari kaum tersebut. Baginya, seluruh kerajaan dan kekuasaan yang telah Allah berikan kepadanya adalah jauh lebih baik baginya.

Dzulqarnain mengajak seluruh kaum itu untuk bekerjasama menghadang musuh mereka. Beliau akan membuatkan benteng yang sangat kuat diantara kedua bukit tersebut. Adapaun kaum tesebut bertugas untuk menyediakan semua bahan-bahan untuk pembangunan benteng. Dzulqarnain menyuruh mereka menyiapkan potongan-potongan besi. Lalu ia mmemasang potongan-potongan besi sampai setinggi bukit. Setelah itu mereka ditugaskan memanaskan tembaga untuk kemudian dituangkan ke rangkaian besi yang sudah setinggi bukit itu. Sehingga semua rangkaian potongan besi itu menjadi merekat, menyatu dan menjadi sebuah pagar besi raksasa yang sangat kuat. Tak ada satupun kaum Yakjuj dan Makjuj yang mampu menembusnya ataupun memanjatnya. Allah SWT berfirman:

آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا (96) فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا (97)

Artinya: “Berilah aku potongan-potongan besi". Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: "Tiuplah (api itu)". Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu". Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.” (QS Al Kahfi: 96-97)

Dengan tuntasnya pembangunan benteng atau bendungan besi raksasa oleh Dzulqarnain, maka terkurunglah seluruh kaum Yakjuj dan Makjuj tersebut. Mereka tak sanggup melobanginya dan tidak bisa memanjatnya. Dzulqarnain  sangat bersyukur atas tuntasnya pembangunan benteng tersebut. Ia menyatakan bahwa benteng ini adalah rahmat dari Tuhannya. Pada saatnya kelak, apabila sudah datang janji Allah, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Allah itu adalah benar".

Dalam banyak riwayat hadits, setiap hari Yakjuj dan Makjuj bekerja melobangi benteng itu, sampai hari kiamat kelak. Dan menjelang kiamat nanti mereka akan berhasil membukanya dan keluar dari kurungan benteng tersebut. Kemunculan Yakjuj dan Makjuj akan menjadi salah satu tanda-tanda besar hari kiamat, setelah kemunculan Dajjal dan turunnya Nabi Isa dari langit. Mereka memangsa manusia dan tidak ada yang mampu memusnahkannya. Termasuk Nabi Isa juga tidak berdaya mengalahkannya. Akhirnya Nabi Isa berdoa kepada Allah agar menurunkan tentaranya untuk menghancurkan Yakjuj dan Makjuj.

Berdasarkan hadits riwayat Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, “Ketika malam diisra’kannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berjumpa dengan Ibrahim, Musa, dan ‘Isa Alaihissallam. Lalu mereka membicarakan tentang Kiamat… hingga beliau bersabda, “Maka mereka mengembalikan pembicaraan kepada ‘Isa.’ Lalu beliau (‘Isa) menyebutkan terbunuhnya Dajjal, kemudian berkata, “Selanjutnya manusia kembali ke negeri-negeri mereka, lalu dihadang oleh Yakjuj dan Makjuj yang berdatangan dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi. Mereka tidak akan melewati air kecuali meminumnya, tidak juga melewati sesuatu kecuali menghancurkannya. Kemudian mereka (para Sahabat ‘Isa) meminta pertolongan kepadaku, lalu aku berdo’a kepada Allah, maka Allah membinasakan mereka. Selanjutnya bumi menjadi bau karena bangkai mereka, kemudian mereka (para Sahabat ‘Isa) memohon kepadaku, lalu aku berdo’a kepada Allah, akhirnya Allah mengirimkan hujan dari langit yang membawa dan melemparkan jasad-jasad mereka ke lautan.” (HR Hakim dalam Mustadraknya).

Pelajaran dari Kisah Ini:

1. Allah Maha berkuasa untuk memberikan kerajaan kepada siapa saja yang dikehendakiNya, dan mencabut kerjaan dari siapa saja yang dikehendakiNya. Dia bisa Memuliakan siapa saja dan menghinakan siapa saja. Di TanganNya-lah segala kebaikan, karena Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

2. Seorang yang shaleh lagi baik, bila memiliki kekuasaan dan kerajaan, akan mampu menghadirkan  kemashlahatan yang jauh lebih besar dan lebih luas dibandingkan orang shaleh yang tidak memiliki kekuasaan.

3. Setiap kaum akan mendapat berbagai ujian dari Allah, sesuai dengan situasi dan kondisinya. Ada yang diuji karena kondisi geografisnya, ada yang diuji karena penguasa yang zhalim, dan juga ada yang diuji dengan musuh dari kaum lain yang kejam dan ganas. Yang menang dalam ujian tersebut adalah yang tetap dalam kondisi imam kepada Allah walaupun dia binasa.

4. Yakjuj dan makjuj sebagai salah satu tanda-tanda besar hari kiamat adalah benar adanya. Dan benteng yang dibuat oleh raja Dzulqarnain adalah benar adanya. Walaupun mungkin ilmu pengetahuan dan teknologi manusia belum dapat mendeteksi dimana keberadaan mereka saat ini.

5. Meminta bantuan kepada orang lain dengan menjanjikan balasan yang baik adalah sebuah akhlak dan perilaku yang dibolehkan. Sebaliknya, memberi pertolongan tanpa pamrih adalah akhlak yang jauh lebih terpuji.

Wallahu A’laa wa A’lam.

H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed

Jumat, 10 Mei 2019

Ramadan 5


KISAH DAN 'IBRAH

UJIAN NABI MUSA

Suatu hari Nabi Musa menyampaikan khutbah di depan kaumnya. Ketika itu kaumnya bertanya, "Wahai Nabi Allah, siapakah orang yang paling berilmu (alim) di muka bumi ini?". Nabi Musa terlanjur menjawab, "Saya".

Rupanya jawaban Nabi Musa yang terkesan "sombong" ini, membuat Allah marah. Allah SWT menegur Nabi Musa dengan menyuruhnya menemui seorang yang lebih alim darinya.

Nabi Musa disuruh menemui lelaki alim dan shaleh tersebut di pertemuan dua laut. Nabi Musa bertanya, "Bagaimana itu Yaa Allah?". Maka Allah menjelaskan bahwa dia harus membawa ikan dalam keranjang. Apabila ikan itu hilang di sebuah tempat, maka disitulah lokasi pertemuan dua laut tersebut.

Bersama pembantunya Yusa' bin Nun, sambil membawa ikan dalam sebuah keranjang, Nabi Musa berangkat menuju pertemuan dua laut. Ikan yang dibawa ini nantinya akan menjadi makanan mereka di jalan. Nabi Musa bertekad tidak akan berhenti berjalan sampai bertemu dengan pertemuan dua laut. Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun". (QS Al Kahfi: 60).

Nabi Musa dan Yusa' bin Nun terus berjalan dengan bersungguh-sungguh dan penuh semangat. Ketika sampai di pertemuan dua laut itu, mereka berdua duduk disisi sebuah batu untuk istirahat sejenak. Kemudian mereka berangkat melanjutkan perjalanan. Namun Yusa' terlalai dan lupa membawa keranjangnya. Sedangkan Nabi Musa lupa mengingatkan. Ketika itulah ikan tersebut dihidupkan Allah kembali dan masuk ke laut.

Keduanya terus melanjutkan perjalanan sampai kemudian Nabi Musa sudah merasa lelah dan lapar. Sehingga dia menyuruh Yusa' menyiapkan makanan. Ketika itu Yusa' tersadar bahwa ikannya tertinggal. Allah menceritakan:

فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبًا. قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا.

Artinya: "Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali". (QS Al Kahfi: 62-63).

Mendengar jawaban Yusa' itu, Nabi Musa langsung berkata: "Itulah tempat yang kita cari". Keduanya segera berbalik menuju tempat beristirahat tadi. Disanalah tempat yang dijanjikan Allah itu.

Di lokasi itulah Nabi Musa bertemu dengan hamba Allah yang mulia dan memiliki ilmu yang tidak diketahui oleh Musa as. Beliau adalah Khidhir. Sebagian ulama tafsir menyebutkan bahwa Beliau seorang Nabi. Sebagian yang yang lain menyatakan Beliau seorang yang shaleh.

Nabi Musa meminta izin kepada Khidhir untuk diperbolehkan mengikutinya dan mendapatkan ilmu darinya. Namun Khidhir menyatakan, "Engkau tak akan sanggup bersabar mengikutiku. Sebab Engkau belum banyak mengetahui!".

Mendengar pernyataan Khidhir itu, Nabi Musa berjanji, "InsyaAllah engkau akan dapati aku bisa bersabar. Dan aku takkan membantahmu sedikitpun!". Khidhir membalas, "Baiklah, kalau engkau mengikutiku maka tidak boleh bertanya sama sekali atas apa yang aku lakukan, sampai aku sendiri yang menceritakannya!".

Maka berangkatlah Nabi Musa mengikuti Khidhir. Mereka menumpang sebuah kapal. Pemilik kapal ini sepertinya kenalan Khidhir. Sehingga keduanya menumpang tanpa membayar. Baru saja mereka menaiki kapal tersebut, Khidhir langsung melobangi salah satu dinding kapal.

Nabi Musa heran melihat perilaku Khidhir tersebut. Apalagi mereka telah dikasih tumpangan di kapal itu. Tak tahan ia untuk bertanya dan berkomentar, lupa akan pesan dan syarat dari Khidhir. Kenapa kapal ini dilobangi? Bisa-bisa kapal akan tenggelam?. Allah menggambarkan dalam firmanNya:

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا

Artinya: "Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhir melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar." (QS Al Kahfi: 71).

Dengan spontan Khidhir menjawab komentar Nabi Musa tersebut, "Bukankah sudah aku katakan, engkau tak akan bisa sabar mengikutiku!". Nabi Musa tersadar akan kealpaannya. Ia minta maaf karena terlupa dengan persyaratan Khidhir. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan.

Setelah mereka sampai di daratan, Nabi Musa dan Khidhir melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Tiba-tiba keduanya berpapasan dengan seorang anak kecil yang sedang bermain dengan teman-temannya. Seketika itu, Khidhir menangkap anak kecil ini dan lalu membunuhnya. Nabi Musa betul-betul terkejut dengan perbuatan ini. Ia sangat tidak bisa menerimanya. Sehingga ia bertanya dengan sangat marah. Allah berfirman:

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا

Artinya: "Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar". (QS Al Kahfi: 74).

Kali ini lagi-lagi Khidhir memperingatkan Nabi Musa akan syarat perjalanan dengannya. "Tidakkah sudah aku katakan, engkau itu tidak bisa sabar bersamaku!". Nabi Musa tersadar. Ia meminta maaf atas ketidaksabarannya. "Sekali lagi kalau saya masih bertanya kepadamu, maka Engkau boleh meninggalkanku. Sudah cukup alasan bagimu untuk itu".

Maka keduanya melanjutkan perjalanan. Hari juga semakin siang, sehingga keduanya mulai merasa lapar. Sesampai di sebuah kampung, mereka berusaha mendapatkan makanan dari penduduk kampung tersebut. Namun sayangnya tidak ada yang bersedia menjamu mereka makan. Rupanya ada sebuah rumah yang dindingnya sudah hampir roboh. Ketika itu Khidhir langsung memperbaiki dinding rumah tersebut. Nabi Musa melihat ini sebagai sebuah modus supaya mendapatkan upah atau makanan. Allah berfirman:

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُ ۖ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

Artinya: "Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu". (QS Al Kahfi: 77)

Mendengar Nabi Musa masih berkomentar atas perbuatannya, Khidhir langsung berkata, "Kini saatnya kita berpisah. Sebab engkau telah melanggar syarat-syarat yang aku berikan".

Sebelum berpisah, Khidhir menjelaskan semua perbuatan yang telah dia lakukan sebelumnya, yang telah membuat Nabi Musa tidak sabar melihatnya. Dan ini sebagai ilmu dan pelajaran bagi Nabi Musa.

Pertama tentang kapal yang dilobangi, karena Khidhir telah mengetahui bahwa nanti akan ada razia kapal dilakukan oleh seorang raja yang zalim. Kalau kapal bagus tidak ada cacat, maka kapal itu akan dirampasnya. Karena itulah Khidhir melobanginya supaya kapal itu cacat dan tidak dirampas.

Kedua, tentang anak kecil yang dibunuh, anak tersebut telah kafir. Sementara kedua orang tuanya adalah orang yang beriman. Dan keduanya sangat mencintai anaknya tersebut. Ia khawatir kedua orang tuanya juga akan ikut kafir seperti anaknya karena terlalu cinta. Semoga Allah nanti menggantinya dengan anak yang shaleh.

Ketiga tentang dinding rumah yang miring hampir roboh, itu adalah rumah dua orang anak yatim. Orang tuanya adalah orang yang shaleh lagi baik. Dibalik dinding itu ada harta warisan orang tuanya. Maka dinding itu ditegakkan kembali agar kedua anak tersebut mendapatkan harta orang tuanya.

Akhirnya Nabi Musa berpisah dengan Khidhir setelah mendapat ilmu dan menjalani hukuman dari Allah atas sikapnya yang terkesan "sombong".

Pelajaran dari kisah ini:

1. Sehebat apapun ilmu seseorang, maka tetap dia tidak boleh sombong. Sikap tawadhuk harus tetap dijaga. Di atas langit masih ada langit.

2. Sikap Nabi Musa yang terlanjur sombong, ditimpalinya dengan sikap patuh kepada Allah dan tawadhuk dengan mau pergi menuntut ilmu kepada orang lain, walaupun harus berjalan jauh dan berletih-letih. Menutupi kesalahan dengan kebaikan niscaya akan menggugurkannya.

3. Sikap penuntut ilmu yang benar adalah tawadhuk kepada guru dan memuliakannya, serta sabar dalam menghadapi lelahnya mencari ilmu.

4. Allah meninggikan derjat orang-orang yang beriman dan orang yang berilmu melebihi yang lainnya. Dan Allah merendahkan posisi orang-orang jahil lagi sesat.

5. Tidak boleh terburu-buru menilai dan membuat kesimpulan tentang seseorang dari sebuah tindakan atau perbuatan. Meminta penjelasan atau keterangan jauh lebih aman dan terpuji. Apalagi kalau hanya menilai orang lain dari sebuah gambar tak bergerak.

6. Keshalehan orang tua bisa menjadi jaminan rezki yang baik bagi anak keturunannya kelak. Sebaliknya, kekafiran atau keburukan akhlak anak bisa berakibat negatif kepada orang tuq bila terlalu mencintai anak tersebut.

Wallahu A'laa wa A'lam.

H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed

Kamis, 09 Mei 2019

Ramadan 4


KISAH DAN 'IBRAH

UJIAN PEMUDA KAHFI

Mereka adalah pemuda beriman yang mendapat hidayah dari Allah. Menurut banyak mufassir mereka adalah pengikut ajaran Nabi Isa as. Mereka hidup di bawah kekuasaan Raja yang musyrik lagi diktator, yang bernama Dikyanus.

Allah menyebutkan mereka dalam firmanNya:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى.

Artinya: "Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk". (QS Al Kahfi: 13).

Awalnya sesama pemuda ini tidaklah saling kenal dengan baik. Masing-masing merahasiakan keimanannya. Disaat Raja Dikyanus semakin memaksakan kesyirikan, penyembahan berhala dan penyembelihan qurban untuk berhala kepada rakyatnya, ketika itulah sebagian pemuda ini bertemu dalam keimanan.

Kemudian mereka berkumpul diam-diam untuk mengamal ibadah tauhid dan saling menguatkan keimanan. Sesekali tentara kerajaan melakukan razia sehingga sebagian ahli tauhid ada yang tertangkap dan kemudian dieksekusi  hukuman mati.

Para pemuda kahfi ini belum tercium oleh kerajaan bahwa mereka penganut ajaran tauhid, karena sebagian mereka adalah dari kalangan keluarga kerajaan. Akan tetapi, ketika dalam acara resmi kerajaan, semua harus sujud kepada Raja Dikyanus dan harus menyatakan penyembahan kepada dewa-dewa mereka, saat itulah kemudian keimanan para pemuda ini terungkap. Mereka tidak bersedia patuh dan sujud kepada berhala.

Allah menyatakan sikap mereka:

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا.

Artinya: "Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran". (QS Al Kahfi: 14).

Konsekwensi dari keteguhan iman mereka ini harus mereka tanggung. Mereka ditangkap dan disiksa. Dipaksa kembali kepada kesyirikan, namun mereka menolak.

Dengan izin Allah, pemuda ini berhasil kabur dan lolos dari tahanan Raja Dikyanus. Mereka kabur melarikan diri keluar kota. Mencari tempat paling aman untuk berlindung dari kejaran pasukan kerajaan. Waktu itulah mereka mendapat petunjuk dari Allah:

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا.

Artinya: "Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu." (QS Al Kahfi: 16).

Maka berangkatlah para pemuda tersebut menuju sebuah gua di atas bukit. Mereka diikuti oleh seekor anjing bernama Qithmir milik salah seorang pengembala yang bergabung dengan para  pemuda tersebut. Mereka semua memasuki gua dan bersembunyi di dalamnya. Sementara itu anjing qithmir duduk berjaga diluar.

Mereka semua masuk ke dalam gua dipagi hari sekali. Setelah semalaman mereka kabur dan lari dari kejaran bala tentara. Di dalam gua mereka berdoa kepada Allah, dalam firmanNya:

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Artinya: "(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". (QS Al Kahfi: 10).

Tak lama kemudian, seiring dengan kelelahan mereka, merekapun langsung tertidur. Rupanya itulah rahmat Allah bagi mereka. 309 tahun lamanya mereka ditidurkan oleh Allah.

فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا

Artinya: "Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu." (QS Al Kahfi: 11).

Dalam ayat lain Allah nyatakan:

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

Artinya: "Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)". (QS Al Kahfi: 25).

Para pemuda Kahfi ini dalam rentang 309 tahun di dalam goa, bagaikan orang yang sedang tidur. Dalam setahun tubuh mereka dibolak balikkan Allah ke kanan dan ke kiri sebanyak dua kali, agar tidak rusak. Anjing mereka juga melonjorkan kedua kakinya diluar bagaikan sedang tidur. Tak ada yang berani mendekat ke dalam gua. Karena mereka semua dijaga oleh Allah dengan penjagaanNya. Sempat tentara Dikyanus sampai kesana. Akan tetapi mereka lari tunggang-langgang ketakutan begitu melihat tubuh para pemuda kahfi yang seperti tidur itu. Allah berfirman:

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

Artinya: "Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka." (QS Al Kahfi: 18).

Setiap hari cahaya matahari juga masuk ke dalam gua mereka. Di kala terbit, cahaya masuk dari arah kanan. Dikala terbenam, cahaya masuk dari arah kiri. Begitulah kekuasaan dan mukjizat Allah, mengatur udara dan cahaya. Sehingga tubuh mereka awet, tidak rusak dan tetap utuh seperti itu dalam masa 309 tahun.

Dalam jangka waktu yang sangat panjang itu, berbagai peristiwa telah terjadi dikerajaan tersebut. Pasang surut pertarungan antara ahlut tauhid dengan pengikut kesyirikan,  terus terjadi. Raja demi raja datang silih berganti. Sampai akhirnya sekitar lebih kurang 300 tahun kemudian, negeri itu dalam kondisi bertauhid semuanya. Raja dan rakyatnya beriman kepada Allah.

Namun ketika itu, muncul sebuah penyimpangan keyakinan disebagian masyarakat. Yaitu ada yang mulai tidak percaya akan adanya hari berbangkit. Pelan-pelan pengikutnya mulai bertambah. Mereka tak yakin orang yang mati akan hidup lagi.

Dalam suasana itulah Allah hidupkan (bangunkan) kembali para pemuda kahfi yang sudah diklaim mati oleh masyarakat semenjak 3 abad yang lalu. Mereka dihidupkan kembali saat menjelang sore, dalam bentuk semula. Tak ada yang berubah dari pisik dan bentuk mereka. Sehingga mereka mengira baru tertidur separo hari. Allah berfirman:

وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ.

Artinya: "Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)". Mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini)." (QS Al kahfi: 19).

Namun karena mereka merasa lapar, akhirnya perdebatannya berakhir dengan menyuruh satu orang pergi ke kota secara diam-diam untuk membeli makanan. Berangkatlah seorang dari mereka ke kota membawa mata uang yang masih ada ditangannya.

Begitu ia memasuki kota yang rasanya baru tadi malam ditinggalkan, ia sangat kaget dan heran. Kota itu sudah sangat berubah. Semunya menjadi asing dan aneh. Tak ada lagi berhala-berhala. Semua orang disekitarnya sudah beriman. Tapi, tak ada satupun yang dia kenal. Semuanya wajah-wajah asing.

Saat ia membayar makanan dengan mata uang yang dimilikinya, disinilah orang-orang mencurigainya. Sebab mata uangnya sudah berusia ratusan tahun. Ia pun kemudian ditangkap karena dicurigai mendapat harta karun. Ia dibawa kehadapan pemimpin kota tersebut dan para aparat berwenang lainnya.

Setelah panjang lebar berbicara, semua penuh keheranan, terungkaplah bahwa lelaki ini adalah manusia yang hilang 309 tahun yang lalu. Akhirnya pimpinan kota tersebut, bersama seluruh masyarakat berduyun-duyun mengantarkan pemuda ini menuju gua dan bertemu dengan semua teman-temannya. Termasuk anjingnya yang juga hidup kembali.

Rupanya itu hanya pertemuan sekejap saja. Pemuda tersebut kembali berkumpul dengan teman-temannya yang terheran-heran melihat banyaknya manusia mengunjungi mereka. Awalnya mereka kira itu rombongan tentara yang akan menangkap mereka. Ternyata bukan. Melainkan manusia generasi 3 abad setelah mereka.

Seluruh pemuda kahfi ini kembali masuk ke dalam gua, dan mereka berkumpul sejenak. Kemudian tiba-tiba mereka diwafatkan kembali oleh Allah. Sehingga hidupnya mereka kembali menjadi pelajaran dan teguran bagi sekelompok masyarakat yang mulai menyimpang waktu itu. Allah berfirman:

وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ.

Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka." (QS Al Kahfi: 21).

Pelajaran dari Kisah ini:

1. Setiap keimanan pasti akan berkonsekwensi ujian. Tak akan Allah biarkan seorang hamba mengaku beriman, melainkan akan diuji.

2. Ujian keimanan biasanya akan mengahasilkan salah satu dari dua kemungkinan: Lulus dan naik kelas mendapat kemuliaan, atau tersingkir dan tersaring jatuh ke lembah kehinaan.

3. Sikap orang beriman hendaklah bersabar menghadapi ujian. Karena biasanya ujian datang pertanda Allah masih menyayanginya.

4. Mematikan dan menghidupkan kembali adalah kekuasaan Allah yang wajib diimani.

5. Peristiwa hidupnya kembali pemuda2 kahfi setelah 309 tahun menjadi bukti akan adanya hari berbangkit.

Wallahu A'laa wa A'lam.

H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed

Rabu, 08 Mei 2019

Ramadan 3


KISAH DAN 'IBRAH

UJIAN NABI IBRAHIM AS

Nabi Ibrahim as. sudah memasuki usia tua. Namun ia belum juga punya anak. Sementara istrinya Sarah, juga tidak bisa beranak alias mandul. Setiap Nabi dan orang shaleh pastilah menginginkan punya anak dan keturunan, untuk menjadi penerus dakwah dan amal shalehnya di kemudian hari.

Dalam usia yang sudah sangat tua itu, Nabi Ibrahim as. terus berharap kepada Allah untuk mendapatkan keturunan. Akhirnya sang istri menghadiahkan budaknya kepada suaminya. Budak itu bernama Hajar. Dengan izin Allah, Nabi Ibrahim as. mendapatkan keturunan dari Hajar dalam usia 86 tahun. Sebagian riwayat menyatakan umurnya ketika itu 99 tahun. Itulah dia Ismail.

Sungguh kebahagiaan yang tidak terkira dirasakan oleh Nabi Ibrahim, ketika Allah berikan ia anak dalam usia tua renta. Allah mengungkapkan kesyukuran nabi Ibrahim dalam FirmanNya:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى وَهَبَ لِى عَلَى ٱلْكِبَرِ إِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ ۚ إِنَّ رَبِّى لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa". (QS Ibrahim: 39).

Akan tetapi kebahagian Nabi Ibrahim as. itu tidak bertahan lama. Anak yang diharap-harap lahirnya sejak bertahun-tahun itu, harus dipindahkan jauh darinya. Allah mewahyukan kepadanya untuk mengantarkan anak kesayangan dan ibunya ke negeri Makkah. Jarak yang sangat jauh dari Palestina. Apalagi saat itu sarana transportasi hanya berjalan kaki atau menunggang kuda.

Maka Nabi Ibrahim pergi mengantarkan Ismail dan ibunya Hajar ke Makkah. Sesampainya di sana, keduanya langsung ditinggalkan dengan bekal makanan dan air seadanya. Nabi Ibrahim berbalik menuju Palestina. Hajar sangatlah sedih. Ia pegang baju suaminya yang terus berjalan. "Dengan siapa engkau tinggalkan kami di lembah yang sunyi tak ada siapa-siapa ini?", tanya Hajar berulang-ulang kepada suaminya.

Tapi Nabi Ibrahim tidak menjawab sepatah katapun. Ia terus berjalan menjauh meninggalkan keduanya. Akhirnya Hajar bertanya, "Apakah Allah yang telah memerintahkanmu melakukan ini?". Nabi Ibrahim menjawab, "Iya". Maka dengan spontan Hajar berucap, "Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami di sini".

Sungguh tidak terbayangkan perasaan Nabi Ibrahim as. meninggalkan anak dan istrinya ditempat yang asing lagi sunyi tersebut. Jauh dari negerinya di Palestina. Tapi karena itu memang sudah perintah Allah, maka Nabi Ibrahim melakukannya. Setelah agak jauh meninggalkan lembah Makkah, Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah:

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim: 37).

Allah pun mengabulkan doa Nabi Ibrahim ini. Hajar dan Ismail mendapatkan air Zamzam. Dan kemudian orang-orang arab sekitar berdatangan ke lembah itu, meminta izin tinggal dan menetap kepada Hajar selaku pemilik air. Dan berawallah disana sebuah peradaban baru.

Disaat Ismail sudah berusia remaja, sudah bisa diajak ayahnya berusaha bersama, Nabi Ibrahim kembali mendapat ujian berat dari Allah terkait anak kesayangannya ini. Datang perintah Allah melalui mimpinya untuk menyembelih sang anak.

Sungguh ini merupakan sebuah perintah Allah yang sangat berat melaksanakannya. Bila dulu semasa bayi disuruh "membuangnya" jauh dari Palestina ke Makkah, maka itu hanyalah berpisah sementara. Masih mungkin untuk berjumpa. Sedangkan ini perintah untuk berpisah selama-lamanya. Dan tidak main-main, sang Ayah langsung yang akan mengeksekusi anak tercintanya.

Namun, karena ini memang perintah Allah, maka Nabi Ibrahim as. mematuhinya dengan penuh ketaatan. Maka dipanggilnyalah anaknya untuk persiapan eksekusi penyembelihannya. Allah berfirman menceritakannya:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102)

Artinya: "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS Ash Shafaat: 102)

Nabi Ibrahim as. sangat menyadari bahwa ini adalah perintah Allah. Tapi dia mencoba berkomunikasi dengan anaknya dengan bahasa tawaran dan minta pendapat. Namun, ternyata Ismail juga seorang anak yang shaleh, yang patuh kepada Allah dan kepada orang tuanya. Maka dengan mantap ia mempersilakan ayahnya untuk mengeksekusi perintah Allah.

Dikala Ibrahim dan Ismail sudah siap dan tunduk kepada perintah Allah, dan keduanya tidak terpengaruh sedikitpun dengan godaan iblis yang ingin menggagalkan eksekusi itu, maka Allah mengganti Ismail dengan seekor domba yang gemuk. Keduanya pun lolos dan lulus dalam melewati ujian Allah.

Allah berfirman:

فَلَمَّا أَسْلَما وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنادَيْناهُ أَنْ يا إِبْراهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيا إِنَّا كَذلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هذا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْناهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107).

Artinya: "Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar". (QS Ash Shaffat: 103-107).

Ujian ini telah menjadikan Ibrahim dan anaknya Ismail, menjadi hamba dan keluarga yang mulia. Rangkaian pengorbanan mereka Allah jadikan sebagai ibadah mulia dalam ritual Haji dan Ibadah Qurban.

Pelajaran dari kisah ini:

1. Mematuhi perintah Allah, walaupun kadang tidak rasional dan tidak logis, atau bahkan menyulitkan dan menyusahkan, itulah puncak penghambaan seseorang kepada Allah. Sebab, kalau hanya mematuhi yang disenangi, pada hakekatnya itu bukanlah kepatuhan.

2. Semua perintah dan syariat Allah pastilah memiliki hikmah dan manfaat dibaliknya, untuk kemashlahatan seorang hamba, baik di dunia, maupun di akhirat.

3. Setiap muslim dan muslimah tidak boleh berputus asa atas rahmat dan karunia Allah. Dia Maha berkehendak untuk memberi atau menahan. Karenanya berdoa dan memohon kepadanya tidak pernah ada batasnya.

4. Hajar adalah salah satu sosok istri yang shalehah. Ia beriman dan yakin akan kekuasaan Allah dan ia patuh kepada suaminya dalam ketaatan kepada Allah. Walaupun itu beresiko kesusahan dalam hidupnya.

5. Ismail adalah sosok dari seorang anak yang shaleh. Ia beriman kepada Allah, tidak ragu akan perintahNya, dan bersabar dengan ujianNya. Ia juga berbakti kepada orang tuanya.

Wallahu A'laa wa A'lam.

H.  Irsyad Syafar,  Lc,  M. Ed