Penghargaan Energi Nasional 2012

Gubernur Sumbar menerima Penghargaan Energi dari Menteri ESDM Jero Wacik

Investment Award 2011

Gubernur Sumbar menerima penghargaan dari pemerintah pusat sebagai provinsi terbaik bidang penanaman modal.

Menolak Kenaikan Harga BBM

Wakil Ketua DPRD Sumbar yang juga Ketua DPW PKS Sumbar ketika diwawancarai wartawan terkait demonstrasi mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM.

Penyalur BOS Tercepat 2012

Gubernur Sumbar mendapat penghargaan sebagai provinsi penyalur dana BOS tercepat tingkat nasional tahun 2012.

Penghargaan Lingkungan Hidup 2012

Gubernur Sumbar pada tahun 2012 kembali mendapatkan penghargaan lingkungan hidup tingkat nasional dimana pada tahun 2011 juga telah mendapat penghargaan yang sama.

Pages

Sabtu, 16 Mei 2020

Salat Hari Raya

Ramadhan 22/1441 H
Serial Fiqh Ibadah

SHALAT HARI RAYA

Oleh: Irsyad Syafar

1. HAKEKAT HARI RAYA DALAM ISLAM.

Shalat hari raya atau shalat Ied maksudnya adalah shalat yang dikerjakan pada dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha. Shalat Idul fitri pertama kali disyariatkan pada tahun pertama hijriyah. Kemudian selalu dikerjakan oleh Rasulullah SAW dan tidak pernah ditingalkannya.

Allah SWT memuliakan umat Islam dengan dua hari raya yang mulia tersebut yang berkaitan langsung dengan dua rukun Islam. Hari raya Idul Fitri dilaksanakan setelah menuntaskan ibadah puasa Ramadhan satu bulan penuh. Dan hari raya Idul Adha dirayakan setelah menunaikan ibadah haji.

Kedua hari raya yang mulia itu juga diisi dengan serangkaian ibadah. Mulai dari takbir, tahmid, tahlil sampai dengan shalat hari raya dua rakaat dan mendengarkan khutbah Ied. Kedua hari raya juga diisi dengan ibadah yang sangat kental dengan kepedulian sosial. Ada zakat fitri sebelum shalat Idul Fitri dan ada ibadah qurban setelah shalat Idul Adha.

Jadi, hari raya dalam Islam adalah hari bergembira dan bersuka cita dengan berbagai rangkaian ibadah. Berhari raya dalam Islam berarti mengagungkan Asma’ Allah SWT. Bukan hari berfoya-foya dan bebas merdeka dari ikatan dan aturan agama, sebagaimana terjadi dalam hari raya agama lain.

2. HUKUM SHALAT ‘IED DAN LANDASANNYA.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat hari raya. Sebagian menyatakan hukumnya fardhu 'ain bagi yang mampu. Sebagian lagi menyatakan fardhu kifayah. Dan juga ada yang berpendapat sunnat muakkad. Lajnah Fatwa Arab Saudi, Syekh Bin Baz dan Syekh Utsaimin mengambil pendapat fardhu kifayah. Syekh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah menyatakan sunnat muakkad.

Dalil pensyariatan shalat ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata:

أَمَرَنَا – تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.

Artinya: “Nabi SAW memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘Ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beranjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.” (HR Muslim).

Yang menyatakan shalat Ied hukumnya wajib adalah karena alasan berikut:
a. Rasulullah SAW selalu melakukannya dan tidak pernah meninggalkannya.
b. Rasulullah SAW memerintah kaum muslimin keluar rumah untuk menunaikan shalat ‘Ied. Termasuk mengajak seluruh keluarga laki-laki dan perempuan. Bahkan wanita yang sedang haid pun juga diperintahkan hadir, walaupun memisahkan diri dari para jamaah.
c. Adanya perintah di dalam Al Qur’an untuk shalat Ied yaitu firman Allah SWT:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya: “Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS Al Kautsar: 2).

Maksud ayat ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat ‘Ied. Adanya perintah menunjukkan hukum wajib.
d. Bila hari raya bertepatan dengan hari Jum’at, maka bagi yang telah melaksanakan shalat Ied di pagi hari, ia mendapat keringanan dengan gugurnya kewajiban shalat jum’at. Tentu saja  sesuatu yang wajib hanya boleh digugurkan dengan yang wajib pula.

3. ADAB SHALAT IED.

Ada beberapa adab dan etika dalam pelaksanaan shalat Ied yang harus diperhatikan oleh setiap muslim:

a. Mandi pada hari Ied

Yaitu mandi seperti mandi wajib. Hal ini berdasarkan hadits dari Nafi’, beliau mengatakan:

أن عبد الله بن عمر كان يغتسل يوم الفطر قبل أن يغدو إلى المصلى.

Artinya: “Sesungguhnya Ibnu Umar ra, mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat ke lapangan." (HR. Malik dan asy-Syafi’i dan sanadnya shahih)

b. Berhias dan Memakai Wewangian

Disunnahkan bagi kaum lelaki pada hari raya untuk berhias dan memakai wewangian. Adapun bagi wanita muslimah tetap berlaku baginya hukum untuk tidak tabarruj dan tidak berlebihan memakai wewangian. Berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas, bahwa pada hari Jum’at, Nabi SAW bersabda:

إِنَّ هَذَا يَومُ عِيدٍ جَعَلهُ الله لِلمُسلِمِينَ فمَن جاءَ إلى الـجُمعةِ فَليَغتَسِل وَإِن كانَ عِن
دَه طِيبٌ فَليَمسَّ مِنهُ وَعَلَيكُم بِالسِّواكِ.

Artinya: “Sesungguhnya hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk kaum muslimin. Barangsiapa yang hadir Jum’atan, hendaknya dia mandi. Jika dia punya wewangian, hendaknya dia gunakan, dan kalian harus gosok gigi.” (HR. Ibn Majah)

c. Memakai Pakaian yang Paling Bagus

Pada hari raya Rasulullah SAW memakai pakaian terbaiknya yaitu jubah yang biasa Beliau pakai pada hari Jum’at dan hari raya. Hal ini sebagaimana hadits shahih dari Jabir bin Abdillah ra, beliau mengatakan:

كانت للنبي -صلى الله عليه وسلم- جُبّة يَلبسُها فِي العِيدَين ، وَ يَوم الـجُمعَة

Artinya: “Nabi SAW memiliki jubah yang Beliau gunakan ketika hari raya dan hari Jum’at.” (HR. Ibn Khuzaimah dan kitab shahihnya)

d. Pada hari Idul Fitri disunatkan berangkat dalam keadaan berbuka, pada hari Idul Adha disunatkan berangkat dalam keadaan puasa.

Sebagimana hadits dari Buraidah, beliau berkata:

لاَ يَـخرجُ يَومَ الفِطرِ حَتَّى يَطعَمَ ولاَ يَطعَمُ يَومَ الأَضْحَى حَتَّى يُصلِّىَ

Artinya: “Nabi SAW tidak berangkat menuju shalat Idul Fitri sebelum Beliau makan terlebih dahulu, dan Beliau tidak makan ketika Idul Adha, sampai shalat dahulu." (HR Turmudzi dan Ibnu Majah).

e. Berjalan menuju lapangan dengan penuh ketenangan dan ketundukan

Hal ini sesuai dengan hadits dari Sa’d ra, ia berkata:

أنَّ النَّبـىَّ -صلى الله عليه وسلم- كانَ يَـخْرج إلَى العِيد مَاشِيًا وَيَرجِعُ مَاشِيًا

Artinya: “Bahwa Nabi SAW keluar menuju lapangan dengan berjalan kaki dan Beliau pulang juga dengan berjalan kaki.” (HR. Ibnu Majah)

f. Membedakan jalan berangkat dengan jalan pulang

Disunatkan untuk berangkat menuju lapangan shalat Ied melalui sebuah jalan, dan bila pulang melalui jalan yang berbeda. Berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah ra:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melaksanakan shalat id, beliau memilih jalan yang berbeda (ketika berankat dan pulang).” (HR. Bukhari)

g. Berangkatnya para wanita dan anak-anak

Menyuruh wanita dan anak kecil untuk berangkat shalat Ied adalah sebuah sunnah. Dalilnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu ‘Athiyah di atas. Namun wanita tetap harus memperhatikan adab-adab ketika keluar rumah, yaitu tidak berhias diri dan tidak memakai wewangian.

Sedangkan mengenai anak kecil, Ibnu Abbas ra. pernah ditanya, “Apakah engkau pernah menghadiri shalat Ied bersama Nabi SAW?” Ia menjawab:

نَعَمْ ، وَلَوْلاَ مَكَانِى مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ

Artinya: “Iya, aku menghadirinya. Seandainya bukan karena kedudukanku yang termasuk sahabat-sahabat junior, tentu aku tidak akan menghadirinya.” (HR Bukhari).

4. WAKTU PELAKSANAAN SHALAT ‘IED

Menurut pendapat jumhur ulama waktu shalat Ied dimulai dari matahari setinggi tombak sampai waktu bergesernya matahari (waktu zawal). Dianjurkan untuk melambatkan pelaksanaan shalat Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan shalat Idul Adha.

Mempercepat shalat ‘Idul Adha adalah agar orang-orang dapat segera menyembelih hewan qurbannya dan memiliki waktu yang panjang. Sedangkan shalat ‘Idul Fitri agak diundur dengan tujuan agar kaum muslimin masih punya kesempatan untuk menunaikan zakat fitri.

5. TEMPAT PELAKSANAAN SHALAT ‘IED

Untuk pelaksanaan shalat Ied lebih dianjurkan dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur seperti hujan. Abu Sa’id Al Khudri ra, mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى

Artinya: “Rasulullah SAW biasa keluar pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha menuju tanah lapang.” (HR. Bukhari).

Dalil ini menjadi landasan yang menganjurkan bahwa shalat ‘Ied sebaiknya dilakukan di tanah lapang dan ini lebih afdhal (lebih utama) daripada melakukannya di masjid. Adapun bagi penduduk Makkah, maka sejak masa silam mereka selalu melaksanakan shalat ‘Ied di Masjidil Haram.

6. TUNTUNAN MELAKSANAKAN SHALAT IED

Dalam melaksanakan shalat Ied kita harus mengikuti tatacara dan tuntunan dari Rasulullah SAW. Antara lain sebagai berikut:

Pertama: Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘Ied. Dalam suatu riwayat disebutkan:

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر

Artinya: “Nabi SAW biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai Beliau melaksanakan shalat. Ketika Beliau telah selesai shalat Beliau berhenti dari bertakbir.” (Silsilah hadits shahih).

Cara bertakbirnya adalah dengan suara yang dijaharkan bagi laki-laki dan direndahkan suaranya bagi kaum perempuan. Dilakukan secara spontan saja, sampai tiba di lapangan tempat shalat Ied.

Kedua, Tidak ada shalat Sunnah qabliyah Ied dan ba’diyah Ied.

Hal ini sesuai dengan hadits dari Ibnu Abbas, ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, lalu Beliau mengerjakan shalat Ied dua rakaat, namun Beliau tidak mengerjakan shalat sebelumnya dan tidak juga setelahnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketiga, Tidak Ada Adzan dan Iqomah Ketika Shalat Ied

Sebagaimana hadits dari Jabir bin Samurah ra, ia berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ.

Artinya: “Aku pernah melaksanakan shalat ‘Ied (Idul Fitri dan Idul Adha) bersama Rasulullah SAW bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqomah.”(HR Muslim)

Dalam masalah ini, Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad mengatakan, “Jika Nabi SAW sampai ke tempat shalat, Beliau pun mengerjakan shalat ‘Ied tanpa ada adzan dan iqomah. Juga ketika itu untuk memulai shalat berjamaah tidak ada ucapan, “Ash Sholaatul Jaam’iah.” Yang termasuk ajaran Nabi adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi.”

Keempat, Pelaksanaan shalat Ied.

Shalat Idul Fitri dan Idul Adha adalah dua rakaat. Adapun tata caranya sama dengan shalat wajib. Hanya saja ada tambahan takbir di awal rakaat pertama dan awal rakaat kedua. Caranya adalah sebagai berikut:
a. Takbiratul ihram.
b. Takbir tambahan sebanyak tujuh kali takbir (Selain takbiratul ihram)
c. Di antara takbir-takbir yang7, boleh membaca dzikir, boleh juga tidak. Ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.” (HR Baihaqi). Syaikhul Islam mengatakan bahwa sebagian salaf di antara tiap takbir membaca bacaan,
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي
d. Membaca Al Fatihah
e. Membaca surat lainnya. Disunnahkan membaca surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qamar pada raka’at kedua. Atau membaca surat Al A’laa pada rakaat pertama dan surat Al Ghasyiyah pada rakaat kedua.
f. Melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dst).
g. Takbir bangkit dari sujud untuk mengerjakan raka’at kedua.
h. Takbir tambahan sebanyak lima kali takbir.
i. Membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
j. Mengerjakan gerakan shalat lainnya dari rukuk hingga salam.

7. SUNNAH BERTAKBIR DAN LAFADZ TAKBIR HARI RAYA

Pada kedua hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul adha disunnahkan memperbanyak takbir, tahmid dan tahlil. Adapun pada hari raya Idul Fitri disunnahkan bertakbir apabila telah selesai sempurna bulan Ramadhan (terbenam matahari terakhir Ramadhan) sampai menjelang shalat Ied dilaksanakan. Landasan bertakbir ini adalah firman Allah SWT:

ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ماهداكم (سورة البقرة :  185).

Artinya: "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah: 185)

Takbir ini disunnahkan menurut mayoritas ulama. Disunnahkan bagi laki-laki dan para wanita. Baik di masjid, rumah maupun di pasar. Para lelaki dianjurkan meninggikan suaranya, sedangkan kaum wanita merendahkan tidak meninggikan suaranya. Karena wanita diperintahkan untuk merendahkan suaranya.

Adapun terkait takbir pada hari raya Idul Adha, di dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa takbirnya dibagi dua; yaitu takbir mutlak dan takbir muqayyad. Takbir mutlak adalah takbir yang dikumandang sejak pertama bulan Dzul Hijjah hingga hari raya Idul Adha tiba dan dilantunkan dimana saja, di pasar, jalan, rumah, masjid atau lainnya, baik sendirian atau berjemaah. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Imam Ahmad:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمَ عِنْدَ اللَّهِ وَلاَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Artinya: “Tidak ada satu haripun yang lebih agung dan dicintai Allah beramal pada hari tersebut dibanding sepuluh hari ini, maka perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid pada hari-hari tersebut.” (HR Ahmad).

Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang dianjurkan untuk dilantunkan setelah shalat wajib lima waktu, terutama setelah shalat berjemaah. Takbir muqayyad ini dimulai sejak setelah shubuh pada hari arafah (9 Dzul hijjah) hingga setelah salat ashar pada hari terakhir hari tasyriq (13 Dzul Hijjah). Imam Bukhari menyebutkan bahwa Ibnu Umar ra, bertakbir di Mina, di pasar, setiap selesai shalat, di dalam kemahnya dan lain-lain.

Adapun lafdz takbir ada dua macam:

Pertama, yang takbirnya dua kali di awal. Ini adalah yang menurut riwayat Ibnu Mas’ud:

الله أكبر الله أكبر ، لا إله إلا الله ، الله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.

Artinya: “Allah Mah Besar, Allah Maha Besar, tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah. Allah Maha Besar, segala pujian milik Allah.

Kedua, yang bertakbir tiga kali di awal. Ini adalah dari riwayat Ibnu Abbas, dengan  mengucapkan:

الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، لا إله إلا الله ، الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد

Artinya: “Allah Mah Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, Allah Mah Besar, Allah Maha Besar,segala pujian milik Allah.
Imam Syafi’i dalam kitab Al Umm membolehkan kalimat takbir lain yang lebih panjang:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

Imam Ash Shan’ani dan Abu Ishaq Asy Syirazi serta banyak ulama lainnya, memandang bahwa penambahan lafadz-lafadz ini adalah suatu yang boleh selama masuk dalam keumuman ayat yang memerintahkan bertakbir.

8. KHUTBAH SETELAH SHALAT ‘IED

Khutbah setelah shalat Ied hukumnya sunnat. Karena Rasullullah SAW mempersilakan para sahabat mendengar atau juga boleh pergi. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ.

Artinya: “Aku saat ini akan berkhutbah. Siapa yang mau tetap duduk untuk mendengarkan khutbah, silakan ia duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan ia pergi.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

Setelah melaksanakan shalat Ied, imam (khatib) langsung berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘Ied. Tidak diselingi dengan takbir ataupun amalan yang lain. Khutbah Ied disunnahkan bila shalat Ied dilakukan berjamaah. Adapun bila shalatnya sendirian maka tidak disunnahkan ada khutbah.

Para ulama berbeda pendapat dalam khutbah Ied, apakah dilaksanakan dua khutbah atau satu khutbah saja. Masing-masing memiliki landasan dalam hal ini. Sekurang-kurangnya Khutbah Ied harus memnuhi rukun khutbah:

a. Hamdalah memuji Allah.
b. Shalawat kepada Rasulullah SAW
c. Membaca ayat-ayat Al Quran
d. Wasiat taqwa
e. Membaca do’a.

Demikian fiqh shalat hari raya dan Khutbah Ied, semoga bermanfaat. Wallahu A’laa wa A’lam.

Viral Cekcok di Posko Covid-19, Irwan Prayitno: Tegas Harus, Tapi Jaga Kesopanan

PADANG – Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno menilai insiden cekcok petugas Posko Covid-19 Kota Padang dengan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumbar, Amnasmen hanya kesalahpahaman. Meski begitu, petugas diharapkan tetap menjaga kesopanan dalam menjalankan tugas.
“Kalau tegas dan ketat itu harus. Tapi petugas harus tetap menjaga kesopanan dalam menjalankan tugas,” sebut Irwan menyikapi insiden tersebut, Sabtu (16/5). yose
Dikatakannya, dari video yang beredar nampak hanya kesalahpahaman. Selain petugas tidak kenal Ketua KPU Sumbar, Amnasmen juga tidak membawa surat tugas. Dari Permenhub Nomor 25/2020 memang mengharus ada surat tugas. Selain itu malah adalah bebas Covid-19. “Kalau dari Permenhub, surat tugas itu harus ada. Bahkan harus ada surat bebas Covid-19,” ujarnya.
Meski begitu, Irwan juga meminta petugas yang menjalakan fungsinya di perbatasan juga harus menjaga kesopanan. Menggunakan kata-kata yang baik. Jangan pula main kata-kat kasar.
“Petugas kan juga tidak boleh dengan kata-kata kasar. Apalagi memposting di media sosial data pribadi orang, itu juga tidak benar,” pungkasnya.
Sebelumnya, beredar video insiden cekcok antara Ketua KPU Sumbar, Amnasmen petugas perbatasan Lubuk Paraku, antara Kabupaten Solok dengan Kota Padang. Dalam video tersebut nampak dua orang tersebut terpancing dengan menggunakan suara nada tinggi.
Kemudian, berlanjut dengan petugas memposting identitas Ketua KPU Sumbar di media sosial. Ditambah dengan beredar video. Informasinya insiden ini berlanjut ke ranah hukum. (yose
Sumber: hariansinggalang.co.id 16 Mei 2020

Riza Falepi Beberkan Alasan Batal Bertarung dalam Pilgub Sumbar

PAYAKUMBUH –  Sulitnya berkomunikasi dengan petinggi PKS di pusat, selama pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), membuat Riza Falepi memilih mundur dari pencalonan sebagai Gubernur Sumbar periode 2021-2016.
Kemudian kesibukan dalam mengurus wabah Covid-19 di Payakumbuh, membuat urusan Pilgub Sumbar jadi terabaikan. 
“Mohon maaf, karena kesibukan mengurus Covid-19 membuat urusan administrasi yang diminta DPP PKS jadi terabaikan. Tidak bisa saya penuhi sesuai harapan pengurus pusat,” ujar Riza melalui telepon selulernya, Sabtu (16/5). 
Dikatakan Riza, dirinya ikhlas memberikan kesempatan kepada calon lain yang lebih punya waktu untuk memenuhi seluruh persiapan terkait dengan Pilgub itu. Jadi pilihan mundur ini, tidak ada karena persoalan personal. Dan bukan karena faktor tertentu, tapi murni karena tak punya banyak waktu mengurus segala persiapan. “Termasuk beberapa persyaratan tersebut juga terlambat akibat Corona ini,” tambah Riza.
Diakuinya, dirinya akan fokus mengurus Covid-19 serta membangun Payakumbuh hingga berakirnya masa jabatannya, yakni pada 2022 mendatang. Ia ingin mewujudkan janji politiknya untuk membangun Masjid Agung, selain pembangunan infrastruktur lainnya. Ingin juga menuntaskan proyek strategis, normalisasi dan penataan Batang Agam. 
“Selepas masa jabatan nanti, saya akan kembali melanjutkan dunia usaha dengan grup yang sudah dirintis sebelum jadi walikota. Pengabdian saya buat negeri ini, bukan sebatas sebagai kepala daerah saja. Tapi bisa diaplikasikan dalam bentuk lain. Yang penting, segala usaha yang dikerjakan, berguna buat kepentingan rakyat banyak,” katanya. (bule)
Sumber: hariansinggalang.co.id 17 Mei 2020

Jumat, 15 Mei 2020

Fikih Zakat Fitri

Ramadhan 21/1441 H
Serial Fiqh Ibadah

FIQH ZAKAT FITRI

Oleh: Irsyad Syafar

1. Defenisi Zakat Fitrah dan dalil pensyariatannya.

Secara dalil, zakat fitrah ini nama aslinya di dalam hadits adalah zakat fitri. Terdiri dari dua kata: Zakat dan Fitri. Kata zakat secara bahasa memiliki arti: tumbuh, bertambah atau berkembang. Sedangkan kata fitri (fithr) artinya berbuka setelah berpuasa.

Maka gabungan dua kata tersebut menjadi “zakat fitri” merupakan gabungan yang mengandung makna sebab akibat, yang berarti sebab diwajibkannya zakat fitri ini adalah karena kaum muslimin telah selesai menunaikan puasanya di bulan Ramadhan.

Adapun dalil perintah membayar zakat fitri adalah hadits Ibnu Umar ra, ia berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أوْ أنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ” أخرجه البخاري في “صحيحه”.

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri dari bulan Ramadhan atas manusia satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum, bagi setiap umat muslim yang merdeka atau hamba sahaya, baik laki-laki maupun perempuan.” (HR. Al-Bukhari)

Zakat fitri ini disyariatkan pada tahun kedua hijriyah di ujung bulan Ramadhan, disaat kaum muslimin akan segera mengakhiri puasa Ramadhannya. Karena itulah ia dinamakan zakat fitri, atau juga nama lainnya shadaqah fitri atau sedekah berbuka. Jadi, fitri bukan bermakna suci. Sama juga dengan nama hari rayanya yaitu hari raya Idul Fitri. Artinya hari raya berbuka. Bukan hari raya kembali suci, sebagaimana kebanyakan orang memahaminya.

Sebagian ulama ada yang menamakan zakat ini dengan “zakat fithrah”, di mana kata fithrah mengandung makna asal penciptaan. Dalam kitab Mausu’ah al Fiqhiyah, dinukilkan bahwa Abul Haitsam mengatakan: “al-fitrah adalah asal penciptaan, yang menjadi sifat seorang bayi ketika dilahirkan dari ibunya”. Dinamakan zakat fitrah karena zakat ini adalah zakat untuk badan dan jiwa sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Qutaibah dalam kitab Al Mughni. Maka kemudian dikalangan kaum muslimin di Indonesia dan sekitarnya, yang lebih populer adalah Zakat Fitrah. Sedangkan di kawasan timur tengah mereka biasa menyebutkan zakat fitri.

2. Hukum Zakat Fitri

Hukum zakat fitri adalah wajib bagi setiap muslim menurut pendapat yang terkuat. Para ulama menyatakan kewajiban menunaikan zakat fitri tercakup dalam perintah Allah SWT yang memerintahkan membayar zakat. Sebab, zakat fitri adalah termasuk jenis  zakat, bukan sedekah biasa. Di surat Al Baqarah ayat 43 Allah SWT berfirman:
وَآتُوا الزَّكَاةَ
“Tunaikanlah zakat”.

Adapun dalil dari hadits, selain hadits yang di atas, Ibnu Abbas ra, menyatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Artinya: ‘Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan perkataan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum shalat (Idul Fitri), berarti ini merupakan zakat yang diterima, dan barang siapa yang menunaikannya setelah shalat (idul fitri) berarti hal itu merupakan sedekah biasa”. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Daru Quthni).

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra, ia berkata:

فرض رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم زكاة الفطر، صاعًا من تمر أو صاعًا من شعير، على العبد والحر، والذكر والأنثى، والصغير والكبير، من المسلمين، وأمر بها أن تؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة

Artinya: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri, berupa satu sha’ kurma kering atau gandum kering. (kewajiban) ini bagi kaum muslimin, budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa. Dan Beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang berangkat shalat.” (Shahih. HR. Bukhari & Muslim).

Dalil-dalil di atas menegaskan bahwa hukum zakat fitri adalah wajib.

3. Orang yang diwajibkan membayar zakat fitri

Sebagaimana hadits di atas, bahwa Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa zakat fitri itu wajib bagi setiap muslim, laki-laki dan perempuan, merdeka ataupun budak, besar ataupun kecil.
Para ulama menambahkan syarat wajibnya zakat fitri ini, yaitu:
a. Memiliki kelebihan kebutuhan keluarganya berupa makanan dan sejenisnya untuk hari Idul Fitri. Kalau ia tidak memilikinya maka ia tidak wajib membayar zakat fitri. Justru ia adalah orang yang berhak menerima zakat fitri.
b. Berjumpa dengan bulan Ramadhan atau awal syawal walapun sesaat. Maka bayi yang lahir pagi menjelang shalat ied, menurut pendapat yang kuat adalah wajib dibayarkan zakat fitrinya oleh orang tua atau walinya. Begitu juga orang yang meninggal dunia pada hari pertama Ramadhan juga tetap wajib dibayarkan zakat fitrinya oleh ahli warisnya.

Adapun janin yang masih dalam kandungan ibunya, menurut pendapat yang kuat tidaklah wajib membayar zakat fitri.

4. Objek Zakat fitri

Objek zakat fitri telah ditentukan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri ra, beliau mengatakan, “Kami menunaikan zakat fitri dengan satu sha makanan, satu sha gandum, satu sha kurma, satu sha keju atau satu sha kismis” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun para ulama berselisih pendapat, apakah objek zakat hanya terbatas pada kelima objek yang tertera dalam hadits ataukah bisa selainnya?

Pendapat yang tepat adalah pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, yang menyatakan bahwa segala biji-bijian atau buah-buahan yang merupakan makanan pokok di suatu negeri dapat dijadikan objek zakat fitri.

Pendapat ini sejalan dengan hadits Abu Sa’id al Khudri di mana beliau berkata, “Kami mengeluarkan zakat fitri pada zaman Rasulullah SAW pada hari raya dengan satu sha makanan”. Beliau melanjutkan, “Dan makanan pokok kami (di Madinah) adalah gandum, kismis, keju dan kurma” (HR. Bukhari).

Imam Ibnu al-Qayim berpendapat bahwa kelima jenis makanan yang tercantum dalam hadits Abu Sa’id) merupakan mayoritas bahan makanan pokok di kota Madinah. Jika makanan pokok di suatu negeri selain lima jenis tersebut, maka penduduknya wajib mengeluarkan zakat fitri sebanyak satu sha dari makanan pokok mereka seperti biji-bijian, beras, buah tin atau biji-bijian selainnya. Jika makanan pokok mereka berupa non biji-bijian seperti susu, daging, atau ikan, maka mereka membayar zakat fitri dengan makanan pokok tersebut apapun bentuknya.” (Dari kitab: I’laam al-Muwaqqi’in).

5. Ukuran zakat fitri dan Pembayarannya

Berdasarkan hadits Ibnu Umar ra di atas, maka ukuran zakat fitri adalah satu sha’ makanan. Baik berupa gandum, kurma, kismis, beras, jagung dan makanan pokok lainnya. Satu sha’ itu adalah ukuran takaran sebanyak 4 mud. Adapun satu mud itu sama dengan takaran dua tangan orang dewasa. Sehingga kemudian para ulama berbeda pendapat dalam mengkonversinya ke dalam ukuran berat atau volume makanan tersebut.

Jumhur ulama berpendapat bahwa satu sha’ itu sama dengan 2,75 kg. Adapun madzhab Abu Hanifah menyatakan satu sha’ sama dengan 3,8 kg. Bagi rakyat Indonesia kebanyakan sudah terlanjur mengambil patokan 2,5 kg dikarenakan berangkat dari perbedaan pendapat dalam mengkonversi 4 mud ke dalam berat ataupun volume. Bila ingin mengambil yang lebih afdhal tentunya lebih baik ukuran yang lebih berat (2,75 kg).

Adapun pembayaran zakat fitri ini, jumhur ulama (Maliki, Syafi’i dan Hambali) semuanya sepakat harus berupa makanan, dan tidak boleh dengan nilai (uang). Tentunya mereka bersandarkan kepada semua hadits yang mewajibkan zakat fitri. Dimana Rasulullah SAW tidak ada menyebutkan di dalam haditsnya pembayaran dengan nilai (uang).

Sedangkan madzhab Hanafi membolehkan pembayaran dengan nilai, sebagaimana juga mereka membolehkannya pada pembayaran fidyah. Ini juga merupakan pendapat dari Umar bin Abdul Aziz, Al-Hasan Al-Bashri, Atha’, Ats-Tsauri, Imam Bukhari dan salah satu pendapat dalam madzhab Syafi’i dan Hambali. Diantara dalil dan alasan pembolehan zakat fitri dengan nilai (uang) adalah:
a. Adanya sikap Khalifah Abu bakar yang menggati pembayaran zakat ternak dengan ternak lain yang lebih kecil dengan tambahan berupa dirham.
b. Mu’adz ra, pernah berkata kepada penduduk Yaman:

ائْتُونِى بِعَرْضٍ ثِيَابٍ خَمِيصٍ أَوْ لَبِيسٍ فِى الصَّدَقَةِ ، مَكَانَ الشَّعِيرِ وَالذُّرَةِ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ ، وَخَيْرٌ لأَصْحَابِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – بِالْمَدِينَةِ.

Artinya: “Berikanlah kepadaku barang berupa pakaian pakaian atau baju lainnya sebagai ganti gandum dan jagung dalam zakat. Hal itu lebih mudah bagi kalian dan lebih baik/ bermanfaat bagi para shahabat Nabi SAW di Madinah.” (HR Bukhari – muallaq).

Hadits ini menunjukkan bahwa Mu’adz menarik zakat dengan sesuatu yang senilai, bukan dengan gandum sesuai ketetapan. Karena itu, membayar dengan nilai pernah dilakukan oleh para sahabat. Dalam kondisi dan situasi umat saat ini, sebaiknya perdebatan tentang boleh tidaknya zakat fitri dengan uang dihentikan. Bagi yang lebih tenang dan nyaman hatinya dengan makanan pokok, maka silakan dilakukan karena memang itulah hukum asalnya.

Sedangkan orang yang memilih pendapat yang membolehkan dengan nilai (uang), karena memang ada landasan dan kemaslahatannya, juga silakan dilakukan. Jangan ada lagi yang menuduh sesat bila berbeda pilihan pendapat. Para ulama besar madzhab tidak pernah menyesatkan ulama madzhab lain yang punya ijtihad berbeda.

6. Waktu pembayaran dan orang yang berhak menerima zakat fitri.

Para ulama sepakat bahwa waktu wajib pembayaran zakat fitrah adalah di akhir Ramadhan. Mereka sedikit berbeda pendapat dalam patokan waktunya. Sebagian menyatakan pada waktu terbenam matahari di akhir Ramadhan, malam Idul Fitri. Ini pendapat yang lebih maslahat. Sebagian lagi berpendapat pada waktu terbit matahari shubuh hari Idul Fitri.

Para ulama juga membolehkan mempercepat pembayaran zakat fitri ini sehari ataupun dua hari sebelum Ramadhan berakhir. Dalam kondisi pandemi dan krisis ekonomi saat ini, para Ulama juga membolehkan pembayarannya lebih cepat lagi ke awal-awal Ramadhan karena kebutuhan membantu para faqir miskin.

Adapun orang yang berhak menerima zakat fitri adalah sesuai dengan hadits Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa zakat fitri itu makanan bagi orang-orang miskin (termasuk orang-orang faqir). Walaupun banyak ulama yang membolehkan pembagian zakat fitri kepada 6 ashnaf yang lain, akan tetapi Imam Ibnu al-Qayim mengatakan, “Tuntunan Nabi SAW (dalam pelaksanaan zakat fitri) adalah menyerahkan zakat fitri hanya kepada orang-orang miskin dan tidak membaginya kepada setiap golongan (yang tertera dalam firman Allah di surat at-Taubah ayat 60).

Rasulullah SAW dan para sahabat tidak pernah menunaikannya kecuali kepada faqir dan miskin saja. (Dari kitab Zaadul Ma’ad)

7. Hikmah Pensyari’atan Zakat Fitri

Setiap ibadah yang Allah SWT syariatkan kepada hambaNya pastilah memiliki makna dan hilmah yang mulia. Diantaranya, zakat fitri merupakan bentuk pengejewantahan rasa kasih sayang kepada kaum fakir miskin sehingga mereka tidak perlu mengemis di hari raya. Sehingga mereka turut merasakan kegembiraan bersama kaum muslimin yang lain dengan datangnya hari raya.

Selain itu, zakat fitri merupakan salah satu sarana untuk melebur berbagai kekeliruan yang dilakukan seorang ketika berpuasa di bulan Ramadhan seperti perbuatan sia-sia dan perkataan yang keji sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas ra, sebelumnya. Guru Imam Syafi’i pernah menyatakan:

زَكَاةُ الْفِطْرِ لِشَهْرِ رَمَضَانَ كَسَجْدَتِي السَّهْوِ لِلصَّلاةِ ، تَجْبُرُ نُقْصَانَ الصَّوْمِ كَمَا يَجْبُرُ السُّجُودُ نُقْصَانَ الصَّلاةِ . (المجموع للنووي).

Artinya: ’Zakat fitri bagi bulan Ramadhan bagaikan sujud sahwi dalam shalat. Fungsinya menutupi kekurangan puasa sebagaimana sujud sahwi menutupi kekurangan pada shalat.’ (Al Majmu’ Imam Nawawi).

Wallahu A’laa wa A’lam.

Gubernur Yakin Korona segera Berakhir, Tiga Kabupaten/ Kota Masih jadi Daerah Hijau

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menekankan bahwa tugas besar saat ini adalah memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 melalui local transmission atau penyebaran lokal di Sumbar. Penanganan Covid-19 secara umum sejauh ini dinilai sudah sesuai dengan protokol kesehatan yang ada. Meskipun hingga kini masih cenderung ada peningkatan kasus positif Covid-19 di Sumbar.
“Kita sudah melakukan penanganan dengan baik. Sebentar lagi kita memasuki fase puncak dan setelah itu diharapkan terus turun,” ujar Irwan usai rapat koordinasi bersama kepala Dinas Kesehatan se- Sumbar di ruang kerja kantor Gubernur melalui video conference, kemarin.
Dalam rapat koordinasi tersebut, dibahas beberapa poin yang berhubungan dengan perkembangan virus Covid-19, serta upaya dan usaha yang dilakukan untuk mencari memutus rantai penularan virus Covid-19 di Sumbar.
Irwan mengaku optimistis kurva kasus Covid-19 di Sumbar bisa segera selesai dalam waktu dekat ini. Hal yang membuat optimis adalah dari 19 kabupaten/ kota di Sumbar, ada 3 daerah yang negatif kasus Covid-19 atau menjadi zona hijau yaitu Sawahlunto, Sijunjung, dan Kota Solok.
Untuk kota Padang, saat ini masih berjuang memutus kasus penyebaran Covid-19 dari berbagai klaster. Dari sekitar 15 sampai 16 klaster, sudah ada 8 klaster yang putus kasus penyebarannya. “Untuk itu Pemprov Sumbar melalui dinas kesehatan di kabupaten/ kota bisa bergerak cepat untuk melakukan pemeriksaan massif kepada para warganya,” ungkapnya.
Klaster-klaster penyebaran Covid-19 di kabupaten/ kota lain, kata Irwan, juga saat ini sudah mulai menunjukkan penurunan. Menurutnya, laju penyebaran Covid-19 di Sumbar berhasil ditekan dengan diterapkannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan pemeriksaan secara massif. “Walaupun ada peningkatan kasus positif di Sumbar. Ini berarti ditemukan orang-orang yang berpotensi menularkan sehingga bisa diputus mata rantai Covid-19 ini,” jelasnya.
Hingga saat ini jumlah pasien positif Covid-19 di Sumbar sebanyak 72,6 persen orang dalam pemantauan (ODP) dan orang tanpa gejala (OTG) dan hanya 27,4 persen pasien dalam pengawasan (PDP) yang berada di rumah sakit (RS). “Artinya data ini memperlihatkan ada upaya serius Sumbar untuk mendeteksi sebanyak mungkin OTG dan ODP karena mereka adalah sumber penular,” ungkapnya.
Menurut Irwan, jika ada daerah yang pelit atau tidak mau mengirim tes swab-nya ke Laboratarium FK Unand Padang, berarti kepala daerahnya sosok yang jahat. Karena ingin daerahnya zero positif Covid-19, sehingga kepala daerah enggan mengirim tes swab, serta melakukan tracking terhadap warganya. Padahal, seluruh pembiayaan tes swab menjadi tanggung jawab Pemprov Sumbar. “Kok masih ada kepala daerahnya enggan periksa swab,” katanya.
Ia menambahkan, jalan pikiran kepala daerah itu, harus diluruskan oleh kepala dinas kesehatan. Sebab, jika dibiarkan, wabah virus korona di daerah tersebut bakal banyak merenggut nyawa masyarakat, karena penanganannya sudah terlambat.
Karena itu, ia mengajak seluruh kadiskes seluruh daerah di Sumbar, harus proaktif dalam melakulan tracking terhadap orang-orang yang pernah kontak dengan kasus positif Covid-19 sambil diambil tes swab mereka. “Saya perintahkan kepala dinas kesehatan harus mampu meluruskan jalan pikiran kepala daerah yang tak benar itu,’ tegasnya.
Lebih lanjut Irwan berharap prediksi puncak penyebaran virus Covid-19 di Sumbar akan memasuki puncak pada akhir bulan ini sesuai dengan yang disampaikan sebelumnya.
“Kita tetap berpegang pada Permenhub 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri 1441 Hijriah, dan kriteria pembatasan perjalanan dalam rangka percepatan penanganan Covid-19,” ungkapnya.
Kemudian, dalam rapat koordinasi tersebut, Irwan mengapresiasi daerah yang berhasil menekan angka penularan bahkan yang berhasil menihilkan kasus positif Covid-19. Menurutnya, daerah tersebut sukses melakukan tracking, isolasi dan memutus mata rantai penularan Covid-19.
Saat ini ada beberapa klaster penularan yang masih berlanjut di Sumbar. Seperti klaster Pasar Raya Padang, klaster Payakumbuh dan RSUD Padangpanjang. Irwan berharap daerah-daerah tersebut dapat melakukan tracking dan isolasi agar angka penularan tidak lagi bertambah.
Terjadi Lonjakan Kasus 
Lonjakan kasus pasien positif Covid-19 meningkat signifikan. Pemprov Sumbar kembali mengonfirmasi tambahan kasus pasien positif Covid-19 di Sumbar sebanyak 32 orang yang ditemukan di sejumlah kabupaten/ kota seperti Padang, Limapuluh Kota, Payakumbuh, Kepulauan Mentawai, dan Padangpariaman.
Dengan penambahan 32 pasien positif Covid-19 baru tersebut, maka total jumlah kasus positif di provinsi Sumbar sebanyak 371 kasus. Kemudian, total pasien sembuh sebanyak 86 orang, dan pasien yang meninggal 21 orang.
Jubir Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Sumbar, Jasman Rizal mengatakan, di antaranya 32 kasus positif yang dikonfirmasi pada Kamis (14/5), Padang masih menjadi penyumbang terbanyak jumlah kasus positif yaitu sebanyak 27 orang.
Selain Padang, Jasman menyampaikan, kasus pasien positif Covid-19 juga ditemukan di Limapuluh Kota dua orang. Kemudian, satu kasus pasien positif Covid-19 ditemukan di tiga kabupaten/ kota lainnya yaitu, Padangpariaman, Kepulauan Mentawai dan Kota Payakumbuh.
Selain penambahan kasus pasien positif, Pemprov Sumbar juga mengonfirmasi adanya 3 pasien positif dinyatakan sembuh setelah melakukan pemeriksaan swab sebanyak 2 kali dan hasilnya negatif Covid-19. Selain itu, dua orang pasien positif meninggal asal Balailamo Salido dan Sungaitarab. (a)
Sumber: padek.jawapos.com 15 Mei 2020

Anggota DPR Apresiasi JPS Konsisten Beritakan Pandemi Covid-19

Anggota Komisi VI DPR RI, Nevi Zuairina mengapresiasi konsistensi Jaringan Pemred Sumbar (JPS) dalam memberitakan penanganan pandemi Covid-19. Meski banyak media massa dan karyawannya yang terdampak ekonomi akibat Covid-19, mereka tetap profesional dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistik.
“Salut dan ibu tahu kawan-kawan di JPS pasti ikut terdampak atas musibah Coronavirus yang sudah masuk bulan ketiga ini,” ungkap Nevi Zuairina, Jumat (15/5) di Padang.
Nevi mengatakan, Nevi, meski terdampak, pers tetap menjdi garda terdepan dalam penyampaian informasi tentang pandemi. “Pers adalah garda terdepan dan rekan JPS konsisten memberitakan penanganan Covid-19 Sumbar,” jelas Nevi.
Menurutnya, walaupun pandemi dan penerapan pembatasan sosial, namun silaturahmi harus tetap terjaga. Nevi berharap, insan media dalam bekerja tetap menjaga kesehatan dan taat protokol kesehatan.
“Mohon kawan-kawan di JPS, selalu taat protokol kesehatan dalam bekerja. Apalagi ibu ada baca survei Unpad sekitar 45.92 persen jurnalis depresi akibat Covid-19. Semoga sahabat pers di Sumbar tidak seperti itu,” harapnya.
Nevi Zuairina selama pandemi Covid-19 terus menebarkan kepedulian kepada masyarakat Sumbar, mulai dari pembagian 9.000 paket sembako sampai menyerap produk UMKM serta penyediaan paket berbuka di daerah pemilihan DPR RI Sumbar II.
“Saya merasakan dampak luar biasa atas musibah ini, semua orang terdampak Covid-19. Sabar dan mohon doa masyarakat, semoga musibah ini segera berlalu dari negeri atas izin Allah SWT,” pungkasnya. (rel/esg)
Sumber: padek.jawapos.com 15 Mei 2020

Riza Falepi tak Jadi Maju di Pemilihan Gubernur Sumbar

PAYAKUMBUH – Keputusan DPP PKS sampai saat ini belum turun terkait bakal calon yang akan diusungnya. Tapi, Walikota Payakumbuh H. Riza Falepi, memastikan diri tidak maju dalam konteslasi politik perburuan kursi Gubernur Sumbar, periode lima tahun ke depan, 2021-2026.
Walikota Payakumbuh H. Riza Falepi bersama Walikota Padang H. Mahyeldi, merupakan dua kader PKS terbaik yang digadangkan sangat berpeluang untuk menjadi calon Gubernur Sumbar. Keduanya, merupakan kepala daerah dua periode di Payakumbuh dan di Padang. Keduanya pun berpeluang besar merebut kursi BA 1 Sumbar. 
Namun, kenapa Riza Falepi memilih tidak maju kepemilihan Gubernur Sumbar periode lima tahun mendatang. Alasannya realistis saja, hasil survei Mahyeldi lebih baik daripadanya. Mantan senator DPD RI itu, mengakui secara jujur, lebih baik fokus melakukan pencegahan dan menghentikan laju peredaran wabah Virus Corona Disease atau Covid-19 di Payakumbuh, ketimbang berburu kursi gubernur. 
“Saya harus menyelamatkan rakyat Payakumbuh dari ancaman Covid-19. Jadi tak berpikir lagi dengan hal-hal lain, termasuk dengan percaturan permainan politik, pilgub ini,” ujar Riza Falepi, kepada topsatu, Jumat (15/5), yang baru saja dinobatkan sebagai kepala daerah terbaik di Sumbar, dalam penanganan pencegahan Covid-19 bersama Walikota Padangpanjang dan Walikota Bukittinggi versi Kabarnagari.
Dikatakan Riza, hasil survei pemilihan Gubernur Sumbar, Mahyeldi lebih baik daripada dirinya. Meski belum menjamin, tapi dalam perhitungan objektif sejumlah lembaga survei Mahyeldi berada diatasnya. Riza mencontohkan hasil survei terakhir Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis akhir Desember lalu, menunjukkan dukungan kepada Mahyeldi mengalahkan dirinya. 
Menjawab pertanyaan media, terhadap dukungan yang telah diberikan kepada Riza saat ini, Walikota Payakumbuh bertabur prestasi ini, meminta maaf yang sebesar-besarnya. Sebaliknya, Riza menyampaikan penghargaan dan ucapan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan itu.
“Mohon maaf, jika mengecewakan hati para pendukung. Dan saya aturkan terimakasih atas dukungan yang diberikan selama ini. Semoga Allah SWT memberi pahala setimpal atas keikhlasan semua warga, dalam memberikan dukungan selama ini kepada saya,” kata Riza.
Menurut Riza, apapun keputusan DPP dalam penetapan calon gubernur nanti, ia legowo. Dan siap memberikan dukungan buat Mahyeldi. “Sebagai kader yang baik dan militan, saya mengajak seluruh pendukung untuk mengantarkan Mahyeldi merebut kursi Gubernur Sumbar kedepannya,” pungkasnya. (bule)

Sumber: hariansinggalang.co.id 15 Mei 2020

Rabu, 13 Mei 2020

Bolehkah Iktikaf di Rumah?

BOLEHKAH IKTIKAF DI RUMAH?

Oleh: Irsyad Syafar

Hari ini sudah hari ke 20 Ramadhan. Itu artinya malam nanti adalah malam ke 21. Berarti kita sudah memasuki 10 malam terakhir yang sangat istimewa.

Pada 10 malam terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW meningkatkan amal shalehnya. Beliau hidupkan malamnya dan Beliau bangunkan keluarganya. Sebagaimana hadits dari Aisyah ra, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.

Artinya: "Nabi SAW bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan beribadah dan membangunkan keluarga Beliau." (HR Bukhari).

Cara Beliau menghidupkan 10 hari terakhir Ramadhan adalah dengan melakukan iktikaf. Dari
hadits riwayat ‘Aisyah ra, beliau mengatakan:

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ.

Artinya: "Nabi SAW beriktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Beliau wafat, kemudian para istri beliau beriktikaf sepeninggal Beliau.” (HR Bukhari dan Muslim).

Maka iktikaf adalah ibadah sunnat yang sangat dianjurkan. Pelaksanaanya harus dilakukan di masjid sebagaimana firman Allah SWT:

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ.

Artinya: “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud.” (QS Al Baqarah: 125).

Dalam ayat lain Allah SWT juga berfirman:

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ.

Artinya: “(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf dalam masjid.” (QS Al Baqarah: 187).

Timbul pertanyaan, dalam situasi darurat covid 19 ini, bagaimana cara kita iktikaf? Bolehkan kita iktikaf di rumah sebagaimana shalat wajib dan tarawih sudah dipindah ke rumah?

Jumhur ulama menyatakan bahwa iktikaf hanya bisa di masjid. Dan itu berdasarkan dalil-dalil ayat dan hadits yang disampaikan di atas. Bahkan sebagian ulama mensyaratkan masjidnya harus masjid Jami' yang disana dilaksanakan shalat Jumat.

Namun ada pendapat dari kalangan ulama Hanafi yang membolehkan iktikaf di rumah. Hanya saja pendapat ini lemah karena tidak didukung oleh dalil yang memadai.

Akan tetapi, dalam suasana wabah yang masih belum reda ini, tentulah sangat riskan untuk melakukan iktikaf di masjid. Kecuali masjid yang berada jauh di perkampungan, perbukitan dan desa-desa terpencil yang tidak ada kasus covid disana, dan penduduknya semua terkendali, tidak ada yang keluar masuk.

Adapun masjid di perkotaan tentu tidaklah kondusif. Resikonya sangat berbahaya. Sebab penularan antar penduduk sudah terjadi. Mengambil ibadah yang sunnah dengan resiko penyakit berbahaya tentulah tidak dianjurkan.

Maka dalam kondisi ini, memungkinkan untuk memakai pendapat yang lemah. Paling tidak, sunnah Rasulullah SAW untuk menghidupkan 10 hari terakhir dapat diamalkan.

Untuk itu tentu perlu pengkondisian tempat dan suasana di rumah untuk melakukan iktikaf:

1. Menyediakan tempat atau ruang khusus untuk dijadikan sebagai masjid rumah.
2. Memperbanyak dan memperlama keberadaan kita di ruang tersebut untuk beribadah.
3. Mengurangi aktifitas keluar dari ruang tersebut kecuali karena keperluan yang darurat.
4. Memasang niat untuk iktikaf.
5. Mengajak keluarga untuk menghidupkan suasana ibadah di tempat tersebut.

Sekurang-kurangnya, ini upaya maksimal kita untuk meraih keutamaan 10 malam terakhir Ramadhan. "Allah tidak bebani hambaNya kecuali sebatas kemampuannya."

Waffaqanallahu waiyyakum ajma'in.

Rabu, 22 April 2020

Peduli Dampak Covid-19 : SATGAS PENANGGULANGAN COVID19 DPW PKS Sumbar Bagikan Puluhan Paket Sembako Kepada Warga

Peduli Dampak Covid-19 : SATGAS PENANGGULANGAN COVID19 DPW PKS Sumbar Bagikan Puluhan Paket Sembako Kepada Warga

Sebagai wujud kepedulian terhadap dampak wabah covid 19, Satgas Penanggulangan Covid19 DPW PKS Sumatera Barat membagikan puluhan paket sembako kepada warga yang terdampak, Selasa (21/04) di kantor DPW PKS Sumatera Barat. Kegiatan ini merupakan salah satu dari banyak agenda sosial yang dilakukan oleh Satgas untuk membantu masyarakat.

Penyerahan paket sembako ini langsung diserahkan oleh Ketua Satgas Hamdanus, S.Fil.I., M.Si, dan dihadiri oleh perwakilan struktur DPW PKS Sumbar H Rinaldi, SP, Dt Rajo Mangkuto. Paket sembako yang dibagikan adalah berupa beras, telur dan minyak goreng. Hamdanus selaku ketua satgas mengharapkan, dengan pembagian sembako ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat akibat dampak ekonomi yang terjadi akibat wabah ini.

Dalam kegiatan ini, DPW PKS Sumbar diwakili oleh H Rinaldi, SP, Dt Rajo Mangkuto menghimbau untuk semua kader PKS, Fraksi PKS Provinsi hingga Kabupaten kota untuk berperan aktif dalam kegiatan sosial untuk membantu masyarakat, sedikit banyaknya bantuan yang diberikan tetap akan dapat meringankan beban masyarakat.

Satgas Penanggulangan Covid19 DPW PKS Sumatera Barat dibentuk oleh DPW PKS Sumbar guna mempercepat penyaluran bantuan yang didapat dari Anggota Legistatif, kader-kader PKS dan simpatisan. Hingga saat ini, satgas PKS seluruh kota dan kabupaten telah bergerak menyalurkan bantuan berupa APD, Ribuan masker dan ribuan paket sembako kepada masyarakat dan layanan kesehatan.

Selasa, 24 Desember 2019

Kerukunan Umat Beragama


Oleh: Irsyad Syafar

Desember ini Kementerian Agama mengumumkan indeks Kerukunan Umat Beragama di Indonesia. Hasilnya bukan main mengagetkan banyak pihak. Provinsi Papua Barat menempati posisi "Rukun Tertinggi". Sedangkan Aceh menjadi provinsi terendah tingkat kerukunannya, serta Provinsi Sumatera Barat berada pada posisi nomor dua terendah.

Hasil indeks KUB ini sontak membuat heboh publik. Terutama masyarakat di kedua provinsi terendah, yang nota bene provinsi mayoritas tertinggi penganut agama Islam. Seolah-olah umat mayoritas tidak rukun dengan yang minoritas. Komentar-komentar miring dan respon negatif terhadap indeks ini muncul di berbagai media. Terutama tentunya di media sosial.

Respon negatif ini mayoritasnya mempertanyakan indeks kerukunan tersebut. Validkah datanya? Apa saja kriteria dan alat ukurnya? Siapakah yang melakukan survey dan penelitian? Di mana saja sampelnya diambil? Berapa jumlah respondennya?

Keraguan publik itu sangat wajar. Sebab selama ini (minimal di tahun 2019) umat beragama di Aceh dan Sumbar rukun-rukun saja. Tidak satupun masjid atau gereja yang diganggu oleh umat yang berlainan agama. Juga tidak ada tindakan intimidasi atau penganiayaan kepada penganut agama yang minoritas.

Bahkan di Sumatera Barat, sudah puluhan tahun ada gereja yang jaraknya tidak terlalu jauh dari masjid, damai-damai saja. Lonceng gereja berbunyi setiap pagi, sementara rumah-rumah di sekelilingnya adalah kaum muslimin, tidak pernah menjadi masalah, apalagi keributan. 

Termasuk saya sendiri, yang tinggal di rumah mertua di belakang gereja di Payakumbuh. Kami hidup rukun dan damai. Hampir seluruh rumah di sekeliling gereja adalah umat Islam. Dan ada dua masjid berjarak tidak lebih dari 200 m dari gereja. Suara adzan dan lonceng gereja yang kadang datang bergantian, tak pernah sedikitpun menjadi masalah. Dan itu sudah berlangsung hampir setengah abad.

Tak pernah terjadi di Sumbar yang mayoritas muslim, gangguan terhadap orang yang pergi ke gereja atau rumah peribadatan lainnya. Atau larangan berhari natal bagi kaum Nashrani. Semuanya tidak pernah terjadi. Lalu, kenapa kerukunan umat beragama di Sumbar termasuk paling rendah?

Provinsi Papua Barat mendapat skor tertinggi. Juga Provinsi Papua berada jauh di atas Sumbar. Ini ada apa? Apakah muslim minoritas sangat-sangat nyaman beribadah di sana? Yang publik ketahui selama ini, konflik beragama selalu berulang-ulang terjadi. Masih segar dalam ingatan masyarakat Sumbar, khususnya Kabupaten Pesisir Selatan, puluhan warga Minang yang muslim tewas dibantai di Wamena. Lalu dinyatakan disana yang paling rukun? Logikanya dimana? Surveynya pakai sampel siapa saja?

Kementerian Agama harus menjelaskan secara rinci dan transparan tentang indeks kerukunan ini. Pertama, karena ini memakai anggaran negara dan rutin dilakukan setiap tahun. Kedua, agar masyarakat juga paham apa alat ukurnya. Bahkan sekalian mereka diberi edukasi bagaimana kerukunan yang benar dan baik itu. Supaya di tahun-tahun berikutnya mereka bisa menjadi lebih baik. 

Berdasarkan berita dari beberapa media, Kementerian agama menyatakan bahwa indikator kerukunan umat beragama yang dipakai itu ada 3: toleransi, kesetaraan dan kerjasama. Tapi, pihak Kemenag tidak pernah menjelasakan apa maksud dan rincian dari 3 indikator besar tersebut.

Indikator pertama adalah toleransi. Apa makna toleransi bagi Kemenag atau lembaga yang melakukan survey? Kalau toleransi menurut ajaran Islam, sangat jelas operasionalnya dalam Al Quran surat Al Kafirun. Yaitu, aku tak akan ikut ibadah kalian, dan kalian juga tidak boleh ikut ibadah kami. Bagi kalian agama kalian, bagi kami agama kami. Itulah puncak toleransi beragama yang benar. Tapi, kalau toleransinya sudah dengan makna lain, bila anda natal kami ikut pula natal dan memakai atributnya, dan bila kami Idul Fitri kalian ikut juga bersama kami merayakan Idul Fitri, maka sampai hari kiamat pun (insyaAllah) masyarakat muslim Sumbar ataupun Aceh tidak akan mau melakukannya. Biarlah indeks KUB kami paling rendah terus.

Indikator kedua kesetaraan, apa maksudnya kalimat ini? Apa saja indikasi adanya kesetaraan? Adakah masyarakat sudah teredukasi dengan baik tentang kesetaraan ini? Bila maksudnya adalah kesamaan hak dan kewajiban dihadapan hukum dan negara, kita sangat sepakat untuk itu. Di Sumbar, kalau ada antrian, tidak pernah terjadi muslim didahulukan di depan, lalu non muslim di belakang. Pelayanan publik tak pernah ada pemisahan agama. Tidak ada warga kelas dua sama sekali.

Indikator ketiga adalah kerjasama. Apakah maksudnya kerjasama ini? Pernahkah pihak Kemenag mengedukasi masyarakat tentang kerjasama yang baik?Kalau yang dimaksud adalah kerjasama dalam hal-hal umum dan kehidupan bermasyarakat, seperti gotong-royong, siskamling dan lain-lain,  sudah pasti itu tidak ada masalah di Sumbar. Lintas agama itu bisa dilaksanakan. Tapi, kalau kerjasama yang dimaksudkan adalah sampai kepada acara doa bersama lintas agama, atau dalam acara yang mayoritas pesertanya umat Islam, lalu ada beberapa hadirin yang non muslim. Kemudian pembacaan doa dipimpin oleh non muslim. Maka ini tentu tidak bisa diterima. Karena hal tersebut telah merusak batasan kesakralan ajaran agama.

Kemudian, kesimpulan indeks KUB ini juga perlu dipertanyakan akurasinya. Sebab, di tahun 2017 dan 2018, Kemenag melakukan survey kepada 7 ribuan orang seIndonesia. Sedangkan di tahun 2019 ada 13.000 respondennya. Sampel sebanyak ini untuk kesimpulan indeks KUB seIndonesia sangatlah cukup dan memadai. Artinya, kesimpulan akhir tentang kerukunan umat beragama di Indonesia secara keseluruhan, memang sesuai dengan angka indeks tersebut. 

Namun, ketika dijadikan sebagai basis data kesimpulan perpropinsi, maka tingkat erornya sangat tinggi. 13.000 orang kalau dibagi rata ke 34 provinsi, maka rata-rata 382 orang responden perprovinsi. Namun kalau dibagi secara proporsional sesuai jumlah dan kepadatan penduduk setiap provinsi, maka besar kemungkinan sampel untuk Sumbar hanya 200an orang saja. Sebab, penduduk Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa tengah bisa lebih dari 5-8 kali lipat penduduk Sumbar. Pastilah porsi sampel di 3 provinsi itu jauh lebih banyak.

Jadi, bila hanya survey kepada dua ratusan orang di Sumbar, lalu dijadikan sebagai patokan dalam menentukan tingkat kerukunan beragama, kesimpulannya tidaklah valid. Kalau mau, satu provinsi itu surveylah sebanyak 1000 orang atau lebih. Baru margin erornya agak kecil dan hasilnya lebih akurat dan valid.

Sekali lagi, masyarakat Sumbar adalah masyarakat yang egaliter dan sangat toleran. Saudara-saudara berbeda agama, tidak pernah diintimidasi disini. Pada momen natal 2019 ini, saudara kami kaum Nashrani di Sumbar, silakan merayakan dan melaksanakan ritual natalnya, sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Kami tidak akan mengganggu ataupun menghalangi.

Wallahu A'laa wa A'lam.

Jumat, 13 Desember 2019

Galodo Solsel: PKS Evakuasi Korban, Buka Dapur Umum



Galodo yang melanda sebagian wilayah Kab Solok Selatan secara serentak Jum'at (13/12) subuh dini hari tadi, menimbulkan banjir di wilayah tersebut, puluhan rumah rusak dan sampai merenggut korban jiwa.

Sebagian warga di beberapa wilayah terisolasi karena banjir yang mencapai setinggi bahu orang dewasa, membuat mereka takut untuk keluar rumah.

DPD PKS Solok Selatan bergerak cepat sejak subuh waktu setempat mulai membuka POSKO TERPADU  PKS untuk Galodo SOLSEL yang dipusatkan di Jorong Bancah, Pakan Raba'a Tengah.

Sampai dengan sore waktu setempat Posko yang juga difungsikan sebagai dapur umum tersebut telah mensuplai lebih kurang 500 nasi bungkus ke beberapa wilayah yang terendam banjir dan terisolasi.

Puluhan relawan mulai dari pengurus DPD PKS, Kader dan simpatisan ikut bahu-membahu mendistribusikan makanan ke lokasi korban banjir, di antaranya ke Jorong Sawah Tau, Pakan Raba'a Tengah, Kampung Tarandam, Kampung  Palak dan beberapa lokasi lainnya.

Selain mendistribusikan nasi bungkus tim relawan PKS juga melakukan evakuasi warga di beberapa lokasi yang terisolasi dengan memanfaatkan perlengkapan seadanya seperti tali temali dan benen untuk membantu warga, seperti penuturan Effendi Muharram Ketua DPD PKS Solok Selatan yang terjun langsung bersama relawan.

Ditambahkan juga Posko Galodo PKS Solok Selatan di Jorong Bancah juga menerima berbagai bentuk bantuan dari masyarakat umum untuk disalurkan kepada korban galodo dalam berbagai bentuk.

Sementara ini bantuan yang disalurkan bersumber dari pengurus PKS, Kader dan Simpatisan yang melakukan badoncek melalui grup sosial media maupun secara langsung

Selanjutnya mulai malam ini sampai dengan besok kami merencanakan untuk menambah kapasitas tempat untuk memasak dan juga tenaga, mengingat masih banyak nya korban yang terisolasi karena banjir dan juga rumah mereka yang rusak sehingga kesulitan untuk mendapatkan bahan makanan, tutur ketua DPD PKS Solok Selatan tersebut. (HumasPKSSB)

Senin, 09 Desember 2019

Wacana dan Aksi Nyata



Oleh: Irsyad Syafar

Saya membaca di sebuah media tentang pernyataan Mendikbud, dalam sebuah pidatonya yang menyatakan bahwa kita tengah melewati fase yang tidak menentu. Dimana gelar tidak lagi menjamin kompetensi, mahasiswa lulus belum tentu bisa berkarya, akreditasi tidak menjamin mutu, hingga belajar tidak lagi harus di kelas.

Statement Mendikbud ini menurut saya bisa menjadi kontra produktif. Sebab berpotensi menimbulkan berbagai persepsi dan kesimpulan. Dan kemudian akan membuka ruang perdebatan yang sebenarnya tidak perlu.

Pertama, bisa saja banyak orang akan memahami bahwa orang-orang yang memiliki gelar akademik itu, tidak atau belum bisa dipercaya. Kemudian akan menyebabkan krisis kepercayaan kepada lembaga yang memberikan gelar. Dan ini justru melemahkan banyak lembaga pendidikan yang ada di Indonesia.

Kedua, bisa juga ini dikesankan bahwa Pak Menteri lagi membela dirinya. Sebab beliau memimpin sebuah kementerian yang Beliau sendiri tidak punya gelar akademik yang sesuai dengan kementerian tersebut. Tapi Beliau merasa punya kompetensi dan kualitas untuk itu. Namanya kesan, bisa saja begitu.

Ketiga, juga dikesankan pernyataan seperti ini (bila benar dari Beliau) menafikan kerja kementerian Pendidikan sejak puluhan tahun yang lalu, dalam membangun dunia pendidikan Indonesia. Dimana, walau sudah berijazah, sudah lulus, sudah akreditasi, tapi semua itu bukanlah jaminan.

Dan banyak lagi kesan serta persepsi yang akan muncul dari statement tersebut. Kita akui, pernyataan Pak Menteri mungkin ada benarnya. Itulah realita dunia pendidikan Indonesia, dengan segala permasalahannya. Masyarakatpun juga sudah paham. Tapi untuk apa ditegaskan lagi, oleh seorang Menteri?

Menurut saya, Menteri Pendidikan tak usah lagi berwacana. Apalagi sudah satu bulan lebih dilantik menjadi menteri. Tidaklah pekerjaan puluhan tahun selesai oleh wacana satu bulan. Segera sajalah aksi nyata. Permasalahan riil pendidikan di lapangan menunggu regulasi yang jelas dan aplikasi yang nyata.

Banyak guru mengeluh dengan beban administrasi yang tidak terpakai dalam proses belajar mengajar. Kalau Pak Menteri ingin meringankan mereka semua, segerakan saja.

Masih sangat banyak sekolah negeri yang kekurangan guru-guru PNS (ASN). Bahkan di kampung saya di Kab. Limapuluh kota, ada beberapa sekolah negeri yang guru ASNnya tak sampai sebanyak jari di satu tangan. Mayoritas yang mengajar adalah guru honor.

Dan permasalahan guru honor ini sudah sangat meresahkan. Pemberian upah mereka yang sangat tidak manusiawi dan juga ketidakjelasan regulasi dalam memberikan upah tersebut. Sesungguhnya negara berhutang budi kepada para guru honor. Kalau semua guru honor di tanah air mogok mengajar agak satu bulan saja, bisa lumpuh dunia pendidikan di Indonesia.

Lebih dari itu, dalam Undang Undang Sisdiknas sudah dinyatakan dengan tegas bahwa tujuan pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. Jadi, bukan membentuk orang kaya atau pengusaha atau simbol-simbol materi lainnya.

Bagusnya Pak Menteri lebih fokus kepada pembangunan iman dan taqwa serta budi pekerti yang luhur. Anak bangsa ini sedang krisis iman dan moral. Miskin adab dan etika. Apa gunanya teknologi hebat tapi akhlaknya nihil. Justru hanya akan semakin mempercanggih kejahatannya.

Dahulu orang tua kalau anaknya pulang sekolah mengadukan bahwa dia dimarahi oleh guru di sekolah, maka si orang tua akan menambahi marahnya guru. Hari ini bila terjadi hal yang sama, orang tua akan datang ke sekolah memarahi guru yang bersangkutan. Dahulu para siswa dan pelajar takut bila dimarahi guru. Hari ini guru takut memarahi anak karena terancam tuduhan pelanggaran HAM. Jangan sampai gara-gara statement ini kemudian seorang mahasiswa S1 santai saja "meremehkan" seorang guru besar karena alasan kompetensi. 

Sebaiknya Pak Menteri kunjungi sekolah-sekolah negeri (tak usah yang swasta) di berbagai pelosok negeri, yang tak tersentuh teknologi bahkan tak ada sinyal. Lihatlah nasib guru di sana, tengoklah bagaimana anak-anak dan para siswa belajar dan perhatikanlah seperti apa sarana prasara sekolahnya. Setelah itu kita tunggu gebrakan Pak Menteri.

Rabu, 15 Mei 2019

Ramadan 10


KISAH DAN 'IBRAH

TEGASNYA DAUD dan BIJAKNYA SULAIMAN

Nabi Daud as adalah Nabi Allah yang mulia. Ia seorang Nabi, Rasul dan sekaligus raja. Ia menjadi raja bagi Bani Israil setelah meninggalnya Thalut, panglima perang melawan Jalut. Keberhasilan Daud membunuh Jalut dalam peperangan, membuatnya dipilih bani Israil sebagai raja sepeninggal Thalut.

Tidak banyak Nabi atau Rasul yang dimuliakan Allah menjadi Raja. Diantara yang sedikit itu adalah Nabi Daud dan anaknya Nabi Sulaiman. Allah menyebutkan tentang kemuliaan Nabi Daud:

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ ۖ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ (10).

Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (QS Saba: 10).

Nabi Daud memiliki kelebihan dalam kekuatan pisik sehingga mampu melunakkan besi dan pandai membuat baju besi untuk berperang. Beliau juga memiliki kemerduan suara yang sangat indah dalam melantunkan ayat-ayat Allah dari kitab zabur.

Tersebutlah bahwa apabila Daud melagukan bacaan kitabnya, maka burung-burung yang ada di udara berhenti dan menjawab­nya, gunung-gunung pun menjawab bacaannya dan mengikutinya. Karena itulah ketika Nabi Muhammad saw ketika melewati Abu Musa Al-Asy'ari r.a yang sedang membaca Al-Qur’an di malam hari, yang suaranya sangat merdu, maka Nabi saw berhenti dan mendengarkan bacaannya. Dan Rasulullah Saw. bersabda:

لَقَدْ أُوتِيَ هَذَا مَزَامِيرَ آلِ دَاوُدَ"

Artinya: "Sesungguhnya orang ini telah dianugerahi sebagian dari kemerduan (keindahan) suara keluarga Nabi Daud yang merdu bagaikan suara seruling." (HR Bukhari dan Muslim dari Aisyah).

Dimasa kekuasaan Nabi Daud as, terjadilah sebuah peristiwa. Ketika itu seorang pemilik kebun anggur mengadukan rusak dan hancurnya kebun beliau oleh kambing-kambing milik tetangganya. Nabi Daud as menerima pengaduan pemilik kebun ini. Sehingga kemudian Beliau memanggil pemilik kambing tersebut untuk diadili dan diminta pertanggung jawabannya. Allah berfirman:

وَدَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ (78).

Artinya: "Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu di rusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu." (QS Al Anbiya: 78).

Imam Ibnu Jarir menjelaskan Bahwa tanaman tersebut adalah pohon anggur yang buahnya telah masak. Lalu dirusak oleh ternak kambing seseorang, sehingga semuanya hancur tidak bersisa. Maka kemudian Nabi Daud menyidangkan perkara tersebut dan kemudian mengeluarkan keputusan.

Keputusan yang diambil oleh Nabi Daud as ketika itu adalah: kambing-kambing itu diserahkan kepada pemilik kebun sebagai ganti rugi kebunnya. Setelah keputusan itu ditetapkan, orang-orang yang berperkara keluar dari majelis Nabi Daud. Tentunya untuk segera mengeksekusi hukuman yang telah diputuskan.

Namun ketika mereka keluar, mereka bertemu Sulaiman anak Nabi Daud. Beliau bertanya kepada mereka tentang keputusan Ayahandanya. Setelah mendengarkan penjelasan mereka, Sulaiman segera menemui ayahandanya. Ia memandang ada keputusan yang lebih baik dan lebih adil dari itu.

Maka Sulaiman berkata, "Bukan demikian keputusannya, wahai Nabi Allah." Daud bertanya, "Lalu bagaimanakah pendapatmu?" Sulaiman mengatakan, bahwa hendaknya kebun anggur itu diserahkan kepada pemilik ternak kambing agar ia menanamnya kembali dan mengurusnya, sampai anggur itu berbuah lagi seperti saat sebelum dirusak kambing. Sebaliknya, kambing-kambing ternak diserahkan kepada pemilik kebun anggur. Pemilik kebun anggur boleh memanfaatkan susu kambing itu dan mendapatkan anaknya. Manakala kebun anggur itu telah kembali berbuah seperti sediakala, maka kebun anggur diserahkan kembali kepada pemiliknya. Begitu pula ternak kambing, diserahkan juga kembali kepada pemiliknya.

Keputusan Sulaiman ini menjadi sangat bijak dan tepat. Dan ini kemudian diambil oleh Nabi Daud dan membatalkan keputusan pertama. Allah berfirman:

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ (79).

Artinya: "maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud Dan Kamilah yang melakukannya." (QS Al Anbiya: 79).

Pada ayat ini Allah memuji Sulaiman atas keputusannya tersebut. Tapi, Allah tidaklah mencela Nabi Daud as, dan tidak menganggapnya zhalim dalam keputusannya. Sebab, Nabi Daud saat memutuskan yang pertama bukanlah dengan hawa nafsu. Melainkan itu ijtihadnya. Disamping itu, semua Nabi dimaksumkan oleh Allah dari perbuatan zhalim. Munculnya pendapat Sulaiman, juga bagian dari cara Allah dalam memaksumkan Nabi Daud dalam mengambil keputusan.

Hampir sama dengan kejadian itu, juga ada riwayat lain terkait pengambilan hukum Nabi Daud dengan anaknya Sulaiman. Hadits riwayat Imam Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:

بَيْنَمَا امْرَأَتَانِ مَعَهُمَا ابْنَانِ لَهُمَا، جَاءَ الذِّئْبُ فَأَخَذَ أَحَدَ الِابْنَيْنِ، فَتَحَاكَمَتَا إِلَى دَاوُدَ، فَقَضَى بِهِ لِلْكُبْرَى، فَخَرَجَتَا. فَدَعَاهُمَا سُلَيْمَانُ فَقَالَ: هَاتُوا السِّكِّينَ أَشُقُّهُ بَيْنَهُمَا، فَقَالَتِ الصُّغْرَى: يَرْحَمُكَ اللَّهُ هُوَ ابْنُهَا، لَا تَشُقه، فَقَضَى بِهِ لِلصُّغْرَى.

Artinya: "Ketika dua orang wanita sedang bersama bayinya masing-masing, tiba-tiba datanglah serigala dan memangsa salah seorang dari kedua bayi itu. Maka kedua wanita itu mengadukan perkaranya kepada Daud. Daud memutuskan peradilan untuk kemenangan wanita yang tertua di antara keduanya, lalu keduanya keluar dari majelis peradilan. Tetapi keduanya dipanggil oleh Sulaiman, dan Sulaiman berkata, "Ambilkanlah pisau besar, aku akan membelah bayi ini menjadi dua untuk dibagikan kepada kamu berdua.” Maka wanita yang muda berkata, "Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya anak ini adalah anaknya, janganlah engkau membelahnya.” Maka Sulaiman memutuskan bahwa bayi itu adalah anak wanita yang muda." (HR Bukhari dan Muslim).

Begitulah Allah berikan sikap ketegasan Nabi Daud dalam menetapkan hukum, dan Allah karuniai kebijaksanaan kepada Sulaiman.

Pelajaran dari Kisah ini:

1. Nabi Daud diberi kemulian oleh Allah berupa kerajaan, kenabian, kerasulan, kekuatan fisik, keindahan suara dan ketegasan dalam hukum. Sedangkan Nabi Sulaiman juga diberikan kemulian berupa kerajaan atas manusia dan binatang, kenabian, kehebatan bahasa dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

2. Siapapun yang memegang amanah dalam memutuskan perkara hukum hendaklah berijtihad semaksimal mungkin untuk memperoleh kesimpulan hukum yang paling baik dan adil, serta jauh dari hawa nafsu.

3. Rujuk dari satu pendapat atau keputusan kepada keputusan yang berbeda tetapi lebih baik, adalah sebuah perbuatan yang terpuji, dan bukanlah sebuah kelemahan dalam kepribadian.

4. Allah memberikan manusia akal dan pikiran untuk digunakan dalam mencari hal yang terbaik untuk kehidupannya demi mencapai redha Allah. Bukan sebaliknya, akal dan kecerdasan digunakan untuk menentang Allah dan syariatNya.

5. Menghormati pendapat orang yang lebih rendah dalam jabatan atau posisi, adalah sebuah akhlak yang mulia dan cerminan kerendahan hati (tawadhuk). Apalagi kalau pendapat itu memang terbukti lebih baik. Maka janganlah seseorang sombong dan angkuh dengan pendapatnya hanya karena jabatannya.

Wallahu A'laa wa A'lam.

H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed

Selasa, 14 Mei 2019

Buya Mahyeldi

Oleh Cahyadi Takariawan

Ada sangat banyak cara orang memanfaatkan waktu saat berada dalam penerbangan dengan pesawat terbang. Sebagia orang menggunakan waktu untuk mengobrol dengan teman duduk di sampingnya, ada yang membaca buku, ada yang menonton film, ada yang mendengarkan musik atau murattal melalui headset, ada yang tilawah, ada pula yang tidur. Saya golongan yang terakhir ini.
Bagi saya, penerbangan adalah jatah istirahat, agar ketika mendarat sudah fresh dan siap langsung berkegiatan dengan fit. Tapi pagi ini saya tidak bisa tidur, saat terbang dari Halim Perdanakusuma menuju Yogyakarta dengan Batik Air. Bukan karena turbulence pesawat, bukan karena cuaca, tapi karena terusik pembicaraan dua orang yang duduk di samping kanan saya.
Biasanya, setelah duduk dan mengenakan seatbelt, saya akan sejenak memeriksa pesan di smartphone, lalu mematikan smartphone, dan bersiap tidur. Pagi inipun berlaku hal seperti itu. Namun baru saja saya bersiap tidur, saya terusik dan dibuat penasaran oleh pembicaraan dua tersebut. Akhirnya saya menjadi tidak bisa tidur.
Sesungguhnya saya tidak berusaha menguping, karena menguping bukan tindakan terpuji. Namun karena mereka mengobrol tepat di samping saya, mau tidak mau saya ikut mendengar dan mengerti isi omongan mereka berdua.
Tampaknya mereka berdua belum kenal satu sama lain, lalu mengobrol ringan untuk memanfaatkan waktu sepanjang penerbangan. Yang satu seorang ibu, satu lagi seorang bapak. Dari pakaian dan penampilannya, keduanya tampak sebagai kalangan profesional. Sepertinya sama-sama orang pemerintahan, sehingga obrolannya nyambung dan asyik.
Yang membuat saya tidak bisa tidur, karena si ibu menyebut-nyebut dan membicarakan salah satu teman saya, Buya Mahyeldi, Walikota Padang,. Si ibu ini sepertinya aparatur sipil negara, di Pemkot Padang yang tengah dinas ke Yogyakarta. Ia bercerita kepada si bapak tentang berbagai program dan kegiatan, sampai akhirnya bercerita tentang Walikota Padang.
Awalnya saya tidak peduli dengan omongan mereka. Namun begitu si ibu menyebut Walikota Padang, telinga saya langsung “berdiri”. Menurut si ibu itu, Walikota Padang adalah orang yang baik. Sebagai pemimpin, beliau sangat merakyat. Si ibu lalu menceritakan kehidupan keseharian Buya.
“Orangnya sederhana. Pakaiannya itu itu saja, kalau tidak baju dinas Pemkot, ya baju warna putih. Tidak pernah berpakaian yang mewah-mewah”, ujar si ibu.
Menurut si ibu, Walikota Padang sangat dekat dengan rakyat. Sejak dulu, beliau suka masuk kampung dan tidak sungkan tidur di rumah-rumah warga. Bahkan pada bulan Ramadhan ini, hampir setiap malam Walikota tidur di rumah warga miskin. Berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain, dari mereka yang tercatat sebagai warga miskin di Kota Padang.
Sungguh saya sangat terharu mendengar penuturan ibu itu.
Si ibu juga menceritakan bahwa Walikota Padang sangat lembut dan santun. Dalam komunikasi dan interaksi sehari-hari, tidak pernah arogan. Hal ini membuat para aparatur menjadi nyaman. Sebagai aparatur daerah, si ibu bisa membandingkan hal ini dengan pemimpin lainnya. Buya Mahyeldi, menurutnya, sangat menjaga sopan santun dalam berkomunikasi dengan orang lain.
“Kalau berbicara, beliau sering mengutip ayat dan hadits. Cara bicaranya halus. Jadi kita itu merasa sejuk mendengarkan arahannya” kata si ibu.
Bukan saja tentang diri Walikota yang diceritakan. Si ibu juga menceritakan istri Walikota yang ternyata juga sangat santun dan Islami. Menurut si ibu, ketika berbicara di forum, istri Walikota juga sering mengutip ayat dan hadits, seperti suaminya, sehingga membuat nyaman yang mendengarkan.
Menurutnya, Walikota Padang bukan hanya baik secara pribadi dan keluarga, namun juga sukses dalam membangun Kota Padang. Sangat banyak perubahan Kota Padang semenjak dipimpin Buya Mahyeldi, termasuk dalam hal kinerja aparatur serta perbaikan sistem pemerintahan. Hal ini menjadi semakin membanggakan bagi aparatur dan masyarakat Kota Padang pada umumnya.
Kedua orang yang tengah mengobrol itu tidak tahu kalau saya ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Walaupun saya mendengar tanpa sengaja, namun akhirnya menikmati sampai selesai. Saya benar-benar tidak tidur hingga pesawat mendarat di Jogja. Hilang sudah kesempatan saya untuk istirahat di pesawat seperti biasanya. Namun tergantikan oleh sebuah kisah yang mencengangkan bagi saya tentang Buya Mahyeldi.
Saya sudah lama tidak bertemu beliau, sehingga tidak update terhadap kegiatan beliau akhir-akhir ini. Saya bersyukur tanpa sengaja telah mendapat update kondisi beliau hari ini dari obrolan ringan yang tanpa sengaja saya dengarkan.
Si ibu bercerita lancar tanpa beban, karena ia tidak tahu kalau saya teman Buya, juga tidak tahu kalau mendengarkan omongannya. Jadi saya menilai cerita itu tulus, bukan mengada-ada, bukan untuk mencari point atau semacamnya,  karena bercerita kepada orang yang baru saja dikenalnya di pesawat.
Mendengar itu semua, saya semakin kagum dengan Buya Mahyeldi. Sosok pemimpin daerah yang kharismatik, membuat nyaman aparatur pemerintahan, membuat sejuk suasana kerja, sangat merakyat, bahkan rela tidur bersama oramg miskin di rumah mereka. Saya merinding mendengar itu semua.
Kita masih ingat, dulu pernah ada Walikota yang dikabarkan suka blisukan, dan tiap hari serentak diberitakan koran serta TV nasional. Semua media gencar memberitakan si Walikota yang dianggap sederhana tersebut. Orang tidak tahu bahwa untuk bisa masuk pemberitaan media nasional secara massif itu tidak gratis. Butuh biaya besar untuk mencitrakan diri sebagai sederhana dan merakyat.
Bandingkan dengan Walikota Padang yang satu ini. Buya Mahyeldi, benar-benar dekat dengan rakyat, sosok yang hangat bersahabat, rela meninggalkan kasur empuknya di rumah dinas untuk tidur di rumah rakyat miskin setiap malam selama Ramadhan. TV nasional mana yang memberitakannya? Koran nasional apa yang meliput?
Sepertinya tak banyak orang mengenal Mahyeldi. Tak banyak orang mengerti kiprahnya. Tidak terkenal orangnya, layaknya para celeb poliikus lainnya. Juga tidak viral kisah dirinya. Tapi saya yakin, ia sangat terkenal oleh penduduk langit yang terus menerus mendoakannya, agar ia dikuatkan Allah untuk memimpin Kota Padang, kelak memimpin Sumatera Barat, bahkan bisa memimpin Indonesia. Tanpa pencitraan. Pemimpin seperti ini yang dirindukan masyarakat Indonesia.
Salam takzhim dari sahabat sekaligus muridmu, Buya Mahyeldi. Aku semakin kagum dan hormat kepadamu.
Terimakasih pula kepada ibu yang telah bercerita apa adanya, sehingga saya mendapatkan update informasi tentang sahabat saya.
Batik Air ID 7531, Jakarta Halim Perdanakusuma – Yogyakarta, take off 09.30 WIB, kursi 20 A. Selasa 14 Mei 2019.
Sumber: ruangbaca dot id