Penghargaan Energi Nasional 2012

Gubernur Sumbar menerima Penghargaan Energi dari Menteri ESDM Jero Wacik

Investment Award 2011

Gubernur Sumbar menerima penghargaan dari pemerintah pusat sebagai provinsi terbaik bidang penanaman modal.

Menolak Kenaikan Harga BBM

Wakil Ketua DPRD Sumbar yang juga Ketua DPW PKS Sumbar ketika diwawancarai wartawan terkait demonstrasi mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM.

Penyalur BOS Tercepat 2012

Gubernur Sumbar mendapat penghargaan sebagai provinsi penyalur dana BOS tercepat tingkat nasional tahun 2012.

Penghargaan Lingkungan Hidup 2012

Gubernur Sumbar pada tahun 2012 kembali mendapatkan penghargaan lingkungan hidup tingkat nasional dimana pada tahun 2011 juga telah mendapat penghargaan yang sama.

Pages

Selasa, 17 Oktober 2017

Daftar Pengurus DPW PKS Sumbar


Berdasarkan Surat Keputusan Dewan Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera No. 827/SKEP/DPP-PKS/1437 tentang Struktur dan Kepengurusan Dewan Pengurus Wilayah  Partai Keadilan Sejahtera Provinsi Sumatera Barat Periode 2015-2020, susunannya adalah sebagai berikut:

Klik di sini

Rabu, 04 Oktober 2017

Pemprov Sumbar Peroleh Penghargaan Laporan Keuangan Capaian Standar Tertinggi

Padang, Singgalang
Kementerian Keuangan memberikan penghargaan kepada Pemprov Sumbar sebagai memiliki laporan keuangan dengan capaian tertinggi pada 2016. Penghargaan itu diserahkan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharan Provinsi Sumbar, Ade Rahman kepada gubernur di istana gubernuran Selasa, (3/10).

“Saya mendapat mandat dari Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk menyerahkan langsung ke Gubernur Sumbar Irwan Prayitno penghargaan ini,” sebut Ade Rahman.

Dikatakannya, pada Daerah (LKPD) Sumbar kembali memperoleh meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksaan Keuangan  (BPK) RI. Keberhasilan ini capaian yang luar biasa, Sumbar mendapatkan WTP lima kali berturut-turut.

Dikatakannya, upaya yang dilakukan  Sumbar untuk mempertahankan WTP inilah yang menjadikan Kementerian Keuangan menghargainya dengan memberikan penghargaan ini. Sebab bukan perihal mudah mempertahankan WTP yang telah diperoleh selama 5 tahun berturut-turut sejak tahun 2012.
“Semoga penghargaan ini dapat mendorong semangat dari pemerintah provinsi Sumbar dalam pencapaian WTP di tahun berikutnya. Opini WTP yang diperoleh Pemprov Sumbar juga mendorong pemerintah kabupaten/ kota di Sumbar untuk mendapatkan WTP. Pada tahun 2016, 17 kabupaten/kota mendapatkan WTP. Ini capaian luar biasa,” ujarnya.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyampaikan apresiasinya kepada Kementerian Keuangan yang telah menyerahkan penghargaan kepada Pemprov Sumbar, karena telah berhasil menyusun dan menyajikan LKPD capaian standar tertinggi, yakninya WTP.

“Semoga penghargaan yang diperoleh dari pemerintah pusat melalui menteri keuangan ini dapat semakin memacu semangat dari seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mempertahankan WTP yang telah diperoleh selama lima tahun berturut-turut ini,” ungkapnya pada kegiatan yang juga dihadiri Wakil Gubernur Nasrul Abit, Kepala Bappeda Hansastri dan Kepala Biro Humas Jasman Rizal.

Disebutkannya, sejak menjabat sebagai gubernur periode pertama 2010, ia sudah berkomitmen untuk memperbaiki laporan keuangan daerah. Komitmen itu ditunjukkan dengan dibentuknya Biro Aset di bawah sekretariat daerah untuk memperbaiki laporan tentang aset yang sebelumnya bermasalah, akibat gempa 2009.

“Dengan dukungan seluruh ASN dan OPD, akhirnya WTP dapat kita peroleh sejak tahun 2012 hingga tahun 2016 kemarin. Semoga opini WTP ini dapat kembali diperoleh di tahun berikutnya,” jelasnya.

Gubernur Sumbar merasa surprise dengan penghargaan yang diberikan langsung kementerian keuangan untuk Provinsi Sumbar. Sebab tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu akan mendapatkan penghargaan ini. “Saya hanya diberitahukan kalau ada tamu yang datang. Ternyata yang datang itu utusan Menteri Keuangan RI yang langsung menyerahkan penghargaan ini,” ungkapnya.

Singgalang, 4 Oktober 2017

Sumber: irwan-prayitno.com

Senin, 02 Oktober 2017

Mudahkan Investasi dan Layanan Publik : Gubernur Terima Attractiveness Award

PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatra Barat menerima penghargaan Indonesia Attractiveness Award 2017. Penghargaan itu diberikan atas keberhasilan pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi daerah dan bagaimana mengelola pembangunan ekonominya.

Penghargaan tersebut diberikan Majalah Tempo dan Frontier Konsultan diserahkan kepada Gubernur Irwan Prayitno di Ballroom Westin Hotel Jakarta, Jumat (29/9).

“Ini merupakan bentuk apresiasi Tempo dan Frontier Consulting Group melalui Indonesia Attractiveness Award (IAA) yang telah menilai Sumber sebagai provinsi yang komitmen mengembangkan potensi daerah, serta pengelolaan ekonomi,” ujar Irwan Prayitno usai menerima penghargaan tersebut.

Dikatakannya, dalam penghargaan itu, Pemprov Sumbar menjadi yang terbaik dalam kategori Provinsi Terbaik dan menarik dalam Kemudahan Berinvestasi, Pelayanan Publik, Kepariwisataan dan Pembangunan Infrastruktur di Indonesia tahun 2017.

Selain itu penilaiannya itu tidak hanya sekadar mengembangkan potensi ekonomi dan target pertumbuhannya, yang juga diperhatikan adalah memastikan semua itu dapat dinikmati dengan merata. Di sinilah peran pemerintah provinsi, menjadi krusial. Dan, Pemprov Sumbar telah menunjukkan komitmennya supaya daerahnya turut merasakan pertumbuhan.

Disebutkannya, IAA ini merupakan penyelenggaraan ketiga TEMPO dan Frontier. Untuk menghasilkan pemeringkat IAI, metodologi yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Tim peneliti menyisir data-data sekunder dan primer (Mystery calling, analisis digital dan media sosial) dari 508 kabupaten/ kota dan 34 Provinsi.

“Pengumpulan data primer dilakukan dari Mei hingga Juni 2017. Sedang data sekunder dikoleksi sejak awal 2016,” katanya.

Adapun indikator itu, yakni Indikator kontribusi PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) terhadap PDRB Provinsi dan peningkatan PDRB meningkat secara signifikan dari tahun sebelumnya. Kemudian, pertumbuhan PDRB harus lebih besar dari rata-rata pertumbuhan koridor atau PDRB per kapita lebih besar dari rata-rata PDRB per kapita koridor.

Lanjutnya, penghargaan ini merupakan buah kerja keras semua stakeholder terkait di Sumbar dan penghargaan ini merupakan penghargaan untuk masyarakat Sumbar baik yang diranah ataupun yang dirantau.

“Kita jangan terlena dengan adanya penghargaan yang didapat, namun dengan adanya penghargaan ini menambah motivasi kita semua untuk berbuat lebih baik lagi demi Sumbar yang sejahtera,” pungkasnya.

Singgalang, 2 Oktober 2017

Sumber: irwan-prayitno.com

Minggu, 01 Oktober 2017

Berinvestasi di Tanah Minangkabau

Tanah Minangkabau sedang bersolek. Pemerintah  Provinsi (Pcmprov) Sumatera  Barat gencar membangun infrastruktur jalan nasional sepanjang 1.200 kilometer, jalan provinsi 1.154 kilometer, dan jalan kabupaten atau kota sejauh 15.200 kilometer.

Pembangunan jalan tersebut bukan tanpa tujuan. Pemprov Sumatera Barat berharap investor datang menanamkan investasinya di nagari yang dikelilingi pegunungan, lembah, dan sungai tersebut. Pemprov juga telah menyiapkan Bandar Udara (Bandara) Internasional Mìnangkabau (BlM) dan Pelabuhan Internasional Teluk Bayur, untuk memudahkan arus distribusi barang dan transportasi bagi investor.

Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengatakan. Pemprov menawarkan empat peluang investasi yang menjanjikan kepada investor dalam negeri maupun asing. Keempat peluang investasi tersebut adalah energy, pendidikan, pariwisata, dan industri. ‘Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat cukup kuat dan relatif stabil. Inflasi juga berhasil ditekan rendah’, katanya. Hingga Juli 2017,  Inflasi Sumatera Barat berada pada angka 3,93 persen, sementara infiasi nasional 3,33 persen.

Untuk bidang energi, Gubernur Irwan menuturkan Pemprov saat ini sedang  mengembangkan energi berbasis panas bumi atau geotermal. ‘Sumatera Barat memiliki 17 lokasi sumber energy geotermal yang mampu menghasilkan listrik lebih dan 1.600 MW.  Satu lokasi geotermal sudah dieksplorasi, saat ini sedang dikerjakan Supreme Energy, sementara dua lokasi masih disurvei oleh Hitay Energy”, ujarnya.

Selain energi panas bumi, Sumatera Barat juga mengembangkan energy tenaga air. “Sumatera Barat memiliki 45 lokasi energi tenaga air dengan luastangkapan sebesar 37.121,5 kilometer persegi dan potensi energi sebesar 383,83 MW,” ucapnya.

Di bidang pendidikan, Pemprov saat ini sedang mengembangkan pusat pendidikan di Kota Tarok, Padang Pariaman, berjarak sekitar 66.3 kilometer dan Kota Padang, dengan luas area mencapai 697 hektare. Beberapa kampus akan dibangun di daerah ini, antara lain Institut Seni Padang Panjang, Universitas Negeri Padang, Gedung Pelatihan Lembaga Administrasi Negara, Lembaga Sandi Negara, serta rumah sakit integrasi vertilcal. “Kami membuka peluang investasi berupa hotel, apartemen, dan ruang konvensi,” tuturnya.

Di bidang pariwisata, Irwan menuturkan, setelah berhasil memperoleh penghargaan World’s Best Halal Culinary Destination dan World’s Best Halal Destination & World Halal Tourism Award 2016, Sumatera Barat dianggap sebagai salah satu tujuan wisata utama di Indonesia, setelah Bali dan Yogyakarta. “Pemandangannya menakjubkan, begitu pula dengan keunikan budayanya. Kesempatan berinvestasi di sektor pariwisata terbuka lebar, mulai hotel, resor, lapangan golf, MICE, hingga travel agent,” tuturnya.

Beberapa spot destinasi menarik yang bisa dikunjungi, di antaranya Pulau Mentawai yang dikenal dengan spot diving, surfing, dan snorkeling nan menakjubkan, juga Kawasan Wisata Laut Terpadu Mandeh yang sohor dengan sebutan ‘The South of Paradise”.

Adapun di bidang industri, Irwan mengatakan, Pemprov Sumatera Barat saat ini sedang mengembangkan kawasan industri yang berlokasi di Resor Anai, Kabupaten Kayu Tanam, untuk pengolahan dan pemasaran bubuk cokelat dan permen cokelat.

Pemprov juga menyiapkan kawasan industri untuk pergudangan, manufaktur, serta pusat bisnis dan jasa di Kabupaten Padang Pariaman.

“Setelah menyelesaikan syarat dan prosedur investasi, seperti lisensi investasi, surat informasi ketersediaan lahan, dan izin kerja, dalam tiga jam investor sudah bisa memulai bisnis di Sumatera Barat,” katanya.

Majalah Tempo, edisi 24 September – 1 Oktober 2017

Sumber: irwan-prayitno.com

Senin, 18 September 2017

Irwan Prayitno Dinilai Terbaik Kembangkan EBT

PADANG — Sumatra Barat dianggap telah mampu mengakselerasi pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dengan baik. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), misalnya, dikebut demi mencukupi kebutuhan pasokan listrik masyarakat yang terus meningkat. 
 
Sebagai ganjarannya, Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno menyabet predikat Kepala Daerah yang Mempunyai Inisiatif Mendorong Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan tahun 2017.
 
Penghargaan yang diinisiasi oleh majalah Gatratersebut diberikan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan. Tim penilai beranggapan Irwan mampu memosisikan diri sebagai kepala daerah yang terbaik dalam berinisiatif mendorong EBT di Indonesia selama 2017.
 
Inisiatif pengembangan green energy di Sumatra Barat adalah sangat penting, mengingat kontur alam Sumbar yang memiliki potensi tersebut serta mendorong pelestarian kualitas lingkungan, ujar Irwan sebagaiman rilis yang diterima Republika, Ahad (17/9).
 
Menurut Irwan, Sumatra Barat memang sedang mengebut pengembangan EBT.
(sapto andika candra, ed: eh ismail)
 
Republika, 18 September 2017


Jumat, 15 September 2017

Komisi Irigasi Sumbar Terbaik Kedua

Padang, Padek—Pemprov Sumbar kembali meraih penghargaan. Kali ini, Kementerian Dalam Negeri memberikan penghargaan pada Komisi Irigasi Sumbar sebagai Komisi Irigasi Provinsi Terbaik Kedua tingkat Nasional. Penghargaan tersebut diterima Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dari Plt Direktur Jenderal Bina Bangda Kemendagri Diah Indrajati, di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Rabu (6/9).

Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilan Pemprov Sumbar dalam menyusun pengelolan irigasi. Sehingga, mampu meningkatkan produktivitas pertanian. Karena, denganirigasi yang baik dapat mendukung produktivitas petani.

“Dengan penghargaan ini dapat memotivasi kita berbuat lebih besar lagi dalam meningkatkan sektor pertanian. Karena dengan meningkatnya produktivitas pertanian, kesejahteraan masyarakat kita juga meningkat,” sebut Irwan usai menerima penghargaan.

Untuk pengelolaan irigasi yang baik, Pemprov Sumbar telah membuat sejumlah program. Di mana, Komisi Irigasi membuat program yang berasal dari persoalan dan kebutuhan pengelolaan irigasi. Pada rapat kerja tanggal 12 Oktober 2015 lalu, disepakati untuk memperkuat dan meningkatkan fungsi Komisi Irigasi Provinsi Sumbar.

Kemudian, mendorong penumbuhan dan peningkatan kinerja kelembangaan Petugas Pengelola dan Pembagian air/ Gabungan Petugas Pengelola dan Pembagian Air (P3A/GP3A) melalui penyusunan rekomendasi. Memperkuat kelembagaan dinas terkait untuk melaksanakan tugas pengelolaan irigasi dan pemberdayaan P3A/GP3A.

Program irigasi juga mendorong penyediaan dan peningkatan anggaran untuk pengelolaan irigasi dan pemberdayaan. Di samping itu, juga mendorong pemerintah daerah mengendalikan dan mengembalikan alih fungsi lahan di masing-masing kabupaten/kota.

“Dengan adanya irigasi aktif, sejumlah lahan yang selama ini tidak dikelola, atau lahan tidur dapat dikelola dan bias produktif. Dampaknya, penghasilan masyarakat meningkat dan kesejahteraannya juga meningkat pula,” tukasnya.

Penghargaan ini berdasarkan hasil penilaian Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen Bangda) Kemendagri yang dilaksanakan bulan Mei dan Juni 2017. Komisi Irigasi Provinsi Sumbar menjadi terbaik kedua tingkat nasional menyisihkan 14 Komisi Irigasi Provinsi lainnya.

Indikator penilaian penghargaan ini berdasarkan keanggotaan dan proporsi keterwakilan unsur pemerintah dan non pemerintah. Kemudian berdasarkan sumber pendanaan dan kecukupan anggaran, ketersediaan sarana dan prasana pendukung terhadap Komisi Irigasi. Kemudian, organisasi sekretariat dan pelaksanaan kegiatan rapat koordinasi, keterlibatan stakeholder lain. Para ahli dan pemerhati dalam kegiatan komisi irigasi. Koordinasi dengan lembaga lain, lingkup permasalahan yang dibahas. Jumlah rumusan hasil pembahasan dan rekomendasi yang dihasilkan, serta pelaporan dan pertanggungjawaban anggaran.

“Dari 10 penilaian kinerja Komisi Irigasi tersebut dari Ditjen Bangda Kemendagri, Sumbar dinilai memiliki  kinerja yang sangat bagus,” tuturnya.

Komisi Irigasi Sumbar dibentuk dengan SK Gubernur Nomor 056-311/2009 dan dilakukan penggantian keanggotaan pada tahun 2015 dengan SK Nomor 050-433-2015 tanggal 10 Juni 2015. Dan, pembentukan Komisi Irigasi ini dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pemerintanh No 20 Tahun 2006 tentang Irigasi. Pembentukan Komisi Irigasi ini juga sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 31 Tahun 2007  tentang Pedoman Mengenai Komisi Irigasi dan Peraturan Menteri PUPR Nomor 17 Tahun 2015 tentang Komisi Irigasi.

“Dibentuknya Komisi Irigasi ini bertujuan untuk mengatasi persoalan pengelolaan irigasi yang menjadi  tanggung jawab masing-masing daerah sesuai pembagian kewenangan antara pusat dan daerah,” ungkapnya.

Dalam perjalanannya, rekomendasi Komisi Irigasi yang telah dihasilkan dan realisasi di lapangan, yakni rumusan identifikasi pengelolaan irigasi, program kerja komisi irigasi, rekomendasi kebijakan peningkatan kinerja sistem irigasi sebagai solusi terhadap persoalan kekeringan.  Solusi kerusakan jaringan irigasi. Lalu, rumusan tentang kerangka implementasi gerakan terpadu peningkatan kinerja sistem irigasi, serta  rekomendasi usulan program di masing-masing daerah irigasi lokasi Gerakan Terpadu Peningkatan Kinerja Sistem Irigasi (GT PKSI) tahap I kepada sejumlah instansi terkait baik tingkat provinsi maupun kab/kota untuk tahun 2017 dan 2018.

Tidak hanya itu, sejumlah kegiatan yang dilaksanakan oleh masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD)  juga berdasarkan rekomendasi Komisi Irigasi untuk anggaran tahun 2017, yakni pengangkatan pembinaan petugas penjaga pintu air oleh Dinas PSDA pada tiga daerah irigasi prioritas dengan jumlah sesuai kebutuhan Penyusunan profil social ekonomi teknis dan kelembagaan pada lima daerah irigasi prioritas yang difasilitasi oleh Bappeda Sumbar. Perbaikan kerusakan jaringan irigasi pada daerah irigasi prioritas sesuai usulan petani. Melibatkan perkumpulan petani pemakai air, pembentukan dan penguatan kelembangan perkumpulan petani pemakai air oleh Dinas Pertanian Sumbar.

Untuk implementasi, rekomendasi Komisi Irigasi yang akan segera ditindaklanjuti meliputi, penerbitan peraturan gubernur (Pergub) tentang pengelolaan irigasi kewenangan provinsi. Pergub tersebut guna menertibkan pengelolaan irigasi oleh kelembagaan pengelolaaan irigasi. Penerbitan keputusan gubernur tentang Penetapan Rencana Tata Tanam  Daerah Irigasi dan Rencana Penyediaan.
Kemudian, pembagian dan pemberian air irigasi di masing daerah, peningkatan operasional dan perawatan (OP) irigasi guna mengatasi kekurangan dan ketidakmerataan pembagian air irigasi. Peningkatan partisipasi petani dalam pelaksanaan OP irigasi di masing-masing daerah irigasi, peningkatan dan pengembangan teknologi budidaya tanaman padi. Lalu, meningkatkan produksi lahan sawah beririgasi dan mengatasi masalah perubahan iklim akibat pemanasan global.


“Setelah mendapatkan penghargaan ini, kami akan mendorong peningkatan kinerja Komisi Irigasi dimasing-masing kabupaten/kota agar mampu melaksanakan tugas pengelolaan irigasi yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing. Demi kesejahteraan petani dan terwujudnya ketahanan pangan secara nasional,” pungkasnya.

Padang Ekspres, 15 September 2017

Sumber: irwan-prayitno.com

Minggu, 03 September 2017

PKS Potong 925 Ekor Hewan Kurban di Sumbar

Padang, Ahad (03/09) Bertempat di Markaz Dakwah (MD) Building Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS SUMBAR  Muaro Panjalinan,  Jajaran pengurus DPW PKS Sumatera Barat dalam suasana penuh kekeluargaan bersama warga setempat, melakukan pemotongan sejumlah hewan kurban, yang menjadi rangkaian kegiatan memeriahkan hari raya Idul Adha 1438 H.

Disamping pembagian paket hewan kurban kegiatan juga di akhiri dengan kegiatan makan bersama pengurus partai beserta warga.

Sebanyak tiga ekor sapi dan dua ekor kambing yang dikorbankan hari ini merupakan sumbangan dari fungsionaris, kader dan Anggota Legislatif tingkat Provinsi dan DPR RI dari PKS, tidak ketinggalan juga sejumlah masyarakat umum yang ikut memberi kepercayaan penyembelihan hewan kurbannya kepada PKS.

Hadir dalam pemotongan hewan Kurban tersebut Ketua DPW PKS SUMBAR H. Irsyad Syafar, Wakil Ketua H. Nurfirman Wansyah, Gustami Hidayat selaku Sekretaris Umum, Bendahara  Umum H. Muslim Yatim  beserta jajaran pengurus DPW PKS lainnya bersama tokoh masyarakat setempat.

Pemotongan hewan korban yang dilakukan di DPW PKS juga secara bersamaan di lakukan di sejumlah lokasi terpisah oleh struktur DPD PKS di sejumlah Kabupaten Kota se- Sumatera Barat, dimana pada tahun ini PKS se Sumatera Barat berhasil mengumpulkan sebanyak 925 ekor hewan kurban, dari 1000 ekor yang ditargetkan pada tahun ini, seperti penuturan Irsyad Syafar.

Ditambahkan juga kenapa pemotongan hewan kurban di lakukan pada hari Ahad ini atau dua hari setelah pelaksanaan shalat idul Adha,  adalah untuk memberikan kesempatan pada seluruh pengurus partai, anggota legislatif dan kader PKS  agar sebagai warga juga dapat melaksanakan pemotongan hewan kurban di lingkungan tempat tinggalnya. (Os)

Jumat, 01 September 2017

Beratnya Menjadi Pemimpin

Oleh Irsyad Syafar

Suatu malam terjadi peristiwa menakutkan di kota Madinah. Yaitu terdengarnya suara yang keras bergemuruh. Para sahabat merasa takut dan cemas dengan suara tersebut. Sebagian mereka segera menunggang kuda mencari sumber suara. Namun ternyata Nabi Shallallahu Alaihi wa sallam telah kembali dari sumber suara dan menyatakan situasi aman terkendali.

Mari kita simak penuturan Anas bin Malik yang menceritakan kejadian ini dalam hadits Bukhari dan Muslim:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَأَجْوَدَ النَّاسِ وَأَشْجَعَ النَّاسِ وَلَقَدْ فَزِعَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَانْطَلَقَ النَّاسُ قِبَلَ الصَّوْتِ فَاسْتَقْبَلَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ سَبَقَ النَّاسَ إِلَى الصَّوْتِ وَهُوَ يَقُولُ لَنْ تُرَاعُوا لَنْ تُرَاعُوا وَهُوَ عَلَى فَرَسٍ لِأَبِي طَلْحَةَ عُرْيٍ مَا عَلَيْهِ سَرْجٌ فِي عُنُقِهِ سَيْفٌ فَقَالَ لَقَدْ وَجَدْتُهُ بَحْرًا أَوْ إِنَّهُ لَبَحْرٌ.

Artinya: "Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah orang terbaik, orang yang paling dermawan dan orang yang paling pemberani. Suatu malam penduduk Madinah mengalami rasa takut yang sangat (karena sebuah suara). Lalu orang-orang bergerak menuju sumber suara. Namun ternyata Nabi shallallahu alaihi wasallam menyambut mereka, dan telah lebih duluan pergi ke arah suara. Beliau berkata, "Jangan cemas, jangan cemas...!", dan Beliau menunggang seekor kuda (pinjaman) milik Abu Thalhah tanpa pelana, dengan menyandang pedang di punggungnya. Beliau berkata, "Aku dapatkan kuda ini sungguh cepat larinya". (HR Bukhari dan Muslim).

Dari hadits di atas dapat terlihat betapa tanggap dan cekatannya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Beliaulah yang paling duluan mengamankan sumber katakutan dan sekaligus memberikan rasa aman kepada rakyatnya. Berarti Beliau selalu dalam keadaan siaga, dan siap menjaga rakyatnya dari hal-hal yang akan mencelakakan mereka.

Dalam kejadian lain, pernah seorang wanita kulit hitam yang biasa menyapu masjid meninggal dunia. Tapi Nabi Shallallahu alaihi wasallam tidak mengetahuinya kecuali setelah jenazah dikuburkan. Abu Hurairah menceritakan kisahnya:

َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -فِي قِصَّةِ الْمَرْأَةِ الَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ- قَال: فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ:
 “أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي”? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا. فَقَالَ: “دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا”, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا.

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi).
Nabi shallallahu’alaihiwasallam, menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “Ia telah meninggal.”
 
” Mengapa kalian tidak mengabariku?” Tanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam kepada sahabatnya. Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang.

“Tunjukkan aku kuburannya” Pinta Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Merekapun menunjukkan dimana kuburan wanita tersebut, kemudian beliau mensholatkannya”. (H Bukhari dan Muslim).

Begitulah konsekwensi menjadi pemimpin bagi suatu kaum atau umat. Harus siap untuk berkorban dan bekerja keras demi keselamatan mereka. Rela untuk kurang tidur dan istirahatnya, dan bersedia untuk peduli dan melayani mereka. Kadang tengah malampun harus bangun. Atau karena kondisi darurat, harus terjun langsung ke lokasi kejadian, dan lain sebagainya.

Pepatah arab mengatakan, "Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaum tersebut, dan pemberi minum suatu kaum adalah orang terakhir yang minum".

Seorang pemimpin tidaklah pantas menyusahkan rakyatnya. Apalagi sampai menakut-nakuti dan mengancam mereka. Seorang pemimpin boleh saja diberi fasilitas lebih dari rakyatnya, seperti kendaraan dan pegawai, tapi itu semua demi memudahkannya dalam berkhidmat kepada mereka. Sebagaimana baginda Nabi dipinjamkan kuda untuk berlari kencang mencari sumber kecemasan rakyatnya.

Saya tidak dalam rangka memuji seseorang sebagai pemimpin, apalagi sampai menyamakannya dengan seorang Nabi yang mulia. Tidak sama sekali, dan na'udzubillah dari itu. Tapi, itulah sebuah konsekwensi dan sudah kewajiban setiap pemimpin untuk terdepan dalam mengamankan rakyatnya. Apabila dia bekerja dengan baik, belum tentu semua rakyatnya akan senang. Apalagi kalau kerjanya buruk dan amburadul.
 
Wallahu A'laa wa A'lam.

Rabu, 30 Agustus 2017

Hari Pembebasan dari Neraka

Oleh: Irsyad Syafar

Hari ini, kamis 31 Agustus 2017 adalah hari arafah, bertepatan dengan tanggal 9 zulhijjah 1438 H. Hari ini seluruh jamaah haji dari berbagai penjuru dunia melaksanakan wuquf di padang Arafah.
Inilah hari yang sangat utama dan mulia di sisi Allah Ta'alaa. Kemuliaannya terungkap dari dalil-dalil umum dan khusus. Dari hadits Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ». فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ”.
Artinya: "Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada hari–hari yang sepuluh ini”. Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allâh ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allâh, kecuali orang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatupun.” (HR al-Bukhâri no. 969 dan at-Tirmidzi no. 757).
Secara umum, hari Arafah masuk dalam 10 hari pertama di bulan Zulhijjah yang diistimewakan oleh Allah Ta'alaa.

Secara khusus, hari Arafah menjadi paling mulia karena beberapa alasan:

1. Doa terbaik adalah doa pada hari Arafah. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda:
خَيْرُ الدُّعاءِ دُعاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَناَ وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya: "Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir.” (HR. at-Tirmidzi no. 3585, dishahih oleh al-Albani).

2. Puasa di hari Arafah memiliki keutamaan yang besar. Menjadi puasa sunat yang paling besar pahalanya. Dimana, puasa sehari ini menghapuskan dosa dua tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Qatâdah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
Artinya: "Puasa hari Arafah aku harapkan dari Allâh bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. (HR. Muslim no. 1162).

3. Pada hari Arafah inilah iblis dan syetan berada pada kondisi paling hina dan kerdil. Sebagaimana Imam Mâlik rahimahullah meriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadits berikut :
مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلاَ أَدْحَرُ وَلاَ أَحْقَرُ وَلاَ أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ إِلَّا مَا أُرِيَ يَوْمَ بَدْرٍ.
Artinya: "Tidaklah setan pernah terlihat lebih kerdil, terjauhkan, hina dan marah daripada saat hari Arafah, dan itu tidak lain karena ia melihat turunnya rahmat dan pengampunan Allâh atas dosa-dosa besar, kecuali apa yang ia lihat saat Perang Badar". (HR Malik, al-Muwatha’ no. 944).

4. Puncak keistimewaan hari Arafah ini adalah, di hari ini Allâh Azza wa Jalla paling banyak membebaskan manusia dari api neraka. Ibunda Aisyah Radhiyallahu anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟
Artinya: "Tidak ada hari di mana Allâh Azza wa Jalla membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim no. 1348).

Maka sangatlah jelas kemuliaan dan keutamaan hari ini. Jam demi jam di hari ini sangatlah mahal. Karena merupakan waktu terbaik untuk berdoa dan peluang terbesar untuk terbebas dari neraka.
Agar kebebasan dari neraka ini dapat terwujud dan betul-betul diraih, seharusnyalah hari ini kita isi dengan:
1. Memperbanyak doa kepada Allah, baik dengan doa terbaik yang diajarkan Rasulullah saw, dilantunkan oleh para Nabi (seperti hadits di atas), maupun doa-doa lain yang dibolehkan.
2. Berpuasa sunat di hari ini dengan penuh ikhlas dan penghambaan diri kepada Allah Ta'alaa, mengikutkan suami/istri dan anak-anak.
3. Menyegerakan bertaubat dan menghentikan dosa-dosa yang masih terus mengotori diri. Sebab, ibadah yang baik bila tidak diiringi dengan penghentian dosa dan maksiat, tentu tidak akan berguna sama sekali.
4. Memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil dan takbir di hari ini dan sampai waktu ashar  tanggal 13 Zulhijjah.
5. Menjauhkan diri dari berbagai dosa dan perbuatan maksiat. Karena berbuat dosa di hari yang Allah muliakan merupakan sebuah sikap yang lebih kurang ajar.
Wallahu A'laa wa A'lam.

Senin, 28 Agustus 2017

Kunjungan BPKK DPP PKS, Perkuat Ketahanan Keluarga Indonesia.

Dalam rangka pendampingan dan pelaksanaan program Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPW PKS SUMBAR serta supervisi pencapaian target Program Nasional, BPKK DPP PKS yang dipimpin Dipl. Ing Diah Nurwitasari,Msi sebagai Wakil Ketua BPKK DPP PKS didampingi Hj. Yusmiati, SE ketua Kewanitaan PKS Wilda SUMBAGUT  mengadakan kunjungan kerja ke Sumatera Barat dari tanggal 26 sampai dengan 27 Agustus 2017.

Kegiatan dimaksud diisi dengan serangkaian kegiatan, sejak Sabtu 26/08 tim BPKK DPP didampingi BPKK DPW PKS Sumbar melakukan kunjungan tokoh perempuan ke kediaman ibu Hj. Mainar Hamid Tokoh Wanita yang juga Penasehat Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumatera Barat, dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut banyak nasehat dan pengalaman berharga yang di peroleh selain diskusi seputar organisasi, keluarga dan permasaalahan keummatan terutama tentang perempuan, seperti penuturan Dra. Hj. Daslinar ketua BPKK DPW PKS SUMBAR.

Siang harinya kegiatan dilanjutkan dengan Tabligh Umum, tentang membangun ketahanan keluarga, bertempat di masjid Arrahman komplek Yayasan Adzkia Sumbar yang dihadiri ratusan peserta yang sangat antusias.

Sore hari tim BPKK PKS melakukan media visit dan diskusi ke mediacetak di kota Padang,  yang kemudian malam harinya di akhiri dengan Silaturrahim tokoh ke kediaman Wali Kota Padang H. Mahyeldi Ansharullah.

Di hari terakhir kunjungan Ahad 27/08 Tim BPKK DPP PKS melakukan  Sosialisasi program serta konsolidasi bersama sruktur BPKK PKS se Sumatera Barat untuk optimalisasi pencapaian target program yang telah di sepakati.

Diskusi & Kajian Fikrah, yang dihadiri seluruh struktur BPKK se Sumatera Barat beserta kader Perempuan Pelopor menjadi penutup seluruh rangkaian kegiatan jaulah BPKK DPP PKS Di Sumatera Barat dua hari ini.

Dalam kesempatan akhir tersebut Dipl. Ing Diah Nurwitasari,Msi Wakil Ketua BPKK DPP PKS menguraikan tentang bagaimana peran Perempuan, anak dan Keluarga, termasuk juga peran para Ayah yang juga harus memiliki pemahaman tentang bagaimana membangun sebuah keluarga yang paripurna, sebab ayah adalah "Qawwam" bagi perempuan anak dan keluarganya. Sehingga di harapkan melalui Serangkaian Program yang di luncurkan oleh BKK PKS di seluruh wilayah, dapat berperan bagi penguatan Ketahana Keluarga Indonesia. (os)

Foto ilustrasi: Ketua BPKK DPP PKS Ibu Wirianingsih (diambil dari jabar.pks.id)

Selasa, 27 Juni 2017

Ramadhan 23

Irsyad Syafar

WASPADAI PENGHANCUR IBADAH
(إياك نعبد وإياك نستعين)

Alangkah meruginya bila kita sudah berletih-letih beribadah, waktu juga sudah habis dipakai dunia, dan harta juga ikut terkuras karena beribadah, tapi kemudian di akhirat kelak - di hadapan Allah - ibadah itu semua sia-sia, habis tak bernilai. Sungguh sangat tragis.

Terhadap makna ini Allah Ta'aala sampaikan:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا.

Artinya: "Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan". (QS Al Furqan: 23).

Hancurnya amalan dan ibadah disisi Allah adalah suatu petaka. Bagi orang beriman itu suatu hal yang wajib dihindari. Para ulama menyebukan bahwa penghancur utama ibadah itu adalah riya'.

Yang dimaksud dengan riya’ adalah memperlihatkan (memperbagus) suatu amalan/ibadah dengan tujuan mendapatkan pujian manusia. Semakna dengan riya’ adalah sum’ah yaitu memperdengarkan suatu amalan dengan tujuan yang sama yaitu mendapatkan pujian (popularitas) manusia. Riya’ termasuk syirik khafiy (tersembunyi), yaitu kesyirikan yang terdapat di dalam hati manusia yang tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.

Gara-gara riya', ibadah yang berpahala besar dan termasuk ibadah-ibadah puncak, bisa berubah menjadi kecil dan kerdil. Bahkan bisa menjadi penyebab masuk neraka.

Rasulullah saw menyebutkan kelompok orang-orang yang termasuk pertama kali dilemparkan ke dalam neraka. Mereka dihukum seperti itu bukan karena kekafirannya. Melainkan karena perbuatan riya.

Di dalam hadits yang panjang dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa golongan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid, seorang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu, dan seorang yang bersedekah. Dalam sebagian riwayat orang yang mengajarkan Al Quran. Namun, ternyata Allah ta’ala memasukkan mereka ke dalam neraka karena niat ibadah mereka tidak ditujukan kepada Allah ta’ala. Orang yang mati syahid ternyata berperang sampai syahid supaya dia dikatakan pemberani, orang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu ternyata ingin dikatakan sebagai seorang alim, orang yang membaca Al Quran ternyata supaya dapat gelar Qori dan orang yang bersedekah ternyata ingin supaya dikatakan dermawan oleh orang lain.

قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ...

Artinya: "Engkau berjihad supaya digelari pemberani. Dan sudah digelari seperti itu. Lalu Malaikat diperintahkan Allah, dan dia diseret dari wajahnya dan dilempar ke neraka...

قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

Artinya: "Engkau bohong, engkau mempelajari ilmu supaya digelari Alim. Engkau membaca Quran supaya digelari Qori, dan sudah digelari seperti itu. Lalu Malaikat diperintahkan, dan dia diseret dari wajahnya dan dilempar ke neraka.

كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَـسُحِبَ عَـلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

Artinya: "Engkau bohong, engkau berinfaq hanya ingin digelari sebagai dermawan. Dan sudah dapat gelar itu. Lalu Malaikat diperintahkan, dan dia diseret serta dilemparkan ke dalam neraka". (HR Muslim).

Berjihad adalah ibadah puncak dalam Islam. Sangat mulia di sisi Allah. Apalagi bila mati syahid. Bisa masuk sorga tanpa hisab dan tanpa adzab. Namun ternyata, gara-gara riya' justru berakibat masuk neraka.

Membaca dan mengajarkan Al Quran adalah amalan yang sangat mulia. Pahalanya bisa mencapai derjat selevel malaikat. Sebagaimana Rasulullah nyatakan:

عن عائشة قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة...

Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah, Rasulullah saw bersabda: "Orang yang mahir membaca Al Quran bersama Malaikat yang mulia...". (HR Muslim).

Namun gara2 riya', malah yang mahir membaca Al Quran bisa menjadi golongan yang di awal-awal masuk neraka.

Begitu juga berinfaq di jalan Allah. Pahalanya bisa 10 kali lipat sampai 700 kali lipat. Namun akibat niat yang riya' malah dilempar ke neraka.

Penyakit riya’ amatlah berbahaya karena ia menjangkiti seseorang bukan dalam keadaan ia bermaksiat. Melainkan justru menyerang tatkala dia tengah beramal shalih. Oleh karena itu, generasi terbaik umat ini, dari zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, tabi’in, dan para ulama sangat mengkhawatirkan amal mereka terjangkiti riya’. Sebab siapa saja bisa terkena penyakit ini.

Rasulullah saw bersabda:

 أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر. قالوا: وما الشرك الأصغر يا رسول الله؟ قال: الرياء...

Artinya: "Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik asghar”. Lalu beliau ditanya tentang (maksud) hal tersebut (syirik asghar), maka beliau menjawab “Riya’”. [HR. Ahmad, hasan].

Jika saja Rasulullah, para sahabat dan generasi terbaik umat ini sangat khawatir dengan riya', apalagi kita generasi akhir zaman. Amal ibadah kita sangat sedikit dibanding mereka, sedangkan peluang riya' sangat terbuka lebar.

Dengan kemajuan teknologi, berbagai ibadah seseorang dapat diketahui orang lain dalam waktu sekejap. Seseorang shalat malam, iktikaf, berhaji dan umrah, seketika bisa dishare ke publik. Maka pintu riya' menjadi terbuka lebar.

Kadang pola awalnya tidak kentara. Tapi tetap saja menyediakan celah bagi syetan untuk merusak niat. Misalnya, sehabis shalat malam seseorang update status: "Alangkah tenangnya malam ini bermunajat kepada Allah....". Saat iktikaf di sebuah masjid, dia juga update status: "Iktikaf di masjid ini begitu indah dan khusyuk...". Selesai tahwaf atau sa'i, atau ibadah umrah, lalu photo-photonya menyebar ke seantero negeri. Ini semua tentu akan menjadi mukaddimah riya'.

Allah Ta'aala mengabarkan tentang karakter orang munafiq yang suka pamer dalam ibadah dan sedikit sekali mengingat Allah:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا.

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali". (QS An Nisa: 142)

Maka, menjadi kewajiban bagi kita untuk sangat waspada terhadap penghancur ibadah ini. Kiatnya adalah menjadikan seluruh ibadah kita hanya ikhlas kepada Allah.

Syekh Utsaimin menjelaskan, seseorang dapat mencapai keikhlasan yang sempurna apabila ibadahnya dibangun di atas tiga perkara:

Pertama, seseorang meniatkan suatu amalan sebagai ibadah kepada Allah ta’ala, bukan karena melaksanakan kebiasaan atau rutinitas belaka. Sebab ibadah tidak sama dengan rutinitas.

Kedua, seseorang melakukan ibadah tersebut karena Allah dan untuk Allah semata. Bukan karena ingin dipuji, atau segan dengan manusia dan sebagainya.

Ketiga, seseorang melakukan ibadah tersebut dalam rangka melaksanakan syari’at Allah ta’ala. Saat dia ke masjid berjamaah, dia sadari betul karena itu memang syariatnya. Kalau dia berhaji atau umrah, dia juga sadari karena Allah dan RasulNya memerintahkan begitu.

Agar riya' semakin maksimal dijauhi, seorang mukmin perlu banyak berdoa kepada Allah agar diberi keikhlasan. Sedapat mungkin harus diusahakan menyembunyikan atau merahasiakan ibadah. Apalagi yang memang aslinya sudah rahasia. Berusaha untuk selalu menganggap kecil amalannya. Sehingga terus bersemangat menambahnya. Dan bila ada respon dari orang lain, jangan bertambah ibadah karena pujian, dan jangan berkurang karena celaan.

Wallahu A'laa wa A'lam.

PKS Padang Pariaman Buka Puasa Bersama


Dalam rangka memeriahkan bulan Ramadhan, selasa 20 Juni 2017 Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Padang Pariaman melaksanakan acara berbuka puasa bersama antara unsure pimpinan daerah dengan kader dan simpatisan Partai Kaeadilan Sejahtera serta masyarakat di lingkungan kantor DPD PKS Kabupaten Padang Pariaman.

Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Babussalam Nagari Toboh Gadang, Kecamatan Sintuk Toboh Gadang yang berdekatan dengan MD Building Kabupaten Padang Pariaman tempat sehari-harinya PKS bermarkas, yang di hadiri oleh unsur pimpinan harian DPD PKS Kabupaten Padang Pariaman, unsur pimpinan cabang serta pimpinan ranting se kabupaten Padang Pariaman, fraksi PKS Kabupaten Padang Pariaman, kader dan simpatisan serta masyarakat disekitaran MD Building Kabupaten Padang Pariaman kurang lebih sebanyak 400 orang, nampak juga hadir Wali Nagari Toboh Gadang, sekretaris Nagari Toboh Gadang, serta tokoh-tokoh masyarakat se nagari Toboh Gadang.

Dalam sambutannya Risdianto ketua DPD PKS Kabupaten Padang Pariaman, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan aganeda tahuanan yang merupakan rangkaian agenda kegiatan DPD PKS Padang Pariaman untuk memperkuat sirahturahi sesama kader serta mmeriahkan penyambutan bulan ramadhan yang sebentar lagi akan meninggalkan kita, setelah kegiatan sebelumnya yakni pengumpulan zakat, infak, sadaqah dari masing-masing kader, buka puasa bersama anak yatim, takjil on the roud, program itikaf 10 terakhir ramadhan yang saat ini sedang berlansung, serta posko mudik PKS yang akan di didirikan di sepanjang jalan protocol yang dilalui oleh pemudik, sebagai bentuk komitmen PKS untuk kokoh berkhitmat bagi Kabupaten Padang Pariaman.

Kegiatan ini diawali dengan pemotongan 2 ekor kambing pada siang harinya, tausyiah singkat menjelang berbuka dengan tema “Optimalisasi ibadah-ibadah di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan” oleh Ustadz Herizal Lazran mantan anggota DPRD Kabupaten Padang Pariaman yang saat ini ditunjuk sebagai ketua Kaderisasi, dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama, sholat berjamaah, serta itikaf khusu bagi laki-laki. Di akhir kegiatan ini terkumpul Zakat, Infak, Sadaqah dari kader dan simpatisan sebanyak 40.000.000,- lebih yang akan disalurkan kepada kaum dhuafa menjelang hari lebaran nanti” pungkas ketua panitia pelaksana Afwelly Marhen. (Humas)

Minggu, 18 Juni 2017

Ramadhan 22

Irsyad Syafar

MENGASURANSIKAN IBADAH
(إياك نعبد وإياك نستعين)

Semua kita pasti menginginkan dapat beribadah dengan stabil. Dapat melakukan ibadah wajib dengan baik dan merutinkan ibadah-ibadah sunnat dengan maksimal.
Motivasi dibalik itu tentunya adalah stabilnya pahala dari Allah. Tidak ada mengalami penurunan, malah kalau bisa mengalami peningkatan.

Namun realita yang kita hadapi tidaklah stabil atau statis. Selalu saja ada dinamika yang terjadi. Sehingga ibadah kita menjadi berkurang. Contohnya adalah ketika kita sakit, demam atau saat dalam perjalanan (musafir). Ibadah kita otomatis akan berkurang.

Ternyata, ada petunjuk dari Rasulullah saw yang mengajarkan bahwa pahala akan tetap bisa stabil dalam situasi-situasi tersebut. Rasulullah saw bersabda:
عن أبي موسى مراراً يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا مرض العبد أو سافر كُتب له مثل ما كان يعمل مقيماً صحيحاً.
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Musa, bahwa dia berulang kali berkata: Rasulullah saw bersabda, "Apabila seorang hamba sakit, atau bepergian jauh (musafir) maka tetap dituliskan pahala baginya sebagaimana saat dia mukim dan sehat". (HR Abu Daud dan Ahmad).

Maksud dari hadits ini adalah seseorang yang sakit atau musafir akan tetap dapat pahala sebagaimana ketika dia lagi sehat atau mukim, walaupun ibadahnya berkurang saat sakit dan musafir itu.
Imam Bukhari meriwayatkan hadits lain dengan lafazh yang lebih gamblang:
 عن عبد الله بن عمرو عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "ما من أحد يمرض إلاَّ كتب له مثل ما كان يعمل وهو صحيح".
Artinya: Dari Abdullah bin Amru, Rasulullah saw bersabda, "Tidak seorangpun yang mengalami sakit, melainkan akan ditulis baginya seperti apa yang dia amalkan dikala dia sehat." (HR Bukhari).
Imam Al Haitsami meriwayatkan hadits yang lain:
وعن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إذا ابتلَى الله عزوجل العبد المسلم ببلاء في جسده، قال الله عزوجل للملَك: اكتب له صالح عمله الذي كان يعمله، فإن شفاه غسله وطهره وإن قبضه غفر له ورحمه))، قال الهيثمي: رواه أبو يعلى وأحمد، ورجاله ثقات.
Artinya: Dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda, "Apabila Allah menguji seorang hamba muslim dengan sebuah ujian di badannya, Maka Allah akan berkata kepada malaikat: "Tuliskan baginya amal shaleh saat dia sehat. Jika dia sembuh, maka amal shaleh itu akan mensucikannya dan membersihkannya. Jika dia wafat, maka dia akan diampuni dan disayangi". (HR Abu Ya'la dan Ahmad).
Jadi, seorang yang sakit atau musafir, tetap akan dapat pahala ibadah sebanyak dia sehat atau mukim. Bila saat dia sehat atau mukim dia sudah terbiasa shalat sunat rawatib, puasa sunat, berdzikir pagi dan petang, tilawah Quran, qiyamullail dan lain-lain, maka saat sakit dan musafir pahala sebanyak itu akan tetap dia raih.

Beruntunglah orang-orang yang saat sehat wal afiat dan saat berada di tempat tinggalnya, serta diwaktu-waktu normal, dia senantiasa memperbanyak amal shaleh dan berbagai ibadah sunat. Saat ada gangguan mendadak, pahalanya tetap mengalir. Masuk juga dalam kontek ini halangan-halangan yang diluar kemampuan biasanya. Rasulullah saw bersabda:
عن عائشة: ما من امرئ تكون له صلاة من الليل يغلبه عليها نوم أو وجع إلا كتب له أجر صلاته وكان نومه عليه صدقة. (رواه النسائي).
Artinya: Dari Aisyah, bahwa  tidak ada seseorang yang terbiasa shalat malam, lalu dia ketiduran atau sakit, melainkan dia akan tetap diberi pahala shalat (malam) dan tidurnya menjadi sedekah." (HR Nasaai).
Dalam Hadits lain Rasulullah saw bersabda:
" من توضأ فأحسن وضوءه ثم خرج إلى المسجد فوجد الناس قد صلوا أعطاه الله مثل أجر من صلى وحضر ، لا ينقص ذلك من أجره شيئا "
Artinya: "Barang siapa yang berwudhuk dengan baik, lalu keluar menuju masjid, dan dia temukan orang sudah selesai shalat (berjamaah), niscaya Allah memberinya pahala seperti orang yang hadir dan telah shalat, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun". (HR Abu Daud, Nasai dan Hakim dari Abu Hurairah).
Imam As Subki menjelaskan, "Barang siapa yang kebiasaannya adalah shalat berjamaah, lalu ada udzur sehingga shalat sendirian, maka dituliskan baginya pahala shalat berjamaah. Adapun orang yang kebiasaanya shalat sendirian, lalu terlambat datang ke jamaah karena ada udzur, maka pahalanya tetap seperti shalat sendirian.

Maka, siapa yang saat sehat, mukim dan tidak ada halangan dia selalu menjaga ibadah wajib dan ibadah sunat, pada hakekatnya dia tengah mengasuransikan (mengamankan) ibadahnya untuk nanti dikala sakit dan udzur lainnya.

Wallahu A'laa wa A'lam.

Ramadhan 21

Irsyad Syafar

MUHASABAH, MENYEMPURNAKAN IBADAH
(إياك نعبد وإياك نستعين)

Orang yang beriman, biasanya akan terus terdorong untuk meningkatkan dan memperbaiki ibadahnya. Sebab, dia merasa bahwa ibadahnya masih kurang dan masih jauh dari kesempurnaan.

Sebaliknya, orang yang tertipu (maghrur) adalah orang yang merasa ibadahnya sudah sempurna. Akibatnya dia tak merasa perlu menambah atau meningkatkannya. Bahkan biasanya, berpotensi besar untuk berkurang atau menurun. Sebab, ibarat sebuah pendakian, bila sudah sampai di puncaknya, maka yang ada setelah itu hanyalah penurunan.

Oleh karenanya, merasa belum maksimal dan kurang sempurna dalam beribadah adalah suatu yang positif untuk peningkatan. Dan menghindarkan diri dari sikap ghurur (tertipu) dan geer (gede rasa).

Perasaan seperti ini akan dapat hadir bila seorang mukmin senantiasa melakukan "muhasabah". Yaitu menghitung diri atas ibadah dan amalan yang telah dilakukan. Apakah sudah memenuhi kewajibannya? Apakah sudah sesuai dengan perintah Allah? Apakah memenuhi syarat dan rukunnya? Dan lain-lain. Atau, secara sederhana muhasabah itu mengandung makna perbandingan antara hak yang diterima dengan kewajiban yang telah ditunaikan.

Allah Ta'aala memerintahkan hambaNya yang beriman untuk melakukan muhasabah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al Hasyar: 18).

Dalam ayat ini orang-orang beriman disuruh untuk memperhatikan amalan-amalan yang sudah dikerjakan (di dunia) untuk menghadapi hari esok (akhirat). Yang diperhatikan adalah,  apakah yang sudah diperbuat itu layak untuk dibawa menghadap Allah ataukah tidak.

Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata: "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan berhiaslah kalian untuk menghadapi hari "penampilan" yang sangat dahsyat.

Allah Ta'aala berfirman:

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنْكُمْ خَافِيَةٌ.

Artinya: "Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)." (QS Al Haqqah: 18).

Dengan melakukan muhasabah, seorang hamba akan sadar bahwa dia adalah hamba, dan Allah adalah Tuhan yang wajib dia patuhi dan dia sembah.

Hal-hal yang mesti dimuhasabahi oleh seorang hamba adalah mengukur atau membandingkan antara nikmat Allah yang telah diterima dengan amalan yang diperbuat. Dan membandingkan antara kebaikan yang sudah diamalkan dengan keburukan yang juga terlanjur dilakukan.

Bila penghitungannya akurat, akan nampaklah bahwa dihadapannya kelak hanya satu diantara dua pilihan: ampunan dan rahmat Allah, atau kecelakaan dan kesengsaraan.

Sebab, bagaimanapun nikmat Allah yang telah diterima tak akan pernah mampu diimbangi dengan amal shaleh yang dikerjakan.

Dalam hadits riwayat imam Hakim (dhaif menurut Albany), ada seorang hamba yang beribadah kepada Allah selama 500 tahun tiada henti. Lalu kemudian diukur ibadah tersebut dengan nikmat penglihatan yang Allah berikan. Ternyata nikmat penglihatan, jauh mengalahkan beratnya amal shaleh selama 500 tahun.

Dengan muhasabahlah seorang hamba dapat untuk meningkatkan derjatnya di sisi Allah. Sebab, muhasabah menimbulkan perbaikan dan peningkatan. Imam Ibnul Qayyim menyatakan bahwa, muhasabah akan dapat berdampak positif bila seorang hamba memiliki 3 perangkat muhasabah:

Pertama, ilmu dan pemahaman yang benar, yang dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang hidayah dan mana yang kesesatan, mana yang bermanfaat dan mana yang mudharat. Tanpa ilmu yang memadai, muhasabah menjadi tidak berarti. Sebab, alat ukurnya cacat dan menjadi tidak valid. Karenanya, menuntut ilmu syar'i menjadi kebutuhan primer setiap muslim.

Kedua, berburuk sangka kepada diri sendiri. Ini diperlukan karena muhasabah itu ibarat pemeriksaan atau audit internal. Kalau seseorang sudah berbaik sangka duluan terhadap dirinya, maka muhasabahnya menjadi dangkal dan cendrung subjektif. Kekurangan bisa dianggap tidak ada, atau malah menjadi sebuah kelebihan. Dosa besar bisa dianggapnya sebagai dosa kecil. Dan dosa kecil dia anggap tidak ada.

Pujangga arab dalam puisinya menyatakan:

"Pandangan redho akan buta terhadap kekurangan".
"Pandangan benci cendrung mengedepankan kekurangan".

Ketiga, membedakan antara nikmat dengan ujian (niqmah). Maksudnya, seorang hamba harus mampu menilai apakah dia mendapat pemberian dari Allah karena dia dalam kebaikan dan ketaatan, ataukah dia memperolehnya disaat amal shalehnya lagi menurun dan dosanya bertambah. Yang pertama itu adalah Nikmat hakiki, sedangkan yang kedua adalah istidraj (ujian/jebakan berbalut nikmat).

Siapa yang ketat menghisab dirinya di dunia, akan lebih aman dan longgar di akhirat. Sebaliknya, siapa yang longgar terhadap dirinya di dunia, kelak dia akan menyesal di akhirat.

Wallahu A'laa wa A'lam.

Ramadhan 20

Irsyad Syafar

MENUJU KAMPUNG ORANG-ORANG YANG BERSIH
(إياك نعبد وإياك نستعين)

Kampung asli kita, dan kampung asli seluruh orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya adalah sorga. Di sana dahulu Ayah Bunda pertama kita diciptakan dan ditempatkan Allah.

InsyaAllah, orang yang memenuhi syaratnya akan kembali ke sana. Syaratnya yaitu menjadi orang yang bersih. Karena sorga memang adalah tempat orang-orang yang bersih lagi baik. Terbebas dari noda dan dosa. Sorga itu "thayyibah", dan tak akan dimasuki kecuali oleh yang "thayyib" (Ibnul Qayyim dalam madaarijus saalikin). Allah Ta'aala menegaskan:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ.

Artinya: "Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Telah suci kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya". (QS Az Zumar: 73).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ.

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun 'alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS An Nahl: 32).

Maka, untuk kembali masuk ke kampung asli, kita harus betul-betul bersih (thayyib). Dan seluruh ibadah dan isti'anah kita kepada Allah adalah dalam rangka membersihkan diri agar kemudian layak dan berhak kembali kesana. Sebab, bila belum bersih, akan terjadi proses pembersihan di tahapan-tahapan sebelum masuk sorga.

Imam Ibnuk Qayyim Aljauziah menyampaikan, bahwa aetidaknya ada empat tahapan pembersihan yang akan dilewati oleh semua manusia sampai menginjakkan kakinya di tanah sorga.

Pertama, tahapan di dunia. Tahapan inilah yang sepenuhnya usaha dan perjuangan anak manusia. Pada tahapan ini ada 4 hal yang harus dilakukan manusia:
1. Bertaubat dari setiap dosa; dengan segera menghentikan dosa terkait, menyesal telah memperbuatnya, dan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Bila ada dosa yang terkait dengan manusia lain, maka segera mohon maaf atau harus mendapatkan keridhaannya.
2. Istighfar atau memohon ampun kepada Allah, setiap pagi dan petang, siang dan malam dan setiap kali jatuh kepada dosa. Karena Dia Maha Pengampun.
3. Memperbanyak amal shaleh sebagai penghapus atau pengganti dosa.
4. Musibah yang menimpa yang disikapi dengan sabar dan harapan pahala dariNya.

Jika seorang hamba bersih karena adanya 4 hal tersebut di tahapan pertama, maka dia akan selamat dan diwafatkan oleh Malaikat secara baik. Merekalah yang diisyaratkan Allah dalam firmanNya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (saat wafat) dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS Fushshilat: 30).

Namun, apabila 4 hal tadi belum membuat seorang hamba menjadi bersih, mungkin karena tobat yang tidak sempurna, atau istighfar yang kurang tulus, atau amal shaleh yang sedikit, atau karena dosa memang terlalu banyak, maka proses pembersihan masuk ke tahap kedua.

Pembersihan tahap kedua adalah setelah kematian dan saat di alam barzakh. Yaitu dengan 3 hal:
1. Banyaknya orang yang beriman yang ikut menshalatkan jenazahnya, memohonkan ampun untuknya. Sebab Rasulullah saw mengajarkan bahwa banyaknya orang-orang yang menshalatkan jenazah bisa memberi syafaat bagi si mayat.
2. Fitnah atau ujian kubur. Karena semua jenazah akan diuji dan ditanya di alam kubur. Ini bagian dari pembersihan.
3. Kiriman amal shaleh dari keluarga dan kerabat serta teman-temannya di dunia. Para ulama sepakat bahwa doa dan sedekah untuk si mayat sampai pahalanya, berapapun dan kapanpun. Adapun haji, umrah, bacaan quran dan lain-lainnya masih diperselisihkan oleh ulama apakah sampai atau tidak.

Bila 3 hal dalam tahapan kedua ini telah membersihkan seorang hamba dari berbagai dosa, maka dia akan selamat. Dibangkit pada hari kiamat dan mudah menuju sorga.

Namun, bila belum bersih juga, karena dosa-dosa masih begitu banyak, maka dia akan melewati pembersihan ditahapan ketiga.

Pembersihan tahap ketiga adalah saat berbangkit sampai dihisab di depan Allah. Dimana semua manusia akan melewati hari-hari sulit dan berat:
1. Hari berbangkit setelah kiamat. Semua akan dibangkit dalam keadaan telanjang bulat, tidak beralas kaki dan belum dikhitan, sebagaimana Rasulullah saw sampaikan. (Dari hadits Aisyah Muttafaqun alaih).
2. Suasana mengerikan dan menakutkan di padang mahsyar. Beribu-ribu tahun tanpa busana, dengan matahari yang didekatkan ke kepala satu jengkal. Ada manusia yang berkeringat semata kaki, ada yang selutut, ada yang sepinggang, sebahu dan bahkan tenggelam dengan keringatnya sendiri. Semua orang nafsi-nafsi.
3. Syafaat dari pemberi syafaat yang diizinkan Allah. Seperti puasa, Al quran, surat Al baqarah dan Ali Imran dan lain-lain. Semuanya memberi syafaat kepada pelakunya. Termasuk syafaat kubra Rasulullah saw.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ...

Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, bahwa Rasulullah saw bersabda, "Puasa dan Al Quran memberi syafaat kepada hamba pada hari kiamat". (HR ahmad, shahih).
4. Ampunan Allah saat dihisab. Sebab, Dia berkehendak dan berkuasa untuk mengampuni siapa saja dan menyiksa siapa saja.

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ وَيَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Artinya: "Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al Maidah: 40).

Bila dengan 4 hal ini seorang hamba menjadi bersih, maka selamatlah dia menyeberang ke sorga yang abadi. Namun sebaliknya, bila masih menyisakan dosa, maka dia akan melewati tahapan ke empat.

Tahapan ke empat ini tahapan terakhir. Yaitu pembersihan dengan api neraka -na'udzubillahi min dzalik- sesuai dengan jumlah dosa yang masih tersisa.

Namun, siapakah yang akan sanggup dengan siksaan api neraka yang tiada terkira? Angin neraka saja bila bertiup ke dunia akan menghancurkan dunia. Apalagi apinya.

Beruntunglah orang-orang yang istiqamah dengan ibadah dan isti'anahnya kepada Allah selama di dunia. Karena dengan itulah mereka menjadi bersih dan baik. Sehingga kemudian berhak dan layak masuk ke dalam Sorga, tanpa hisab tanpa adzab.

Wallahu A'laa wa A'lam.

Kamis, 15 Juni 2017

Ramadhan 19

Irsyad Syafar

EMPAT GOLONGAN
(إياك نعبد وإياك نستعين)

Ibnul Qayyim Aljauziah menyebutkan adanya 4 golongan manusia berdasarkan "Ibadah" dan "Isti'anah".

Golongan pertama adalah golongan yang paling tinggi dan paling mulia, yaitu Ahlul Ibadah dan ahlul Isti'anah. Mereka adalah orang-orang yang tujuan dan agenda hidupnya adalah ibadah kepada Allah dan mereka juga melakukan isti'anah kepadaNya. Dan ketika mereka meminta tolong pun, yang mereka minta adalah agar dimudahkan beribadah.

Inilah yang diajarkan Baginda Nabi Muhammad saw kepada sahabat Muadz bin Jabal, karena Beliau sangat mencintai Muadz.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ : ( يَا مُعَاذُ ! وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ ، فَقَالَ : أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ : لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ) رواه أبو داود (1522) قال النووي في "الأذكار" (ص/103): إسناده صحيح . وقال الحافظ ابن حجر في "بلوغ المرام" (ص/96): إسناده قوي. وصححه الألباني.

Artinya: Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah memegang tangannya dan berkata, "Wahai Muadz, sungguh Aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu". Lalu Rasulullah berkata lagi: "Aku berwasiat kepadamu Muadz, jangan sekali-kali engkau tinggalkan diujung setiap shalat untuk berdoa: "Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingatMu, mensyukuriMu, dan beribadah dengan baik kepadaMu". (HR Abu Daud, dishahihkan Albany).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa doa terbaik dan paling bermanfaat adalah memohon pertolongan kepada Allah untuk mendapatkan ridhoNya.

Golongan kedua, adalah lawan dari golongan pertama. Dan merupakan golongan yang paling hina lagi tercela. Yaitu golong Pembangkang Ibadah dan pembangkang Isti'anah. Mereka adalah orang-orang yang kafir kepada Allah. Mereka tidak menyembahNya dan juga tidak minta tolong kepadaNya.

Kalaupun ada mereka yang meminta pertolongan kepada Tuhan, maka permintaan mereka lebih kepada kepentingan perut, syahawat dan hak-hak dunia mereka. Bukan untuk suatu yang diredhai Allah. Sebab, iblis juga meminta kepada Allah. Tapi permintaan iblis itu hanyalah keinginan iblis, bukan mardhatillah. Dan permintaannya bisa juga dikabulkan Allah, akan tetapi hanya akan menambah jauhnya dari Allah.

Karena itu, terkabulnya doa atau permintaan seorang hamba kepada Allah, tidaklah semuanya merupakan kemuliaan dan karomah. Bisa jadi pengabulan doa itu untuk kecelakaan dan kesengsaraannya. Seperti halnya para dukun dan penyembah jin dan syetan. Permintaan-permintaan mereka tidak jarang terkabul dan terbukti. Namun itu semakin menambah dalamnya jurang kejatuhan mereka.

Kandungan makna ini Allah isyaratkan dalam firmanNya:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ.
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ.

Artinya: "Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". (QS Al Fajr: 15-16).

Maksudnya, tidak semua pemberian Allah merupakan kemuliaan. Dan tidak semua yang kurang pemberian dari Allah adalah kehinaan. Acuannya adalah sejauh mana seorang hamba taat dan patuh kepada Allah, dibalik pemberian atau tidak diberinya oleh Allah.

Terkait hal ini, para ulama menyarankan agar setiap meminta kebutuhan dunia kepada Allah, sebaiknya dikaitkan dengan syarat kabaikan dalam ilmu Allah. Misalnya, "Ya Allah, jika urusan ini baik bagiku dalam agama dan akhiratku menurut IlmuMu, maka mudahkanlah aku untuk itu. Jika itu buruk bagi agama dan akhiratku menurut ilmuMu, maka jauhkanlah aku darinya...".

Golongan ketiga yaitu orang-orang yang rajin beribadah tetapi malas atau tidak minta tolong kepada Allah. Bentuknya dua macam. Ada yang tidak minta tolong kepada Allah karena merasa sanggup dan bisa melakukan sendiri. Tak perlu bantuan Allah. Atau dia tidak minta tolong kepada Allah karena merasa Allah pasti akan menolong hambaNya.

Kedua bentuk golongan ketiga ini tidaklah benar. Sebab, meminta tolong kepada Allah itu juga perintah dari Allah. Dan seorang hamba yang beriman, baginya apapun perintah dari Allah, itu harus dilaksanakan.

Golongan ketiga ini juga telah keliru dalam memahami tawakkal. Mereka menganggap tawakkal itu menyerah saja kepada Allah, tidak perlu usaha. Dan itu tidaklah tepat. Tawakkal yang benar adalah meminta tolong kepada Allah dengan mengambil semaksimal mungkin sebab-sebab pertolongan.

Sebagai contoh, Rasulullah saw dalam berjihad di medan perang, Beliau bermunajat memohon bantuan Allah, dengan penuh khusyuk dan perendahan diri kepadaNya. Tapi, Beliau juga tetap menyiapkan pasukan, persenjataan, menyusun taktik dan strategi perang serta mengukur kekuatan lawan. Itu semua masuk dalam kontek tawakkal dan sekaligus itu merupakan isti'anah.

Ketika melihat seorang sahabat membiarkan ontanya di halaman masjid tanpa diikat, Rasulullah saw menegurnya dalam hadits:

عن أنس قال قال رجل يا رسول الله أعقلها وأتوكل أو أطلقها وأتوكل قال اعقلها وتوكل.

Artinya: Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, apakah onta saya saya ikatkan lalu saya bertawakkal, ataukah saya lepaskan saja lalu saya bertawakkal?". Rasulullah menjawab, "Ikatlah dulu, baru kemudian bertawakkal!". (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban, di dhaifkan Albany).

Golongan keempat adalah ahlul isti'anah, tapi tidak beribadah. Yaitu orang-orang yang senantiasa dan rajin meminta pertolongan dan kebutuhannya kepada Allah. Tapi mereka sangat lemah dalam beribadah.

Bila meminta kepada Allah, bukan main banyak dan panjangnya permintaannya. Semua kebutuhan dan hak-hak duniawinya begitu lancar dalam permintaannya. Namun, tidak seimbang dengan ibadah dan kepatuhannya kepada Allah. Mungkin bahasa sederhananya, sholatnya pendek, tapi doanya begitu panjang.

Golongan keempat ini lebih rendah dari golongan ketiga. Karena mereka hanya mementingkan kepentingannya saja, tanpa menunaikan hak-hak Allah.

Golongan ini hanya mengakui rububiyah Allah swt, Yang satu-satunya memberi manfaat atau mudharat, Yang berkehendak dalam segala ciptaanNya. Tapi, mereka secara tidak langsung telah mengingkari Uluhiyah Allah SWT, Yang satu-satunya berhak disembah dan diibadahi.

Wallahu A'laa wa A'lam.

Ramadhan 18

IBADAH ITU TUJUAN, ISTI'ANAH ITU SARANA
(إياك نعبد وإياك نستعين)

Beribadah kepada Allah adalah tujuan penciptaan manusia. Adapun minta tolong (isti'anah) kepada Allah hanyalah sarana untuk beribadah. Allah Ta'aala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ. إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ.

Artinya: "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh." (QS Adz Dzariyat: 56-58).

Sangat jelas Allah sebutkan tujuan penciptaan jin dan manusia dari ayat di atas. Yaitu hanya untuk beribadah. Pengecualian "melainkan" setelah adanya penafian "tidak Aku ciptakan" menunjukkan bahwa khusus hanya untuk itu tujuannya. Adapun masalah rezki dan mencari rezki, itu masuk dalam kategori isti'anah. Ia hanya sarana untuk memudahkan ibadah.

Makna ini dikuatkan lagi dalam ayat lain:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ.

Artinya: "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa". (QS Thahaa: 132).

Dari ayat ini ditegaskan bahwa Allah hanya menagih shalat (ibadah) dari hambaNya. Dia tak pernah menunggu setoran harta kepadaNya. Dia yang menyelesaikan dan memberikannya.

Karena itu, beribadah lebih utama dari pada meminta tolong. Beribadah itu adalah hak Allah. Sedangkan minta tolong itu adalah hak manusia. Maka hak Allah lebih utama dari hak manusia. Dan menunda-nunda ibadah karena kesibukan pekerjaan, sama artinya menyepelekan hak Allah dan mendahulukan hak manusia.

Bila seorang hamba komit dengan ibadahnya, niscaya Allah akan jamin hak isti'anahnya. Rasulullah saw bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال : ( إن الله تعالى يقول : يا بن آدم تفرغ لعبادتي أملأ صدرك غنى وأسدُّ فقرك ، وإلا تفعل ملأت يديك شغلا ولم أسد فقرك ) رواه الترمذي وابن ماجة والإمام أحمد في مسنده وغيرهم ، وحسنه الترمذي وصححه الألباني .

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, Allah Ta'aala berfirman: "Wahai anak Adam, fokuslah dalam beribadah kepadaKu, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku tutupi kefaqiranmu. Jika tidak engkau perbuat (begitu), maka Aku akan penuhi tanganmu dengan kesusahan dan Aku tidak tutupi kefaqiranmu." (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad, dishahihkan Albany).

Dengan demikian, ibadah adalah prioritas utama kehidupan seorang manusia. Adapun meminta pertolongan untuk kehidupan dunia ini kepada Allah merupakan sarana bagi manusia untuk dapat beribadah dengan baik.

Sehingga, disaat seorang hamba mencari rezki yang halal, bekerja maksimal di dunia, itu semua adalah dalam rangka agar mudah dan maksimal dalam beribadah kepada Allah.

Jangan sampai terjadi sebaliknya. Bekerja dan mencari berbagai sarana di dunia menjadi prioritas utama. Sedangkan ibadah hanyalah sambilan atau pelengkap saja. Dikerjakan sesempatnya, sekedar ada waktu dan kelapangan. Tentu ini akan berakibat kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Rasulullah telah gambarkan dua tipe obsesi manusia dalam ibadah dan bekerja:

عن أنس رضي الله عنه قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : ( من كانت الآخرة همه جعل الله غناه في قلبه ، وجمع له شمله ، وأتته الدنيا وهي راغمة ، ومن كانت الدنيا همه جعل الله فقره بين عينيه ، وفرق عليه شمله ، ولم يأته من الدنيا إلا ما قدر له ) صححه الألباني .

Artinya: Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah saw telah bersabda, "Barang siapa yang obsesinya akhirat, niscaya akan Allah berikan kekayaan di hatinya, Allah himpun urusan2nya, dan dunia akan datang kepadanya tunduk menyerah. Sedangkan orang yang obsesinya hanya dunia, niscaya Allah akan jadikan kemiskinan di matanya, Allah porak-porandakan urusannya, dan dunia tidak datang kepadanya kecuali hanya sekedarnya". (HR Tirmidzi, dishahihkan Albany).

Betapa beruntungnya orang yang obsesinya adalah ibadah(akhirat). Akan diliputi oleh kekayaan dan keberkahan. Sebaliknya, alangkah meruginya orang yang obsesinya hanya dunia. Kemana mata memandang, selalu merasa miskin. Banyak pekerjaan yang tidak tuntas atau bermasalah. Lalu kenikmatan dunia yang diperoleh juga terbatas, walaupun hartanya banyak.

Bagi hamba yang beriman, mendahulukan ibadah dari pada isti'anah juga merupakan sebuah adab dan sopan santun kepada Allah. Sekaligus merupakan wujud syukur kepadaNya atas berbagai nikmat yang telah diberikanNya tanpa meminta sebelumnya.

Wallahu A'laa wa A'lam.