Pages

Sabtu, 16 Mei 2020

Salat Hari Raya

Ramadhan 22/1441 H
Serial Fiqh Ibadah

SHALAT HARI RAYA

Oleh: Irsyad Syafar

1. HAKEKAT HARI RAYA DALAM ISLAM.

Shalat hari raya atau shalat Ied maksudnya adalah shalat yang dikerjakan pada dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha. Shalat Idul fitri pertama kali disyariatkan pada tahun pertama hijriyah. Kemudian selalu dikerjakan oleh Rasulullah SAW dan tidak pernah ditingalkannya.

Allah SWT memuliakan umat Islam dengan dua hari raya yang mulia tersebut yang berkaitan langsung dengan dua rukun Islam. Hari raya Idul Fitri dilaksanakan setelah menuntaskan ibadah puasa Ramadhan satu bulan penuh. Dan hari raya Idul Adha dirayakan setelah menunaikan ibadah haji.

Kedua hari raya yang mulia itu juga diisi dengan serangkaian ibadah. Mulai dari takbir, tahmid, tahlil sampai dengan shalat hari raya dua rakaat dan mendengarkan khutbah Ied. Kedua hari raya juga diisi dengan ibadah yang sangat kental dengan kepedulian sosial. Ada zakat fitri sebelum shalat Idul Fitri dan ada ibadah qurban setelah shalat Idul Adha.

Jadi, hari raya dalam Islam adalah hari bergembira dan bersuka cita dengan berbagai rangkaian ibadah. Berhari raya dalam Islam berarti mengagungkan Asma’ Allah SWT. Bukan hari berfoya-foya dan bebas merdeka dari ikatan dan aturan agama, sebagaimana terjadi dalam hari raya agama lain.

2. HUKUM SHALAT ‘IED DAN LANDASANNYA.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat hari raya. Sebagian menyatakan hukumnya fardhu 'ain bagi yang mampu. Sebagian lagi menyatakan fardhu kifayah. Dan juga ada yang berpendapat sunnat muakkad. Lajnah Fatwa Arab Saudi, Syekh Bin Baz dan Syekh Utsaimin mengambil pendapat fardhu kifayah. Syekh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah menyatakan sunnat muakkad.

Dalil pensyariatan shalat ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata:

أَمَرَنَا – تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.

Artinya: “Nabi SAW memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘Ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beranjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.” (HR Muslim).

Yang menyatakan shalat Ied hukumnya wajib adalah karena alasan berikut:
a. Rasulullah SAW selalu melakukannya dan tidak pernah meninggalkannya.
b. Rasulullah SAW memerintah kaum muslimin keluar rumah untuk menunaikan shalat ‘Ied. Termasuk mengajak seluruh keluarga laki-laki dan perempuan. Bahkan wanita yang sedang haid pun juga diperintahkan hadir, walaupun memisahkan diri dari para jamaah.
c. Adanya perintah di dalam Al Qur’an untuk shalat Ied yaitu firman Allah SWT:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya: “Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS Al Kautsar: 2).

Maksud ayat ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat ‘Ied. Adanya perintah menunjukkan hukum wajib.
d. Bila hari raya bertepatan dengan hari Jum’at, maka bagi yang telah melaksanakan shalat Ied di pagi hari, ia mendapat keringanan dengan gugurnya kewajiban shalat jum’at. Tentu saja  sesuatu yang wajib hanya boleh digugurkan dengan yang wajib pula.

3. ADAB SHALAT IED.

Ada beberapa adab dan etika dalam pelaksanaan shalat Ied yang harus diperhatikan oleh setiap muslim:

a. Mandi pada hari Ied

Yaitu mandi seperti mandi wajib. Hal ini berdasarkan hadits dari Nafi’, beliau mengatakan:

أن عبد الله بن عمر كان يغتسل يوم الفطر قبل أن يغدو إلى المصلى.

Artinya: “Sesungguhnya Ibnu Umar ra, mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat ke lapangan." (HR. Malik dan asy-Syafi’i dan sanadnya shahih)

b. Berhias dan Memakai Wewangian

Disunnahkan bagi kaum lelaki pada hari raya untuk berhias dan memakai wewangian. Adapun bagi wanita muslimah tetap berlaku baginya hukum untuk tidak tabarruj dan tidak berlebihan memakai wewangian. Berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas, bahwa pada hari Jum’at, Nabi SAW bersabda:

إِنَّ هَذَا يَومُ عِيدٍ جَعَلهُ الله لِلمُسلِمِينَ فمَن جاءَ إلى الـجُمعةِ فَليَغتَسِل وَإِن كانَ عِن
دَه طِيبٌ فَليَمسَّ مِنهُ وَعَلَيكُم بِالسِّواكِ.

Artinya: “Sesungguhnya hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk kaum muslimin. Barangsiapa yang hadir Jum’atan, hendaknya dia mandi. Jika dia punya wewangian, hendaknya dia gunakan, dan kalian harus gosok gigi.” (HR. Ibn Majah)

c. Memakai Pakaian yang Paling Bagus

Pada hari raya Rasulullah SAW memakai pakaian terbaiknya yaitu jubah yang biasa Beliau pakai pada hari Jum’at dan hari raya. Hal ini sebagaimana hadits shahih dari Jabir bin Abdillah ra, beliau mengatakan:

كانت للنبي -صلى الله عليه وسلم- جُبّة يَلبسُها فِي العِيدَين ، وَ يَوم الـجُمعَة

Artinya: “Nabi SAW memiliki jubah yang Beliau gunakan ketika hari raya dan hari Jum’at.” (HR. Ibn Khuzaimah dan kitab shahihnya)

d. Pada hari Idul Fitri disunatkan berangkat dalam keadaan berbuka, pada hari Idul Adha disunatkan berangkat dalam keadaan puasa.

Sebagimana hadits dari Buraidah, beliau berkata:

لاَ يَـخرجُ يَومَ الفِطرِ حَتَّى يَطعَمَ ولاَ يَطعَمُ يَومَ الأَضْحَى حَتَّى يُصلِّىَ

Artinya: “Nabi SAW tidak berangkat menuju shalat Idul Fitri sebelum Beliau makan terlebih dahulu, dan Beliau tidak makan ketika Idul Adha, sampai shalat dahulu." (HR Turmudzi dan Ibnu Majah).

e. Berjalan menuju lapangan dengan penuh ketenangan dan ketundukan

Hal ini sesuai dengan hadits dari Sa’d ra, ia berkata:

أنَّ النَّبـىَّ -صلى الله عليه وسلم- كانَ يَـخْرج إلَى العِيد مَاشِيًا وَيَرجِعُ مَاشِيًا

Artinya: “Bahwa Nabi SAW keluar menuju lapangan dengan berjalan kaki dan Beliau pulang juga dengan berjalan kaki.” (HR. Ibnu Majah)

f. Membedakan jalan berangkat dengan jalan pulang

Disunatkan untuk berangkat menuju lapangan shalat Ied melalui sebuah jalan, dan bila pulang melalui jalan yang berbeda. Berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah ra:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melaksanakan shalat id, beliau memilih jalan yang berbeda (ketika berankat dan pulang).” (HR. Bukhari)

g. Berangkatnya para wanita dan anak-anak

Menyuruh wanita dan anak kecil untuk berangkat shalat Ied adalah sebuah sunnah. Dalilnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu ‘Athiyah di atas. Namun wanita tetap harus memperhatikan adab-adab ketika keluar rumah, yaitu tidak berhias diri dan tidak memakai wewangian.

Sedangkan mengenai anak kecil, Ibnu Abbas ra. pernah ditanya, “Apakah engkau pernah menghadiri shalat Ied bersama Nabi SAW?” Ia menjawab:

نَعَمْ ، وَلَوْلاَ مَكَانِى مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ

Artinya: “Iya, aku menghadirinya. Seandainya bukan karena kedudukanku yang termasuk sahabat-sahabat junior, tentu aku tidak akan menghadirinya.” (HR Bukhari).

4. WAKTU PELAKSANAAN SHALAT ‘IED

Menurut pendapat jumhur ulama waktu shalat Ied dimulai dari matahari setinggi tombak sampai waktu bergesernya matahari (waktu zawal). Dianjurkan untuk melambatkan pelaksanaan shalat Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan shalat Idul Adha.

Mempercepat shalat ‘Idul Adha adalah agar orang-orang dapat segera menyembelih hewan qurbannya dan memiliki waktu yang panjang. Sedangkan shalat ‘Idul Fitri agak diundur dengan tujuan agar kaum muslimin masih punya kesempatan untuk menunaikan zakat fitri.

5. TEMPAT PELAKSANAAN SHALAT ‘IED

Untuk pelaksanaan shalat Ied lebih dianjurkan dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur seperti hujan. Abu Sa’id Al Khudri ra, mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى

Artinya: “Rasulullah SAW biasa keluar pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha menuju tanah lapang.” (HR. Bukhari).

Dalil ini menjadi landasan yang menganjurkan bahwa shalat ‘Ied sebaiknya dilakukan di tanah lapang dan ini lebih afdhal (lebih utama) daripada melakukannya di masjid. Adapun bagi penduduk Makkah, maka sejak masa silam mereka selalu melaksanakan shalat ‘Ied di Masjidil Haram.

6. TUNTUNAN MELAKSANAKAN SHALAT IED

Dalam melaksanakan shalat Ied kita harus mengikuti tatacara dan tuntunan dari Rasulullah SAW. Antara lain sebagai berikut:

Pertama: Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘Ied. Dalam suatu riwayat disebutkan:

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر

Artinya: “Nabi SAW biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai Beliau melaksanakan shalat. Ketika Beliau telah selesai shalat Beliau berhenti dari bertakbir.” (Silsilah hadits shahih).

Cara bertakbirnya adalah dengan suara yang dijaharkan bagi laki-laki dan direndahkan suaranya bagi kaum perempuan. Dilakukan secara spontan saja, sampai tiba di lapangan tempat shalat Ied.

Kedua, Tidak ada shalat Sunnah qabliyah Ied dan ba’diyah Ied.

Hal ini sesuai dengan hadits dari Ibnu Abbas, ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, lalu Beliau mengerjakan shalat Ied dua rakaat, namun Beliau tidak mengerjakan shalat sebelumnya dan tidak juga setelahnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketiga, Tidak Ada Adzan dan Iqomah Ketika Shalat Ied

Sebagaimana hadits dari Jabir bin Samurah ra, ia berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ.

Artinya: “Aku pernah melaksanakan shalat ‘Ied (Idul Fitri dan Idul Adha) bersama Rasulullah SAW bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqomah.”(HR Muslim)

Dalam masalah ini, Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad mengatakan, “Jika Nabi SAW sampai ke tempat shalat, Beliau pun mengerjakan shalat ‘Ied tanpa ada adzan dan iqomah. Juga ketika itu untuk memulai shalat berjamaah tidak ada ucapan, “Ash Sholaatul Jaam’iah.” Yang termasuk ajaran Nabi adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi.”

Keempat, Pelaksanaan shalat Ied.

Shalat Idul Fitri dan Idul Adha adalah dua rakaat. Adapun tata caranya sama dengan shalat wajib. Hanya saja ada tambahan takbir di awal rakaat pertama dan awal rakaat kedua. Caranya adalah sebagai berikut:
a. Takbiratul ihram.
b. Takbir tambahan sebanyak tujuh kali takbir (Selain takbiratul ihram)
c. Di antara takbir-takbir yang7, boleh membaca dzikir, boleh juga tidak. Ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.” (HR Baihaqi). Syaikhul Islam mengatakan bahwa sebagian salaf di antara tiap takbir membaca bacaan,
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي
d. Membaca Al Fatihah
e. Membaca surat lainnya. Disunnahkan membaca surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qamar pada raka’at kedua. Atau membaca surat Al A’laa pada rakaat pertama dan surat Al Ghasyiyah pada rakaat kedua.
f. Melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dst).
g. Takbir bangkit dari sujud untuk mengerjakan raka’at kedua.
h. Takbir tambahan sebanyak lima kali takbir.
i. Membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
j. Mengerjakan gerakan shalat lainnya dari rukuk hingga salam.

7. SUNNAH BERTAKBIR DAN LAFADZ TAKBIR HARI RAYA

Pada kedua hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul adha disunnahkan memperbanyak takbir, tahmid dan tahlil. Adapun pada hari raya Idul Fitri disunnahkan bertakbir apabila telah selesai sempurna bulan Ramadhan (terbenam matahari terakhir Ramadhan) sampai menjelang shalat Ied dilaksanakan. Landasan bertakbir ini adalah firman Allah SWT:

ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ماهداكم (سورة البقرة :  185).

Artinya: "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah: 185)

Takbir ini disunnahkan menurut mayoritas ulama. Disunnahkan bagi laki-laki dan para wanita. Baik di masjid, rumah maupun di pasar. Para lelaki dianjurkan meninggikan suaranya, sedangkan kaum wanita merendahkan tidak meninggikan suaranya. Karena wanita diperintahkan untuk merendahkan suaranya.

Adapun terkait takbir pada hari raya Idul Adha, di dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa takbirnya dibagi dua; yaitu takbir mutlak dan takbir muqayyad. Takbir mutlak adalah takbir yang dikumandang sejak pertama bulan Dzul Hijjah hingga hari raya Idul Adha tiba dan dilantunkan dimana saja, di pasar, jalan, rumah, masjid atau lainnya, baik sendirian atau berjemaah. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Imam Ahmad:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمَ عِنْدَ اللَّهِ وَلاَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Artinya: “Tidak ada satu haripun yang lebih agung dan dicintai Allah beramal pada hari tersebut dibanding sepuluh hari ini, maka perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid pada hari-hari tersebut.” (HR Ahmad).

Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang dianjurkan untuk dilantunkan setelah shalat wajib lima waktu, terutama setelah shalat berjemaah. Takbir muqayyad ini dimulai sejak setelah shubuh pada hari arafah (9 Dzul hijjah) hingga setelah salat ashar pada hari terakhir hari tasyriq (13 Dzul Hijjah). Imam Bukhari menyebutkan bahwa Ibnu Umar ra, bertakbir di Mina, di pasar, setiap selesai shalat, di dalam kemahnya dan lain-lain.

Adapun lafdz takbir ada dua macam:

Pertama, yang takbirnya dua kali di awal. Ini adalah yang menurut riwayat Ibnu Mas’ud:

الله أكبر الله أكبر ، لا إله إلا الله ، الله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.

Artinya: “Allah Mah Besar, Allah Maha Besar, tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah. Allah Maha Besar, segala pujian milik Allah.

Kedua, yang bertakbir tiga kali di awal. Ini adalah dari riwayat Ibnu Abbas, dengan  mengucapkan:

الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، لا إله إلا الله ، الله أكبر ، الله أكبر ، ولله الحمد

Artinya: “Allah Mah Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, Allah Mah Besar, Allah Maha Besar,segala pujian milik Allah.
Imam Syafi’i dalam kitab Al Umm membolehkan kalimat takbir lain yang lebih panjang:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

Imam Ash Shan’ani dan Abu Ishaq Asy Syirazi serta banyak ulama lainnya, memandang bahwa penambahan lafadz-lafadz ini adalah suatu yang boleh selama masuk dalam keumuman ayat yang memerintahkan bertakbir.

8. KHUTBAH SETELAH SHALAT ‘IED

Khutbah setelah shalat Ied hukumnya sunnat. Karena Rasullullah SAW mempersilakan para sahabat mendengar atau juga boleh pergi. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ.

Artinya: “Aku saat ini akan berkhutbah. Siapa yang mau tetap duduk untuk mendengarkan khutbah, silakan ia duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan ia pergi.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

Setelah melaksanakan shalat Ied, imam (khatib) langsung berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘Ied. Tidak diselingi dengan takbir ataupun amalan yang lain. Khutbah Ied disunnahkan bila shalat Ied dilakukan berjamaah. Adapun bila shalatnya sendirian maka tidak disunnahkan ada khutbah.

Para ulama berbeda pendapat dalam khutbah Ied, apakah dilaksanakan dua khutbah atau satu khutbah saja. Masing-masing memiliki landasan dalam hal ini. Sekurang-kurangnya Khutbah Ied harus memnuhi rukun khutbah:

a. Hamdalah memuji Allah.
b. Shalawat kepada Rasulullah SAW
c. Membaca ayat-ayat Al Quran
d. Wasiat taqwa
e. Membaca do’a.

Demikian fiqh shalat hari raya dan Khutbah Ied, semoga bermanfaat. Wallahu A’laa wa A’lam.

0 komentar:

Posting Komentar