Pages

Selasa, 30 Januari 2018

Laa Tahzan, Allah Bersama Kita

Oleh: Irsyad Syafar

Kalimat di atas merupakan ungkapan Rasulullah saw kepada Abu Bakar yang Allah abadikan di dalam QS At Taubah ayat 40.

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: "Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At Taubah: 40).

Ketika itu Rasulullah saw dan Abu Bakar dalam perjalanan Hijrah ke Madinah, lari menyelamatkan diri dan agama dari kejaran kafir qureisy. Mereka berdua bersembunyi di dalam gua Tsur. Walaupun sudah dengan berbagai pengelabuan dan upaya merahasiakan perjalanan hijrah ini, namun akhirnya  orang-orang kafir qureisy sampai juga ke depan mulut gua tsur  tersebut.

Abu Bakar sangat cemas dan khawatir. Sebab, kaki-kaki para pengejar sudah kelihatan di atas kepala mereka. Sampai-sampai dia berkata kepada Nabi, "Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke arah kaki mereka, niscaya ia akan melihat kita".

Tapi, Rasulullah saw menenangkan sahabatnya dan berkata, "Apa persangkaanmu terhadap orang yang berdua, sedangkan yang ketiganya adalah Allah". (HR Bukhari dan Muslim).

Maka Allah turunkanlah rasa tentram di dalam hati mereka berdua. Dan Allah turunkan bala tentaranya dari kalangan malaikat yang tidak kelihatan. Sehingga, orang-orang kafir qureisy tidak melihat sama sekali Rasulullah saw dan Abu Bakar di dalam gua yang sudah dekat di hadapan mereka.

At Taubah ayat 40 ini mengabarkan secara gamblang bahwa Allah "bersama" hamba2Nya yang mulia. Tidak sekedar "kebersamaan" umum berupa melihat, mendengar, mengetahui dan memantau. Tapi, lebih jauh lagi sampai kepada tingkat melindungi, menolong, menguatkan, menentramkan, membela dan bahkan memenangkan terhadap musuh-musuhNya.

Ini merupakan bentuk kebersamaan Allah yang khusus (ma'iyyah khashshah) dengan hamba-hamba pilihanNya, baik para Nabi dan Rasul, maupun orang-orang beriman sesudah mereka sampai hari kiamat.

Allah telah memberikan kebersamaan khusus ini dahulunya kepada Nabi Ibrahim saat menghadapi Raja namruth, sehingga selamat dari api yang sangat besar. Juga kepada Nabi Nuh saat menghadapi badai Tsunami terbesar di dunia, dan selamat bersama kaumnya yang beriman. Juga kepada Nabi Musa dan Nabi Harun yang ditindas dan dikejar-kejar oleh Firaun dan bala tentaranya. Allah berkata:
قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

Artinya: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". (QS Thaha: 46).

Kebersamaan khusus ini juga telah dirasakan oleh para sahabat Nabi yang mulia, sejak generasi-generasi awal. Baik para khulafaurrasyidin, sahabat-sahabat senior, maupun sahabat lain yang kadang namanya tidaklah terkenal.

* * * * *

Salah seorang sahabat Nabi yang terkenal sebagai pemilik doa mustajab (Rasulullah saw pernah mendoakan itu untuknya), yaitu Sa'ad bin Abi Waqqas. Beliau adalah salah seorang dari 10 sahabat yang diberitakan pasti masuk sorga. Pada masa khalifah Umar bin Khattab, Beliau diamanahi sebagai Gubernur (amir) Bashrah. Datanglah beberapa orang bashrah mengadukan Sa'ad tentang kekurangannya dalam melaksanakan shalat. Kemudian Umar mengkomfirmasi hal tersebut kepada Sa'ad, dan Beliau bisa menjawab dan mnjelaskannya dengan baik.

Kemudian Umar mengirim beberapa orang kepercayaannya untuk meninjau langsung ke bashrah, menanyakan perihal kepemimpinan Sa'ad ke rumah-rumah penduduk Bashrah. Semua keluarga yang dikunjungi memberikan pujian dan kepuasan atas kepemimpinan Sa'ad.

Saat rombongan berada di masjid, tiba-tiba seorang laki-laki menyatakan bahwa Sa'ad  tidak ikut dalam berperang, tidak memimpin dengan adil dan tidak peduli kepada rakyatnya. Mendengar fitnah seperti itu, Sa'ad bin Abi Waqqas langsung berdoa: "Ya Allah, jika laki2 ini berbohong, maka butakanlah matanya, panjangkanlah umurnya dan timpakan fitnah kepadanya". Dan memang ternyata laki-laki tersebut kemudian menjadi buta, umurnya panjang dan diakhir hayatnya terkena fitnah. (Riwayat Jabir bin Samurah, dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dan kitab Siyar A'lam An Nubala').

'Amir bin Sa'ad bin Abi Waqqas meriwayatkan, bahwa pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, ada seorang lelaki mencaci maki Ali di tengah kerumunan orang. Bahkan juga mencaci-maki Talhah bin Ubaidilah dan Zubeir bin Awwam. Ketika itu juga Sa'ad menasehatinya agar berhenti mencaci-maki Khalifah Ali yang jauh lebih baik darinya. "Kalau tidak berhenti, aku akan do'kan kamu" kata Sa'ad. Akan tetapi lelaki tersebut tidak peduli. Malah ia balik mengejek Sa'ad dan berkata, "Kamun menakut-nakuti saya! Kayak nabi saja kamu!". Akhirnya Sa'ad berdoa kepada Allah: "Ya Allah, Engkau jagalah Ali dengan cara yang Engkau kehendaki".

Tak lama setelah itu, secara tiba-tiba, seekor onta besar datang dari arah pasar Bashrah masuk ke dalam kerumunan orang ramai tersebut. Orang-orang jadi menghindar. Kemudian onta besar tersebut menyeruduk lelaki tadi dan menginjaknya.

* * * * *

Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wa An Nihayah menceritakan seorang sahabat Nabi yang bernama Safinah. Beliau adalah budak dari Istri Rasulullah saw, Ummu Salamah. Beliau dimerdekakan oleh Ummu Salamah dengan syarat tetap menjadi pelayan Rasulullah saw. Nama Safinah sendiri diberikan oleh Rasulullah saw ketika dia diminta membawa barang-barang yang banyak, tapi tak berat baginya. Rasulullah saw berkata, "Angkatlah, sesungguhnya engkau adalah sebuah kapal (Safinah)". (HR Ath Thabrany).

Seorang senior tabi'in, Muhammad Bin Al Munkadir meriwayatkan bahwa Safinah maula Rasulullah saw ini pernah bepergian menaiki sebuah perahu. Namun perahu itu pecah dihantam ombak. Dengan sisa-sisa kayu perahunya dia selamat sampai ke daratan. Namun, di daratan dia dihadang oleh seekor singa yang sudah siap akan menerkamnya. Safinah langsung berbicara kepada singa tersebut, "Wahai abal haris (singa), aku adalah Safinah, budak Rasulullah saw". Mendengar perkataan Safinah, singa itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia menggosokkan punggungnya ke badan Safinah. Bahkan kemudian ia menunjukkan Safinah jalan keluar dari kawasan tersebut. Setelah itu singa tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya seolah berkata kepada Safinah, "Selamat jalan". Begitulah Allah "bersama" hambaNya.

* * * * *

Dalam kitab "Siyar a'lam Nubala" diceritakan seorang tabi'in yang mulia, Shilah bin Asyam Al 'Adawi. Beliau salah satu murid dari Ibnu Abbas. Kemuliaan dirinya dan juga keluarganya diakui oleh banyak ulama. Salah seorang anaknya syahid dalam sebuah jihad. Ketika beberapa perempuan tetangga datang bertakziyah kepada istri Shilah yang bernama Mu'adzah, sang istri berkata kepada tamu, "Jika kalian datang kesini untuk bertakziyah menghiburku (atas duka kematian anaknya), maka tidak usah. Pergilah kalian, aku tidak berduka. Tapi jika kalian datang untuk mengucapkan selamat (atas syahidnya anaknya), maka silakan. Aku sangat bahagia".

Ibnu Al Mubarak, seorang Ulama Tabi'in menceritakan bahwa Shilah ini pernah pergi berjihad dalam sebuah pasukan. Di tengah malam saat para mujahid beristirahat, Shilah menyelinap keluar dari rombongan, menuju semak-belukar. Beliau hendak melakukan qiyamullail tanpa diketahui oleh mujahid yang lain. Rupanya salah seorang prajurit memantau semua gerak-geriknya.

Di saat Shilah larut dalam khusyuknya shalat malam, rupanya seekor singa telah mendekatinya. Singa itu mulai mengitarinya. Tapi Shilah tidak terganggu apalagi sampai memutuskan shalatnya. Ketika telah selesai salam ke kanan dan ke kiri, dia langsung berkata kepada singa: "Wahai singa, pergilah mencari makan di tempat lain". Singa itupun berbalik dan lari ke dalam hutan dengan auman yang sangat keras. Begitulah kebersamaan Allah dengan hambaNya.

* * * * *

Begitu banyak hamba-hamba Allah yang beriman telah merasakan "kebersamaan khusus" dengan Allah. Al 'Alaa' bin Alhadhrami, seorang sahabat Nabi yang dikirim berperang ke Bahrain dengan pasukannya. Setelah shalat dua rakaat dan berdoa kepada Allah, dia dan pasukannya bisa berjalan di atas air dan selamat sampai ke daratan untuk berperang. Al Hasan Al Bashri yang dipanggil ke Istana oleh Panglima yang bengis dan kejam, Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi, akibat ceramah dan kajiannya yang tegas menyikapi penyimpangan panglima Hajjaj. Semua peralatan untuk memenggal leher Hasan Al Bashri sudah siap menunggunya di istana; pedang, cambuk dan alas lantai supaya tidak berserakan darahnya kemana-mana. Sebelum masuk ke ruang Hajjaj, Hasan Al Bashri melantunkan beberapa doa dimulutnya. Tiba-tiba Hajjaj berubah menjadi ramah dan sopan kepadanya. Bahkan mendudukkannya di sampingnya, memberinya wewangian dan memujinya sebagai pemimpin para ulama di hadapan para hadirin yang tadinya sudah akan menyaksikan pembunuhan.

* * * * *

Dalam era kontemporer, juga sangat banyak terjadi "kebersamaan khusus" ini. Perang jihad di afghanistan melawan penjajah uni sovyet meninggalkan banyak kisah-kisah pertolongan Allah. Begitu juga jihad di Palestina, Bosnia, Irak, Suriah dan di berbagai negara lainnya.

Salah seorang Jendral mesir di masa rezim Husni Mubarak tidak mengizinkan pimpinan Hamas, Khalid Misy'al masuk ke istana presiden Mubarak untuk berunding dengan utusan Israel. Bahkan sang jendral sempat bersumpah dan berkata, "Langkahi dulu mayat saya oleh Misy'al, baru dia bisa masuk istana Presiden". Ternyata ucapan ini kemudian terealisasi. Saat Presiden Mursi berkuasa, Khalid Misy'al masuk ke istana presiden. Di waktu yang bersamaan, sang jendral tewas di Suriah setelah serangan para mujahidin menghatam posisi rezim penguasa basyar Asad di damaskus, dan juga menewaskan beberapa keluarga dekat basyar.

Ada seorang da'i dan juga sekaligus seorang dokter, di masa rezim Gamal Abdun Nasher. Di dalam penjara, disamping berbagai siksaan yang dialaminya, dia juga pernah "dikencingi" oleh sipir penjara di saat dia sujud dalam shalatnya. Dokter ini tak berdaya, kecuali hanya berdoa kepada Allah (dalam sujudnya), memohon agar sipir ini dimatikan dengan cara yang susah. Benar saja, kemudian di masa rezim Anwar Sadat,  dokter ini kembali praktek di rumah sakit. Suatu hari dia menerima pasien yang terluka parah dan sakarat, korban tabrakan kendaraan yang mengerikan. Pasien ini sakarat dengan sebuah besi menancap di lehernya, sementara dia masih hidup. Dokter inilah yang membantunya mengeluarkan besi tersebut, dan menyaksikan sendiri kesusahan sipir tersebut sampai mati di ruang ICU.

Tidak sedikit penguasa diktator atau orang-orang sekuler yang melecehkan agama Allah di berbagai belahan dunia, menzhalimi para ulama dan orang-orang shaleh, nasibnya berakhir tragis. Ada yang masuk penjara, terkena stroke, mati dengan sangat buruk atau akhirnya tewas karena tabrakan, kecelakaan atau mungkin di tangan rakyatnya sendiri.

* * * * *

Sesungguhnya Allah tidak pernah tidur, lalai apalagi lupa. Dia pasti akan menolong hamba-hambaNya dengan cara-cara yang dikehendakiNya. Tugas seorang hamba hanyalah berusaha maksimal untuk memantaskan diri menjadi yang berhak menerima "kebersamaan khusus" dari Allah. Sehingga kemudian ia tak akan takut, sedih dan berduka-cita.
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Artinya: "Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak". (QS Ibrahim: 42).

Wallahu A'laa wa A'lam.

0 komentar:

Posting Komentar