"Alhamdulillillah, tadi di ruang Ketua DPRD, sebelum turun menemui peserta aksi, Kami bersama seluruh pimpinan DPRD Bapak Kapolda, Ibuk Kajati, Kabinda, berdoa bersama memohon penjagaan dari Allah dan diberikan kelancaran..." tutur Ustadz Irsyad Syafar, Ketua Fraksi PKS DPRD Sumbar, dalam sebuah forum WAG.
Pesan singkat yang begitu kuat. Tak sekedar kabar berita, lebih terkesan sebuah taujih pengingat bagi kita semua tentang sebuah kekutaan langit.
Ternyata, di balik riuhnya demonstrasi besar-besaran masyarakat Sumatera Barat pada 1 September 2025 lalu, ada sebuah momen haru biru penuh kekhusyukan yang menjadi kunci. Ada ruang ketenangan dan kedamaian yang menginspirasi kebijaksanaan.
Peristiwa yang semula dikhawatirkan akan diwarnai kericuhan, justru berakhir dengan damai dan tertib. Kesannya bukan seperti demonstrasi, melainkan seperti sebuah iven rakyat yang diisi keakraban dan saling pengertian. Tenang, namun tujuannya tersampaikan.
Momen ini jadi kunci. Mungkin, doa bersama ini yang menjadi sebab Allah SWT menurunkan ketenangan di hati setiap orang, baik yang berpartisipasi maupun tidak. Ini adalah bukti bahwa ketundukan dan ketulusan hati mampu mengubah suasana tegang menjadi penuh berkah.
Ini menjadi pesan kuat bagi kader dakwah, bahwa langkah-langkah besar perbaikan umat, harus dilandasi niat tulus dan doa yang kuat, hingga langkah itu kokoh. Salah satu amalan yang menjadi cerminan keyakinan ini adalah doa rabithah (pengikat) yang dibaca setiap hari. Doa ini tidak hanya menguatkan kebersamaan di antara kita, tetapi juga memperluas kasih sayang kepada semua orang.
Dalam doa rabithah, kita menghadirkan bayangan setiap kawan seperjuangan agar langkah semakin kokoh. Lebih jauh lagi, juga mendoakan setiap binaan, bahkan semua orang yang berseberangan pandangan, agar hati mereka dilunakkan dalam kebenaran.
Bahwa perjuangan dakwah bukan membenci atau memusuhi, melainkan mambawa rahmat, danharapan agar semua hati kembali kepada kebenaran dan kebaikan.
Jangan pernah berhenti berdoa untuk kebaikan negeri dan bangsa. Jadikan doa sebagai bagian tak terpisahkan dari setiap langkah. Karena doa adalah senjata orang beriman. Ia bukan sekadar permohonan, tetapi wujud ketundukan, pengikat hati, dan sumber kekuatan yang tak terbatas. (*)