Amanah (Jabatan) adalah Ujian, Bukan Kehormatan - PKS Sumbar

09 September 2025

Amanah (Jabatan) adalah Ujian, Bukan Kehormatan

Ditulis oleh Ust. H. Oktarizal Fiardi, Lc,. M.Sos
(Ketua DED PKS Kota Padang)

Seringkali kita merasa "tinggi" karena diberi posisi. Kita duduk di kursi jabatan, lalu seolah-olah itu pertanda kita "lebih" dibanding yang lain. Padahal, sering kali posisi itu bukan karena kita lebih hebat, tetapi semata-mata karena Allah memberikan kita kesempatan.

Allah Swt  berfirman,

“Allah menganugerahkan kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabutnya dari siapa yang Dia kehendaki. Allah memuliakan siapa yang Dia kehendaki dan merendahkan siapa yang Dia kehendaki. Di tangan-Nya segala kebaikan.” (QS. Ali Imran: 26)

Ayat ini menegaskan bahwa jabatan bukan karena kepintaran atau kelayakan semata, tetapi karena Allah yang menakdirkan dan memberikan kesempatan.

Amanah Itu Berat, Bukan Sekadar Gelar

Rasulullah Saw. mengingatkan dalam hadits riwayat Abu Hurairah r.a.,

“Sesungguhnya amanah itu adalah kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajibannya yang seharusnya ditunaikan.” (HR. Muslim)

Maka amanah bukanlah kehormatan yang harus disombongkan, melainkan beban tanggung jawab yang akan ditanya di hadapan Allah.

Meneladani Nabi Saw dan Para Sahabat r.a.

Nabi Muhammad Saw. bersabda ketika seorang sahabat meminta jabatan,

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, engkau akan ditolong (oleh Allah). Tetapi jika engkau diberi karena memintanya, engkau akan dipikul (sendiri tanggung jawabnya).” (HR. Bukhari & Muslim)

Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a. saat diangkat menjadi khalifah berkata dengan penuh rendah hati,

“Aku telah dipilih menjadi pemimpin kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku benar, ikutilah aku. Jika aku salah, luruskanlah aku.”

Umar bin Khattab r.a. sering menangis di malam hari seraya berkata:

“Seandainya seekor keledai tersandung di jalan Irak, aku khawatir Allah akan menuntutku, Mengapa engkau tidak meratakan jalannya, wahai Umar?”

Para salafusshalih sangat berhati-hati dengan jabatan. Imam Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata,

“Demi Allah, kepemimpinan bukanlah kenikmatan, melainkan tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.”

Antara Rendah Hati, Tanggung Jawab dan Sinergi

Siapa yang hari ini diberikan amanah bukan berarti dia paling hebat di antara saudara-saudara seperjuangan. Bisa jadi ada kader lain yang sebenarnya jauh lebih hebat, lebih ikhlas, lebih cerdas dan lebih visioner, namun untuk saat ini, jalan dan peluang belum Allah bukakan baginya.

Maka ada tiga prinsip penting untuk selalu direnungkan oleh mereka yang diberikan amanah:

1. Rendah hati. Jangan jadikan jabatan sebagai kebanggaan, tapi sebagai ladang pelayanan.

2. Sadar tanggung jawab. Selalu ingat, setiap keputusan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

3. Bersinergi. Jabatan bukan berarti bekerja sendiri, tapi menjadi penggerak yang merangkul potensi kader lain yang mungkin justru lebih hebat.

Kursi jabatan hanyalah singgah. Ia akan pergi bersama waktu, dan yang tersisa hanyalah hisab di hadapan Allah. Amanah harus dijadikan sebagai jalan untuk lebih dekat dengan-Nya, bukan untuk meninggi di hadapan manusia.

Rasulullah Saw. bersabda,

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, yang kalian doakan dan mereka mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, yang kalian laknat dan mereka melaknat kalian.” (HR. Muslim)

Maka, jadilah pengemban amanah yang dicintai Allah, yang tawadhu kepada kader, yang melayani umat dan yang menunaikan amanah dengan penuh tanggung jawab.

Bagikan

Give us your opinion

Pemberitahuan
Jangan lupa untuk like dan subscribe PKS Sumbar.
Done