Pages

Rabu, 13 Mei 2020

Bolehkah Iktikaf di Rumah?

BOLEHKAH IKTIKAF DI RUMAH?

Oleh: Irsyad Syafar

Hari ini sudah hari ke 20 Ramadhan. Itu artinya malam nanti adalah malam ke 21. Berarti kita sudah memasuki 10 malam terakhir yang sangat istimewa.

Pada 10 malam terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW meningkatkan amal shalehnya. Beliau hidupkan malamnya dan Beliau bangunkan keluarganya. Sebagaimana hadits dari Aisyah ra, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.

Artinya: "Nabi SAW bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan beribadah dan membangunkan keluarga Beliau." (HR Bukhari).

Cara Beliau menghidupkan 10 hari terakhir Ramadhan adalah dengan melakukan iktikaf. Dari
hadits riwayat ‘Aisyah ra, beliau mengatakan:

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ.

Artinya: "Nabi SAW beriktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Beliau wafat, kemudian para istri beliau beriktikaf sepeninggal Beliau.” (HR Bukhari dan Muslim).

Maka iktikaf adalah ibadah sunnat yang sangat dianjurkan. Pelaksanaanya harus dilakukan di masjid sebagaimana firman Allah SWT:

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ.

Artinya: “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud.” (QS Al Baqarah: 125).

Dalam ayat lain Allah SWT juga berfirman:

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ.

Artinya: “(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf dalam masjid.” (QS Al Baqarah: 187).

Timbul pertanyaan, dalam situasi darurat covid 19 ini, bagaimana cara kita iktikaf? Bolehkan kita iktikaf di rumah sebagaimana shalat wajib dan tarawih sudah dipindah ke rumah?

Jumhur ulama menyatakan bahwa iktikaf hanya bisa di masjid. Dan itu berdasarkan dalil-dalil ayat dan hadits yang disampaikan di atas. Bahkan sebagian ulama mensyaratkan masjidnya harus masjid Jami' yang disana dilaksanakan shalat Jumat.

Namun ada pendapat dari kalangan ulama Hanafi yang membolehkan iktikaf di rumah. Hanya saja pendapat ini lemah karena tidak didukung oleh dalil yang memadai.

Akan tetapi, dalam suasana wabah yang masih belum reda ini, tentulah sangat riskan untuk melakukan iktikaf di masjid. Kecuali masjid yang berada jauh di perkampungan, perbukitan dan desa-desa terpencil yang tidak ada kasus covid disana, dan penduduknya semua terkendali, tidak ada yang keluar masuk.

Adapun masjid di perkotaan tentu tidaklah kondusif. Resikonya sangat berbahaya. Sebab penularan antar penduduk sudah terjadi. Mengambil ibadah yang sunnah dengan resiko penyakit berbahaya tentulah tidak dianjurkan.

Maka dalam kondisi ini, memungkinkan untuk memakai pendapat yang lemah. Paling tidak, sunnah Rasulullah SAW untuk menghidupkan 10 hari terakhir dapat diamalkan.

Untuk itu tentu perlu pengkondisian tempat dan suasana di rumah untuk melakukan iktikaf:

1. Menyediakan tempat atau ruang khusus untuk dijadikan sebagai masjid rumah.
2. Memperbanyak dan memperlama keberadaan kita di ruang tersebut untuk beribadah.
3. Mengurangi aktifitas keluar dari ruang tersebut kecuali karena keperluan yang darurat.
4. Memasang niat untuk iktikaf.
5. Mengajak keluarga untuk menghidupkan suasana ibadah di tempat tersebut.

Sekurang-kurangnya, ini upaya maksimal kita untuk meraih keutamaan 10 malam terakhir Ramadhan. "Allah tidak bebani hambaNya kecuali sebatas kemampuannya."

Waffaqanallahu waiyyakum ajma'in.

0 komentar:

Posting Komentar