Pages

Selasa, 05 Juni 2018

Kisah dan Ibrah (18)

Ramadhan 18

Oleh: Irsyad Syafar

Nabi Syu'aib adalah Nabi yang diutus kepada kaum Madyan. Dari sumber-sumber yang terpecaya, dan secara hitungan tahun, Nabi Syu'aib ini bukanlah mertua Nabi Musa, seperti yang kebanyakan beredar. Sebab Nabi Musa jauh beberapa generasi dibawah Nabi Yusuf, yang merupakan cicit Nabi Ibrahim. Sedangkan Nabi Syu'aib masih dekat masanya dengan Nabi Luth ponakan Nabi Ibrahim. Ibnu Katsir lebih memilih pendapat yang mengatakan Nabi Syu'aib berbeda dengan Syu'aib mertua Nabi Musa. Nama dan daerahnya yang sama.

Sedangkan Madyan adalah sebuah negeri di timur wilayah Sinai di pesisir laut Merah di tenggara Bukit Sinai. Masyarakat negeri ini disebut terkenal dengan perbuatan buruknya yang tidak jujur dalam timbangan dan ukuran. Disamping itu, mereka juga dikenal sebagai kaum kafir yang tidak mengenal Allah SWT. Mereka menyembah berhala bernama al aykah.

Nabi Syu'aib yang masih cicit Nabi Ibrahim as, diutus Allah SWT ke negeri madyan untuk mengajarkan mereka keimanan kepada Allah (tauhid), sekaligus meluruskan perilaku menyimpang mereka yang terbiasa curang dalam menimbang. Allah SWT berfirman:

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. (الأعراف: ٨٥).

Artinya: "Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman". (QS Al A'raf: 85).

Poin utama dakwah Nabi Syu'aib as adalah penyembahan kepada Allah SWT semata dan meninggalkan tuhan-tuhan lain (berhala) selain Allah SWT. Ini merupakan ajaran tauhid, yang menjadi misi semua Nabi dan Rasul. Lalu kemudian setiap Nabi dan Rasul menghadapi pula penyimpangan spesifik kaumnya. Bila kaum Luth terkenal dengan penyakit homoseksual, maka kaum Syu'aib terkenal dengan kecurangan dalam menimbang dan menakar.

Disamping itu, perangai lain kaum Syu'aib adalah menghalang-halangi orang lain dari jalan Allah dan menginginkan jalan Allah (ajaran agama Allah) itu bengkok. Allah SWT berfirman menjelaskan:

وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ وَاذْكُرُوا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ ۖ وَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ. (الأعراف: ٨٦).

Artinya: "Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS Al A'raf: 86).

Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat di atas bahwa Nabi Syu’aib as. melarang mereka merampok, baik bersifat material/konkrit maupun bersifat mmaterial/abstrak. Sebab mereka kerjanya merampok atau membegal dan juga mengancam/menakut-nakuti orang yang pergi belajar tauhid kepada Nabi Syu'aib.

Mereke juga diingatkan oleh Nabi Syu'aib dengan kaum-kaum terdahulu yang dihancurkan Allah SWT karena kekafiran dan dosa-dosa mereka. Seperti kaum Nuh, kaum Hud dan kaum Shaleh. Dan yang paling dekat dengan mereka secara tempat dan waktu adalah kaum Nabi Luth. Allah menegaskan:

وَيَا قَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ ۚ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ. (هود: ٨٩).

Artinya: "Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu." (QS Hud: 89).

Namun, pemuka-pemuka penduduk madyan malah membangkang dan bersikap sombong kepada Nabi Syu'aib. Bahkan mereka mengancam akan mengusir Beliau dari negeri tersebut atau ikut bergabung dalam agama sesat mereka. Allah SWT menggambarkan dalam FirmanNya:

قَالَ الْمَلأ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ (الأعراف: 88).

Artinya: "Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan diri berkata, "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kamu." Berkata Syu’aib, "Dan apakah (kalian akan mengusir kami) kendatipun kami tidak menyukainya?” (QS Al A'raf: 88).

Nabi Syu'aib dan pengikutnya yang beriman tidak bersedia kembali ikut dengan agama mereka yang sesat dan menyimpang. Sebab itu merupakan sebuah dosa yang sangat besar kepada Allah SWT.

Akan tetapi, kekafiran dan kesombongan mereka sangatlah keterlaluan. Dengan beraninya mereka mempengaruhi para pengikut Nabi Syu'aib dan menyatakan semua mereka adalah orang-orang yang merugi.

Mirip dengan pola komunikasi kaum-kaum kafir diberbagai zaman, mereka mengklaim merekalah yang dalam kebenaran dan merekalah yang telah berbuat kebaikan di muka bumi. Sebalik, (mereka tuduh) orang-orang beriman dan para pengikut Nabi yang setia,  adalah orang yang merugi, orang yang sesat dan telah berbuat kerusakan di muka bumi. Logika terbalik yang selalu muncul dari mulut-mulut para pembangkang kepada Allah dan Nabi-nabiNya. Allah SWT berfirman:

وَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًا إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ. (الأعراف: ٩٠).

Artinya: "Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): "Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi". (QS Al A'raf: 90).

Mereka melihat tidak ada alasan untuk meninggalkan agama mereka, dan hak mereka untuk berbuat apasaja dalam muamalah dengan harta yang mereka miliki.

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ ۖ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ. (هود: ٨٧).

Artinya: "Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." (QS Hud: 87).

Dan mereka terus melecehkan Nabi Syi'aib dan merendahkannya. Kalau bukan karena keluarga Beliau, mereka akan sangat berani untuk  menyiksa Nabi Syu'aib. Allah SWT berfirman:

قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا ۖ وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ. (هود: ٩١).

Artinya: "Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami". (QS Hud: 91).

Pernyataan mereka tersebut sekaligus melecehkan Allah SWT. Sebab mereka hanya segan kepada Nabi Syu'aib as lantaran menghormati keluarganya. Bukan karena status Beliau sebagai utusan Allah.

Tindakan dan sikap penduduk madyan tersebut sudah melampaui batas dalam menghina Allah SWT dan RasulNya. Maka Allah langsung menurunkan adzab dan siksa terhadap mereka. Allah SWT berfirman:

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ. (هود: ٩٤).

Artinya: "Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya." (QS Hud: 94).

Mereka bergeletakan mati seketika tanpa bergerak lagi, karena suara yang menggelegar bagaikan petir yang sangat kuat. Di dalam surat Al-A'raf disebutkan gempa yang dahsyat, sehingga mereka mati bergelimpangan di reruntuhan rumah-rumah mereka. sedangkan di dalam surat Asy-Syu'ara disebutkan azab pada hari mereka dinaungi oleh awan. Mereka adalah suatu umat yang berkumpul di hari mereka diazab, menerima pembalasan dari Allah.

Nabi Syu'aib dan pengikutnya yang beriman Allah selamatkan keluar dari negeri tersebut. Sedangkan negeri madyan hancur lebur bagaikan belum pernah ada. Hampir sama dengan nasib kaum Tsamud yang juga sangat tragis.

*Pelajaran*

1. Nabi Syu'aib berdakwah kepada kaumnya untuk mentauhidkan Allah SWT, sama dengan dakwah para Nabi dan Rasul sebelum dan sesudahnya.
2. Curang dalam ukuran dan timbangan adalah sebuah dosa besar dan akan mendatangkan kemurkaan Allah SWT.
3. Menghalangi orang dari agama Allah dan menakut-nakuti (mengancam) mereka dalam melaksanakan ajaran agama Allah SWT, adalah juga sebuah dosa besar, yang berhak atas siksa yang pedih dari Nya.
4. Para pembangkang dan orang kafir selalu memiliki perilaku yang mirip, yaitu melecehkan Nabi dan ajarannya. Kejadiannya seperti terus berulang dari masa ke masa, dan dari generasi ke generasi.
5. Orang-orang beriman tidak boleh berputus asa atas segala sikap dan intimidasi kaum kafir. Sebab Allah SWT pasti akan memenangkan hambaNya dan menjaga agamaNya.

Wallahu A'laa wa A'lam.

0 komentar:

Posting Komentar