Pages

Selasa, 17 Maret 2015

Pers di Sumatera Barat

Dunia pers bukanlah hal baru bagi masyarakat Sumatera Barat . Sejak 7 Desember 1864—hampir satu setengah abad lalu—di Minang  sudah terbit surat kabar berbahasa Melayu. Pada saat itulah, edisi perdana Bintang Timoer diluncurkan. Bintang Timoer merupakan koran pribumi pertama (vernacular press) yang terbit di Ranah Minang. Sejarah mencatat  Padang sebagai  kota pers tertua di Sumatera, dan termasuk kota perintis munculnya surat kabar di Indonesia (Yuliandre, disertasi 2010).
Lalu karena mendapat respon dan pasar yang baik, koran Bintang Timoer diterbitkan seminggu sekali, yaitu setiap Rabu, sejak 4 Januari 1865. Ketika di tempat lain orang baru mengenal naskah (manuscript) beraksara Jawi, di Padang orang Minangkabau sudah membolak-balik halaman kertas lebar bernama surat kabar. Setelah itu terbit lagi sejumlah surat kabar di Minangkabau, diantaranya,  Pelita Ketjil (Padang, 1892-1894), Warta Berita (Padang, 1895), Tjahja Sumatra (Padang, 1906). Tokoh pers yang menonjol saat itu antara lain, Mahyoeddin Datoek Soetan Maharadja, anak nagari Sulit Air, Abisin Abbas, Dja Endar Muda, dan Syekh Achmad Chatib.
Khairul Jasmi (Pantau, Februari 2002) menulis, kepiawaian menulis atau mengeluarkan pendapat orang Minangkabau di abad 19 itu tersalurkan melalui surat kabar tersebut. Media massa jadi sarana melancarkan perbincangan dan polemik. Topik yang dibahas diantaranya tentang kebangkitan Asia, Jepang, perjuangan kemerdekaan dan masa depan negara. Selain itu topik yang banyak dibahas dan mendapat perhatian serius adalah tentang agama Islam dan kehidupan beragama.
Bisa dikatakan visi dan missi pers Sumatera Barat saat itu adalah perjuangan kemerdekaan, pemikiran masa depan bangsa dan agama. Kita yakin sedikit banyaknya kehadiran surat kabar saat itu ikut berperan terhadap munculnya banyak tokoh-tokoh agama, pemikir dan pejuang kemerdekaan dari Sumatera Barat. Sebut saja Hamka, Natsir, Agus Salim, Hatta, M Yamin dan sederet  tokoh pemikir dan pejuang kemerdekaan lainnya.
Setelah kemerdekaan, missi yang dibawa pers adalah mempertahankan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Maka jika sebelumnya dinamakan pers perjuangan, di era berikutnya disebut dengan pers pembangunan. Sementara itu pers juga makin berkembang, tidak hanya melahirkan media cetak, tetapi juga media elektronik dan televisi. Pers dan media berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan dan mengisi pembangunan.
Sesuai dengan perkembangan zaman dan situasi, arah pemberitaan media nampaknya beralih cukup besar saat momentum pelaksanaan pemilihan langsung Pilpres dan Pilkada, begitu juga dengan pelaksanaan Pemilihan Legistlatif (Pileg).  Pesta demokrasi tersebut telah menyita perhatian masyarakat seluruh Indonesia, tentu juga mencuri perhatian media massa. Lalu berita-berita dan berbagai informasi yang berkaitan dengan pesta demokrasi dan politik hadir setiap hari menghiasi pemberitaan media massa, termasuk di Sumatera Barat.
Namun yang pasti pers dan media dibutuhkan oleh masyarakat dan multi stake holhers sepanjang masabaik masyarakat umumpengusaha, pemerintah, politisi, akademisi dan lain-lain. Masing-masing komponen memiliki kebutuhan akan pers, baik secara umum, maupun secara spesifik. Indikatornya adalah media tersebut terus ditonton jika berupa televisi, didengar jika berbentuk radio dan dibaca jika berbentuk media cetak. Di Sumbar televisi lokal, radio dan media cetak terus tumbuh dan eksis. Artinya konten (isi) yang ditawarkan media sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehingga pengelola media mendapatkan  balas jasa (imbalan) dari hasil karya  mereka tersebut, baik berupa pembelian media cetak (iyuran berlangganan)  maupun iklan dan media makin eksis.
Menurut Jacob Oetama di sinilah letak seni bisnis mengelola media massa. Menurutnya media massa adalah perpaduan antara idealisme dan bisnis. Ramuan kedua komponen ini harus pas sehingga ibarat sebuah masakan, tidak terlalu asin, juga tidak terlalu pedas sehingga pas di lidah. Masakan yang  gurih, pas di lidah pasti akan cepat terkenal dan banyak peminatnya, tetapi masakan yang tidak enak pasti akan ditinggalkan dan segera dilupakan pelanggan.
Satu hal lagi yang menjadi fenomena pers Sumbar adalah daerah ini terkenal sebagai tempat kaderisasi wartawan. Mungkin sudah tak terhitung jumlah wartawan yang memulai karirnya di Sumatera Barat, lalu hijrah ke daerah lain dan sukses mengembangkan karir di sana. Wilayah jangkauannya menyebar hampir ke seluruh pelosok Indonesia.
Koran Singgalang yang didirikan oleh H. Basril Djabar misalnya, dinilai paling banyak menghasilkan kader-kader jurnalistik. Rekan-rekan wartawan cendrung menyebutnya sebagai Istitut Publisistik Singgalang, karena banyak sekali kader-kader eks wartawan Singgalang yang sukses dan menjadi wartawan handal atau di profesi sejenis di daerah/media lain. Semoga apa yang dilakukan Da Bas bersama Korang Singgalang menjadi amal ibadah dan mendapat pahala yang berlipat ganda hendaknya, aamiinn. Di koran-koran tua yang lain seperti Haluan, Semangat dan Canang juga terjadi hal serupa meski volumenya agak berbeda.
Sejarah pers di Sumatera Barat amatlah panjang. Banyak sisi-sisi positif yang bermanfaat bagi daerah dan masyarakat Sumatera Barat. Mari kita tingkatkan semua aspek-aspek positif tersebut semaksimal mungkin dan kita minimalisir segala kelemahan dan sisi negatif yang ada. Orang yang sukses adalah mereka yang mampu mengoptimalkan semua kebaikan dan kelebihan serta  meminimalisir kesalahan dan kelemahannya.
Jika hal itu dilakukan dengan baik dan bersungguh-sungguh, saya yakin pers di Sumbar terus berjaya dan makin eksis.  Semoga pers Sumatera Barat khususnya makin dicinta, pas ramuan bisnis dan idealismenya, insan pers pengelolanya pun makin profesional dan  sejahtera. Amiinn.  ***
Irwan Prayitno
Gubernur Sumatera Barat
Singgalang 17 Maret 2015

0 komentar:

Posting Komentar