Pages

Minggu, 12 Mei 2019

Ramadan 7


KISAH DAN 'IBRAH

MARYAM YANG SUCI

Ia adalah Maryam binti Imran bin Matan. Ayahnya Imran, adalah seorang lelaki shaleh terhormat di kalangan Bani Israil. Sementara ibunya adalah Hannah binti Faquza, juga seorang wanita shalehah. Ibunda Maryam beradek kakak dengan istri Nabi Zakaria. Sehingga, Maryam adalah sepupu Nabi Yahya bin Zakaria.

Maryam sejak lahir sudah mulia. Karena kabar kelahirannya telah diilhamkan Allah kepada ayahnya Imran. Walaupun Imran sudah tua renta, melebihi 80 tahun, dan istrinya Hannah juga sudah tua, tapi Allah telah takdir Maryam akan menjadi anak mereka berdua yang mulia. Sayangnya, Imran sang ayah wafat duluan sebelum Maryam lahir.

Semenjak dalam kandungan, Maryam sudah dinadzarkan oleh sang Ibu untuk "diwakafkan" mengabdi di Baitul Maqdis, menjadi pelayan di rumah Allah. Ini karena dalam persangkaannya anak yang akan lahir adalah laki-laki. Sebab, kebiasaan bani Israil, yang boleh mengabdi di sana hanya laki-laki. Allah berfirman tentang nadzar ibu Maryam:

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: "(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Ali Imran: 35).

Akan tetapi takdir Allah lain. Yang lahir ternyata perempuan. Dan lelaki tentu tidak sama dengan perempuan. Namun, Ibu Maryam tetap melanjutkan nadzarnya. Maryam tetap diserahkan untuk berkhidmat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa).

Sejak kecil Maryam sudah sangat terjaga kesuciannya. Ia hidup di dalam Masjidil Aqsa dalam pengawasan dan bimbingan Nabi Zakaria, yang juga sebagai Pamannya (suami bibinya). Bahkan kejadian istimewa telah ia alami di dalam mihrab. Tanpa ada yang menyediakan, Maryam sudah ada saja makanannya. Sehingga Nabi Zakaria merasa sangat aneh.

Lebih aneh lagi, pada musim dingin Maryam mendapat makanan dan buah-buahan musim panas, berupa korma. Sedang pada musim panas, ia mendapatkan buah-buahan musim dingin. Nabi Zakaria bertanya-tanya keanehan itu. Maryam menjawabnya, "Itu adalah rezeki dari Allah. Dia memberi rezeki kepada siapa saja tanpa perhitungan."

Begitulah, Maryam tumbuh dan besar dalam kemulian dan kesucian. Ia terkenal sebagai wanita ahli dan tekun beribadah. Sampai usia gadisnya. Ketika itulah Maryam mulai mengasingkan diri dan menjauh dari kaumnya, ke arah timur Baitul Maqdis. Ia di sana fokus dengan ibadah kepada Allah. Dalam pengasingannya inilah Allah mengirimkan Malaikat kepadanya. Allah berfirman:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا (16)  فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا (17).

Artinya: "Dan  ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna." (QS Maryam: 16-17).

Maryam sangatlah kaget dengan kedatangan seorang lelaki di tempat pengasingannya. Ia mengira lelaki itu akan berbuat tidak senonoh kepadanya. Sampai-sampai ia memberi peringatan, "Jika kamu bertakwa kepada Allah, jangan berbuat macam-macam". Padahal itu adalah Malaikat Jibril yang dikirim oleh Allah dalam rupa manusia yang sempurna.

Malaikat Jibril menjawab keraguan dan ketakutan Maryam dengan penjelasan: "Aku adalah utusan Allah (malaikat) yang ditugaskan untuk meniupkan (menganugrahkan) seorang anak laki-laki yang suci".

Maryam menjadi terheran. Bagaimana mungkin ia akan hamil dan punya anak, sedang ia seorang gadis yang belum menikah dan belum punya suami?. Dan ia juga bukan seorang pelacur atau pezina. Allah berfirman menceritakan keheranan Maryam:

 قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا (20).

Artinya: "Maryam berkata, "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedangkan tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!". (QS Maryam: 20).

Malaikat Jibril menjelaskan bahwa itu semua sudah menjadi kehendak dan keputusan Allah. Dan hal tersebut sangat mudah dilakukan oleh Allah. Sekaligus itu menjadi tanda kebesaran Allah bagi manusia. Allah mampu menciptakan seorang manusia tanpa ayah dan ibu, seperti Adam. Atau menciptakan tanpa ibu sama sekali, seperti Hawa. Dan juga mampu mencipta manusia tanpa ayah, seperti anak Maryam nantinya.

Dengan izin Allah, Maryam hamil. Akibatnya ia semakin jauh mengasingkan dirinya dari kaumnya. Sungguh berat baginya untuk menanggung malu. Bagaimana ia bisa hamil tanpa pernah menikah. Sementara, ayahnya adalah seorang yang terhormat dan mulia di kalangan bani Israil. Begitu juga ibunya.

Tidak mudah meyakinkan masyarakat tentang alasan kehamilannya. Mereka pasti akan menuduh hal yang negatif kepada Maryam. Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa hanya satu orang yang tahu tentang kehamilan Maryam. Yaitu bibinya sendiri, Istri Nabi Zakaria. Keduanya sama-sama dalam kondisi hamil. Maryam menceritakan kedatangan malaikat kepadanya, dan kehamilannya. Saat berpelukan dengan Maryam, Istri Zakaria merasakan bahwa bayi dalam perutnya sujud kepada bayi yang ada dalam perut Maryam. Dan dalam syariat Bani Israil, sujud merupakan salah satu cara memberikan salam dan penghormatan, seperti yang dilakukan saudara-saudara Nabi Yusuf kepada Nabi Yusuf.

Setelah dekat saat-saat melahirkan, Maryam bersandar di pangkal sebatang pohon korma. Ia betul-betul merasa sakit dan juga beban mental yang luar biasa. Ia lebih berharap mati dari pada menanggung malu.

Dalam kondisi ini, Allah mengirimkan Malaikat Jibril untuk menenangkannya. Dan menguatkannya untuk proses persalinan. Serta memberikan jaminan makanan dan minuman baginya. Allah berfirman:

فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (25) فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا...

Artinya: "Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu; maka makan, minum, dan bersenang hatilah kamu." (QS Maryam: 50-52).

Sungguh sebuah pelayanan khusus dan perlindungan spesial dari Allah bagi Maryam. Apalah daya seorang wanita hamil tua yang sedang meregang kesakitan jelang kelahiran anaknya. Tapi, masih sanggup menggoyangkan pangkal pohon korma yang begitu besar dan kokoh. Lalu berjatuhanlah korma-korma yang masak. Dan dibawah kaki Maryam mengalir air jernih bagaikan sungai.

Malaikat Jibril juga mengajarkan kepada Maryam bagaimana sikap nantinya menghadapi orang-orang bani Israil yang akan mengejeknya dengan bayi tanpa ayah ini. Yaitu dengan cara berpuasa "bicara" dengan mereka. Isyaratkan saja kepada mereka bahwa inilah yang akan menjawab.

Setelah proses melahirkan selesai. Dan Maryam sudah kuat untuk berjalan ke rumahnya, maka ia kembali ke Baitul Maqdis sambil membawa bayinya. Orang-orang menjadi geger dan heboh melihat Maryam sudah punya bayi tanpa suami. Mulut-mulut lancang bani Israil bersileweran mengomentari kehadirannya. Mereka sampai menyindir-nyindir Maryam. "Ayahmu kami kenal sebagai orang baik-baik. Ibumu juga bukanlah seorang pelacur", begitu kata mereka. Artinya mereka telah menuduh Maryam berzina. Naudzubillah dari mulut yang tak beretika sama sekali.

Namun Maryam tidak peduli. Sesuai arahan Malaikat Jibril, ia puasa bicara. Ia tunjuk anaknya yang akan menjawab semua pertanyaan dan "kecurigaan" mereka. Mereka semakin heran dan kesal. Bagaimana mungkin bayi baru lahir akan berbicara?

Allah memperlihatkan mukjizatnya. Nabi Isa yang baru lahir langsung dapat berbicara. Allah berfirman:

فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا (29) قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30) وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا (31).

Artinya: "Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” Berkata Isa, "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada. dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup". (QS Maryam: 29-31).

Begitulah kekuasaan dan keagungan Allah. Dia perlihatkan kepada Bani Israil tanda-tanda kekuasaannya dengan sangat jelas dan gamblang. Namun, seringkali hati yang keras lagi kesat, tak mempan dengan mukjizat. Seperti yang sering dilakukan oleh Bani Israil.

Pelajaran dari Kisah ini:

1. Maryam adalah salah satu wanita pilihan Allah di dunia, dan menjadi wanita mulia di akhirat kelak. Sejak kelahirannya telah terjaga, dan sampai wafatnya dimuliakan Allah.

2. Allah Maha Kuasa menciptakan manusia tanpa ayah dan tanpa ibu (Adam), tanpa ibu (Hawa), tanpa ayah (Isa) dan dengan ayah dan ibu yang lengkap.

3. Salah satu mukjizat Nabi Isa adalah bisa berbicara semenjak usia bayi baru lahir.

4. Keluarga Imran merupakan salah satu keluarga mulia yang dipuji Allah, disamping keluarga Nabi Ibrahim.

5. Orang tua yang baik, akan menjadikan anak-anaknya sebagai pengabdi bagi Allah dan agamanya. Dan itu mesti ditekadkan semenjak dalam kandungan. Tidak dengan orientasi dunia belaka.

Wallahu A'laa wa A'lam.

H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed

0 komentar:

Posting Komentar