Pages

Rabu, 30 Mei 2018

Kisah dan Ibrah (14)

Ramadhan 14

Oleh: Irsyad Syafar

Kisah ini belum terjadi. Baru akan terjadi nanti di akhirat kelak. Yaitu ketika penghuni sorga sudah masuk sorga dan penghuni neraka sudah masuk neraka. Namun karena kejadian ini bersumber dari Allah, tentulah orang-orang beriman wajib mempercayainya dan mengambil pelajaran darinya.

Allah SWT mengabarkan bahwa nanti akan terjadi dialog antara penghuni sorga dengan penghuni neraka. Dialog yang membuat penghuni sorga menjadi semakin mulia dan terhormat, dan penghuni neraka semakin sengsara dan nestapa. Allah SWT berfirman:

وَنَادَى أَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابَ النَّارِ أَنْ قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا قَالُوا نَعَمْ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ أَنْ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ (الأعراف: 44).

Arinya: "Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan), "Sesungguhnya kami benar-benar telah memperoleh apa (nikmat) yang Tuhan kami janjikan­ kepada kami. Maka apakah kalian benar-benar telah memperoleh apa (azab) yang Tuhan kalian janjikan (kepada kalian)?". Mereka (penduduk neraka) menjawab: "Betul.” Kemudi­an seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, "Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim." (QS Al A'raf: 44).

Dialog dari para penghuni sorga ini merupakan ekspresi kebahahagiaan mereka dengan segala nikmat Allah yang mereka dapatkan di dalam sorga. Semuanya terealisasi sebagaimana yang Allah SWT janjikan ketika di dunia.

Kemudian mereka menyampaikan nikmat Allah SWT tersebut kepada penghuni neraka. "Kami sudah nikmati semua janji-janji Allah kepada kami. Apakah kalian sudah rasakan siksaan-siksaan Allah di neraka?". Sebuah pertanyaan yang bernada sinis sekaligus celaan bagi penghuni neraka. Dan mareka tak ada pilihan lain untuk menjawab. Mereka mengakui bahwa mereka telah rasakan adzab seperti ancaman Allah di dunia dulu.

Pola dialog yang sama pernah dikecamkan oleh Rasulullah saw terhadap orang-orang kafir yang terbunuh dalam Perang Badar. Lalu dimasukkan ke dalam sumur Qulaib. Maka Rasulullah Saw. berseru:

"يَا أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ، وَيَا عُتْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ، وَيَا شَيْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ -وَسَمَّى رُءُوسَهُمْ-: هَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا؟ فَإِنِّي وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِي رَبِّي حَقًّا". وَقَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، تُخَاطِبُ قَوْمًا قَدْ جَيفوا؟ فَقَالَ: "وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ، وَلَكِنْ لَا يَسْتَطِيعُونَ أَنْ يُجِيبُوا".

Artinya: "Hai Abu Jahal ibnu Hisyam, hai Utbah ibnu Rabi'ah hai Syaibah ibnu Rabi'ah —seraya menyebutkan pemimpin-pemimpin mereka (orang-orang kafir)lainnya—, apakah kalian benar-benar telah memperoleh apa (azab) yang telah dijanjikan oleh Tuhan kalian kepada kalian?. Karena sesungguhnya aku benar-benar telah memperoleh apa yang telah dijanjikan oleh Tuhanku kepadaku. Umar ra. bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah engkau berbicara kepada kaum yang telah menjadi bangkai?" Rasulullah saw menjawab: "Demi Zat yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan­Nya, kalian sekali-kali bukanlah orang-orang yang lebih mende­ngar ucapanku dari mereka, tetapi mereka tidak mampu menjawab." (HR Muslim dari Umar bin Khattab).

Maka setelah para penghuni neraka terpaksa "mengaku" bahwa mereka telah merasakan adzab yang dijanjikan Allah, ada Malaikat yang menyeru bahwa terkutuklah orang-orang yang berbuat zhalim (aniaya). Allah SWT menerangkan siapa orang yang dimaksud:

الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا. وَهُمْ بِالآخِرَةِ كَافِرُونَ.(الأعراف: ٤٥).

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat." (QS Al-A'raf: 45).

Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang menghalang-halangi manusia dari mengikuti jalan Allah dan mengamalkan syariat-Nya. Dan mereka juga menghalangi manusia dari apa yang disampaikan oleh Nabi-Nabi. Disamping itu mereka juga mengharapkan agar jalan Allah dan Nabi itu menjadi bengkok (tidak lurus), dicitrakan negatif, dan tidak menarik. Sehingga tidak ada seorang pun yang mau mengikutinya. Mereka semua menjadi terkutuk disisi Allah di akhirat kelak.

Kemudian, diantara penghuni sorga dengan penghuni neraka, Allah SWT memberi batas (hijab) berupa sebuah tembok yang tinggi yang dikenal dengan nama Al A'raf. Sehingga penghuni neraka tidak bisa masuk ke sorga. Namun penghuni sorga bisa melihat penghuni neraka dan bisa saling berkomunikasi.

Di atas tembok tinggi ini, ada sekelompok manusia yang memiliki tanda masing-masing. Mereka belum masuk sorga tapi bisa melihat penghuni sorga dan berkomunikasi dengannya. Dan mereka juga tidak masuk neraka, tapi bisa melihat penghuni neraka dan berkomunikasi dengannya. Allah SWT berfirman:

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى الأعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلا بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ. وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (الأعراف: ٤٦-٤٧).

Artinya: "Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan diatas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, "salamun alaikum." Mereka belum lagi memasukinya, sedangkan mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu." (QS Al A'raf: 46-47).

Para ulama berbeda pendapat tentang siapa kaum yang di atas tembok tinggi (ashabul a'raf) ini. Tetapi semua pendapat saling berdekatan pengertiannya, yang bermuara kepada suatu pendapat, yaitu mereka adalah kaum-kaum yang amal kebaikan dan amal keburukannya sama banyak. Sehingga amal baiknya menghalanginya untuk masuk neraka, dan amal buruknya menghalanginya untuk masuk sorga. Jadilah mereka di tengah-tengah antara sorga dan neraka. Demikianlah menurut apa yang telah dinashkan oleh Huzaifah, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan ulama Khalaf, sebagai mana dikutip oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Ada beberapa riyawat mauquf dan marfu' yang menjelaskan tentang mereka. Diantaranya apa yang diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Bakar bin Matdawaih:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمَّنِ اسْتَوَتْ حَسَنَاتُهُ وَسَيِّئَاتُهُ، فَقَالَ: "أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ، لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ".

Artinya: Dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya mengenai orang yang amal kebaikan dan amal keburukannya sama. Maka Rasulullah Saw. menjawab: "Mereka adalah penghuni Al A'raf, mereka tidak dapat memasuki surga, padahal mereka sangat menginginkannya."

Dalam riwayat lain dari Muhammad ibnul Munkadir, dari seorang lelaki dari kalangan Bani Muzayyanah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya mengenai orang yang sama amal kebaikan dan amal keburukannya, juga mengenai para penghuni A'raf. Maka Rasulullah Saw. menjawab melalui sabdanya: Sesungguhnya mereka adalah suatu kaum yang berangkat (berperang di jalan Allah) dalam keadaan durhaka, karena tanpa seizin orang tua-orang tua mereka, lalu mereka gugur di jalan Allah." (Lihat tafsir Ibnu Katsir).

Ibnu Jarir Ath Thabari menukilkan dalam tafsirnya perkataan Hudzaifah tentang ashabul A'raf: "Mereka adalah suatu kaum yang diselamatkan oleh amal kebaikannya dari neraka, tetapi dihalang-halangi masuk surga oleh amal keburukannya."

Mereka ini, bila melihat penghuni sorga, mereka mengucapkan salam dan berharap masuk pula kesana. Sebaliknya bila melihat penghuni neraka, mereka berlindung kepada Allah agar tidak bergabung disana. Mereka juga mencela penghuni neraka yang tidak berdaya sama sekali. Harta dan jumlah mereka tidak berarti sama sekali di dalam neraka. Sebaliknya, penghuni sorga yang dulu di dunia dibully dan diejek oleh orang-orang kafir, justru sekarang mereka diseru Allah untuk masuk sorga tanpa ada lagi rasa takut dan sedih. Allah SWT berfirman:

أَهَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ

Artinya: "(Orang-orang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka): "Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?". (Kepada orang mukmin itu dikatakan): "Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati." (QS Al A'raf: 49).

Para ashabul A'raf ini kemudian mendapat rahmat dan pengampunan dari Allah, setelah mendapatkan pembersihan khusus di sebuah sungai atau telaga. Sehingga wajah dan tubuh mereka juga menjadi bersih dan bercahaya. Namun di leher mereka ada tanda putih sebagai ciri mereka ashabul A'raf. Dan merekapun masuk ke dalam sorga.

Sedangkan penghuni neraka tetap sengsara dalam siksa Allah. Dengan penuh harap dan rintihan yang sangat hina, mereka memanggil penghuni sorga. Mereka meminta dituangkan sedikit minuman sorga atau sebagian rezeki Allah yang lain di sorga. Akan tetapi jawaban para penghuni sorga sangat mengiris hati, dan memupuskan harapan mereka. Allah SWT berfirman:

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ ۚ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ. (الأعراف: ٥٠).

Artinya: "Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: "Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepada kalian". Mereka (penghuni surga) menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengharam keduanya itu atas orang-orang kafir." (QS Al A'raf: 50).

Allah telah menvonis haram makanan dan minuman sorga bagi penghuni neraka. Mereka adalah orang-orang kafir, yang memperolok-olokkan agama dan menjadikan agama sebagai senda gurau dan pelecehan. Mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia dan tidak percaya akan adanya hari pertemuan dengan Allah SWT.

الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ (الأعراف: 51).

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka." Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami." (QS Al A'raf: 51).

Sungguh tragis nasib orang-orang kafir, menjadi penghuni neraka, kekal abadi di dalamnya.

*Pelajaran*

1. Allah SWT adalah Maha Benar, perkataanNya adalah benar, janji dan ancamanNya adalah benar, pertemuan denganNya adalah benar, sorga dan neraka adalah benar.
2. Semua perbuatan manusia di dunia pasti berbalas di akhirat kelak. Tak secuilpun lolos dari hisab dan balasan Allah. Bagi yang berbuat baik ada balasan baik. Bagi yang berbuat buruk akan ada balasan yang buruk.
3. Orang-orang yang senantiasa memperbanyak kebaikan, mengalahkan keburukannya, maka dia sedang merancang keselamatannya di akhirat kelak.
4. Orang-orang yang seimbang kebaikan dengan keburukannya, nasibnya kelak sangat tergantung dengan kasih sayang Allah.
5. Kisah akhirat belum terjadi. Tetapi Allah berikan ceritanya agar hamba-hamba yang beriman berhati-hati dan waspada. Hanya orang-orang yang berakal yang selalu mencari keselamatan di akhir nanti.

Wallahu A'laa wa A'lam.

0 komentar:

Posting Komentar