JAKARTA, SUMBAR PKS ID
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan Sumatera Barat II Nevi Zuairina menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor susu. Saat ini, produksi susu nasional baru mampu memenuhi 20 persen kebutuhan masyarakat, sedangkan 80 persen sisanya masih mengandalkan pasokan dari luar negeri.
Fakta tersebut disampaikan Nevi jelang Rapat Paripurna ke-7 DPR RI di Senayan, Jakarta, pada Selasa, 29 September 2026. Kondisi lapangan ini ia temukan langsung saat melakukan kunjungan kerja dan berdialog dengan Koperasi Usaha Ternak Tani (KUTT) Sukamakmur di Pasuruan, Jawa Timur.
Menurut Nevi, ketahanan pasokan susu sangat penting untuk menunjang pemenuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak kita. Ia mendorong pemerintah lebih serius mewujudkan ketahanan pangan dan menekan angka impor yang masih mendominasi.
"Produksi susu nasional itu baru 20 persen, 80 persennya impor. Nah, ini jadi perhatian buat kita semua untuk pemenuhan gizi sumber daya manusia, terutama anak-anak kita. Jadi ada beberapa hal strategis yang harus kita usulkan," ucap Nevi.
Untuk mendorong kemandirian peternak lokal, Nevi merumuskan enam langkah usulan bagi pemerintah. Langkah tersebut meliputi regulasi perlindungan harga susu, dukungan anggaran untuk hulu produksi, serta integrasi koperasi ke dalam ekosistem program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Koperasi Merah Putih.
Selain itu, ia juga menekankan perlunya kemudahan akses pembiayaan hilirisasi, pengawasan ketat terhadap peta jalan swasembada susu 2025–2029, dan penguatan kapasitas kelembagaan koperasi di daerah.
Penguatan koperasi dinilai menjadi fondasi krusial dalam membangun ekosistem produksi susu. Kita berharap dukungan regulasi dan pembiayaan yang tepat sasaran dapat segera mewujudkan swasembada susu nasional secara bertahap. AR
