Pages

Rabu, 02 April 2014

Jangan Golput

Sebagian orang yang mengambil pilihan golput meneganggap bahwa mereka juga sedang berjuang demi kemashlahatan bangsa dan Negara ini. Mereka ingin memberikan perlawanan atas system Negara yang sudah bobrok. Dan semua peserta pemilu adalah pembohong dan penipu belaka. Hanya pengobar janji-janji palsu. Sebagian golputer meyakini bahwa bila mereka dominan dan menang, maka lesislatif dan eksekutif yang terpilih tidak memiliki legalitas yang kuat atau kehilangan legitimasi.

Sebagian golputer memastikan bahwa semua peserta pemilu tidak bisa lagi diharapkan, hanyalah kumpulan para penipu dan pencari kekayaan pribadi yang hanya akan bersekongkol untuk kepentingan mereka masing-masing. Maka tidak ada yang bisa menghadang itu semua kecuali para golputer. Golputlah yang akan menghentikan segala kebobrokan di negeri ini. Ini diantara argument golputer…

Semua argumen di atas bisa menjadi benar dan tepat kalau golput punya kursi diparlemen, dan bisa menempati posisi dieksekutif. Maka pasti golput akan merubah negeri ini lebih baik. Namun sayangnya kenyataannya tidak begitu. Sudah berapa pilkada yang tingkat golputnya tinggi alias golput menang? Melebihi angka pemenang pilkada itu sendiri. Apakah mempengaruhi hasil pilkada? Apakah golput jadi kepala daerah? Tidak sama sekali.

Golput justru memperkuat kebathilan dan kebobrokan. Karena bila semakin banyak yang golput, maka yang datang ke TPS didominasi oleh orang-orang yang telah dibeli dan dibayar. Akibatnya sipembayar terbanyak akan menang. Lalu, kalau dia sudah menang, pastilah agendanya selama menjabat adalah mengembalikan modal dan kemudian mengumpulkan modal baru untuk maju berikutnya.

Bahkan untuk level pemilu yang jauh lebih luas wilayahnya dari pilkada, justru golput yang besar akan memberi ruang penggelembungan suara yang besar. Partai takkan sanggup mengadakan saksi diseluruh TPS sampai kepelosok. Maka ini peluang menukar jumlah total suara. Sipembayar bisa saja membeli suara tambahan dari suara golput tanpa menganggu suara calon lain dan tanpa melewati jumlah pemilih di TPS tersebut.

Amat disayangkan bila golput yang merupakan orang baik-baik, tulus dan tanpa pamrih, lalu membiarkan TPS dikuasai dan dimenangkan oleh orang-orang bayaran. Tanpa disadari, golput telah berperan besar melanggengkan kekuasaan para koruptor. Karena caleg-caleg yang bersih, serius tuk membenahi negara ini, namun tak punya uang tuk membeli suara, atau kalaupun punya uang takkan mau membeli suara, pasti akan kalah.

Golput takkan pernah mempengaruhi kebijakan. Golput tak ada pengaruh kepada aturan negara. Golput takkan menghapuskan pemilu. Sebab sipemenang pemilu yang telah menang dengan membeli suara, takkan mengambil keputusan untuk kepentingan golput. Mereka hanya akan melanjutkan kekuasaan.

Justru semakin banyak golput akan semakin menguntungkan para pembeli suara. Modal pemenangan mereka menjadi semakin kecil. Sebab orang-orang yang harus mereka bayar menjadi berkurang. Bila di satu TPS yg jumlah pemilihnya 400 orang, lalu 200 orang golput, maka bila dia bayar 50 orang saja dgn 25 ribu rupiah, dia sdh raih suara 25% suara TPS itu. Dan di pasti menang telak. Karena suara yang lain akan berserakan dipuluhan calon yang lain. Bahkan, di sebagian dapil untuk DPR-RI, bila seorang caleg membayar 10 orang saja perTPS sebesar Rp 50.000,- untuk 8000 TPS, maka dia akan dapatkan suara 80.000. Ditambah suara orang-orang yang memang memilih dia tanpa bayaran. Maka dia telah memastikan dapat kursi di DPR-RI. Biaya yang dikeluarkannya hanya 4 Milyar. Dan angka itu sangat kecil bagi sebagian caleg DPR-RI. Di sumbar saja, sudah banyak caleg DPR-RI yang menghabiskan uang lebih dari 10 Milyar.

Seorang trilyuner akan bisa menguasai negara kita ini hanya dengan menghabiskan 5 triliyun rupiah saja. Dia bayar 100 juta rakyat indonesia sebesar 50 ribu/orang, dia sudah menang telak. Sisanya biarkan golput tanpa perlu dibayar, dan tersebar kepada caleg dari kalangan/partai yang tidak bayar.

Jelas sekali bahwa Golput telah berperan besar menghancurkan negara, mengokohkan para koruptor, membiarkan orang-orang buruk berkuasa dan memimpin.

Janganlah golput. Pilihlah orang-orang dan partai terbaik... Kalau tak ada yang istimewa, pilihlah yang baik. Kalau tidak ada juga, pilihlah yang paling sedikit buruknya. Kesempurnaan hanya milik Allah. Menyimpulkan bahwa semua orang sama saja adalah pikiran orang-orang putus asa, dan jelas sekali kesimpulan itu tidak ilmiah dan sangat serampangan.

Masih ada di negara ini orang-orang baik, tulus, jujur dan serius akan memperbaiki negeri yang kita cintai ini. Bisa jadi di satu partai atau mereka tersebar di beberapa partai berbeda. Yang pasti, mereka masih ada. Pilihlah orang yang tidak mmbayar suara, dekat dengan Allah, cinta kepada Islam dan muslimin, peduli kepada sesama...

Kalau masih golput juga, tidak mengapa. Tapi mohon maaf, kalau tetap menyatakan tidak ada lagi calon yang baik dan memiliki integritas diri, itu hanyalah kesombongan dan keangkuhan.


Irsyad Syafar

0 komentar:

Posting Komentar