Pages

Sabtu, 05 Januari 2013

Gubernur Sumbar: Orientasi Pengembangan Sapi untuk Menambah Pendapatan dan Kesejahteraan Masyarakat

Padang – Pemprov Sumbar terus berupaya menyukseskan program nasional, swasembada daging 2014. Sejumlah kegiatan strategis telah dilakukan dalam mendukung program tersebut. Pemprov telah membuat kebijakan strategis tersebut dalam dua bentuk kegiatan. Yakni, Gerakan Satu Petani Satu Sapi (SPSS) dan Gerakan Pensejahteraan Petani (GPP).

Gerakan SPSS telah dimulai tahun 2010. gerakan ini untuk meningkatkan kesejahteraan petani Sumbar. Gubernur Irwan Prayitno dan Wagub Muslim Kasim memperhatikan potensi dasar alam Minangkabau di bidang pertanian mencapai 60 persen dari jumlah penduduk, dengan pendapatan domestik regional bruto (PDBR) bidang pertanian 23,7 persen. Artinya, perekonomian petani berada pada level yang memprihatinkan.

Data kepemilikan lahan petani relatif kecil, rata-rata 0,3 ha/petani. Itu pula yang menyebabkan jam kerja petani rendah, sehingga berdampak terhadap pendapatan petani.

Karena itu, perlu inovasi program kerja dan akselerasi kegiatan untuk meningkatkan jam kerja petani yang saat ini rata-rata 3,5 jam /hari.

Berangkat dari persoalan itulah, Gerakan SPSS diluncurkan. Menambah jam kerja petani, maka akan meningkatkan pendapatan petani. Gerakan SPSS juga dapat menyediakan tenaga kerja serta cadangan masyarakat dan mendukung program nasional percepatan swasembada daging 2014,” ujar kepala Dinas Peternakan Sumbar, Edwardi.

Edwardi menyebutkan, jika selama ini petani hanya bekerja 3,5 jam, dengan tambahan bantuan sapi jam kerja mereka bertambah. Swasembada daging tak hanya dalam pengertian swasembada daging sapi, tapi juga kerbau. Sejak 2010 sampai 2012, telah terjadi peningkatan populasi sapi dan kerbau di Sumbar.

Tahun 2011, terjadi penambahan populasi sapi sebanyak 9.793 ekor dari tahun 2010. Sedangkan pada 2012, terjadi penambahan populasi sapi sebanyak 12.195 ekor dibanding tahun 2011.

Pada tahun 2010, jumlah populasi sapi di Sumbar 327.013 ekor. Pada 2011, jumlah populasi sapi di Sumbar 336.806 dan pada 2012, jumlah populasi sapi di Sumbar 349.001 ekor. ”Itu data Biro Pusat Statistik (BPS). Data itu sudah by name by address. Jadi angka penambahan populasi sapi itu, bukan angka yang kami karang sendiri, tapi angka yang valid dari BPS,” tuturnya.

Sementara itu, sejak tahun 2010 sampai 2012, telah terjadi peningkatan populasi kerbau. Tahun 2011, telah terjadi peningkatan jumlah kerbau sebanyak 5.644 ekor dibanding jumlah populasi 2010. Pada tahun ini, telah terjadi peningkatan jumlah populasi kerbau sebanyak 2.119 ekor dari jumlah tahun 2011. Jumlah populasi kerbau tahun 2010 sebanyak 100.310 ekor, tahun 2011 sebanyak 105.954 ekor dan tahun 2012 sebanyak 108.073 ekor.


Edwardi mengatakan, pangan asal hewan seperti susu, daging dan telur memberikan kontribusi sebesar 38 persen terhadap kebutuhan manusia dan akan meningkatkan 5 sampai 10 persen per tahun. Pertumbuhan ini sangat dipengaruhi pertumbuhan ekonomi Sumbar yang diperkirakan 6 persen  per tahun serta pertumbuhan penduduk mendekati angka 1,8-2 persen per tahun, ditambah lagi perubahan dan percepatan yang dipacu pembangunan provinsi tetangga.

”Selain untuk memenuhi kebutuhan internal, Sumbar juga menyuplai komoditi pangan asal hewan untuk Riau, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Sumbar juga mengirimkan pupuk organik/kompos dari kotoran sapi dan ayam,” ucapnya.

Untuk menyukseskan program tersebut, Pemprov memberikan kemudahan bagi para peternak. Kemudahan itu berupa penjaminan kredit melalui Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS) dan Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E).

Realisasi KUPS sampai akhir November 2012 sebesar Rp 25,625 milliar dan KKP-E sebesar Rp38,371 miliar. ”Program lainnya untuk mendukung swasembada daging melakukan integritasi program dengan beberapa perusahaan perkebunan sawit dengan memanfaatkan dana CSR melalui program, integritasi ternak sapi,” tuturnya.

Selain integrasi sapi dengan perusahaan sawit, juga dilakukan integrasi sapi dengan PT Mitra Kerinci di Solsel yang sudah terealisasi 200 ekor dari 2.000 ekor yang direncanakan. Demikian juga dari perantau.

Saat ini, Pemprov telah menjajaki kerja sama dengan BUMN untuk pengembangan peternakan sapi. Pemprov bekerja sama dengan PT Berdikari, salah satu BUMN yang berdiri tahun 1966 dan semenjak tahun 2010 ditugaskan untuk menjadi BUMN Peternakan.

Kawasan pengembangan agribisnis sapi pedaging ditetapkan kluster triaga; kawasan Gunung Singgalang, Marapi dan Sago yang melibatkan tujuh kabupaten/kota di Sumbar.

”Direncanakan akan dilakukan penandatangan nota kesepahaman antara Meneg BUMN Dahlan Iskan dengan Gubernur Sumbar dan Dinas Peternakan Sumbar dengan PT Berdikari (Persero) pada minggu kedua dan ketiga Januari,” tuturnya.

Untuk menyukseskan program swasembada daging, disiapkan suprastruktur (kelembagaan) berupa Balai Inseminasi Buatan Tuah Sakato, Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner, Klinik Hewan dan Laboratorium Keswan, Balai Pembibitan Ternak Simpang Empat dan Puskeswan 61 unit dan Pos IB 152 unit.

Kebijakannya adalah meningkatkan pemanfaatan sumber daya lokal, mengembangkan kawasan sentra pembibitan sapi/kerbau potong, mengembangkan penerapan teknologi tepat guna, menongkatkan produksi dan produktivitas, pengawasan dan pengendalian betina produktif, pemberian insentif pada peternak, pengawasan lalu lintas ternak dan pengembangan dan pemberdayaan kelembagaan.

”Penanggulangan reproduksi yang telah dilakukan selama 2012 ini adalah diagnosa 9.540 ekor dan pengobatan yang telah dilakukan 9.188 ekor. Penanggulangan reproduksi ini dilakukan puskeawan,” tuturnya.

Gubernur Irwan Prayitno menjelaskan, daya tampung lahan di Sumbar untuk ruminansia (sapi dan kerbau) berdasarkan hasil kajian Unand tahun 2006 sebesar Rp3,2 juta. Peluang untuk pengembangan sapi dan kerbau sebanyak 2,7 juta atau 86,75 persen. ”Orientasi pengembangan sapi lebih pada pengembangan sapi yang dipelihara masyarakat. Sebab, ini akan menambah pendapatan dan kesejahteraan masyarakat,” tukasnya.

Irwan menyebutkan, Gerakan SPSS telah mengurangi penggunaan pupuk karena kotoran ternak dapat dijadikan pupuk dan biogas.

Padang Ekspres

0 komentar:

Posting Komentar