Pages

Sabtu, 27 Juni 2015

Agar Kapal Tidak Tenggelam

Sebuah kampung di tepi pantai dihuni oleh kaum yahudi. Mereka sedang diuji oleh Allah SWT. Mata pencaharian mereka sehari-hari adalah menangkap ikan. Tapi mereka diwajibkan beribadah di hari sabtu dan diharamkan menangkap ikan. Namun disinilah ujiannya. Di hari-hari biasa tidak ada ikan yang datang. Justru di hari sabtu itulah yang banyak ikan. Seolah-olah ikan-ikan tersebut ingin mengejek mereka semua, dan mencul kepermukaan dari berbagai arah.

Penduduk yahudi itupun terbelah menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama melanggar aturan Allah. Mereka tetap memancing dan menangkap ikan di hari sabtu tsb. Itupun dengan sedikit berkilah, mereka letakkan peralatan memancing dan menjala ikan sebelum hari sabtu. Lalu hari sabtunya ikan-ikan tersebut terjerat dan terperangkap. Setelah siang sabtu berlalu, malam harinya barulah mereka mengambil ikan yang sudah terjerat.

Kelompok kedua adalah orang-orang yang beriman dari kalangan mereka. Kelompok ini menegur kelompok pertama dan mengingatkan larangan Allah tentang haramnya menangkap ikan di hari sabtu. Ketika teguran dan peringatan mereka tidak diindahkan, merekapun menyingkir dari tempat tersebut.

Adapun kelompok ketiga adalah orang-orang yang membiarkan saja pelanggaran tersebut. Bahkan justru mereka mengkritisi kelompok kedua yang ikut campur urusan orang lain. "Biarkan sajalah mereka, gak usah dinasehati. Nanti juga bakal dihukum oleh Allah.." seperti itu komentar mereka.
Begitulah 3 kelompok terpecah dari peristiwa tersebut. Namun tak lama kemudian hukuman Allah langsung turun. Kelompok pertama dilaknat Allah dan berubah menjadi kera dan monyet. Laki-laki perempuan tiba-tiba menjadi monyet. Wajah, bentuk dan rupa mereka berubah. Bahkan ekor pun tumbuh di pantat mereka. Mereka hanya hidup 3 hari saja seperti itu. Setelah itu mereka pun mati.
Adapun kelompok kedua Allah selamatkan dari laknat karena mereka telah menasehati teman dan saudara mereka dari perbuatan haram. Merekapun dipuji oleh Allah.

Sedangkan kelompok ketiga yang tidak peduli bahkan mengkritisi kelompok kedua, nasibnya tidak dijelaskan dalam Al Quran. Banyak ulama tafsir menjelaskan bahwa mereka telah dilupakan oleh Allah sebagai bentuk hukuman atas pasifnya mereka terhadap kebatilan.

Kisah ini diabadikan oleh Allah dalam QS Albaqarah 65-66 dan QS Al A'raf: 163-167.
Kejadian ini memberikan pelajaran berharga kepada orang-orang beriman untuk selalu proaktif dengan kebaikan, terlibat dalam amar makruf dan nahi mungkar, peduli dengan lingkungan. Sikap proaktif ini akan menjadi penyebab terhindarnya dari murka Allah sekaligus melemahkan sumber-sumber keburukan dan kebatilan.

Dalam bulan ramadhan yang mulia ini, kita tidak cukup dengan keshalehan individual saja. Sibuk mentaati Allah sendiri-sendiri, lalu membiarkan orang-orang sekitar kita tidak ikut serta, dan malah tenggelam dalam kemaksiatan. Jangan biarkan ada yang seenaknya tidak shalat, tidak puasa atau berbuka didepan khalayak, atau menfasilitasi orang lain utk tidak berpuasa. Mereka mesti dinasehati dengan baik, didekati dan disentuh hatinya agar mendapat hidayah Allah.

Setiap muslim dan muslimah, terutama ditengah-tengah komunitas muslim mesti menularkan kebaikannya kepada orang lain, membantu mereka juga untuk mentaati Allah dan tidak bermaksiat kepadaNya.

Bahkan sikap ini akan terwujud maksimal dan berbuah maksimal bila dilakukan bersama-sama, menggunakan kekuasaan dan jabatan serta pengaruh.

Sebagaimana Baginda Rasul mengajarkan, hendaklah kalian merubah kemungkaran itu dengan kekuatan/kekuasaan, atau dengan lisan atau yang paling minimal adalah dengan hati... (terdapat dalam HR Muslim).

Ini semua dilakukan agar terhindar dari murka dan kemarahan Allah, yang apabila datang, kadang tidak saja menimpa orang-orang yang berbuat dosa/aniaya saja, tapi bisa menimpa semua.

Rasulullah saw telah ilustrasikan dalam haditsnya: "Perumpamaan orang yang menegakkan agama Allah dan orang-orang yang melanggarnya, seperti sekelompok kaum yang menaiki kapal. Sebagian mendapat tempat di atas, sebagian lagi dibawah. Yang di bawah ini bila membutuhkan air, terpaksa melewati orang yang di atas. Lalu orang yang bagian bawah ini punya ide, sebaiknya dilobangi saja bagian bawah kapal ini, sehingga mudah mendapat air dan tidak mengganggu yang di atas.

Maka bila seandainya orang-orang di atas membiarkan orang yang dibawah melaksanakan ide mereka, niscaya mereka dan seluruh kapal akan tenggelam dan celaka. Tapi bila mereka halangi rencana tersebut, niscaya orang yang dibawah akan selamat, serta seluruh penumpang akan selamat... (dari HR Bukhari dari Nukman bin Basyir).

Begitulah, pembiaran kemaksiatan ditengah masyarakat, hanya akan membawa masyarakat tersebut tenggelam dalam maksiat dan kecelakaan....

Irsyad Syafar

0 komentar:

Posting Komentar