Telepon itu berdering. Mungkin bagi sebagian orang, itu hanya panggilan biasa. Tapi bagi Sekretaris Umum DPW PKS Sumbar, dering itu adalah seruan amanah, panggilan kepercayaan. Maka tanpa ragu, ia mengangkatnya cepat. Tak ada basa-basi, tak ada kalimat pembuka yang bertele-tele. Justru ia langsung berkata,
“Apa yang bisa dibantu, Ustadz?”
Bukan “Ada apa?”, bukan “Siapa ini?”, melainkan "apa yang bisa dibantu." Sebuah kalimat sederhana namun mengandung ketulusan, kesiapsiagaan, dan semangat melayani yang tak dibuat-buat.
Sang kader yang menelepon pun menyampaikan kebutuhannya. Dan lagi-lagi, tanpa birokrasi berlapis, tanpa janji basa-basi atau kata “nanti ya”, sang Sekum menjawab,
“Siap, saya langsung tindak lanjuti.”
Dan benar saja, tak sampai 15 menit, kader itu mendapatkan pesan pribadi,
"Permintaan Ustadz sudah saya tindak lanjuti.”
Tidak hanya cepat. Tapi juga penuh empati. Tidak hanya tepat. Tapi juga tulus.
Melayani Bukan Sekadar Tugas, Tapi Napas Perjuangan
Peristiwa ini mungkin terlihat kecil bagi dunia luar. Tapi bagi para pejuang dakwah dan kader partai dakwah seperti PKS, ini adalah cerminan nilai, cerminan watak ruhani, dan cerminan komitmen kepemimpinan.
Dalam dunia yang penuh formalitas dan penundaan, kecepatan merespons seperti ini adalah cahaya. Ia bukan sekadar tanda sigap kerja, tapi tanda keikhlasan dan rasa tanggung jawab sebagai pelayan umat.
Bukankah Rasulullah Saw. adalah manusia yang paling tanggap pada kebutuhan umatnya? Bahkan ketika ada seorang budak kecil memanggil, beliau menoleh. Ketika seorang wanita tua butuh bantuannya, beliau meluangkan waktu.
Hari itu, Sang Sekum mungkin tidak sedang berdiri di atas mimbar. Tapi ia telah berdakwah dengan keteladanan. Ia telah memberikan taushiyah dengan perbuatan.
Jiwa yang Selalu Siap Menjawab "Apa yang Bisa Dibantu?"
Itulah semangat yang harus tumbuh dalam jiwa kader dakwah, jiwa yang tidak menunggu perintah, tapi mencari celah untuk memberi manfaat.
Bayangkan jika setiap qiyadah, pengurus, pembina/pembimbing UPA dan kader punya refleks yang sama saat menerima telepon atau pesan,
"Apa yang bisa dibantu?"
Maka dakwah ini akan melesat. Kepercayaan akan tumbuh. Dan cinta akan menyebar.
Melayani adalah Kunci Kemenangan Dakwah
Kita tidak butuh banyak panggung jika kita sudah banyak berkhidmat. Kita tidak butuh ribuan kata jika sudah ada satu tindakan nyata. Karena sejatinya, kemenangan dakwah bukan diraih oleh mereka yang duduk tinggi, tapi oleh mereka yang berdiri melayani.
Senin pagi itu, dari balik telepon, jiwa untuk berkhidmat hadir dengan tenang, cepat dan tulus. Dan dari sana, kita belajar bahwa kadang, dakwah tidak selalu butuh ceramah, cukup satu aksi nyata.
Ditulis oleh H. Oktarizal Fiardi, Lc.,M.Sos.