Pages

Jumat, 01 September 2017

Beratnya Menjadi Pemimpin

Oleh Irsyad Syafar

Suatu malam terjadi peristiwa menakutkan di kota Madinah. Yaitu terdengarnya suara yang keras bergemuruh. Para sahabat merasa takut dan cemas dengan suara tersebut. Sebagian mereka segera menunggang kuda mencari sumber suara. Namun ternyata Nabi Shallallahu Alaihi wa sallam telah kembali dari sumber suara dan menyatakan situasi aman terkendali.

Mari kita simak penuturan Anas bin Malik yang menceritakan kejadian ini dalam hadits Bukhari dan Muslim:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَأَجْوَدَ النَّاسِ وَأَشْجَعَ النَّاسِ وَلَقَدْ فَزِعَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَانْطَلَقَ النَّاسُ قِبَلَ الصَّوْتِ فَاسْتَقْبَلَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ سَبَقَ النَّاسَ إِلَى الصَّوْتِ وَهُوَ يَقُولُ لَنْ تُرَاعُوا لَنْ تُرَاعُوا وَهُوَ عَلَى فَرَسٍ لِأَبِي طَلْحَةَ عُرْيٍ مَا عَلَيْهِ سَرْجٌ فِي عُنُقِهِ سَيْفٌ فَقَالَ لَقَدْ وَجَدْتُهُ بَحْرًا أَوْ إِنَّهُ لَبَحْرٌ.

Artinya: "Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah orang terbaik, orang yang paling dermawan dan orang yang paling pemberani. Suatu malam penduduk Madinah mengalami rasa takut yang sangat (karena sebuah suara). Lalu orang-orang bergerak menuju sumber suara. Namun ternyata Nabi shallallahu alaihi wasallam menyambut mereka, dan telah lebih duluan pergi ke arah suara. Beliau berkata, "Jangan cemas, jangan cemas...!", dan Beliau menunggang seekor kuda (pinjaman) milik Abu Thalhah tanpa pelana, dengan menyandang pedang di punggungnya. Beliau berkata, "Aku dapatkan kuda ini sungguh cepat larinya". (HR Bukhari dan Muslim).

Dari hadits di atas dapat terlihat betapa tanggap dan cekatannya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Beliaulah yang paling duluan mengamankan sumber katakutan dan sekaligus memberikan rasa aman kepada rakyatnya. Berarti Beliau selalu dalam keadaan siaga, dan siap menjaga rakyatnya dari hal-hal yang akan mencelakakan mereka.

Dalam kejadian lain, pernah seorang wanita kulit hitam yang biasa menyapu masjid meninggal dunia. Tapi Nabi Shallallahu alaihi wasallam tidak mengetahuinya kecuali setelah jenazah dikuburkan. Abu Hurairah menceritakan kisahnya:

َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -فِي قِصَّةِ الْمَرْأَةِ الَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ- قَال: فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ:
 “أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي”? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا. فَقَالَ: “دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا”, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا.

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi).
Nabi shallallahu’alaihiwasallam, menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “Ia telah meninggal.”
 
” Mengapa kalian tidak mengabariku?” Tanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam kepada sahabatnya. Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang.

“Tunjukkan aku kuburannya” Pinta Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Merekapun menunjukkan dimana kuburan wanita tersebut, kemudian beliau mensholatkannya”. (H Bukhari dan Muslim).

Begitulah konsekwensi menjadi pemimpin bagi suatu kaum atau umat. Harus siap untuk berkorban dan bekerja keras demi keselamatan mereka. Rela untuk kurang tidur dan istirahatnya, dan bersedia untuk peduli dan melayani mereka. Kadang tengah malampun harus bangun. Atau karena kondisi darurat, harus terjun langsung ke lokasi kejadian, dan lain sebagainya.

Pepatah arab mengatakan, "Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaum tersebut, dan pemberi minum suatu kaum adalah orang terakhir yang minum".

Seorang pemimpin tidaklah pantas menyusahkan rakyatnya. Apalagi sampai menakut-nakuti dan mengancam mereka. Seorang pemimpin boleh saja diberi fasilitas lebih dari rakyatnya, seperti kendaraan dan pegawai, tapi itu semua demi memudahkannya dalam berkhidmat kepada mereka. Sebagaimana baginda Nabi dipinjamkan kuda untuk berlari kencang mencari sumber kecemasan rakyatnya.

Saya tidak dalam rangka memuji seseorang sebagai pemimpin, apalagi sampai menyamakannya dengan seorang Nabi yang mulia. Tidak sama sekali, dan na'udzubillah dari itu. Tapi, itulah sebuah konsekwensi dan sudah kewajiban setiap pemimpin untuk terdepan dalam mengamankan rakyatnya. Apabila dia bekerja dengan baik, belum tentu semua rakyatnya akan senang. Apalagi kalau kerjanya buruk dan amburadul.
 
Wallahu A'laa wa A'lam.

0 komentar:

Posting Komentar