Pages

Sabtu, 27 Juni 2015

Rahasia Keikhlasan


Semakin besar "bagian" Allah dalam amalan seorang hamba maka semakin besar pulalah balasan yang Allah berikan baginya. Sebaliknya, semakin besar jatah hamba dibalik amalannya, dan semakin kecil yang untuk Allah, maka semakin kecil pulalah pahala dan balasan yang Allah sediakan untuknya.

Disinilah letak urgennya sebuah niat atau rencana atau keinginan. Niat bisa menjadikan amalan sederhana menjadi besar di sisi Allah. Sebaliknya niat juga bisa menyebabkan kerdilnya amalan-amalan besar.

Seorang lelaki berjalan di padang pasir kehausan. Lalu dia mencari air untuk minum. Ia turun ke sebuah sumur dan mendapatkan air untuk diminum. Ketika ia telah keluar dari sumur tersebut, ia bertemu seekor anjing yang tengah kehausan. Lelaki ini berbalik dan turun ke sumur kembali.

Dengan sepatunya yang terbuat dari kulit dia bawa air ke atas dan diberinya anjing tersebut minum. Karena perbuatan tersebut, lelaki ini masuk sorga... (terdapat dalam HR Bukhari).

Lihatlah amalan lelaki tersebut. Hanya memberi minum seekor anjing. Ya, hanya seekor anjing. Anjing, bukan kucing. Tapi Allah hadiahi dia dengan sorga. Apa yang istimewa dari amalan kecil ini? Adalah niatnya yang sangat ikhlas. Tidak ada kepentingannya dengan memberi minum anjing. Tidak ada pencitraan ataupun popularitas.

Kebalikan dari hadits di atas, Rasulullah saw mengabarkan tentang 3 golongan yang pertama kali dimasukkan ke dalam neraka. Mereka adalah orang yang mati berperang di jalan Allah, qori Al Quran dan orang yang dermawan yang suka berinfaq.

Kok bisa seperti itu? Bukankah 3 amalan tersebut adalah amal shaleh yang besar nilai dan pahalanya di sisi Allah? Mati di medan jihad adalah mati syahid. Pahalanya adalah masuk sorga tanpa hisab. Membaca Al Quran pahalanya berlipat ganda tidak terkira. Satu huruf bisa bernilai 10 kali lipat pahala. Derjatnya bisa menyamai malaikat. Orang dermawan dan suka berinfaq adalah disukai Allah. Bisa dapat balasan pahala 700 kali lipat. Tapi, kenapa masuk neraka???

Ternyata permasalahannya adalah pada niat. Yang mati dalam jihad niatnya bukan karena Allah, tetapi karena ingin digelari sebagai pahlawan dan pemberani. Adapun sipembaca Al Quran niatnya bukan karena Allah, tetapi untuk mendapat gelar qori. Sedangkan yang dermawan niatnya juga bukan karena Allah. Tetapi agar digelari seorang yang pemurah dan dermawan... (terdapat dalam HR Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah dishahihkan oleh Albany).

Akibatnya, mereka menjadi golongan pertama yang masuk neraka. Padahal amalannya termasuk amalan-amalan puncak.

Karena itu, niat menjadi sangat menentukan tinggi atau rendahnya sebuah amalan. Khusus ibadah puasa yang memang spesial untuk Allah, maka harus dijaga dan dipastikan betul bahwa ibadah ini semata-mata karena Allah, demi mematuhi perintahNya dan untuk meraih redhaNya. Tidak ada terselib dalam hati karena segan kepada teman, atau karena tertekan dengan lingkungan sekitar, atau alasan lain yang bukan karena Allah...

Allah telah janjikan balasan khusus bagi ibadah puasa. Melampaui 10 kali lipat, bahkan melewati pahala 700 kali lipat. Tak terbatas, hanya Allah yang menentukan...sebab puasa khusus hanya untuk Allah....

"Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasinya.... dia tinggalkan syahwatnya, makannya dan minumnya karena Aku..." (Hadits Qudsi riwayat Bukhari dan Muslim).

Irsyad Syafar

0 komentar:

Posting Komentar