Pages

Jumat, 01 Juni 2018

Kisah dan Ibrah (15)

Ramadhan 15

Oleh: Irsyad Syafar

Ada suatu kaum yang Allah berikan kelebihan dalam ukuran pisik dan kekuatannya. Sehingga mereka mampu membuat bangunan-bangunan tinggi dan di kawasan perbukitan. Mereka adalah kaum 'Ad. Tentang bangunan mereka, Allah SWT berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ * إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ * الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلادِ. (الفجر: ٦-٨).

Artinya: "Apakah kamu belum memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Ad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain. (Al-Fajr: 6-8).

Kaum 'Ad ini hidup di daerah Ahqaf di negeri Yaman, di kawasan yang banyak perbukitan. Mereka adalah keturunan  dari  ‘Ad ibnu Iram ibnu Iwad ibnu Sam ibnu Nuh as. Mereka berkuasa di Yaman setelah punahnya kaum Nuh. Tentang kekuatan dan kehebatan pisik mereka, Allah SWT menjelaskan:

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ. (فصلت: ١٥).

Artinya: "Adapun kaum 'Ad, maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar. Dan mereka berkata, "Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami." (QS Fushshilat: 15).

Allah SWT mengutus seorang Nabi dari kalangan mereka dan dari keluarga mereka juga. Yaitunya Nabi Hud as. Ia seorang yang baik dan dari keluarga terhormat di kaum 'Ad. Sebagaimana semua Nabi pasti Allah pilih dari orang-orang terbaik di kaumnya.

Allah SWT mengutus Nabi Hud as untuk mendakwahkan tahuid kepada mereka. Dan mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT semata, meninggalkan berhala-berhala yang mereka pertuhankan.

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ (الأعراف: 65).

Artinya: "Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Ad saudara mereka (Hud). Ia berkata "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain dari-Nya. Maka mengapa kalian tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS Al A'raf: 65).

Walaupun Nabi Hud dari keluarga dan kabilah yang terpandang, namun ajakannya kepada kaumnya untuk mentauhidkan Allah SWT tidak mendapat respon positif. Kaum 'Ad yang memiliki kelebihan pada pisik yang kuat dan perkasa, ternyata juga punya hati yang keras. Sehingga dakwah Nabi Hud malah mereka tanggapi dengan penolakan dan pelecehan. Allah SWT berfirman:

قَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (66).

Artinya: "Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, "Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (QS Al A'raf: 66).

Sebuah respon yang sangat kurang ajar. Pemuka-pemuka kaum 'Ad menganggap Nabi Hud as. seorang yang tidak waras dan seorang pembohong. Label yang seringkali dipakai oleh banyak kaum kafir kepada para Nabi yang diutus Allah SWT kepada mereka. Seolah-olah mereka saling berpesan dengan label ini dari generasi ke generasi, dan dari suatu negeri ke negeri lain. Sebagaimana kafir Qureisy melabeli Rasulullah saw dengan tuduhan pembohong (kazzab) atau gila (majnun) atau tukang sihir. Allah SWT berfirman:

كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ. أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ. (الذاريات: ٥٢-٥٣).

Artinya: "Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila". Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas." (QS Adz Dzariyat: 52-53).

Nabi Hud as dengan sabar menghadapi kaumnya. Ia jelaskan bahwa dia adalah Nabi dan Rasul utusan Allah SWT kepada mereka. Untuk mengajarkan wahyu yang disampaikan Allah SWT kepadanya. Bukan hasil dari pikiran pribadinya, bukan pula dia seorang yang gila.

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (67) أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ (68). الأعراف.

Artinya: "Hud berkata, "Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepada kalian dan aku hanyalah pemberi nasihat yang dapat dipercaya bagi kalian.” (QS Al A'raf: 67-68).

Tapi kaum kafir disetiap zaman punya penyakit hati yang sama. Penyakit inilah yang menghalangi mereka mendapat hidayah. Yaitu sombong dan iri. Mereka sombong karena merasa lebih baik dan lebih terhormat. Kok yang jadi Nabi orang yang di bawah mereka levelnya. Mereka iri kenapa kenabian diberikan kepada orang lain, kenapa tidak kepada mereka. Seperti itulah sikap kaum 'Ad kepada Nabi Hud, kaum Tsamud kepada Nabi Shaleh, kaum Madyan kepada Nabi Syu'aib, kaum Luth kepada Nabinya, dan kafir Qureisy kepada Nabi Muhammad saw.

Karenanya Nabi Hud as mempertanyakan sikap aneh kaumnya tersebut. Dan Ia ingatkan kaumnya atas nikmat Allah SWT kepada mereka, serta posisi mereka yang berkuasa setelah masa Nabi Nuh as.:

أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً فَاذْكُرُوا آلاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (الأعراف: 69).

Artinya: "Apakah kalian (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kalian peringatan dari Tuhan kalian yang dibawa oleh seorang laki-laki di antara kalian untuk memberi peringatan kepada kalian? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kalian sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakan kalian (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah." (QS Al A'raf: 69).

Akan tetapi kaum 'Ad masih terus membangkang. Mereka menganggap ajaran nenek moyang mereka lebih utama dari pada wahyu Allah SWT. Bagi mereka warisan nenek moyang "wajib" dijaga melebihi petunjuk Nabi dan Rasul utusan Allah. Inilah "penyakit" jahiliyah yang menyesatkan banyak anak manusia setelah jauh dari masa kenabian. Abu Thalib paman Nabi saw akhir mati dalam kekafiran karena "keukeuh" dengan agama nenek moyangnya. Allah SWT menjelaskan sikap jahiliyah kaum 'Ad dalam firmanNya:

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (الأعراف: 70).

Artinya: "Mereka berkata, "Apakah kamu datang kepada kami agar kami menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS Al A'raf: 70).

Mereka tidak saja ngotot untuk terus menyembah berhala nenek moyang mereka, malah mereka menantang Nabi Hud untuk menurunkan adzab Allah bagi mereka jika memang Beliau seorang yang benar. Inilah kesombongan dan keangkuhan.

Hampir semakna dengan apa yang pernah dikatakan oleh orang-orang musyrik dari kalangan Quraisy, yaitu seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

{وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ} الأنفال: ٣٢.

Artinya: "Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (QS Al-Anfal: 32).

Penantangan dan pembangkangan ini sudah melampaui batas. Kemurkaan Allah SWT pasti akan menimpa mereka. Kaum Nabi-nabi terdahulu memang langsung diadzab Allah SWT bila engkar dan kafir. Namun Nabi Hud tetap memberikan peringatan akan datangnya siksa tersebut. Allah SWT berfirman:

 قَالَ قَدْ وَقَعَ عَلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ رِجْسٌ وَغَضَبٌ أَتُجَادِلُونَنِي فِي أَسْمَاءٍ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا نزلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ (الأعراف: 71).

Artinya: " Ia berkata, “Sungguh sudah pasti kalian akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhan kalian. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama yang kalian beserta nenek moyang kalian menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kalian.” (QS Al A'raf: 71).

Allah Swt telah menyebutkan gambaran tentang pembinasaan mereka di berbagai ayat dari Al-Qur'an, yang intinya menyebutkan bahwa Allah mengirimkan kepada mereka angin besar yang sangat dingin. Tidak ada sesuatu pun yang diterjang angin ini, melainkan pasti hancur berserakan. Seperti yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ * سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ * فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ} الحاقة: ٦-٨.

Artinya: "Adapun kaum 'Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus. Maka kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka. (QS Al-Haqqah: 6-8).

Maka kaum 'Ad musnah semuanya diterjang angin puting beliung. Mereka terbang melayang ke angkasa lalu terhempas ke bumi dengan kepala ke bawah. Lalu kepalanya hancur berkeping-keping dan mereka menjadi bangkai-bangkai berserakan dimana-mana, bagaikan tunggul-tunggul pohon korma. Adzab yang menimpa mereka seimbang dengan keperkasaan tubuh mereka dan pembangkangan yang mereka lakukan.

Adapun Nabi Hud as dan para pengikutnya yang beriman, yang jumlahnya tidak banyak, Allah SWT selamatkan disebuah tempat perlindungan, yang disana mereka merasa nyaman. Allah SWT berfirman:

فَأَنْجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَقَطَعْنَا دَابِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَمَا كَانُوا مُؤْمِنِينَ. (الأعراف: ٧٢).

Artinya: "Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya, dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman. (Al-A'raf: 72).

*Pelajaran*

1. Semua Nabi menyeru kaumnya untuk menyembah Allah SWT semata (ajaran tauhid) dan meninggalkan penyembahan berhala. Maka semua Nabi dan Rasul agamanya sama, yaitu agama tauhid, mengesakan Allah SWT.
2. Kelebihan dan kekuatan yang dimiliki oleh manusia cendrung membuatnya angkuh, sombong dan menolak kebenaran. Itulah sebabnya mayoritas pengikut para Nabi dan Rasul adalah orang-orang lemah dan dhuafa. Sebab kebanyakan mereka tidak ada sikap sombong.
3. Penyakit iri - yaitu tidak senang orang lain memiliki kelebihan nikmat dan menginginkan nikmat itu hilang dari orang tersebut - adalah salah satu penyebab orang tidak mendapat hidayah (menolak kebenaran).
4. Warisan nenek moyang bila sejalan dengan Wahyu, dapat digunakan dalam kehidupan seorang mukmin. Sebaliknya, bila bertentangan dengan wahyu maka tidak bisa dijadikan rujukan sama sekali.
5. Tugas para da'i adalah menyampaikan ajaran Allah SWT secara maksimal dengan penuh kesabaran. Adapun hasilnya hanya di tangan Allah semata. Dia beri hidayah siapa yang Dia kehendaki dan Dia sesatkan siapa yang Dia kehendaki.

Wallahu A'laa wa A'lam.

0 komentar:

Posting Komentar