Pages

Selasa, 05 Juni 2018

Kisah dan Ibrah (20)

Ramadhan 20

Oleh: Irsyad Syafar

Kisah Nabi Musa as adalah kisah yang paling banyak diceritakan Allah SWT dalam Al Quran, paling sering diulang dan paling detail. Tentunya sebagai pelajaran bagi umat Nabi Muhammad saw. Sebab umat Beliau akan bertemu dengan umat Nabi Musa (keturunan mereka) dan berinteraksi dengan mereka sampai akhir zaman.

Berbagai episode kisah Nabi Musa dengan kaum dan umatnya dan juga dengan Firaun dan para pengikutnya, muncul di dalam Al Quran. Salah satunya kisah pembangkangan Firaun yang tak pernah mau sadar dan beriman. Padahal berulang-ulang dia meminta mukjizat kepada Nabi Musa, dan berjanji akan beriman setelah ada mukjizat. Namun ternyata berulang kali pula dia kafir dan membangkang kembali.

Firaun mengandalkan kekuasaannya kepada para tukang sihir. Sehingga ketika Nabi Musa as diutus Allah SWT kepadanya dengan beberapa mukjizat, dia menganggap itu juga adalah sihirnya Musa. Allah SWT berfirman menggambarkan sikap firaun dan pengukutnya kepada Musa as:

وَقَالُوا مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِنْ آيَةٍ لِتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ. (الأعراف: ١٣٢).

Artinya: "Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu". (QS Al A'raf: 132).

Betapa keras kepalanya mereka. Mereka minta bukti dan mukjizat. Tapi bila sudah mereka lihat mukjizat itu, mereka tak mau beriman dan menganggapnya sebagai sebuah sihir. Sebelumnya, saat tukang-tukang sihir firaun dikalahkan oleh tongkat Nabi Musa as, dan kemudian mereka beriman kepada Musa as, Firaun dan para pemuka kaumnya tetap kafir. Bahkan mereka hendak menjatuhkan hukuman seberat-beratnya bagi para tukang sihir yang "membelot" tersebut. Dan mereka tuduh Nabi Musa as dan para pengikutnya sebagai pembuat kerusakan di muka bumi. Allah SWT berfirman:

وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ ۚ قَالَ سَنُقَتِّلُ أَبْنَاءَهُمْ وَنَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ وَإِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُونَ. (الأعراف: ١٢٧).

Artinya: "Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". Fir'aun menjawab: "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka". (QS Al A'raf: 127).

Disamping itu, Nabi Musa as juga agak direpotkan oleh kaumnya sendiri -yaitu bani Israil- yang merasa susah hidupnya semenjak kedatangan Nabi Musa as, yang notabene sesama Bani Israil. Sebelum Nabi Musa muncul, bani Israil juga susah hidupnya ditindas dan diperbudak oleh Firaun. Setelah muncul, mereka semakin ditindas.

Akibatnya, Nabi Musa as menjadi punya target lain. Kalaupun tidak berhasil mendakwahi Firaun dan para pembesarnya, maka minimal bisa membawa pergi bani Israil keluar dari mesir, dan terbebas dari kekejaman Firaun. Kalau bisa, balik kembali bersama mereka ke kampung halaman mereka yaitu Palestina. Tapi upaya membawa dan menyelamatkan bani Israil keluar mesir ini, selalu dihalang-halangi Firaun dan bala tentaranya.

Setelah kazhaliman Firaun, pembangkangannya, penolakannnya terhadap dakwah Nabi Musa, keangkuhan dan kesombonggan menolak bukti dan mukjizat, maka Allah SWT turunkanlah adzab kepada Firaun dan kaumnya secara bertubi-tubi. Allah SWT berfirman:

 فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ (الأعراف: 133).

Artinya: "Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa." (QS Al A'raf: 133).

Allah SWT menimpakan 5 bencana besar secara berturut-turut, agar Firaun dan pengikutnya mau beriman. Setiap kali datang bencana, Firaun memelas kepada Musa as agar bersedia memohon kepada Allah untuk dihentikan siksaNya. Bila doa dikabulkan, dia berjanji akan membiarkan Nabi Musa pergi membawa bani Israil keluar mesir. Allah SWT berfirman:

وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ (الأعراف: 134).

Artinya: "Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu),merekapun berkata, "Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada di sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu, dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu." (QS Al A'raf: 134).

Akan tetapi, setelah Nabi Musa as memenuhi permintaannya, dan doanya dikabulkan Allah, Firaun ingkar janji dan tetap kafir. Dan tidak mengizinkan Nabi Musa pergi bersama bani Israil. Allah SWT menyatakan:

فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَى أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ (الأعراف: 135).

Artinya: "Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya." ( QS Al A'raf: 135).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukilkan beberapa riyawat panjang yang menceritakan 5 macam bencana besar tersebut. Salah satunya yang berasal dari Ibnu Jarir Ath Thabari dari perkataan Sa'id ibnu Jubair, Beliau menceritakan bahwa ketika Musa as. datang kepada Fir'aun, Musa as. berkata kepadanya, "Lepaskanlah kaum Bani Israil untuk pergi bersamaku." Namun permintaan Musa as ini dia tolak.

Lalu Allah SWT mengirimkan hujan badai (topan). Yaitu hujan yang sangat lebat kepada Fir'aun dan kaumnya. Sehingga menimbulkan kerusakan terhadap mereka. Sehingga mereka merasa khawatir bila hujan itu merupakan azab. Lalu mereka berkata kepada Musa as. ”Doakanlah buat kami kepada Tuhanmu agar Dia menghentikan hujan ini dari kami. Maka kami akan beriman kepadamu dan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu."

Lalu Nabi Musa as. berdoa kepada Tuhannya (hingga hujan itu berhenti). Tetapi setelah itu mereka tidak mau beriman dan tidak melepaskan kaum Bani Israil bersamanya.

Kemudian pada tahun itu juga Allah SWT menumbuhkan tetumbuhan, rerumputan, dan buah-buahan yang banyak, yang belum pernah terjadi demikian. Maka mereka berkata, "Inilah yang selalu kami dambakan." Tapi Allah kemudian mengirimkan puluhan ribu bahkan jutaan belalang kepada merek, yang merusak semua tetumbuhan mereka tersebut.

Ketika mereka melihat kerusakan yang diakibatkan oleh belalang itu, maka mereka mengetahui bahwa tiada sesuatu pun dari tanaman mereka yang selamat. Mereka berkata lagi, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu buat kami agar Dia mengusir belalang ini dari kami, maka kami akan beriman kepadamu dan akan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu."

Nabi Musa as. berdoa kepada Tuhannya. Maka Allah mengusir belalang itu dari mereka. Tetapi mereka lagi-lagi tidak mau beriman dan tidak melepaskan kaum Bani Israil pergi bersama Musa. Dan mereka berlindung masuk ke dalam rumah-rumah mereka, lalu mereka berkata, "Kami telah berlindung (merasa aman)."

Maka Allah SWT mengirimkan kutu, yakni ulat yang keluar dari bebijian, kepada mereka. Kutu atau ulat ini merusak dan memakan gandum-gandum mereka dari dalam. Sehingga tersebutlah bahwa seseorang lelaki bila keluar dengan membawa sepuluh karung biji gandum ke tempat penggilingannya, maka begitu ia sampai ke tempat penggilingannya, tiada yang tersisa kecuali hanya tiga genggam gandum saja (semuanya berubah menjadi ulat).

Mereka berkata, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan kutu ini dari kami, maka kami akan beriman kepadamu dan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu." Nabi Musa as. berdoa kepada Tuhannya, maka lenyaplah kutu itu dari mereka. Tetapi mereka menolak, tidak mau melepaskan kaum Bani Israil pergi bersama Musa.

Ketika Musa as. sedang duduk di hadapan Raja Fir'aun, tiba-tiba terdengarlah suara katak (kodok). Lalu Musa berkata kepada Fir'aun, "Apakah yang kamu dan kaummu jumpai dari katak ini?" Fir'aun berkata, "Barangkali ini pun merupakan tipu muslihat yang lain." Maka tidak lama kemudian —yakni pada petang harinya— tiada seorang pun yang duduk melainkan seluruh negeri penuh dengan katak sampai mencapai dagunya. Dan bila seseorang hendak berkata, begitu ia membuka mulutnya, maka pasti ada katak yang masuk ke dalam mulutnya.

Kemudian mereka berkata, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan katak-katak ini dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan nfelepaskan kaum Bani Israil bersamamu." Tetapi setelah katak lenyap, mereka tetap tidak juga mau beriman. Dan tidak mengizinkan bani Israil pergi.

Lalu Allah mengirimkan darah kepada mereka. Sehingga setiap kali mereka mengambil air dari sebuah tempat dalam wadahnya, maka air itu berubah menjadi merah, yakni berubah menjadi darah segar. Akibatnya dimana-mana darah berserakan dan menjadi pemandangan yang mengerikan.

Lalu mereka mengadu kepada Fir'aun, "Sesungguhnya kami telah dicoba dengan darah, dan kami tidak lagi mempunyai air minum." Fir'aun berkata, "Sesungguhnya dia (Musa) telah menyihir kalian." Mereka berkata, "Mana mungkin dia menyihir kami, sama sekali tidak. Kami menjumpai air dalam wadah-wadah kami berubah menjadi darah yang segar."

Mereka datang lagi kepada Musa dan berkata kepadanya, "Hai Musa, doakanlah kepada Tuhanmu agar Dia melenyapkan darah ini dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan kami akan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu."

Nabi Musa as berdoa kepada Tuhannya, maka Allah melenyapkan darah itu dari mereka. Akan tetapi mereka tetap tidak mau beriman, tidak mau pula melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamanya.

Begitulah pembangkangan demi pembangkangan mereka lakukan. Sehingga wajar kemudian Allah SWT membinasakan Firaun dan bala tentaranya dengan menenggelamkan mereka semua di dalam laut merah. Allah SWT berfirman:

فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ. (الأعراف: ١٣٦).

Artinya: "Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu." (QS Al A'raf: 136).

*Pelajaran*

1. Nabi Musa as menghadapi tantangan yang sangat berat dalam dakwahnya. Pertama pembangkangan Firaun dan para pengikutnya yang berulang-ulang. Kedua, nyinyir dan banyak "cincongnya" bani Israil yang mengikutinya.
2. Dalam dakwah kontemporer, umat Nabi Muhammad saw juga akan berhadapan dengan dua macam tantangan di atas: dari orang kafir dan dari internal umat sendiri yang masih awam dan jahil dengan ajaran Islam.
3. Modal utama dalam berdakwah kepada dua tipikal tersebut adalah kesabaran yang tak pernah habis dan hubungan yang kuat dengan Allah SWT.
4. Bila hati sudah terkunci, maka berbagai "hukuman Allah" pun tidak banyak berpengaruh bagi seseorang. Hanya kematian yang akan membuat pembangkangannya berakhir.
5. Allah SWT telah contohkan kaum dan orang-orang kuat yang engkar kepadaNya. Semua berakhir tragis dan binasa. Apalagi bila tidak sekuat mereka.

Wallahu A'laa wa A'lam.

0 komentar:

Posting Komentar