Pages

Sabtu, 27 Juni 2015

Bersyukur Itu Prilaku Hamba


Rasulullah saw menjawab: "Tidakkah sepantasnya aku menjadi hamba yang bersyukur?"... (terdapat dalam HR Bukhari dan Muslim).

Ibunda Aisyah menyaksikan Rasulullah saw melakukan qiyamullail begitu rupa, sampai-sampai kaki Beliau bengkak (sakit). Akhirnya Aisyah bertanya: "Kenapa Engkau perbuat ini semua wahai Rasulullah?, padahal Allah telah ampuni segala dosamu yang berlalu dan yang akan datang?".

Begitulah sikap dan karakter seorang hamba yang diajarkan oleh Rasulullah saw kepada kita. Hamba yang benar itu harus tahu diri dan pandai berterima kasih. Bukan saja sekedar patuh kepada "tuannya", tapi juga menunjukkan kesantunannya dalam bentuk pandai berterima kasih.

Sebab, si hamba tahu betul siapa dirinya dan siapa "tuannya". Ia sangat sadar bahwa ia tidak ada apa-apanya sama sekali. Kalau bukan karena kebaikan dan kemurahan "Sang Tuan", niscaya ia tak berharga sama sekali.

Seperti itulah seharusnya perilaku makhluk kepada Allah Sang Pencipta. Karena Dialah ia menjadi ada. Karena Dialah yang memberikan kehidupan, nikmat, makan dan minum, air dan udara, rumah dan tempat tinggal... dan berbagai fasilitas lainnya, tanpa bayaran.

Atas segala pemberian dan fasilitas tersebut, setiap hamba tidak saja wajib mematuhiNya, tapi juga sangat wajib berterima kasih kepadaNya.

Cobalah sekiranya kita pernah menolong seseorang dari satu kesusahan. Lalu setelah itu kita jumpai orang tersebut sopan kepada kita, patuh dan menghormati kita. Pastilah kita akan senang dengannya dan siap untuk membantunya lagi bila membutuhkan.

Sebaliknya, bila ia kurang ajar dan tidak sopan kepada kita, tidak pandai berterima kasih, pastilah kita akan marah atau benci kepadanya. Dan kapan pun kita takkan tertarik untuk menolongnya kembali.
Apalagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa, yang berada di atas segala perumpamaan yang indah. Dia pasti akan senang dengan hamba-hambaNya yang mau melaksanakan perintahNya dan mensyukuri pemberianNya.

Sebaliknya Dia akan marah dan murka kepada hamba-hamba yang tidak tahu diri, tidak pandai bersyukur lagi angkuh dan tidak patuh kepadaNya.

Karena itu, saat kita melakukan berbagai ketaatan kepada Allah, baik shalat, puasa, tilawah, sedekah, shalat malam... dsb, haruslah kita sadari betul bahwa kita melakukannya karena kita memang hamba Allah, dan karena kita ingin berterima kasih kepadaNya.

Tidak pernah seorang hamba yang mulia akan menolak perintah Tuhannya, apalagi akan mempertanyakan kenapa harus begini perintahnya? Apa logika dan rasionalnya?

Ia takkan mengukur perintah Allah dengan akal dan otaknya. Karena ia sadari otaknya juga bagian dari pemberianNya.

Begitulah dulu Nabi Nuh yang tidak memprotes perintah Allah untuk membuat kapal, padahal ia berada jauh dari air atau laut. Begitu pula ibunya Musa menerima ilham dari Allah agar membuang bayinya ke sungai untuk selamat dari kematian. Padahal bayinya pasti takkan bisa berenang. Seperti itu pula Ibrahim menerima perintah Allah untuk meninggalkan istrinya Hajar bersama bayinya Ismail di lembah padang pasir tandus yang tak berair dan tak ada tumbuhan, untuk membangun peradaban dan kehidupan baru. Padahal air adalah sumber kehidupan.

Mereka semua tidak saja patuh atas perintah-perintah tersebut, tapi juga semakin bertambah ketaatannya kepada Allah. Sebab kapatuhan tanpa kesyukuran belumlah melahirkan ubudiyah yang sebenarnya.

Sesungguhnya orang-orang yang menolak ajaran Allah dan ajaran RasulNya dengan dalih tidak masuk akal atau tidak logis, mereka itu tidak akan mampu mensyukuri nikmat-nikmatNya, dan mereka sudah tidak lagi merasa sebagai seorang hamba....

Irsyad Syafar

0 komentar:

Posting Komentar