Pages

Senin, 28 April 2014

Sumbar Sukses Eliminasi Malaria di 15 Kabupaten/Kota

PADANG, METRO-Pemerintah Provinsi Sumbar berhasil mengeliminasi 15 kabupaten/kota dari penyakit malaria. Atas prestasi itu, Kementerian Kesehatan memberikan penghargaan Sertifikat Eliminasi Malaria, pada pemerintah daerah.
 “Penghargaan kali ini tidak lepas dari dukungan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Ini prestasi beliau, hingga 15 kabupaten/kota berhasil mengeliminasi daerahnya dari malaria,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Rosnini Savitri, Minggu (27/4).
Sebelumnya, gubernur juga berhasil meraih penghargaan bidang kesehatan Ksatria Bhakti Husada dan penghargaan untuk kelompok kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL). Selain Sumbar, provinsi lainnya juga meraih penghargaan sama.
Namun dari sekian banyak provinsi, hanya Sumbar yang paling banyak daerahnya tereliminasi dari malaria. Disebutkan Rosnini, upaya mengeliminasi malaria di Sumbar sudah dimulai sejak tahun 2006 silam. Dan hasilnya baru terlihat setelah 8 tahun kemudian. “Hasil yang kami harapkan memang belum paripurna, sebab masih terdapat empat daerah yang belum bebas malaria,” terang Rosnini.
Empat daerah yang belum bebas malaria adalah, Pesisir Selatan, Sawahlunto, Payakumbuh dan Kabupaten Mentawai. Penyerahan penghargaan bertepatan dengan Hari Kesehatan se-dunia dan Hari Malaria. Penghargaan Sertifikat Eliminasi Malaria, yang diserahkan Sabtu (26/6) di Jakarta, diterima Bupati Sijunjung Yusirwan Arifin.
Dijelaskan Rosnini, meski telah mampu mengeliminasi malaria bukan berarti tidak ada penemuan kasus malaria di daerah ini. Namun yang dimaksud adalah, kasus malaria yang muncul di bawah 1/1000 penduduk. Disamping itu tidak ada penularan setempat, yaitu penyakit malaria yang diderita penduduk daerah itu, tetapi malaria yang dibawa dari daerah lain.
Sementara, Menteri Kesehatan RI, Nafsiah Mboi, pada kesempatan itu menyatakan bahwa eliminasi Malaria adalah komitmen global yang disepakati pada Sidang Majelis Kesehatan Sedunia atau World Health Assembly (WHA) 2007. Mengutip data World Malaria Report 2012, dari 104 negara endemis malaria, terdapat 79 negara yang diklasifikasikan berada dalam fase pemberantasan Malaria, 10 negara dalam fase pre-eliminasi dan 10 negara lainnya sudah berada dalam fase eliminasi.
Indonesia bertekad kuat mencapai eliminasi malaria. Mulai 2007, Indonesia secara bertahap akan mencapai eliminasi Malaria. Selambat-lambatnya pada 2030, Indonesia ditargetkan mencapai tahap eliminasi atau bebas malaria. “Keberhasilan ini merupakan bukti bahwa kita mampu mengeliminasi malaria dari wilayah Indonesia. Saya yakin, di tahun mendatang secara bertahap satu demi satu wilayah di Indonesia akan bebas dari malaria,” ujar Menkes.
Menkes mengatakan, masalah malaria merupakan masalah yang kompleks. Hal ini dikarenakan bahwa penyebaran malaria berkaitan dengan masalah lingkungan, perubahan iklim, mobilitas penduduk dan perilaku masyarakat.
“Karena itu, eliminasi malaria harus melibatkan semua komponen masyarakat, dilakukan secara persisten dan terus-menerus, serta diarahkan pada sasaran yang tepat agar memberi hasil optimal,” kata Rosnini.
Dalam lima tahun terakhir, Angka Kesakitan Malaria atau Annual Paracite Incidence (API) telah berhasil diturunkan dari 1,96 per 1000 penduduk (2008) menjadi 1,69 per 1000 penduduk (2012). Upaya keras sangat dibutuhkan agar Indonesia dapat menurunkan angka API sesuai dengan target Millenium Development Goals (MDGs) 2015 yaitu 1 per 1000 penduduk. Data menunjukkan, sebanyak 17 dari 33 Provinsi yang memiliki nilai API < 1 per 1000 penduduk. Selanjutnya, 10 Provinsi lainnya memiliki nilai API diantara 1-5 per 1000 penduduk. Sementara 6 Provinsi lainnya, memiliki nilai API > 5 per 1000 penduduk, bahkan ada provinsi yang memiliki nilai API > 50 per 1000 penduduk.
Penyerahan sertifikat Eliminasi Malaria merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian Puncak Peringatan Hari Kesehatan Dunia tahun 2014. Melalui Hari Kesehatan Dunia, kewaspadaan terhadap penyakit berbasis lingkungan salah satunya vector borne diseases (penyakit yang ditularkan melalui vektor binatang) semakin penting untuk ditingkatkan di tengah isu penyakit degeneratif yang sudah mulai masif di masyarakat. Karena kewaspadaan terhadap re-emerging diseases (penyakit lama yang muncul kembali) salah satunya penyakit akibat vektor binatang masih juga menjadi masalah di negara berkembang seperti Indonesia. Hal inilah rupanya yang mendasari World Health Organization atau WHO mengambil tema vector borne diseases sebagai tema peringatan hari kesehatan sedunia tahun 2014.
posmetropadang.com 28 April 2014

0 komentar:

Posting Komentar