Penghargaan Energi Nasional 2012

Gubernur Sumbar menerima Penghargaan Energi dari Menteri ESDM Jero Wacik

Investment Award 2011

Gubernur Sumbar menerima penghargaan dari pemerintah pusat sebagai provinsi terbaik bidang penanaman modal.

Menolak Kenaikan Harga BBM

Wakil Ketua DPRD Sumbar yang juga Ketua DPW PKS Sumbar ketika diwawancarai wartawan terkait demonstrasi mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM.

Penyalur BOS Tercepat 2012

Gubernur Sumbar mendapat penghargaan sebagai provinsi penyalur dana BOS tercepat tingkat nasional tahun 2012.

Penghargaan Lingkungan Hidup 2012

Gubernur Sumbar pada tahun 2012 kembali mendapatkan penghargaan lingkungan hidup tingkat nasional dimana pada tahun 2011 juga telah mendapat penghargaan yang sama.

Pages

Rabu, 22 Oktober 2014

Sumbar Siap Jadi Sentra Peternakan Wilayah Sumatera

Padang Panjang (22/10) – Sejalan dengan ditetapkannya Sumatera Barat sebagai salah satu provinsi sentra pengembangan sapi perah di luar Pulau Jawa, Pemprov Sumbar terus mengembangkan peternakan sapi perah di wilayahnya. Saat ini kota yang menjadi sentra pengembangan sapi perah adalah Padang Panjang. Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, mengatakan selain Kota Padang Panjang, pemprov juga merintis beberapa kabupaten dan kota untuk menjadi sentra.

“Selain Padang Panjang, peternakan sapi perah juga kita kembangkan di beberapa kabupaten dan kota sebagai hinterland. Seperti di Kabupaten Agam, Tanah Datar, Padang Pariaman, Lima Puluh Kota, Payakumbuh, Sawahlunto, dan Solok Selatan,” ungkapnya pada acara puncak Peringatan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2014 di Padang Panjang, Rabu (22/10).

Irwan juga menjelaskan bahwa populasi sapi perah di daerah sentra berdasarkan data statistik tahun 2013 sebanyak 1.100 ekor. Kota Padang Panjang sendiri telah melakukan optimalisasi pembibitan dengan tujuan peningkatan kualitas.

“Sedangkan untuk daerah hinterland dilakukan proses penyebaran dan budidaya sapi perah untuk peningkatan jumlah populasi,” terangnya.

Irwan juga menegaskan bahwa kesehatan hewan berkaitan dengan kebijakan pemerintah mengenai perawatan dan pemeliharaan hewan-hewan ternak, sehingga terhindar dari ancaman penyakit, baik menular maupun yang tidak.

“Kesehatan masyarakat sebagai konsumen berkaitan dengan keamanan pangan yang berasal dari hewan ternak. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, mengingat perubahan kultur dan ekonomi masyarakat sangat dinamis. Hingga mengakibatkan terjadinya peningkatan konsumsi pangan asal hewan yaitu daging dan susu,” ungkap Irwan.

Direktur Budidaya Peternakan Kementerian Pertanian, Fauzi Luthan, mengatakan bahwa Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan merupakan momentum meningkatkan semangat para peternak untuk meningkatkan hasil produksinya. Beberapa kegiatan turun lapangan telah dilakukan, seperti kunjungan ke tempat sapi perah, dan pengembangan beberapa wilayah sebagai sentra selanjutnya.
“Jawa telah lama menjadi sentra. Sekarang waktunya Sumatera juga memiliki sentra tersebut. Kita berharap Sumatera Barat bisa menjadi perintis sentra pengembangan sapi perah di wilayah Sumatera ini. Kita jadikan Sumatera Barat sebagai sentra yang berkualitas, hingga menjadi induk yang dapat menghasilkan bibit-bibit sentra sapi perah yang berkualitas selanjutnya,” jelas Fauzi.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Erinaldi, mengatakan bahwa salah satu teknologi dalam pelayanan kesehatan hewan ialah penggunaan Ultrasonografi (USG) untuk mendiagnosa kebuntingan dan penyakit gangguan reproduksi pada sapi. Hal ini membuktikan bahwa jajaran Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar telah mengimplementasikan kemajuan teknologi dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

“Harapan kita dengan menggunakan teknologi yang canggih ini akan lebih meningkatkan kualitas pelayanan. Sehingga berdampak positif terhadap pengembangan serta pembangunan peternakan dan kesehatan hewan di Sumbar,” ungkap Erinaldi.

Wawako Padang Panjang, Mawardi, menyampaikan kegiatan bulan bakti dilakukan juga dalam rangka pemeriksaan kesehatan hewan-hewan ternak. Kegiatan yang dilakukan antara lain melakukan vaksinasi hewan secara massal, pemeriksaan hewan bunting, dan sebagainya. Pada kesempatan itu juga diselenggarakan kontes kucing secara nasional.

“Kami berkomitmen bahwa Padang Panjang harus bebas dari rabies. Untuk mendukung itu, kami telah melahirkan Perda Nomor 14/2014 tentang Pencegahan dan Pengendalian Rabies. Perlu diketahui bahwa Puskeswan Kota Padang Panjang menjadi nomor dua terbaik se-Indonesia. Ini adalah motivasi kami untuk terus meningkatkan kualitas pemeliharaan hewan dan peternakan di wilayah Padang Panjang,” kata Mawardi.

Ikut hadir pada kesempatan itu Bupati Tanah Datar, Sadiq Pasadique; Kepala Dinas Perkebunan Sumbar, Fajaruddin; serta Kepala Dinas Peternakan Kabupaten/Kota se-Sumatera Barat. [humasprov'pks.or.id]

Selasa, 21 Oktober 2014

Dorong Kualitas Tani, Gubernur Sumbar Angkat BPTP

Solok (21/10) – Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, mengajak bupati dan walikota se-Sumatera Barat untuk melakukan tandem dan melakukan komunikasi yang lebih intensif dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat.

“BPTP telah banyak melakukan penelitian dan kajian tentang pertanian. Dari hasil penelitian itu bisa disampaikan kepada petani melalui penyuluhan. Sehingga, para petani pun dapat mengaplikasikan hasil dari penelitian BPTP tersebut,” kata Irwan Prayitno dalam sambutan Pekan Agro Inovasi dan Open House 40 Tahun Badan Litbang Pertanian, di Sukarami, Kabupaten Solok, Selasa (21/10).

Irwan menjelaskan bahwa berbagai kajian tentang pertanian yang dihasilkan BPTP sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama petani. Namun, ada juga yang meremehkan hasil kajian lembaga litbang (penelitian dan pengembangan). Contohnya, jumlah anggaran untuk melakukan penelitian tentang pertanian masih rendah. Tidak hanya itu, Irwan menambahkan, bahwa ada pula pihak-pihak yang meletakkan litbang hanya pada salah satu SKPD.

“Kalau ini terjadi, tentu kegiatan kajian dan penelitian pertanian tidak berjalan maksimal. Litbang ini dianggap tidak berguna,” ungkapnya.

Dibandingkan negara lain, Indonesia termasuk negara yang masih kurang memperhatikan eksistensi lembaga penelitian dan pengembangan. Australia, Malaysia, dan Amerika Serikat merupakan contoh negara-negara yang menjadikan kajian serta penelitian sebagai prioritas. Sementara di Indonesia, LIPI, Lapan, dan lembaga penelitian lainnya masih memiliki jumlah anggaran yang sedikit. Hal ini menjadikan lembaga-lembaga tersebut terbatas dalam melakukan penelitian.

“Meskipun begitu, pengembangan dan penelitian harus diprioritaskan. Termasuk dalam penetapan jumlah anggaran untuk litbang. Karena ini (hasil penelitian) memang besar manfaatnya bagi petani kita di Sumatera Barat,” jelas Irwan.

Irwan memberi contoh “Padi Tanam Sabatang”. Kajian tersebut dihasilkan oleh para peneliti dan sukses memberikan cara yang terbaik dalam proses penanaman padi dibandingkan sebelumnya. Selain itu, terdapat pula “Jajar Legowo”.  Metode tersebut telah menghasilkan 1 hektar sawah 11,6 ton padi dan ada juga melakukan panen tiga kali dalam setahun. Irwan mengatakan bahwa contoh kesuksesan tersebut merupakan hasil dari kajian teknologi pertanian.

“Kepada para petani, mari kita lakukan ajakan yang baik itu. Ajakan yang saya maksud adalah hasil dari kajian peneliti teknologi pertanian. Mari kita aplikasikan melalui penyuluh pertanian yang ada di nagari (desa). Ini (hasil penelitian) sangat besar sekali manfaatnya guna meningkatkan hasil pertanian di Sumatera Barat,” imbau Irwan.

Selain menggunakan hasil penelitian teknologi pertanian, Irwan juga mengingatkan para petani untuk tidak membakar jerami yang ada di sawah. Sebab, pembakaran jerami dapat merusak humus tanah. Irwan juga mengingatkan para petani untuk selalu menggunakan pupuk organik.

“Kita sementara tidak berpikir untuk menambah lahan. Akan tetapi, berpikirlah bagaimana kualitas pertanian itu terjaga bagus sehingga petani sukses,” pesannya.

Hadir pula pada kesempatan tersebut, Bupati Kabupaten Solok, Syamsu Rahim; mewakili Kepala BPTP (pusat), M. Pramayusdi; Kepala BPTP Sumatera Barat, Ardianto; Kepala Dinas Pertanian Sumbar, Joni; serta Kepala Dinas Perkebunan Sumbar, Fajaruddin.

Bupati Solok, Syamsu Rahim, mengatakan bahwa Pekan Inovasi dan Open House 40 Tahun Badan Litbang Pertanian merupakan sarana memotivasi para petani untuk lebih maju. Motivasi tersebut berupa penyuluhan mengenai penemuan dari hasil penelitian teknologi pertanian. Sehingga, diharapkan para petani mengaplikasikan hasil penemuan tersebut guna memperoleh hasil pertanian yang berkualitas.

“Kita juga banyak punya kebun percontohan, seperti di Alahan Panjang yang memproduksi pepaya hasil rekayasa teknologi pertanian. Selain itu, ada pula Beras Solok yang menjadi beras terbaik di Indonesia,” terangnya.

Sementara menurut Kepala BPTP yang diwakili M. Pramayusdi, BPTP merupakan ujung tombak penelitian di bidang pertanian. Para peneliti dapat menghasilkan inovasi-inovasi terbaru. Pada saat melakukan riset, para peneliti BPTP bekerja sama dengan lembaga-lembaga terkait. Sehingga, hasil teknologi dapat menjadi yang terbaik.

Pramayusdi juga meminta kepada pemerintah daerah, baik provinsi, kabupaten, maupun kota, untuk lebih memperhatikan keberadaan BPTP. “Kita akan memperkenalkan inovasi kepada masyarakat, serta menerapkannya kepada petani melalui berbagai penyuluhan. Sehingga, (hasil penelitian) benar bermanfaat bagi masyarakat,” jelas Pramayusdi.

Pada kesempatan itu, Gubernur Irwan Prayitno mengukuhkan Komite Daerah Sumberdaya Genetik Tanaman Sumatera Barat. Gubernur juga melakukan tanda tangan MoU bersama para Bupati/Wako, dengan Balai Besar Penelitian Pertanian mengenai kajian pertanian. Usai pembukaan acara, Gubernur bersama rombongan juga melakukan peninjauan lapangan, seperti melihat perkembangan inovasi pertanian berupa tanaman jagung, sayur, buah-buahan dan berbagai tanaman lain di lingkungan BPTP. [humasprov/pks.or.id]

Senin, 20 Oktober 2014

Sumbar Peroleh Anugerah Cinta Karya Bangsa 2014

PADANG – Pemprov Sumbar kembali menunjukkan prestasinya. Kali ini mendapatkan penghargaan Anugerah Cinta Karya Bangsa 2014 yang diserahkan Menteri Perindustrian, M.S Hidayat, Rabu (15/10) di Jakarta.

Anugerah tersebut diberikan karena Pemprov Sumbar dinilai memiliki komitmen yang tinggi dalam penggunaan produk dalam negeri untuk kebutuhan masing-masing.
Komitmen itu dituangkan dalam sejumlah kebijakan dan regulasi yang dikeluarkan Pemprov Sumbar dalam meningkatkan penggunaan produk dalam negeri.

Ada tiga provinsi yang memperoleh anugerah ini, peringkat pertama diraih oleh Jawa Timur dan peringkat kedua Sumbar. Posisi ini sama dengan 2013. Kemudian di peringkat ketiga Sumatera Selatan.

Gubernur Irwan Prayitno mengatakan, prestasi yang baik dan membanggakan ini tidak terlepas dari dukungan dan komitmen seluruh stakholder. Irwan berharap adanya penghargaan tersebut juga berdampak pada perekonomian Sumbar ke depan.

“Terima kasih kepada seluruh stakeholder, SKPD di lingkungan Sumbar serta masyarakat yang komit dalam menggunakan produk dalam negeri. Terutama di Sumbar ada banyak kerajinan dan produk UMKM yang perlu diberdayakan,” ujar Irwan, Kamis (16/10) usai menyambut piagam tersebut yang dibawa pulang oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumbar, Prof. Rahmad Syani.
Selain itu, ia juga menghimbau kepada pelaku usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun perseorangan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Sumbar, untuk dapat berkomitmen menggunakan produk dalam negeri.

“Kita harapkan juga kepada pelaku usaha, BUMD dan BUMN untuk komitmennya agar selalu menggunakan produksi dalam negeri. Hal ini juga sebagai upaya untuk pemenuhan semua kebutuhan agar ekonomi nasional terus berkembang, kesempatan kerja terus meningkat, dan menghemat penggunaan devisa negara,” harap Irwan.

Sementara, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumbar, Rahmad Syani mengatakan, berdasarkan ketentuan yang berlaku, ada beberapa ciri yang dinilai cinta terhadap produk dalam negeri. Ciri tersebut ada di lingkungan SKPD Provinsi Sumbar.

Ada beberapa tahap yang dilakukan untuk dapat meraih penghargaan tersebut. Pertama, menjawab kuisioner yang dikirimkan oleh tim Kementerian Perindustrian. Isi pertanyaannya terkait kebijakan Pemprov Sumbar dalam mendorong penggunaan produk dalam negeri.

Kemudian tim datang melakukan verifikasi atas jawaban kuisioner yang dijawab sebelumnya. Jawaban dicocokkan dengan administrasi yang ada. Mulai dari dokumen pengadaan barang sampai dengan dokumen kontrak dengan penyedia yang dilakukan pada 20 Agustus 2014 lalu. Terakhir, presentasi di Jakarta. Presentasi ini dilakukan oleh Sekretaris Daerah pada 12 September 2014 lalu.
“Alhamdulillah, dengan melalui tahap tersebut, kita berhasil mendapat peringkat 2 setelah Jawa Timur,” kata Rahmad Syani.

Sebelumnya, pada penyerahan anugerah tersebut, Menteri Perindustrian MS. Hidayat mengatakan, pemberian penghargaan Anugerah Cinta Karya Anak Bangsa merupakan apresiasi dan penghargaan pemerintah kepada kementerian/lembaga, BUMN, perguruan tinggi, pemerintah daerah bagi yang telah melaksanakan program peningkatan penggunaan produk dalam negeri.

Peningkatan itu diaplikasikan dalam pengadaan barang dan jasa di masing-masing unit kerja. Sehingga dapat memacu dunia usaha selalu meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar dapat memperkuat basis produk nasional.

“Untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan teknologi industri, serta tumbuhnya kreativitas dan inovasi, tidaknya hanya dari kalangan pemerintah, namun juga pihak swasta. Sehingga diharapkan dapat memperkokoh kualitas produk dalam negeri menghadapi masyarakat ekonomi Asean (MEA) 2015,” sebut MS. Hidayat. (401)

Singgalang 20 Oktober 2014

Jumat, 03 Oktober 2014

Irwan Targetkan Sumbar Bebas Buta Aksara 2015

Muaro Sijunjung – Provinsi Sumatera Barat menargetkan masyarakatnya bebas dari buta aksara pada tahun 2015. Hal ini disampaikan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, pada acara puncak peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-49 tingkat Provinsi Sumbar, di Gedung Pancasila, Kota Muaro Sijunjung, Sumbar, Kamis (2/10).

“Empat bupati  (Sijunjung, Solok, Solok Selatan dan Pesisir Selatan ) telah berhasil menurunkan angka buta aksara masyarakat secara sinigfikan, pada tahun 2014 ini tinggal 25.741 orang, turun sekitar 0,5 persen dari jumlah tahun 2010 yaitu 87.852 orang, kita berharap dapat kita tuntaskan pada tahun 2015 nol persen,” kata Gubernur yang juga kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.
Kendati demikian, Irwan juga menyadari sulitnya geografi, tempat tinggal penduduk  diperbukitan dan lain-lain di Sumatera Barat yang kadang sulit dijangkau oleh para tutor dan pendidik menjadi salah satu penyebab utama terhambatnya target tersebut.
Irwan menuturkan, bahwa negara-negara  maju saat ini telah berhasil menol persenkan buta aksara penduduk sesuai dengan tuntutan UNESCO. Oleh karena itu mau tidak mau, tambahnya, Pemprov Sumbar bersama bupati dan walikota se-Sumbar akan melakukan upaya menol persenkan buta aksara pada tahun 2015. “Ini tanggungjawab dan kerjanya pemerintah,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Irwan memberi apresiasi kepada Bupati Sijunjung dan Bupati Solok yang telah turut memberikan perhatian dan melibatkan masyarakat lansia dalam kegiatan pembangunan. “Ini sesuatu yang baik dalam pelayanan pemerintah kepada masyarakat dan nilai-nilai kemanusiaan. Walaupun dalam ketentuan  yang berumur 61 keatas tidak dianggap lagi masuk dalam penilaian penuntasan buta aksara,” paparnya.
Irwan juga meminta jangan sampai usia lansia dianggap sudah tidak produktif lagi. “Jadi tetap kita perhatikan secara baik karena mereka tetap manusia. Karena tidak ada batasan umur dekat dengan bau tanah, karena kita melihat kenyataan usia tidak jamin, jika dipanggil Allah SWT,” jelasnya.
Dia menambahkan, selain kondisi geografis masyarakat juga dipengaruhi oleh sikap budaya dibeberapa daerah seperti anggapan tidak perlunya anak bersekolah, dan anggapan ‘sudah pandai mengaji ya sudah’, mereka kemudian disibukan oleh kerja mencari nafkah hidup. Akan tetapi, Irwan meminta bupati dan walikota se-Sumbar tetap optimis.
“Dengan program jemput bola ke daerah tersebut dengan pendidikan formal maupun non formal. Mudah-mudahan pengorban para tutor, tetap tekun dalam menuntaskan  buta aksara di Sumatera Barat bisa nol persen,” pungkasnya.
Kegiatan yang bertajuk “Aksara Membangun Peradaban dan Keunggulan Pembangunan Berkelanjutan di Sijunjung” ini dimeriahkan dengan berbagai kegiatan dan pameran hasil karya pendidikan buta aksara. [pks.or.id]
irwan-prayitno.com