Penghargaan Energi Nasional 2012

Gubernur Sumbar menerima Penghargaan Energi dari Menteri ESDM Jero Wacik

Investment Award 2011

Gubernur Sumbar menerima penghargaan dari pemerintah pusat sebagai provinsi terbaik bidang penanaman modal.

Menolak Kenaikan Harga BBM

Wakil Ketua DPRD Sumbar yang juga Ketua DPW PKS Sumbar ketika diwawancarai wartawan terkait demonstrasi mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM.

Penyalur BOS Tercepat 2012

Gubernur Sumbar mendapat penghargaan sebagai provinsi penyalur dana BOS tercepat tingkat nasional tahun 2012.

Penghargaan Lingkungan Hidup 2012

Gubernur Sumbar pada tahun 2012 kembali mendapatkan penghargaan lingkungan hidup tingkat nasional dimana pada tahun 2011 juga telah mendapat penghargaan yang sama.

Pages

Kamis, 29 November 2012

Gubernur Sumbar Raih Penghargaan Pemda yang Intensif Tanam Pohon

JAKARTA – Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno kembali meraih penghargaan dari Pemerintah Pusat. Kali ini peringkat ke-2 pemerintah daerah yang intensif menyukseskan program penanaman satu miliar pohon.
 
Penghargaan diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam acara Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI), Rabu (28/11) di Cengkareng.Jika Gubernur Sumbar juara II, maka juara satu diraih Gubernur Jawa Timur, kemudian Gubernur Jawa Tengah dan Sulawesi Utara. Untuk tingkat kabupaten, juaranya adalah Bupati Grobogan, Kubu Raya dan Minahasa Utara. Juara tingkat kotamadya adalah Walikota Surabaya, Balik Papan dan Metro Lampung.
 
Sejak gerakan Ayo Menanam Pohon dicanangkan pemerintah pada 2010, Pemprov Sumbar sudah merealisasikannya sebanyak 61 juta pohon.
 
Peringatan HMPI dilakukan setiap 28 November dan Bulan Menanam Nasional pada Desember ditetapkan dengan Keputusan Presiden Nomor 24/2008.
 
Tema peringatan HMPI dan BMN tahun ini, “Hutan Kota Mendorong Terwujudnya Indonesia Hijau.”
Pemilihan tema ini dimaksudkan Indonesia konsisten melaksanakan pembangunan berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya hutan sebagai inti penggerak perekonomian, penyediaan lapangan kerja bagi rakyat, pengentasan warga dari kemiskinan, dan ramah lingkungan.
 
Presiden SBY menanam pohon manglid, Ani Bambang Yudhoyono menanam sempur, Wakil Presiden Boediono menanam tanjung, Herawati Boediono menanam kenari, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menanam cempaka, dan Soraya Zulkifli Hasan menanam sawo kecik. Turut menanam pohon, para pimpinan MPR, DPR, dan DPD.
 
Total pohon yang akan ditanam di sekitar bandara, lebih kurang 3.000 pohon dan akan serentak dilakukan diseluruh wilayah Indonesia.
 
Irwan Prayitno mengatakan, menanam pohon pada lahan kritis untuk menyelamatan lingkungan. Pada 2011, gerakan menanam pohon tingkat Sumbar dipusatkan di Tiram, Padang Pariaman.
Sedangkan tahun ini, kegiatan menanam pohon dipusatkan di kawasan Danau Singkarak.
“Agenda di Danau Singkarak adalah bagian tak terpisahkan dari komitmen kuat pemerintah daerah dan masyarakat Sumbar untuk memperbaiki lahan kritis,” katanya.
 
Tahun depan, jumlah pohon yang akan ditanam terus ditingkatkan dengan melibatkan peran aktif seluruh elemen masyarakat, seperti TNI, polri, swasta, organisasi peduli lingkungan , organisasi kepemudaan, organisasi wanita, petani dan komponen masyarakat lainnya.
 
Sedangkan data lahan kritis di Sumbar saat ini masih cukup luas. Paling banyak ditemukan di Limapuluh Kota 112.000 hektare, Kabupaten Solok 53.000 hektare dan Tanah Datar 34.000 hektare.
 
Baru-baru ini Sumbar juga melakukan kegiatan penanaman pohon Indonesia tingkat Sumbar 2012 mendukung gerakan penanaman satu miliar pohon dan gerakan Singkarak Green, di Lapangan Motorcross Cimurai Kapalo Aia Nagari Paninggahan Kecamatan Junjung Sirih Kabupaten Solok.
 
Selain itu kegiatan tersebut berdasarkan Keppres no 24 tahun 2008 tentang menanam pohon Indonesia dan peraturan Menteri Kehutanan P.i6/Menhut-II/2012 tentang panduan menanam pohon satu miliar. Kegiatan itu dilaksanakan kerjasama pemerintah daerah dan Korem 032 Wirabraja bersama dengan masyarakat Kabupaten Solok.
 
Gerakan Singkarak Green tersebut dilaksanakan selama 4 tahun telah dimulai 2012 dan selesai 2015 mendatang. Gerakan tersebut diharapkan mampu menangani sekitar 18.000 hektar lahan kritis. (601/401)

Singgalang

Sabtu, 24 November 2012

Gubernur Sumbar Berikan Peringatan Dini pada Masyarakat Agar Me­waspadai Dampak Cuaca Ekstrim

Padang — Gubernur Sumbar Ir­wan Prayitno memberikan peringatan dini pada masyarakat Sumbar agar me­waspadai dampak cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem yang diprediksi berlang­sung sampai akhir tahun ini, berpotensi memicu terjadinya banjir, longsor, galodo, abrasi, badai dan gelombang sa­mudera. Pemkab/pemko diminta me­n­data dan menertibklan masyarakat ber­domisili di zona merah (rawan ben­cana) di jalur sungai dan tebing.

“Saat ini cuaca kerap kali be­rubah atau lebih dikenal cuaca eks­trem. Masyarakat harus da­pat meningkatkan kewas­pa­da­an, karena banyak sekali po­tensi ben­cana muncul akibat cuaca ekstrem ini. Imbauan ini perlu sa­­ya sampaikan untuk me­m­i­ni­ma­lisir dampak ben­cana. Ja­ngan sampai akibat kelalaian kita mengantisipasinya, akan ada korban jiwa,” ujar Irwan Pra­yitno saat Rapat Koordinasi (Ra­kor) Siaga Darurat Ancaman Cuaca Ekstrem di auditorium Gubernuran, kemarin (23/11).

Gubernur menegaskan bah­wa peringatan dini bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, na­mun upaya mengurangi risiko ben­­cana. Sebab sebelumnya, Su­rat Edaran Gubernur Sumbar soal peringatan dini bahaya gem­­pa Juni 2012 lalu, disikapi pro­­kontra di tengah masyarakat. Pa­­da­hal, tujuan dikeluarkannya su­­rat tersebut untuk mening­kat­kan mitigasi dan antisipasi ben­cana.

“Saya sudah dikirimi surat oleh Mendagri soal kemung­ki­nan terjadinya gempa. Masa sa­ya biarkan saja surat itu dan tak saya sampaikan pada mas­yara­kat. Jika benar gempa itu terjadi, se­dangkan masyarakat tidak tahu sehingga jatuh korban jiwa, ma­ka pemerintahlah yang disa­lah­kan,” ucapnya.

Dia berharap imbauannya soal waspada cuaca ekstrem di­pan­dang sebagai upaya me­ngi­ngat­kan masyarakat. Sebab, ban­­jir bandang, longsor dan ben­cana ekologi lainnya lebih di­aki­batkan kelalaian manusia me­nanggulanginya. Padahal, dam­pak bencana tersebut sejak awal sudah dapat diprediksi se­be­lum bencana datang.

“Ini kelalaian kita semua. Ha­nya gempa dan tsunami tidak da­pat diprediksi datangnya, na­mun dampak pengurangan risi­konya dapat dilakukan sejak dini. Sedangkan letusan gunung api, banjir, longsor, angin badai, ge­lombang, abrasi pantai dan erosi tebing sungai dapat dianti­sipasi dini,” paparnya.

”Jika masih ada masyarakat men­dirikan bangunan di pinggir su­ngai atau tebing, pemerintah h­a­rus menertibkannya dan te­rus-menerus mengin­gat­kannya. Jika sudah berulang kali diingat­kan, tapi tetap saja mem­bangun ru­mah, itu namanya bunuh diri,” tam­bahnya.

Langkah-langkah antisipasi jangka pendek, tambah Irwan, da­­pat dilakukan dengan mem­per­­kuat koordinasi antar-instan­si terkait. Juga, menyiap­kan pe­tugas dan peralatan siaga ben­c­ana secara aktif selama 24 jam. Lalu, melakukan survei dan in­ves­tigasi lapangan untuk me­la­ku­kan kajian terhadap wilayah be­­risiko tinggi, melaksanakan ope­­rasi penyisiran lapangan dan pembersihan hulu sungai dari sampah, serta lainnya.

“Untuk pembersihan hulu su­ngai itu, tak membutuhkan biaya besar. Kan bisa melibatkan m­a­­hasiswa pecinta alam, Tag­a­na, PMI, TNI dan organisasi lain­nya membersihkan hulu sungai. Se­kali 6 bulan lakukan pem­ber­sihan hulu sungai. Sehingga, ban­jir bandang tak terjadi lagi. Ga­lodo di Padang Juli dan September lalu, harusnya dapat di­minimalisir dampaknya jika sa­ja sejak awal pembersihan hulu su­ngai dilakukan,” tegas­nya.

Gubernur juga meminta pe­merintah daerah melakukan pen­dataan terhadap daerah-dae­rah berpotensi abrasi. Jika di­biarkan, ma­ka akan lebih ba­nyak ang­garan habis untuk per­baikan dan pem­bangunan in­fra­struktur ter­sebut. “Atu­rannya uang itu da­pat dimanfaatkan untuk ke­per­luan lain, jadi tak bisa. Kalau dilakukan pe­nga­ma­nan dengan memasang baron­jong, tentunya dampak bencana ti­dak akan semakin besar,” ka­tanya.

Irwan mengatakan, data ter­sebut sangat dibutuhkan agar pem­prov dapat membuat detai­led engeneering design (DED) soal mitigasi bencana abrasi. DED juga bisa dimanfaatkan un­tuk mengajukan usulan ban­tuan ke Badan Nasional Penang­gu­la­ngan Bencana (BNPB) atau le­wat Asia Africa Foundation (AAF) yang telah memberikan ban­tuan pada Pemprov Sumbar se­besar 4 miliar USD untuk recovery.

“Mereka kan minta kita bikin program mitigasi dan recovery ben­cana. Kita bisa buat pema­sangan batu krib untuk lo­kasi-lokasi terancam abrasi. Se­lama ini kan daerah tak bisa me­l­akukan pengamanan untuk pem­buatan batu baronjong ter­sebut, karena keterbatasan da­na. Sekarang, silakan lakukan pe­metaan, nanti DED-nya bisa kami bantu mem­buatkannya,” ujarnya. (ayu)

Padang Ekspres

Rabu, 14 November 2012

Gubernur Sumbar Raih Ksatria Bakti Husada Kartika

Padang, Singgalang
Gubernur Irwan Prayitno terus mengukir prestasi dalam berbagai bidang di tingkat nasional. Kali ini, meraih Ksatria Bakti Husada Kartika. Irwan dinilai berkontribusi dalam pembangunan kesehatan.

Penghargaan itu diserahkan Menteri Kesehatan, Nafsiah pada puncak Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-48, Senin (12/11) di Hotel Kartika Chandra, Jakarta.


Perhatian Irwan dibuktikan melalui berbagai program ke sehatan. Ada 12 indikator kinerja yang harus dicapai di bidang kesehatan. Dari jumlah itu, 11 indikator mencapai target. “Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang be kerja keras, sehingga penghargaan bisa kita raih. Penghargaan ini untuk masyarakat Sumbar,” ujar Irwan Prayitno, Selasa (13/11).


Kepala Dinas Kesehatan, Rosnini Savitri mengatakan, penghargaan Ksatria Bakti Husada Kartika diberikan untuk individu atau perorangan di luar jajaran kesehatan, yang memiliki peran besar dalam pembangunan kesehatan.

Dijelaskan Rosnini, 11 indikator yang memenuhi target itu, diantaranya umur harapan hidup di Sumbar mencapai 71,12 tahun pada 2011. Sedangkan pada 2010 hanya 70,4 tahun.


Berikutnya, angka kematian ibu (AKI) pada 2008 sebesar 212 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) pada 2008 sebesar 28 per 1.000 kelahiran hidup, berhasil diturunkan dan secara nasional sudah mencapai target.


Begitu pula persentase balita kurus (BB/TB) pada 2011 dapat diturunkan menjadi 7,2 persen. Angka ini mencapai target MDGs 2015.


Prestasi lainnya, 100 persen orang dekat dengan HIV/AIDS menerima pengobatan sesuai kebutuhannya. Cakupan imunisasi dasar pada 2011 telah mencapai target 89 persen. Selanjutnya, persentase penduduk yang memiliki akses air minum berkualitas juga mencapai 65,02 persen dari target 64 persen.


Persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat 68,35 persen dari target 67 persen. Sedangkan pemanfaatan tempat tidur (BOR) di 4 rumah sakit provinsi mencapai 74,02 persen dari target 71 persen.


“Satu indikator lain yang tengah berjalan, Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Total Coverage) mencapai 61,67 persen. Pada 2010 realisasinya masih 51,08 persen, sedangkan target yang hendak dicapai pada 2015 adalah 100 persen. Kita optimis bisa mencapainya,” terang Rosnini.

Singgalang 14 November 2012