Pages

Jumat, 13 Mei 2016

Abdul Muiz Saadih, Sang Penegak Disiplin

Dari beberapa perkara disiplin organisasi yang ditegakkan oleh PKS belakangan ini, kasus pemberhentian Fahri Hamzah dari keanggotaan partai adalah salah satu yang menyita perhatian publik. Kasus ini menjadi fenomenal tidak hanya karena posisi Fahri sebagai pimpinan DPR saat perkaranya sedang diproses, tapi juga lantaran yang bersangkutan sangat rajin menggunakan media sosial sebagai alat untuk membela posisinya. Salah satu tokoh utama dalam proses penegakan disiplin tehadap Fahri Hamzah adalah Ustadz Abdul Muiz Saadih, yang kesehariannya dikenal sebagai pengajar sekaligus Wakil Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosat Islamiyah (STID DI) Al-Hikmah.

Sosok pendidik yang selama 3 periode terakhir dipercaya sebagai salah seorang anggota Majelis Syuro partai dakwah ini, pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Kaderisasi pada periode Tifatul Sembiring diberi amanah sebagai sebagai Presiden PKS pada 2005-2010. Di masa itu, ust. Muiz disibukkan dengan formulasi literatur yang ada untuk dijadikan pegangan dalam membentuk karakter unggul yang diterapkan dalam sistem pembinaan kepada seluruh kader yang tersebar baik di dalam maupun luar negeri, sesuai dengan visi-misi PKS. Baginya, ".. keberhasilan PKS sebagai partai kader, akan sangat ditentukan pada terbentuknya kader yang berkualitas. Semakin berkembang kader sesuai kompetensi masing-masing di berbagai sektor, maka semakin baik pula partai. Demikian pula partai akan semakin diperhitungkan  seiring dengan kontribusi kader pada setiap relung kehidupan masyarakat. Karenanya, keberhasilan PKS dapat terukur melalui banyaknya jumlah dukungan masyarakat dan kualitas kader itu sendiri", ujarnya dalam suatu kesempatan.

Pada kepengurusan periode selanjutnya, ustadz Muiz diamanahi peran yang sangat penting dalam struktur PKS, sebagai Wakil Ketua BPDO (Badan Penegak Disiplin Organisasi). Pada masa itu, peran beliau sangat signifikan dalam menangani berbagai kasus pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh kader PKS, baik posisi mereka sebagai anggota maupun selaku pejabat publik. Dari sejumlah kasus yang ditangani, tidak semuanya berakhir pada pemberhentian keanggotaan partai. Banyak pula di antara pelanggaran yang berhasil diluruskan dengan nasihat maupun dimediasi oleh BPDO.  

Pada kabinet Dr. M. Sohibul Iman saat ini, ustadz kelahiran tahun 1961 di kota Bekasi ini, mendapat amanah baru sebagai Ketua BPDO. Berbekal pengalaman sebagai Ketua Kaderisasi dan Wakil Ketua BPDO pada periode kepengurusan sebelumnya, ustadz Muiz dengan tangan dingin selalu mengedepankan nasihat kepada kader yang diadukan melakukan pelanggaran disiplin. Bahkan meskipun Majelis Qadha, persidangan ad hoc yang digelar untuk  memeriksa perkara kader yang diadukan, sudah berlangsung sekalipun, teradu masih juga diberi nasihat agar menyadari kesalahan dan tidak mengulangi lagi pelanggaran disiplin yang dilakukan kader. Bagi beliau, terbinanya seseorang mulai dari proses rekrutmen sampai dengan menjadi kader yang akan menjadi penopang utama dakwah membutuhkan proses panjang dan waktu yang lama. Karenanya, menjaga dan mempertahankan seorang kader jauh lebih penting ketimbang memberhentikannya dari keanggotaan.

Sosok Ust. Muiz sangat disegani dan dikenal luas baik di internal PKS, kalangan akademisi Islam maupun masyarakat luas sebagai salah seorang pendidik yang tegas dan memiliki karakter yang teguh pendiriannya. Tidak hanya itu, kapasitas dan latar belakang beliau sebagai mantan Ketua Kaderisasi DPP PKS dan juga Wakil Ketua BPDO pada periode sebelumnya, juga membuat beliau memiliki bekal yang lebih dari cukup untuk menegakkan disiplin kader dengan tidak asal pecat, tapi juga dengan penuh pertimbangan menegakkan prinsip dengan nasihat yang mendidik pada pada setiap kasus yang ditanganinya. Sehingga penanganan setiap perkara ditangani dengan penuh kehati-hatian agar setiap kader dapat merasakan keadilan dari institusi yang telah berjasa menanamkan nilai-nilai keislaman dan keadilan dalam dirinya.

Sejak belia, Abdul Muiz muda memang sangat berprestasi secara akademik. Selepas tamat dari Pesantren Al Masturiyah, beliau memperoleh beasiswa melanjutkan pendidikan ke Al Azhar-Mesir pada tahun 1984. Ini merupakan kesempatan langka, karena hanya 1-2 santri yang terpilih dari setiap pesantren. Selama kuliah di Mesir, ia mendapatkan banyak hal yang tak terlupakan. Diantara yang paling berkesan menurut penyandang gelar Magister dari Al Azhar-Mesir ini, adalah ketika mendapatkan jatah tiket menunaikan haji pada tahun 1987. Ia merasa bangga karena tidak semua mahasiswa mendapatkan jatah haji gratis  dari kampus Al Azhar. Hanya mereka yang memiliki nilai tertinggi yang beruntung digratiskan mulai dari pemberangkatan hingga pulang kembali ke kampus. 


Saat ini, disamping kesibukannya di Partai, beliau juga mendarmabaktikan ilmu sebagai dosen dan Wakil Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosat Islamiyah Al-Hikmah merangkap Ketua Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Lebih dari itu, beliau juga melengkapi dakwah kulturalnya melalui Yayasan Al Wafi Setia Islami sebagai Ketua Yayasan, disamping sebagai Dewan Pembina Rumah Qur'an Depok. Pesan beliau, "Sebagai partai dakwah, kader PKS jangan melulu menghabiskan waktu membicarakan politik, tapi juga harus mendiskusikan banyak hal yang berhubungan dengan keadilan dan kesejahteraan masyarakat." 


Sebagai tokoh masyarakat yang dikenal luas dan disegani, beliau hingga saat ini masih aktif berdakwah baik di dalam maupun luar negeri. Diantaranya  selain membina majelis taklim, mengisi pengajian dan  mengajarkan ilmu-ilmu keislaman terutama ilmu hadits (ilmu yang  tingkat kesulitannya tinggi dan tidak mudah dalam  mempelajari dan mengajarkannya), beliau juga memiliki perhatian khusus terhadap pendidikan Al-Qur'an. Salah satu harapan mulia yang beliau inginkan adalah agar setiap rumah minimal ada satu orang hafizh (penghafal Al-Qur'an) sehingga terbentuknya rumah dan masyarakat Qur'ani.  )I(

Sumber: Chanel Telegram PKSejahtera

0 komentar:

Poskan Komentar