Pages

Minggu, 18 Juni 2017

Ramadhan 21

Irsyad Syafar

MUHASABAH, MENYEMPURNAKAN IBADAH
(إياك نعبد وإياك نستعين)

Orang yang beriman, biasanya akan terus terdorong untuk meningkatkan dan memperbaiki ibadahnya. Sebab, dia merasa bahwa ibadahnya masih kurang dan masih jauh dari kesempurnaan.

Sebaliknya, orang yang tertipu (maghrur) adalah orang yang merasa ibadahnya sudah sempurna. Akibatnya dia tak merasa perlu menambah atau meningkatkannya. Bahkan biasanya, berpotensi besar untuk berkurang atau menurun. Sebab, ibarat sebuah pendakian, bila sudah sampai di puncaknya, maka yang ada setelah itu hanyalah penurunan.

Oleh karenanya, merasa belum maksimal dan kurang sempurna dalam beribadah adalah suatu yang positif untuk peningkatan. Dan menghindarkan diri dari sikap ghurur (tertipu) dan geer (gede rasa).

Perasaan seperti ini akan dapat hadir bila seorang mukmin senantiasa melakukan "muhasabah". Yaitu menghitung diri atas ibadah dan amalan yang telah dilakukan. Apakah sudah memenuhi kewajibannya? Apakah sudah sesuai dengan perintah Allah? Apakah memenuhi syarat dan rukunnya? Dan lain-lain. Atau, secara sederhana muhasabah itu mengandung makna perbandingan antara hak yang diterima dengan kewajiban yang telah ditunaikan.

Allah Ta'aala memerintahkan hambaNya yang beriman untuk melakukan muhasabah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al Hasyar: 18).

Dalam ayat ini orang-orang beriman disuruh untuk memperhatikan amalan-amalan yang sudah dikerjakan (di dunia) untuk menghadapi hari esok (akhirat). Yang diperhatikan adalah,  apakah yang sudah diperbuat itu layak untuk dibawa menghadap Allah ataukah tidak.

Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata: "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan berhiaslah kalian untuk menghadapi hari "penampilan" yang sangat dahsyat.

Allah Ta'aala berfirman:

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنْكُمْ خَافِيَةٌ.

Artinya: "Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)." (QS Al Haqqah: 18).

Dengan melakukan muhasabah, seorang hamba akan sadar bahwa dia adalah hamba, dan Allah adalah Tuhan yang wajib dia patuhi dan dia sembah.

Hal-hal yang mesti dimuhasabahi oleh seorang hamba adalah mengukur atau membandingkan antara nikmat Allah yang telah diterima dengan amalan yang diperbuat. Dan membandingkan antara kebaikan yang sudah diamalkan dengan keburukan yang juga terlanjur dilakukan.

Bila penghitungannya akurat, akan nampaklah bahwa dihadapannya kelak hanya satu diantara dua pilihan: ampunan dan rahmat Allah, atau kecelakaan dan kesengsaraan.

Sebab, bagaimanapun nikmat Allah yang telah diterima tak akan pernah mampu diimbangi dengan amal shaleh yang dikerjakan.

Dalam hadits riwayat imam Hakim (dhaif menurut Albany), ada seorang hamba yang beribadah kepada Allah selama 500 tahun tiada henti. Lalu kemudian diukur ibadah tersebut dengan nikmat penglihatan yang Allah berikan. Ternyata nikmat penglihatan, jauh mengalahkan beratnya amal shaleh selama 500 tahun.

Dengan muhasabahlah seorang hamba dapat untuk meningkatkan derjatnya di sisi Allah. Sebab, muhasabah menimbulkan perbaikan dan peningkatan. Imam Ibnul Qayyim menyatakan bahwa, muhasabah akan dapat berdampak positif bila seorang hamba memiliki 3 perangkat muhasabah:

Pertama, ilmu dan pemahaman yang benar, yang dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang hidayah dan mana yang kesesatan, mana yang bermanfaat dan mana yang mudharat. Tanpa ilmu yang memadai, muhasabah menjadi tidak berarti. Sebab, alat ukurnya cacat dan menjadi tidak valid. Karenanya, menuntut ilmu syar'i menjadi kebutuhan primer setiap muslim.

Kedua, berburuk sangka kepada diri sendiri. Ini diperlukan karena muhasabah itu ibarat pemeriksaan atau audit internal. Kalau seseorang sudah berbaik sangka duluan terhadap dirinya, maka muhasabahnya menjadi dangkal dan cendrung subjektif. Kekurangan bisa dianggap tidak ada, atau malah menjadi sebuah kelebihan. Dosa besar bisa dianggapnya sebagai dosa kecil. Dan dosa kecil dia anggap tidak ada.

Pujangga arab dalam puisinya menyatakan:

"Pandangan redho akan buta terhadap kekurangan".
"Pandangan benci cendrung mengedepankan kekurangan".

Ketiga, membedakan antara nikmat dengan ujian (niqmah). Maksudnya, seorang hamba harus mampu menilai apakah dia mendapat pemberian dari Allah karena dia dalam kebaikan dan ketaatan, ataukah dia memperolehnya disaat amal shalehnya lagi menurun dan dosanya bertambah. Yang pertama itu adalah Nikmat hakiki, sedangkan yang kedua adalah istidraj (ujian/jebakan berbalut nikmat).

Siapa yang ketat menghisab dirinya di dunia, akan lebih aman dan longgar di akhirat. Sebaliknya, siapa yang longgar terhadap dirinya di dunia, kelak dia akan menyesal di akhirat.

Wallahu A'laa wa A'lam.

0 komentar:

Posting Komentar