Pages

Senin, 22 Juni 2015

Ramadhan Bulan Kedarmawanan


Rasulullah saw adalah seorang yang sangat dermawan. Beliau memberi kepada orang lain pemberian orang yang tidak takut miskin. Tidak jarang Beliau menjadi tak punya apa-apa karena sudah diberikan kepada orang lain.

Ada seorang lelaki yang datang dan masuk Islam, diberi oleh Beliau sepadang rumput binatang ternak. Ia sangat bahagia dan segera berangkat menuju kaumnya. Kepada mereka ia berkata: "Masuk Islamlah kalian, demi Allah sesungguhnya Muhammad memberi pemberian orang yang tidak takut miskin..." (Shahih Muslim dari Anas bin Malik)

Pernah juga seorang arab kampung bertemu Beliau saat perjalanan pulang dari perang Hunain. Lelaki itu memaksa meminta selendang (sorban) Nabi. Sampai Beliau terdesak ke sebuah pohon. Tapi Beliau tetap sabar dan memberi orang berperilaku seperti itu... (di dalam HR Bukhari).
Begitulah Beliau, nabi kita yang Mulia, Baginda Muhammad saw. Tak pernah menolak sedikitpun atau mengatakan tidak terhadap permintaan para sahabatnya.

\Sudah begitu, ternyata Rasulullah sangat dan paling dermawan di bulan Ramadhan. Bahkan lebih dermawan dalam kebaikan dari pada angin yang berhembus... (HR Bukhari). Angin bisa kemana saja dan mengenai siapa saja. Begitu juga Beliau, lebih dermawan dari angin mengalir... tanpa pilih kasih.
Karena itu, kedermawanan juga merupakan ciri dan identitas ramadhan. Orang yang sudah terbiasa menahan nafsunya dari hartanya yang halal, pastilah ringan baginya memindahkan atau membagikan sebagian hartanya tsb kepada orang lain. Dengan kata lain, puasa memberikan pengaruh positif terhadap tingkat kedermawanan seseorang.

Teringat saya tentang "perangai" saya dengan dosen-dosen di timur tengah. Dimana saya perhatikan lumayan banyak dosen saya yang rutin puasa sunnah senin dan kamis. Setelah saya perhatikan, ternyata mereka bila saat puasa terkesan lebih pemurah. Bila saya minta sesuatu di hari senin atau kamis, terasa agak lebih mudah dan cepat terealisasi. Sampai- sampai saat suatu waktu saya ingin memiliki kitab riyadush shalihin yang bagus, cetakan arab saudi, saya datangi wakil direktur urusan kemahasiswaan pada hari kamis. Saya katakan bahwa saya ingin punya kitab riyadush shalihin untuk berdakwah di kampung halaman. Beliau langsung merespon. Dan dapatlah saya kitab tsb yang bagus dan baru...

Kejadian semisal itu sangat banyak saya rasakan saat kuliah di Lipia jakarta, di Kuwait dan di Cairo. Begitulah efek langsung dari puasa yang benar.

Adalah pemandangan yang sangat menyejukkan hati bila diramadhan ini kita saling berlomba dalam memberi dan berbagi. Tidak lagi sekedar mengenyangkan diri dengan berbagai menu perbukaan... tapi mulai berfikir saya mau memberi apa dan siapakah hari ini?

Kita merindukan hadirnya pasar pabukoan gratis, atau jamuan gratis di pinggir jalan bagi siapa saja yang tak sempat pulang saat adzan berkumandang... dan bentuk-bentuk kedermawanan lainnya...

 * Harta kita yg abadi adalah yang kita berikan, sedangkan harta yang kita sisihkan/simpan, itu adalah harta ahli waris kita....(kandungan HR Bukhari dari Ibnu Mas'ud)

Irsyad Syafar

0 komentar:

Poskan Komentar