Pages

Senin, 20 Maret 2017

Cocok Bagiku, Tak Sesuai Denganmu

Seorang ayah menikahkan dua orang anak gadisnya. Yang pertama bersuamikan seorang petani. Sedangkan yang kedua bersuamikan tukang batu bata.

Setelah sekian lama dibawa suaminya masing-masing, si ayah datang bersilaturrahim mengunjungi anaknya satu persatu.

Saat mengunjungi anak yang pertama, dia bertanya kepada anaknya, "Bagaimana keadaanmu?".
Anaknya menjawab, "Kami baik-baik saja. Suamiku menyewa sebidang sawah. Lalu berhutang membeli benih dan menanamnya di sawah kami. Maka, bila hari hujan, kami dalam keadaan bahagia dan beribu kesyukuran. Tapi, bila hari kemarau, kami akan mendapat musibah".

Setelah mendengar penuturan anaknya tersebut, si ayah pergi menuju anaknya yang kedua. Kepada anaknya dia bertanya, "Bagaimana keadaan kalian?".
Anaknya menjawab, "Kami baik-baik saja. Suamiku menyewa sebidang tanah dan membuat batu bata dari tanah liat. Bila hari panas dan kemarau, kami sangat bahagia dan dalam ribuan kesyukuran. Tapi bila hari hujan, maka kami akan mendapat mushibah".

Setelah berbincang dengan anaknya, si ayah pulang kembali ke kampungnya. Sesampai di rumah, sang istri menanyakan kondisi anak-anaknya. Suaminya menjelaskan, "Bila hari hujan, maka bersyukurlah kepada Allah. Dan bila kemarau datang, maka bersyukurlah kepada Allah. Kita bersyukur kepadaNya dalam segala situasi".

* * * * *

Begitulah kehidupan kita di dunia. Apa yang cocok untuk kita, belum tentu sesuai bagi orang lain. Keinginan tukang jual es adalah hari panas terik. Keinginan tukang sate lebih baik suasana hujan dan sejuk. Tukang ojek menginginkan hari cerah. Sebaliknya ojek payung menginginkan hari hujan.

Disaat kita berdoa kepada Allah meminta turun hujan, bisa jadi ada saudara lain yang meminta tidak turun hujan. Barangkali kita butuh pendingin ruangan dinyalakan, tapi di dekat kita ada yang butuh jaket untuk memanaskan kedinginan yang dia rasakan.

Rata-rata permasalahan pergaulan kita dengan orang-orang disekitar kita ada dua hal: maksud yang tidak dipahami, atau pemahaman yang tidak seperti itu maksudnya.

Akan menjadi minimal permasalahan tersebut bila dua hal juga selalu kita lakukan: meminta penjelasan atas maksud saudara kita, atau berbaik sangka atas pemahamannya.

Seorang muslim yang baik adalah yang peduli dengan situasi saudaranya. Berusaha untuk memahami jauh lebih maslahat dari pada meminta untuk dipahami.

Jika saudara kita punya keterbatasan dalam ungkapan, maka jangan batasi dia dalam penjelasan. Jika kita mendengar sesuatu tentang saudara kita, maka sebaiknya dengarkan langsung darinya. Dan jangan halangi dia untuk membela dirinya.

Maha Suci Allah yang mengetahui semua yang nyata dan segala yang rahasia....

H. Irsyad Syafar Lc, M.Ed
Ketua DPW PKS Sumbar

0 komentar:

Posting Komentar